
Eps. 20 – Calon adik ipar
Boy mulai cemberut saat melihat Joya akrab dengan Nanda. Dan kecemburuan Boy tertangkap
oleh Nanda.
Nanda : “Baiklah, tuan Boy dan Joya. Oh, sudah jam berapa sekarang, saya harus pergi menjemput
putri saya atau dia akan marah besar nanti.”
Nanda bersalaman dengan Boy dan Joya, ia melihat deretan anak buah Pak Joni yang
hanya bengong menatap mereka.
Nanda : “Ach, masih ada sisa tikus disini. Bagaimana kalau saya lenyapkan mereka, tuan Boy?”
Anak buah Pak Joni yang bukan karyawan di perusahaan Boy langsung ngibrit melarikan diri
setelah mendengar kata-kata Nanda. Sementara yang berstatus karyawan hanya bisa
menunduk menerima nasib.
Mereka berlutut di depan Boy dan Joya, memohon ampun. Boy memerintahkan pemecatan tidak hormat
untuk mereka semua dan petugas keamanan kantor Boy mengawal mereka keluar dari
kantor Boy.
Akhirnya setelah drama yang mencekam, Nanda pergi dari kantor Boy. Ia meninggalkan dua
anak buahnya disana untuk mengawasi keadaan dan membantu petugas kebersihan
merapikan kantor Boy yang berantakan.
Boy, Joya, Rian, dan Niken duduk di sofa kantor Boy. Mereka sedang menikmati minuman dan makanan
yang dipesan Joya. Boy dan Rian masih meringis karena bibir mereka terluka.
Keduanya sangat manja pada istri mereka dan minta disuapi makan.
Niken : “Oh, my baby. Kenapa kamu gak balas pukul dia?”
Rian : “Siapa yang ngira dia jago berkelahi. Sakit, babe.”
Joya tersenyum melihat Rian bermanja-manja pada Niken. Ia juga menyuapi Boy makan sambil sesekali
melamun memikirkan kondisi sekretaris Carol.
*****
Satu tempat yang indah di pinggir kota, tepatnya di villa milik Nanda, Carol sedang
diperiksa oleh dokter pribadi Nanda. Nando yang sudah sampai juga di villa itu,
mondar-mandir menunggu di luar kamar. Ia tidak berani masuk karena pelayan
wanita Nanda sudah melepas semua pakaian Carol dan membaringkannya tengkurap.
Carol : “Ugh...”
Perlahan sekretaris Carol mulai membuka matanya, ia hampir bangun saat teringat sesuatu,
Carol : “Aaoowww...”
Carol meringis merasakan sakit di punggungnya.
__ADS_1
Dokter : “Tolong tenang dulu, nona. Saya masih mengobati luka nona.”
Carol : “Anda siapa?”
Ada nada ketakutan dalam pertanyaan Carol. Ia menggenggam erat selimut yang menutupi
tubuhnya, dirinya sedikit lega melihat ada wanita di ruangan itu juga. Dokter
menjelaskan kalau dia adalah dokter pribadi tuan Nanda.
Carol : “Siapa tuan Nanda?”
Nando : “Dia kakakku. Tadi aku minta bantuannya, kau ingat?”
Nando sudah masuk ke dalam kamar karena pelayan memberitahunya kalau Carol sudah bangun.
Wajah Carol memerah melihat Nando berdiri di dekatnya. Ia tidak bisa menarik
selimutnya karena dokter sedang mengoleskan obat.
Carol : “Oh. Bi...bisa gak kamu balik badan, Nando.”
Nando : “Maaf.”
Nando duduk di kursi membelakangi Carol. Dokter dan pelayan menarik selimut menutupi tubuh
Carol yang sudah selesai diobati. Dokter mengatakan kalau Carol sudah bisa
bangun, dia boleh bangun. Tapi kalau belum bisa, pelayan akan membantunya untuk
memiringkan tubuhnya.
Carol mencoba bangun meski dengan wajah meringis menahan sakit. Dokter memberinya obat
penghilang rasa sakit setelah Carol duduk dengan baik sambil memegang erat
patah, dan kakinya hanya terkilir.
Carol mencoba menggerakkan kakinya dan meringis kesakitan lagi. Dokter dan pelayan
meninggalkan Nando berdua dengan Carol. Carol duduk diatas tempat tidur,
menekuk kakinya dan bersandar pada lututnya.
Carol : “Nando, apa Ny.Joya baik-baik saja?”
Nando : “Ya. Kamu datang tepat waktu. Tapi kamu terluka.”
Carol : “Ach, syukurlah. Luka ini juga sebentar lagi sembuh.”
Nando : “Boleh aku balik badan, gak nyaman ngomong posisi gini.”
Carol : “Iya.”
Nando membalik kursinya, ia terpana melihat Carol duduk di atas tempat tidur dengan selimut
menutupi tubuhnya tapi memperlihatkan pundak dan kakinya yang putih mulus.
Rambut ikal Carol terkumpul di satu bagian pundaknya, menutupi sisi pundaknya
yang terlihat.
Carol : “Nando, jangan ngliatin aku kayak gitu.”
Nando : “Kamu cantik.”
__ADS_1
Wajah Carol semakin merona mendengar pujian Nando, tapi ia teringat kalau Nando sudah punya calon
istri.
Carol : “Nando, kenapa aku dibawa kesini? Bukan ke rumah sakit?”
Nando : “Karena aku sudah janji sama kakakku untuk membawa pulang calon istriku malam ini.”
Carol : “Apa hubungannya denganku?!”
Nando bergerak ke dekat Carol yang tidak bisa bergerak menjauh. Carol memejamkan matanya
merasakan nyeri di punggung dan kakinya. Nando menganggapnya sebagai undangan
untuk mencium Carol.
Carol : “Aacchh...”
Nanda yang baru datang, langsung salah paham mendengar desahan Carol. Ia mengintip dari balik
pintu dan melihat Nando sedang mencium Carol. Padahal belum ciuman, cuma
hampir. Nando menahan dirinya melihat Carol meringis. Nanda sangat-sangat salah
paham, hingga menatap intens pada kedua insan di dalam kamar itu.
Pandangan yang sangat mengintimidasi Nando, ia langsung menoleh melihat ke arah pintu. Nanda
sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.
Nando : “Kak, ngapain ngintip disitu.”
Nanda : “Bocah tengik. Kau sangat tidak sabaran ya. Calon istrimu masih sakit, kau mau
melakukan itu padanya.”
Nando : “Aku? Dia? Kakak ngomong apa?!”
Nanda : “Hei, aku juga tidak bisa menahan hasratku, tapi tunggu dia sembuh. Atau dia akan
pingsan lagi nanti.”
Nando : “Kak! Jangan ngaco, aku gak ngapa-ngapain?”
Nanda : “Kau tidak bisa membodohiku, bocah nakal. Menjauh darinya. Kau ini.”
Nanda masuk juga ke dalam kamar itu. Carol masih belum bisa bergerak, dokter juga
melarangnya menutup punggungnya dulu. Nando yang melihat wajah Carol memerah,
menahan Nanda yang ingin mendekati Carol.
Nando : “Kak, dari situ aja. Carol gak pake baju.”
Nanda : “Aku gak akan ngintip calon adik ipar. Aku hanya ingin menyapanya.”
Carol : “Tuan, terima kasih sudah menolong saya.”
Nanda : “Apa Nando belum cerita kalau aku kakaknya? Panggil aku kakak ipar Nanda.”
Carol : “Apa maksud, tuan?”
Nanda menatap tajam pada Nando yang sudah pucat karena hampir ketahuan bohong.
*****
__ADS_1
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.