
Tiba-tiba pintu
ruang kerja Boy di buka paksa oleh seseorang. Lia melotot kaget melihat Rian
masuk bersama kepala security. Wanita cantik itu segera turun dari atas tubuh
Boy dan pura-pura sedang dilecehkan oleh Boy.
Lia : “Pak
Rian, tuan Boy memaksa saya.”
Rian : “Begitu...”
Lia : “Iya,
pak. Lihat baju saya robek.”
Lia menunjukkan
blusnya pada Rian yang sengaja ia robek tadi. Wajahnya terlihat sangat sedih.
Rian : “Sudah
cukup aktingnya?”
Lia : “Apa?
Saya tidak berakting. Tuan Boy...”
Rian memutar
sebuah rekaman video yang menunjukkan dengan jelas bagaimana kelakuan Lia
terhadap Boy tadi. Wajah Lia pucat seketika melihat betapa ****** dirinya di
video itu.
Rian : “Segera
kemasi barang-barangmu keluar dari kantor ini atau video ini akan tersebar di
internet. Kau masi mau berkarir kan?”
Lia tidak punya
pilihan lain, ia berlari keluar ruang kerja Boy. Rian memberi tanda pada kepala
security untuk mengikuti Lia dan memastikan sekretaris genit itu keluar dari
kantor Boy dan tidak kembali lagi.
Rian mendekati
Boy yang tampak berkeringat dengan nafas ngos-ngosan. Ia menarik-narik
kemejanya sendiri.
Rian : “Tuan!
Apa yang tuan minum tadi?”
Boy : “Panas
sekali...”
Rian
mencari-cari bekas pembungkus obat yang tadi diminum Boy. Dirinya garuk-garuk
kepala melihat obat apa yang diminum tuannya. Untung saja tadi Rian sempat
menghubungi seseorang untuk membereskan kekacauan ini.
Telpon di
ruangan Boy berdering, Rian segera mengangkatnya.
Rian : “Halo.
Sudah datang? Segera antar ke atas.”
Rian menutup
telponnya, ia membantu Boy berdiri dan membawanya masuk ke ruang istirahatnya.
Boy tergeletak diatas tempat tidur dengan kemeja terbuka, Rian membantu membuka
kemeja Boy dan juga menarik gerper sabuk Boy hingga sabuknya terlepas.
Pantas saja Lia
ngiler melihat Boy dan ingin memilikinya. Selain kaya raya, tubuh Boy sangat
bagus dengan otot yang sempurna. Rian melirik otot di bagian bawah perut Boy,
ia menggaruk kepalanya lagi.
Rian : “Sabar
sebentar ya, tuan.”
Pintu ruang
kerja Boy terbuka, Joya diantar masuk oleh resepsionis.
Joya : “Mas
Boy?”
Rian keluar
dari ruang istirahat dan meminta Joya segera masuk ke dalam sana.
Rian : “Mohon
bantuannya, Ny. Joya.”
Joya : “Ada
apa? Mas Boy sakit lagi?”
Rian : “Iya,
Ny. Joya. Tuan sangat kesakitan.”
Tanpa pikir
panjang lagi, Joya masuk ke ruang istirahat itu dan Rian menutup pintu dari
luar. Klik. Pintu otomatis terkunci, Joya menoleh melihat pintu yang tertutup. Saat
__ADS_1
ia berbalik lagi, Boy sudah menarik tangan Joya hingga tubuhnya jatuh diatas
tubuh Boy.
Joya : “Mas? Badanmu
panas sekali.”
Boy : “Joya...”
Joya : “Iya,
mas. Aku disini, dimana yang sakit?”
Boy : “Panas...
Tubuhmu dingin.”
Boy menciumi
leher Joya, meninggalkan banyak jejak merah disana. Sesekali Joya menggelinjang
karena kaget tiba-tiba diserang Boy.
Joya : “Mas...
sabar dulu. Mas kenapa sich? Jangan dibuka...”
Boy hampir
tidak mendengar kata-kata Joya, ia menarik kemeja yang dipakai Joya saat itu
hingga kancingnya terlepas. Dengan agresif, Boy merobek rok Joya. Joya menahan rasa
geli di tubuhnya saat Boy menciumi daerah sensitif Joya.
Joya : “Mas!”
Joya berteriak
saat Boy menyatukan tubuh mereka. Dirinya tidak bohong kalau ikut menikmati
permainan Boy. Tapi Joya bingung kenapa bisa diserang dengan tiba-tiba oleh
Boy. Tubuh Joya terhentak dengan kuat, keringat mulai membasahi tubuh mereka.
