Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Dipecat


__ADS_3

Tiba-tiba pintu


ruang kerja Boy di buka paksa oleh seseorang. Lia melotot kaget melihat Rian


masuk bersama kepala security. Wanita cantik itu segera turun dari atas tubuh


Boy dan pura-pura sedang dilecehkan oleh Boy.


Lia : “Pak


Rian, tuan Boy memaksa saya.”


Rian : “Begitu...”


Lia : “Iya,


pak. Lihat baju saya robek.”


Lia menunjukkan


blusnya pada Rian yang sengaja ia robek tadi. Wajahnya terlihat sangat sedih.


Rian : “Sudah


cukup aktingnya?”


Lia : “Apa?


Saya tidak berakting. Tuan Boy...”


Rian memutar


sebuah rekaman video yang menunjukkan dengan jelas bagaimana kelakuan Lia


terhadap Boy tadi. Wajah Lia pucat seketika melihat betapa ****** dirinya di


video itu.


Rian : “Segera


kemasi barang-barangmu keluar dari kantor ini atau video ini akan tersebar di


internet. Kau masi mau berkarir kan?”


Lia tidak punya


pilihan lain, ia berlari keluar ruang kerja Boy. Rian memberi tanda pada kepala


security untuk mengikuti Lia dan memastikan sekretaris genit itu keluar dari


kantor Boy dan tidak kembali lagi.


Rian mendekati


Boy yang tampak berkeringat dengan nafas ngos-ngosan. Ia menarik-narik


kemejanya sendiri.


Rian : “Tuan!


Apa yang tuan minum tadi?”


Boy : “Panas


sekali...”


Rian


mencari-cari bekas pembungkus obat yang tadi diminum Boy. Dirinya garuk-garuk


kepala melihat obat apa yang diminum tuannya. Untung saja tadi Rian sempat


menghubungi seseorang untuk membereskan kekacauan ini.


Telpon di


ruangan Boy berdering, Rian segera mengangkatnya.


Rian : “Halo.


Sudah datang? Segera antar ke atas.”


Rian menutup


telponnya, ia membantu Boy berdiri dan membawanya masuk ke ruang istirahatnya.


Boy tergeletak diatas tempat tidur dengan kemeja terbuka, Rian membantu membuka


kemeja Boy dan juga menarik gerper sabuk Boy hingga sabuknya terlepas.


Pantas saja Lia


ngiler melihat Boy dan ingin memilikinya. Selain kaya raya, tubuh Boy sangat


bagus dengan otot yang sempurna. Rian melirik otot di bagian bawah perut Boy,


ia menggaruk kepalanya lagi.


Rian : “Sabar


sebentar ya, tuan.”


Pintu ruang


kerja Boy terbuka, Joya diantar masuk oleh resepsionis.


Joya : “Mas


Boy?”


Rian keluar


dari ruang istirahat dan meminta Joya segera masuk ke dalam sana.


Rian : “Mohon


bantuannya, Ny. Joya.”


Joya : “Ada


apa? Mas Boy sakit lagi?”


Rian : “Iya,


Ny. Joya. Tuan sangat kesakitan.”


Tanpa pikir


panjang lagi, Joya masuk ke ruang istirahat itu dan Rian menutup pintu dari


luar. Klik. Pintu otomatis terkunci, Joya menoleh melihat pintu yang tertutup. Saat

__ADS_1


ia berbalik lagi, Boy sudah menarik tangan Joya hingga tubuhnya jatuh diatas


tubuh Boy.


Joya : “Mas? Badanmu


panas sekali.”


Boy : “Joya...”


Joya : “Iya,


mas. Aku disini, dimana yang sakit?”


Boy : “Panas...


Tubuhmu dingin.”


Boy menciumi


leher Joya, meninggalkan banyak jejak merah disana. Sesekali Joya menggelinjang


karena kaget tiba-tiba diserang Boy.


Joya : “Mas...


sabar dulu. Mas kenapa sich? Jangan dibuka...”


Boy hampir


tidak mendengar kata-kata Joya, ia menarik kemeja yang dipakai Joya saat itu


hingga kancingnya terlepas. Dengan agresif, Boy merobek rok Joya. Joya menahan rasa


geli di tubuhnya saat Boy menciumi daerah sensitif Joya.


Joya : “Mas!”


Joya berteriak


saat Boy menyatukan tubuh mereka. Dirinya tidak bohong kalau ikut menikmati


permainan Boy. Tapi Joya bingung kenapa bisa diserang dengan tiba-tiba oleh


Boy. Tubuh Joya terhentak dengan kuat, keringat mulai membasahi tubuh mereka.


