Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Rahasia restauran


__ADS_3

Melinda : “Boy, coba lihat semua bukti yang kamu temukan.”


Boy mulai membeberkan bukti-bukti foto dan beberapa video yang ia rekam ketika berada di


restauran pertama. Terlihat ada dua kasir disana dan juga permintaan pembayaran


tanpa struk. Bahkan kondisi restauran yang selalu dikabarkan sepi, tampak penuh


sesak dengan pengunjung yang makan disana.


Boy : “Waktu kami datang, belum ada antrian di bagian makanan untuk dibawa pulang. Tapi


waktu kami pulang, antriannya sampai ke trotoar dan pelayan terus bolak balik


membawa uang ke kasir.”


Azriel : “Tuch, kan. Uda jelas mereka curang, kalau gitu.”


Melinda : “Sabar, mas. Boy belum selesai.”


Boy melanjutkan dengan restaurant ke 2. Saat mereka di Kintamani. Restauran itu memang tidak


seramai restauran di Kuta, tapi selalu ada saja pengunjung yang datang. Boy dan


Joya menghabiskan waktu cukup lama disana. Selain karena pelayanan mereka yang


cukup ramah, suasana yang dingin membuat mereka betah berlama-lama disana.


Joya : “Aku pribadi suka dengan restauran yang ada disitu. Dan sepertinya tidak ada


kecurangan disana. Ya kan, mas?”


Boy : “Ya, semuanya terlihat normal saja. Kita minta bill, datang struk.”


Melinda : “Hmm.. kita lihat saja nanti. Gimana dengan restauran yang ke 3?”


Boy : “Restauran itu waktu kami datang pagi, belum buka. Tapi restauran di sebelahnya uda buka


dan mulai rame.”


Azriel : “Yang ke 3 dimana?”


Boy : “Di Nusa Dua. Padahal kalau mereka buka pagi, tamu yang nginep di hotel lagi keluar


untuk cari sarapan. Kalau sarapan di hotel, kadang kan mahal. Makanannya juga


cuma itu-itu aja.”


Azriel : “Males, artinya. Semua restauran itu aku minta buka pagi sampai malam. Makanya ada 2 kali


shift. Kalo gitu apa gunanya ada 2 shift.”


Joya : “Trus yang terakhir di Sanur. Gak terlalu rame sich, kebanyakan juga anak muda yang


nongkrong disana. Tapi pelayan cuek banget. Kita harus nunggu 15 menit ya,


sebelum mereka datang ke meja kita.”


Boy : “Ya, dengan wifi gratis, banyak anak muda betah disana. Cuma beli ice tea, nongkrong


sampai 5 jam. Masalahnya restauran disana itu gak terlalu besar. Jadi pelanggan


yang bener-bener mau makan, agak kecewa gitu karena gak dapat tempat duduk.”


Melinda dan Azreil manggut-manggut. Sepertinya mereka harus melakukan perombakan

__ADS_1


besar-besaran kalau gitu caranya.


Azriel : “Boy, menurutmu gimana caranya mengatur ulang kinerja mereka ini?”


Melinda : “Hati-hati kalau nanya sama Boy, bisa kena charge, ntar.”


Azriel : “Serius, aku kasi voucher gratis makan di restauranku nanti.”


Boy : “Gak perlu sampai gitu. Aku rasa Joya akan sangat senang kalau Melinda mau berbagi semua


resep masakannya.”


Joya : “Mau...!”


Melinda : “Harusnya kau yang bayar aku, Boy. Itu kan rahasia restauranku.”


Boy : “Aku jamin Joya tidak akan membocorkannya pada siapapun. Ya kan, sayangku.”


Joya : “Iya. Sudah pasti.”


Melihat istrinya sangat senang, Boy lanjut membeberkan apa yang harus Azriel lakukan


untuk mengubah manajemen restaurannya. Pertama-tama Azriel harus melakukan


evaluasi terhadap restaurannya. Terutama dari segi keuangannya, apa semua


restauran itu memang untung atau malah rugi.


