Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Mengintai


__ADS_3

Boy dan Rian


sedang berada di dalam rumah makan yang sama dengan Joya dan Niken. Mereka


memilih duduk di balai-balai yang persis berada di samping meja Joya dan Niken.


Sesekali mereka bisa mendengar pembicaraan kedua wanita itu.


Setelah Niken


meninggalkan kantor, Boy dan Rian mengikuti Niken dengan menggunakan mobil


biasa. Mereka menguntit para istri mereka yang keluar bersama untuk makan


siang.


Boy : “Kamu


lagi ada masalah sama Niken?”


Rian : “Iya,


tuan.”


Boy : “Jangan


manggil tuan. Ntar kedengaran mereka.”


Rian : “Hanya


masalah rumah tangga biasa, bos.”


Boy : “Trus


kenapa harus minta ketemu istriku?”


Rian : “Wanita


perlu teman curhat kan?”


Boy : “Kau


dengar gak mereka bicara apa?”


Rian : “Sesuatu


tentang rencana mbak Putri.”


Boy : “Masa?


Apalagi?”


Rian :


“Sepertinya istri saya akan merencanakan sesuatu malam ini.”


Boy : “Ach, aku


akan tanya istriku nanti. Cepat kita makan, sepertinya mereka hampir selesai


makan.”


Dan begitulah


para suami menguntit para istri mereka sampai mereka berdua melihat Niken


mengantar balik Joya kembali ke kantornya.


*****


Niken bergegas


pulang ketika jam pulang tiba. Ia mengendarai mobil Rian lagi karena tadi Rian


bilang dia akan sedikit terlambat karena Boy masih belum selesai meeting. Niken


mampir ke rumah makan dekat rumah mereka untuk membeli lauk makan malam.


Ia sampai di


rumah dengan cepat dan ingin mulai membersihkan dirinya. Niken berusaha


mengabaikan perabotan rumah yang sedikit berdebu, hanya sedikit dan ia mulai


gatal ingin mengambil lap.


Niken : “Niken,


fokus. Kamu harus menyiapkan makan malam dulu dan mulai luluran.”


Niken


melakukannya dengan cepat, menghidangkan makan malam dan masuk ke kamarnya. Ia


mengambil sebotol lulur sebelum masuk ke kamar mandi.


Niken juga


mencari beberapa botol aromatheraphy untuk ia masukkan ke pembersih udara di


kamar mereka. Ia menuangkan beberapa tetes dan membiarkan pembersih udara itu


bekerja.


Ia ingat untuk


mengambil lingeri di dalam lemari. Lingerie berwarna merah itu tampak kontras


dengan kulit putihnya. Niken memulai memakai lulur di sekujur tubuhnya, ia


merasa sangat relaks ketika mencium aroma yang keluar dari pembersih udara di


kamar itu.


Niken : “Joya


benar, aku harus melakukan ini sekali-sekali. Rasanya benar-benar luar biasa.”


Ketika lulur


mulai mengering, Niken mengurut perlahan daki di permukaan kulit tubuhnya. Ia


tidak mengalami kesulitan ketika melakukannya pada lengan, kaki dan tubuh


bagian depannya. Tapi saat ingin mengurut punggung, Niken agak kesulitan.


Saat itu


seseorang datang dan mulai mengurut punggung Niken,


Rian : “Kau


bisa minta bantuanku, Niken.”


Niken : “Rian?!


Kamu sudah pulang?”


Rian : “Iya,


maaf aku masuk tanpa ketuk pintu dulu. Aku lihat kamu gak bisa mengurut


punggungmu.”


Niken


membiarkan Rian mengurut punggungnya, sesekali mengelus punggung Niken yang


sudah bersih dari daki. Niken semakin merapatkan handuk kecil yang ia pegang


untuk menutupi tubuh bagian depannya sejak Rian masuk kesana.


Melihat Niken

__ADS_1


yang enggan, Rian tersenyum dan membasuh tangannya di wastafel.


Rian : “Kamu


lanjutin ya. Aku keluar dulu.”


Niken melihat


Rian hampir keluar dari kamar mandi, ia bangkit dan berjalan cepat mendekati


Rian, menarik tangannya.


Rian : “Niken?


Kenapa?”


Niken :


“Ap...apa kau mau mandi?”


Niken menelan


salivanya dengan susah payah. Rasa geli mulai muncul di perutnya, menggelitiki


pusat syarafnya.


Rian : “Ya,


kamu yang pasang aromatherapy ya? Aku jadi mau berendam air hangat.”


Niken : “Buka


bajumu. Kita... berendam sama-sama.”


Rian terpana


melihat wajah merona Niken yang dengan berani menjatuhkan handuk yang


dipegangnya.


Rian : “Kamu


yakin?”


Niken : “Iya.”


Mereka masuk ke


dalam bathup bersama, Rian duduk di belakang Niken, ia mengusap punggung Niken


hingga bersih kembali.


