
Boy dan Rian
sedang berada di dalam rumah makan yang sama dengan Joya dan Niken. Mereka
memilih duduk di balai-balai yang persis berada di samping meja Joya dan Niken.
Sesekali mereka bisa mendengar pembicaraan kedua wanita itu.
Setelah Niken
meninggalkan kantor, Boy dan Rian mengikuti Niken dengan menggunakan mobil
biasa. Mereka menguntit para istri mereka yang keluar bersama untuk makan
siang.
Boy : “Kamu
lagi ada masalah sama Niken?”
Rian : “Iya,
tuan.”
Boy : “Jangan
manggil tuan. Ntar kedengaran mereka.”
Rian : “Hanya
masalah rumah tangga biasa, bos.”
Boy : “Trus
kenapa harus minta ketemu istriku?”
Rian : “Wanita
perlu teman curhat kan?”
Boy : “Kau
dengar gak mereka bicara apa?”
Rian : “Sesuatu
tentang rencana mbak Putri.”
Boy : “Masa?
Apalagi?”
Rian :
“Sepertinya istri saya akan merencanakan sesuatu malam ini.”
Boy : “Ach, aku
akan tanya istriku nanti. Cepat kita makan, sepertinya mereka hampir selesai
makan.”
Dan begitulah
para suami menguntit para istri mereka sampai mereka berdua melihat Niken
mengantar balik Joya kembali ke kantornya.
*****
Niken bergegas
pulang ketika jam pulang tiba. Ia mengendarai mobil Rian lagi karena tadi Rian
bilang dia akan sedikit terlambat karena Boy masih belum selesai meeting. Niken
mampir ke rumah makan dekat rumah mereka untuk membeli lauk makan malam.
Ia sampai di
rumah dengan cepat dan ingin mulai membersihkan dirinya. Niken berusaha
mengabaikan perabotan rumah yang sedikit berdebu, hanya sedikit dan ia mulai
gatal ingin mengambil lap.
Niken : “Niken,
fokus. Kamu harus menyiapkan makan malam dulu dan mulai luluran.”
Niken
melakukannya dengan cepat, menghidangkan makan malam dan masuk ke kamarnya. Ia
mengambil sebotol lulur sebelum masuk ke kamar mandi.
Niken juga
mencari beberapa botol aromatheraphy untuk ia masukkan ke pembersih udara di
kamar mereka. Ia menuangkan beberapa tetes dan membiarkan pembersih udara itu
bekerja.
Ia ingat untuk
mengambil lingeri di dalam lemari. Lingerie berwarna merah itu tampak kontras
dengan kulit putihnya. Niken memulai memakai lulur di sekujur tubuhnya, ia
merasa sangat relaks ketika mencium aroma yang keluar dari pembersih udara di
kamar itu.
Niken : “Joya
benar, aku harus melakukan ini sekali-sekali. Rasanya benar-benar luar biasa.”
Ketika lulur
mulai mengering, Niken mengurut perlahan daki di permukaan kulit tubuhnya. Ia
tidak mengalami kesulitan ketika melakukannya pada lengan, kaki dan tubuh
bagian depannya. Tapi saat ingin mengurut punggung, Niken agak kesulitan.
Saat itu
seseorang datang dan mulai mengurut punggung Niken,
Rian : “Kau
bisa minta bantuanku, Niken.”
Niken : “Rian?!
Kamu sudah pulang?”
Rian : “Iya,
maaf aku masuk tanpa ketuk pintu dulu. Aku lihat kamu gak bisa mengurut
punggungmu.”
Niken
membiarkan Rian mengurut punggungnya, sesekali mengelus punggung Niken yang
sudah bersih dari daki. Niken semakin merapatkan handuk kecil yang ia pegang
untuk menutupi tubuh bagian depannya sejak Rian masuk kesana.
Melihat Niken
__ADS_1
yang enggan, Rian tersenyum dan membasuh tangannya di wastafel.
Rian : “Kamu
lanjutin ya. Aku keluar dulu.”
Niken melihat
Rian hampir keluar dari kamar mandi, ia bangkit dan berjalan cepat mendekati
Rian, menarik tangannya.
Rian : “Niken?
Kenapa?”
Niken :
“Ap...apa kau mau mandi?”
Niken menelan
salivanya dengan susah payah. Rasa geli mulai muncul di perutnya, menggelitiki
pusat syarafnya.
Rian : “Ya,
kamu yang pasang aromatherapy ya? Aku jadi mau berendam air hangat.”
Niken : “Buka
bajumu. Kita... berendam sama-sama.”
Rian terpana
melihat wajah merona Niken yang dengan berani menjatuhkan handuk yang
dipegangnya.
Rian : “Kamu
yakin?”
Niken : “Iya.”
Mereka masuk ke
dalam bathup bersama, Rian duduk di belakang Niken, ia mengusap punggung Niken
hingga bersih kembali.