Setelah itu langkah kedua melakukan evaluasi terhadap kinerja karyawan. Tentu saja harus


menyewa orang yang ahli di bidang tenaga kerja. Banyak pekerjaan rumah lain


yang harus dilakukan Azriel terhadap ke 4 restaurannya itu.


Azriel : “Aku kira membuka restauran sangat mudah. Ternyata sulit juga ya. Apalagi kalau


Boy : “Sama saja dengan perusahaan, kita tidak bisa terus mengawasi cabangnya. Yang bisa


kita lakukan adalah memberi mereka target. Kalau capai target, dapat bonus.


Kalau tidak, evaluasi lagi. Paling bagus kalau tiap bulan.”


Azriel : “Aku benar-benar harus belajar banyak darimu.”


Boy : “Semakin banyak Melinda ngasi resep masakannya, aku akan terus memberi tahu apa yang


harus kau lakukan.”


Azriel : “Deal.”


Melinda : “Hei, kalian bahkan tidak tanya pendapatku dulu. Apa-apaan semua pria ini, seenaknya


sendiri.”


Joya : “Pria memang seperti itu kan? Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka.”


Melinda : “Ya, termasuk bilang aku cinta padamu tapi ujung-ujungnya kau tertipu. Hahaha...”


Boy dan Azriel saling pandang melihat istri mereka sangat kompak dan akrab. Tak terasa mereka ngobrol


sampai waktu makan malam tiba. Kali ini Melinda mempertunjukkan kemampuan


memasaknya. Dibantu seorang asisten rumah tangga dan juga Joya, ia kembali


memasak makanan untuk makan malam mereka.

__ADS_1


Boy dan Azriel yang hanya melihat dari meja makan, masih mengobrol akrab.


Azriel : “Tumben aku lihat Melinda semangat sekali masak. Apa karena ada kamu ya?”


Boy : “Maksudmu?”


Azriel : “Sejak kami nikah, Melinda sering cerita tentang kamu.”


Boy : “Cerita aib ya.”


Azriel : “Iya, sih. Katanya kamu teman setannya.”


Boy tertawa mendengar kata-kata Azriel.


Boy : “Wajar kan setan temenan sama setan.”


Azriel : “Apa Melinda juga sama sepertimu dulu?”


Boy : “Sebenarnya apa yang diceritakan Melinda tentang aku?”


Azriel : “Ya, kau tahu semacam kenakalan anak remaja. Bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas,


melanggar peraturan.”


Boy : “Aku iya, Melinda, tidak. Dia sering menolongku kalau aku sedang dihukum guru. Karena itu


aku suka dia.”


Azriel : “Kau suka Melinda?”


Boy : “Bukan suka yang seperti itu. Jangan salah paham. Kami berteman baik dan dekat, tapi tidak


pernah muncul perasaan suka lebih dari itu. Lagipula dia sangat culun dulu.


Sangat berbeda dengan penampilannya sekarang.”


Melinda : “Kalian ngomongin aku ya.”


Melinda berjalan mendekati mereka berdua sambil mengelap tangannya dengan napkin. Joya tampak


membawa dua piring makanan hasil masakan Melinda. Begitu juga dengan asisten


rumah tangga yang berjalan di belakang Joya.


Joya : “Wah,  teknik masaknya memang tingkat tinggi. Pantas saja masakanmu sangat enak.”


Melinda : “Kamu nich, punya stok pujian berapa banyak. Dari tadi gak habis-habis.”


Joya : “Hehe... namanya juga seneng.”


Azriel : “Ayo, kita makan. Boy, Joya.”


Melinda : “Serius nich, kalian ngomongin aku?” kejar Melinda pada Azriel.


Azriel : “Iya, sayang. Ngomongin yang bagus kok.”


Melinda : “Kenapa aku gak percaya ya?”


Boy : “Ayo, kita makan saja. Nanti kami pulang kemalaman.”


Boy dan Joya menikmati makan malam mereka sambil mengobrol dengan Melinda dan Azriel. Sesama


teman memang harus saling berbagi tanpa khawatir apapun.


*****

__ADS_1


Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2