Rian : “Kamu


capek?”


Niken : “Nggak.


Kamu?”


Rian : “Nggak


juga. Makan malam udah siap?”


Niken : “Udah,


tapi aku gak masak. Tadi beli di luar.”


Rian : “Gak


pa-pa. Habis makan kamu mau ngapain?”


Niken : “Kamu


mau ngapain?”


Rian : “Boleh


ya...”


apa?”


Rian : “Kamu


gak ngerti?”


Niken : “Nggak.


Apaan?”


Rian : “Gak


pa-pa. Bilas yuk. Aku dah laper.”


Mereka masuk ke


bawah shower dan membersihkan diri bersama. Niken mengambil handuk dan


memberikannya pada Rian.


Niken : “Rian,


keringin badanku dong. Aku mau keringin rambutku dulu.”


Rian melakukan


apa yang diminta Niken, ia melakukannya sangat lambat sampai Niken sedikit


menggigil.


Rian : “Dingin


ya? Mau dipeluk?”


Rian


merentangkan tangannya, Niken tersenyum dan langsung memeluk tubuh Rian. Mereka


berpelukan hanya sekedar mencari kehangatan setelah mandi. Setelah puas memeluk


Niken, Rian berjalan keluar kamar mandi.


Niken menutup


pintu kamar mandi dan segera memakai lingeri yang tadi dibawanya. Untung saja


Niken menyembunyikan lingerie itu di bawah bathrobe. Rian belum melihatnya.


*****


Mereka makan


malam bersama, Rian mengkerutkan keningnya melihat Niken masih memakai


bathrobe.


Rian : “Kenapa


gak pakai piyama?”


Niken : “Nanti


aja. Aku udah laper juga.”


Rian hanya


mengangguk-angguk. Selesai makan, Rian membantu Niken mencuci piring.


Rian : “Kamu


udah ngantuk?”


Niken : “Iya.

__ADS_1


Kenapa?”


Rian : “Tidur


duluan ya. Aku masih mau nonton TV.”


Niken : “Aku


temenin nonton ya.”


Rian : “Katanya


uda ngantuk.”


Niken : “Aku


baru ingat ada acara bagus malam ini.”


Dan disinilah


mereka, Rian ingin menonton channel bola dan Niken juga mengatakan hal yang


sama.


Rian : “Sejak


kapan kamu suka nonton bola?”


Niken : “Itu,


aku suka lihat pemainnya, banyak yang ganteng.”


Rian : “Oh,


ganteng ya. Emang aku gak ganteng?”


Niken : “Mereka


kan bule, gantengnya beda. Maksudku kamu juga ganteng kok.”


Rian tidak


menanggapi Niken lagi, ia fokus menatap layar TV. Niken mulai gelisah karena ia


tidak mengerti permainan bola. Keningnya terus mengkerut melihat 22 orang


berlari kesana kemari menggiring 1 bola.


Rian : “Kenapa


kamu ngliatin TV gitu?”


Niken : “Aku


gak ngerti permainan bola. Kenapa mereka gak dikasi bola satu-satu daripada


rebutan gitu.”


Rian tertawa


mendengar kata-kata Niken.


Rian : “Namanya


juga pertandingan.”


Rian melirik


bathrobe yang dipakai Niken, karena terus gelisah, Niken tidak sadar kalau tali


bathrobenya terlepas. Rian bisa melihat sesuatu berwarna merah yang dipakai


Niken. Kali ini Rian melirik wajah Niken yang masih berkerut.


Sambil menatap


layar TV, Rian melingkarkan lengannya menyentuh pundak Niken.


Rian : “Diem


dulu. Pertandingannya lagi seru nich.”


Niken tidak


menepis tangan Rian, ia bersandar dengan nyaman di bahu Rian.


Rian : “Ayo


taruhan. Kamu pilih salah satu tim. Kalau tim yang kamu pilih menang, kamu


boleh minta sesuatu.”


Niken : “Ok


deal. Aku pilih yang baju merah.”


Rian : “Ok.”


Sampai akhir


pertandingan itu, Niken yang menang. Ia bersorak gembira dan duduk menghadap


Rian yang pura-pura cemberut.


Niken : “Aku


menang.”


Rian : “Iya.


Kamu minta apa?”


Niken : “Kamu


masih mau nonton?”


Rian : “Nggak.


Aku udah ngantuk.”


Niken : “Udah


ngantuk ya...”


Melihat Niken


yang kecewa, Rian tersenyum.


Rian : “Kamu


mau apa? Aku temenin.”


Niken :


“Itu...”


Niken


memberanikan dirinya mendekat pada Rian dan berbisik sesuatu yang membuat wajah


Rian merona, ia tersenyum bahagia. Rian bangkit dari sofa dan menggendong Niken


masuk ke kamar mereka.


*****


Nah, yo...


nungguin adegan 18 ++ ya. Gak boleh ya nanti author kena tegur editor MT.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2