Boy cukup kuat


hingga membuat Joya lemas berkali-kali. Setelah hentakan kesekian kalinya,


tubuh Boy menegang bersamaan dengan Joya. Keduanya terjatuh diatas tempat tidur


dengan nafas ngos-ngosan.


Boy langsung


tertidur pulas, tidak mempedulikan apapun lagi. Bahkan perasaan Joya yang


sedikit sakit melihat suaminya itu langsung tidur tanpa melihat padanya. Joya


tidak tahu kalau Boy sedang dalam pengaruh obat.


Joya merasa


sangat tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya yang penuh bekas ciuman Boy.


Suaminya itu memberi tanda hampir di semua bagian tubuhnya. Joya ingin ke kamar


Joya meraih


ponselnya dan menelpon Niken,


Joya : “Halo,


kak. Bisa minta tolong?”


Niken : “Iya,


Ny. Ada apa?”


Joya : “Oh,


berhentilah memanggilku Ny. Kak, bisa minta tolong belikan baju untukku dan mas


Boy.”


Niken : “Kenapa?


Apa yang terjadi?”


Joya : “Itu...


mas Boy... bajuku dirobek...”


Niken : “Joya,


kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?”


Joya : “Kak,


tolong belikan baju dulu. Bawain ke ruangannya mas Boy ya. Kalo bisa yang


tertutup ya, kak. Dress panjang gitu.”


Niken : “Ah,


iya. Tunggu ya.”


Setelah


sambungan telponnya dengan Joya terputus, Niken malah menelpon Rian.


Rian : “Ya,


babe?”


Niken : “Apa


yang terjadi dengan Joya? Barusan dia telpon aku minta dibelikan baju.”


Rian : “Panjang


ceritanya, babe. Belikan dulu sana. Nanti kita ngobrol disini.”


Niken : “Oh,


okey.”


Niken pergi


membelikan pakaian untuk Joya dan Boy.

__ADS_1


*****


Setelah


mendapat apa yang dipesan Joya, Niken segera kembali ke kantor dan langsung


naik ke lantai atas ruang kerja Boy. Niken melihat ada wanita cantik yang


sedang duduk di meja Lia. Ia tersenyum menatap wanita itu.


Niken : “Rian...”


panggil Niken sambil melongok ke ruang kerja Rian.


Rian : “Hai,


babe.”


Niken : “Jangan


panggil gitu disini. Malu.”


Rian : “Cuma


ada Carol.”


Niken : “Siapa


Carol?”


Merasa namanya


disebut, wanita itu bangkit berdiri dan membungkuk sebentar.


Carol : “Saya


Carol, bu. Sekretaris tuan Boy yang baru.”


Niken : “Hai,


Carol. Dimana Lia?”


Rian keburu


mendorong Niken masuk ke ruang kerja Boy.


Rian : “Tolong


urus Ny. Joya dulu. Nanti aku cerita kejadiannya ya.”


Niken masuk ke


ruang kerja Boy dan Rian menunjuk tempat ruang istirahat Boy. Niken melangkah


kesana dan mengetuk pintu. Ia mengetuk pintu ruangan itu dan menunggu Joya


membuka pintu. Ponsel Niken berdering,


Niken : “Halo,


Joya. Aku di depan pintu. Buka dong.”


Joya : “Tolong tanya


kak Rian. Ini password-nya berapa?”


Niken : “Password


apa?”


Joya : “Pintu


ini terkunci. Aku gak tau password-nya, kak.”


Niken : “Coba masukkan


tanggal lahirmu.”


Joya : “Emang


itu passwordnya?”


Niken : “Sapa


tau bener. Aku masih jalan keluar nich.”


Tring! Pintu


ruangan itu beneran terbuka dong. Wajah Joya muncul dari balik pintu.


Joya : “Kak


Niken! Sini. Tutup pintunya, trus kunci.”


Setelah Niken


melakukan apa yang disuruh Joya, Joya baru berani keluar dari ruangan itu


dengan tubuh berbalut kemeja Boy. Niken melongo melihat bekas merah memenuhi


beberapa tempat di tubuh Joya yang tidak tertutup. Menahan malunya, Joya


meminta paper bag yang dibawa Niken.


Niken : “Apa


tuan Boy yang melakukan itu?”


Joya : “Memangnya


siapa lagi. Aku ganti baju dulu ya, kak.”


Niken : “Aku


panggil Rian sekarang ya? Aku juga penasaran apa yang terjadi.”


Joya mengangguk


sambil berjalan ke kamar mandi.


*****


Nah yo yang


penasaran dengan up selanjutnya, bisa langsung kasi vote ya.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2