Boy cukup kuat
hingga membuat Joya lemas berkali-kali. Setelah hentakan kesekian kalinya,
tubuh Boy menegang bersamaan dengan Joya. Keduanya terjatuh diatas tempat tidur
dengan nafas ngos-ngosan.
Boy langsung
tertidur pulas, tidak mempedulikan apapun lagi. Bahkan perasaan Joya yang
sedikit sakit melihat suaminya itu langsung tidur tanpa melihat padanya. Joya
tidak tahu kalau Boy sedang dalam pengaruh obat.
Joya merasa
sangat tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya yang penuh bekas ciuman Boy.
Suaminya itu memberi tanda hampir di semua bagian tubuhnya. Joya ingin ke kamar
Joya meraih
ponselnya dan menelpon Niken,
Joya : “Halo,
kak. Bisa minta tolong?”
Niken : “Iya,
Ny. Ada apa?”
Joya : “Oh,
berhentilah memanggilku Ny. Kak, bisa minta tolong belikan baju untukku dan mas
Boy.”
Niken : “Kenapa?
Apa yang terjadi?”
Joya : “Itu...
mas Boy... bajuku dirobek...”
Niken : “Joya,
kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan?”
Joya : “Kak,
tolong belikan baju dulu. Bawain ke ruangannya mas Boy ya. Kalo bisa yang
tertutup ya, kak. Dress panjang gitu.”
Niken : “Ah,
iya. Tunggu ya.”
Setelah
sambungan telponnya dengan Joya terputus, Niken malah menelpon Rian.
Rian : “Ya,
babe?”
Niken : “Apa
yang terjadi dengan Joya? Barusan dia telpon aku minta dibelikan baju.”
Rian : “Panjang
ceritanya, babe. Belikan dulu sana. Nanti kita ngobrol disini.”
Niken : “Oh,
okey.”
Niken pergi
membelikan pakaian untuk Joya dan Boy.
__ADS_1
*****
Setelah
mendapat apa yang dipesan Joya, Niken segera kembali ke kantor dan langsung
naik ke lantai atas ruang kerja Boy. Niken melihat ada wanita cantik yang
sedang duduk di meja Lia. Ia tersenyum menatap wanita itu.
Niken : “Rian...”
panggil Niken sambil melongok ke ruang kerja Rian.
Rian : “Hai,
babe.”
Niken : “Jangan
panggil gitu disini. Malu.”
Rian : “Cuma
ada Carol.”
Niken : “Siapa
Carol?”
Merasa namanya
disebut, wanita itu bangkit berdiri dan membungkuk sebentar.
Carol : “Saya
Carol, bu. Sekretaris tuan Boy yang baru.”
Niken : “Hai,
Carol. Dimana Lia?”
Rian keburu
mendorong Niken masuk ke ruang kerja Boy.
Rian : “Tolong
urus Ny. Joya dulu. Nanti aku cerita kejadiannya ya.”
Niken masuk ke
ruang kerja Boy dan Rian menunjuk tempat ruang istirahat Boy. Niken melangkah
kesana dan mengetuk pintu. Ia mengetuk pintu ruangan itu dan menunggu Joya
membuka pintu. Ponsel Niken berdering,
Niken : “Halo,
Joya. Aku di depan pintu. Buka dong.”
Joya : “Tolong tanya
kak Rian. Ini password-nya berapa?”
Niken : “Password
apa?”
Joya : “Pintu
ini terkunci. Aku gak tau password-nya, kak.”
Niken : “Coba masukkan
tanggal lahirmu.”
Joya : “Emang
itu passwordnya?”
Niken : “Sapa
tau bener. Aku masih jalan keluar nich.”
Tring! Pintu
ruangan itu beneran terbuka dong. Wajah Joya muncul dari balik pintu.
Joya : “Kak
Niken! Sini. Tutup pintunya, trus kunci.”
Setelah Niken
melakukan apa yang disuruh Joya, Joya baru berani keluar dari ruangan itu
dengan tubuh berbalut kemeja Boy. Niken melongo melihat bekas merah memenuhi
beberapa tempat di tubuh Joya yang tidak tertutup. Menahan malunya, Joya
meminta paper bag yang dibawa Niken.
Niken : “Apa
tuan Boy yang melakukan itu?”
Joya : “Memangnya
siapa lagi. Aku ganti baju dulu ya, kak.”
Niken : “Aku
panggil Rian sekarang ya? Aku juga penasaran apa yang terjadi.”
Joya mengangguk
sambil berjalan ke kamar mandi.
*****
Nah yo yang
penasaran dengan up selanjutnya, bisa langsung kasi vote ya.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1