Rian : “Kamu
capek?”
Niken : “Nggak.
Kamu?”
Rian : “Nggak
juga. Makan malam udah siap?”
Niken : “Udah,
tapi aku gak masak. Tadi beli di luar.”
Rian : “Gak
pa-pa. Habis makan kamu mau ngapain?”
Niken : “Kamu
mau ngapain?”
Rian : “Boleh
ya...”
apa?”
Rian : “Kamu
gak ngerti?”
Niken : “Nggak.
Apaan?”
Rian : “Gak
pa-pa. Bilas yuk. Aku dah laper.”
Mereka masuk ke
bawah shower dan membersihkan diri bersama. Niken mengambil handuk dan
memberikannya pada Rian.
Niken : “Rian,
keringin badanku dong. Aku mau keringin rambutku dulu.”
Rian melakukan
apa yang diminta Niken, ia melakukannya sangat lambat sampai Niken sedikit
menggigil.
Rian : “Dingin
ya? Mau dipeluk?”
Rian
merentangkan tangannya, Niken tersenyum dan langsung memeluk tubuh Rian. Mereka
berpelukan hanya sekedar mencari kehangatan setelah mandi. Setelah puas memeluk
Niken, Rian berjalan keluar kamar mandi.
Niken menutup
pintu kamar mandi dan segera memakai lingeri yang tadi dibawanya. Untung saja
Niken menyembunyikan lingerie itu di bawah bathrobe. Rian belum melihatnya.
*****
Mereka makan
malam bersama, Rian mengkerutkan keningnya melihat Niken masih memakai
bathrobe.
Rian : “Kenapa
gak pakai piyama?”
Niken : “Nanti
aja. Aku udah laper juga.”
Rian hanya
mengangguk-angguk. Selesai makan, Rian membantu Niken mencuci piring.
Rian : “Kamu
udah ngantuk?”
Niken : “Iya.
__ADS_1
Kenapa?”
Rian : “Tidur
duluan ya. Aku masih mau nonton TV.”
Niken : “Aku
temenin nonton ya.”
Rian : “Katanya
uda ngantuk.”
Niken : “Aku
baru ingat ada acara bagus malam ini.”
Dan disinilah
mereka, Rian ingin menonton channel bola dan Niken juga mengatakan hal yang
sama.
Rian : “Sejak
kapan kamu suka nonton bola?”
Niken : “Itu,
aku suka lihat pemainnya, banyak yang ganteng.”
Rian : “Oh,
ganteng ya. Emang aku gak ganteng?”
Niken : “Mereka
kan bule, gantengnya beda. Maksudku kamu juga ganteng kok.”
Rian tidak
menanggapi Niken lagi, ia fokus menatap layar TV. Niken mulai gelisah karena ia
tidak mengerti permainan bola. Keningnya terus mengkerut melihat 22 orang
berlari kesana kemari menggiring 1 bola.
Rian : “Kenapa
kamu ngliatin TV gitu?”
Niken : “Aku
gak ngerti permainan bola. Kenapa mereka gak dikasi bola satu-satu daripada
rebutan gitu.”
Rian tertawa
mendengar kata-kata Niken.
Rian : “Namanya
juga pertandingan.”
Rian melirik
bathrobe yang dipakai Niken, karena terus gelisah, Niken tidak sadar kalau tali
bathrobenya terlepas. Rian bisa melihat sesuatu berwarna merah yang dipakai
Niken. Kali ini Rian melirik wajah Niken yang masih berkerut.
Sambil menatap
layar TV, Rian melingkarkan lengannya menyentuh pundak Niken.
Rian : “Diem
dulu. Pertandingannya lagi seru nich.”
Niken tidak
menepis tangan Rian, ia bersandar dengan nyaman di bahu Rian.
Rian : “Ayo
taruhan. Kamu pilih salah satu tim. Kalau tim yang kamu pilih menang, kamu
boleh minta sesuatu.”
Niken : “Ok
deal. Aku pilih yang baju merah.”
Rian : “Ok.”
Sampai akhir
pertandingan itu, Niken yang menang. Ia bersorak gembira dan duduk menghadap
Rian yang pura-pura cemberut.
Niken : “Aku
menang.”
Rian : “Iya.
Kamu minta apa?”
Niken : “Kamu
masih mau nonton?”
Rian : “Nggak.
Aku udah ngantuk.”
Niken : “Udah
ngantuk ya...”
Melihat Niken
yang kecewa, Rian tersenyum.
Rian : “Kamu
mau apa? Aku temenin.”
Niken :
“Itu...”
Niken
memberanikan dirinya mendekat pada Rian dan berbisik sesuatu yang membuat wajah
Rian merona, ia tersenyum bahagia. Rian bangkit dari sofa dan menggendong Niken
masuk ke kamar mereka.
*****
Nah, yo...
nungguin adegan 18 ++ ya. Gak boleh ya nanti author kena tegur editor MT.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.