Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Kembali


__ADS_3

Eps. 21 –


Kembali


“Joya, apa yang


terjadi? Tuan muda...”


Bi Ijah yang


mendengar suara sesuatu yang pecah, bergegas keluar dan melihat Boy berdiri di


depan rumah itu. “Joya, kakimu terluka.”


Boy melihat


kaki Joya yang terluka, ia menggendong Joya dengan cepat masuk ke dalam rumah.


Joya didudukkan dengan lembut diatas sofa besar dan Boy meminta kotak obat pada


Bi Ijah. Joya menarik kakinya saat Boy ingin mengobati luka di kaki Joya.


Tubuh Joya tidak


bisa berhenti gemetar, bayangan kejadian beberapa bulan yang lalu kembali


berputar di kepalanya. Seharusnya dia yang marah, tapi justru Boy yang berbalik


marah padanya. Boy bahkan tega mengatakan hal yang menyakitkan tentang Joya


yang menyebabkan ibunya sakit.


Boy melihat


ketakutan yang Joya tunjukkan, ia memilih memberikan kotak obat pada Bi Ijah


dan menjauh dari Joya.


“Joya, kita


bisa bicara berdua?”tanya Boy setelah Bi Ijah selesai membalut luka Joya.


Joya menghela


nafasnya, cepat atau lambat mereka memang harus segera menyelesaikan masalah


ini. “Bi, tolong tinggalkan kami. Makasi, bi.”


Bi Ijah berlalu


ke belakang, ia mengirimkan chat pada Ny. Besar dan memberi tahu kalau Boy


sudah menemukan tempat persembunyian mereka.


Joya masih


menatap ke arah lain, keluar jendela. Ia menatap kearah perbukitan tinggi


tempat kedua orang tuanya dimakamkan. Setelah kejadian 5 bulan lalu, Ny. Besar


mengirim Joya kembali ke perkebunan tempat tinggal Joya dulu untuk menenangkan


dirinya. Ny. Besar memerintahkan membangun sebuah rumah mungil yang ditempati


Joya sampai sekarang dan meminta Bi Ijah untuk menemani Joya selama disana.


Untuk


memudahkan memonitor kesehatan kandungan Joya, Ny. Besar juga membangun sebuah


klinik dengan fasilitas lengkap di dekat perkebunannya. Klinik itu dikelola


seorang dokter kandungan yang masih bersaudara dengan dokter Risman, dokter


Eka.


BI Ijah dan


Joya tidak tinggal seorang diri, secara berkala, Ny. Besar mengirim orang untuk


menjaga mereka sekalian membantu mengurus rumah dan taman disekitar rumah.


Pekerja perkebunan Ny. Besar juga rajin berpatroli untuk menjaga Joya.


Mendengar Joya


sudah kembali ke perkebunan, teman-teman orang tuanya dulu juga sering datang


untuk sekedar berbincang dengannya. Meskipun sudah menjadi seorang Ny. muda,


Joya masih tetap Joya yang dulu. Ia tidak pernah membeda-bedakan orang


berdasarkan kedudukannya atau strata sosialnya.


“Joya, maafkan


aku.”ucap Boy lirih.


Joya memejamkan


matanya, ia sudah lama sekali tidak mendengar suara Boy. Suara yang selalu ia


rindukan setiap malam. Sekarang setelah orangnya ada di depan mata, Joya malah


tidak berani menatapnya. Ia takut ini semua hanya mimpi, seperti malam-malam

__ADS_1


sebelumnya.


“Joya, lihat


aku. Jangan membuang muka begitu.”


“Mas masih saja


egois seperti dulu ya. Tidak bisa mengerti gimana perasaanku.”


Boy terdiam


lagi. Dia memang salah sudah membentak Joya dan menuduhnya menyebabkan ibunya


sakit, apalagi Joya sedang hamil muda saat itu. Tapi justru dirinya yang


membuat ibunya dan Joya sakit. Boy menatap intens sosok Joya sekarang.


Rambutnya lebih


panjang, kulitnya lebih putih dari sebelumnya, dan tubuhnya lebih berisi karena


kehamilannya. Boy menatap perut Joya, saat itu Joya memakai dress panjang yang


agak ketat di bagian perutnya. Perut Joya terlihat bergerak-gerak.


“Dia gerak-gerak.”kata-kata


itu meluncur begitu saja dari mulut Boy.


Joya refleks


memegang perutnya, ia mengelus bagian yang keras dan gerakan janin di dalam


kandungannya semakin aktif. Boy tersenyum girang melihat perut Joya bergetar


seperti sedang berdisco.


Tangan Boy


terulur ingin memegang perut Joya, tapi urung melihat tatapan Joya. Joya


akhirnya menatap Boy, memperhatikan tubuh suaminya yang lebih kurus dan wajah


yang lelah dengan kantung mata sedikit menghitam.


“Mas...”hati


Joya kembali sakit melihat keadaan suaminya.


“Kenapa? Aku


terlihat jelek ya, aku gak sempat mandi tadi dari kantor, dengar kamu ada


disini, aku langsung kesini. Aku juga sedikit bau, belum sempat pulang dari


Boy nyerocos


tampak malu melihat penampilannya sendiri. Joya beranjak dari duduknya, Boy


ingin menahannya tapi melihat wajah Joya yang sedih, Boy mengurungkan niatnya. Joya


masuk ke salah satu kamar di dekat mereka duduk tadi, ia membuka pintu lebih


lebar setelah beberapa saat berada di dalam sana.


“Mas...”panggil


Joya pada Boy yang sepertinya melamun. “Mas, sini sebentar!”panggil Joya lebih


keras.


“Iy...ya...


kenapa, Joya?”Boy menghampiri Joya.


“Masuk, mas.


Mandi dulu ya. Baju gantinya sudah kusiapin.”


“Joya... boleh


aku peluk?”


“... Mas mandi


dulu ya.”


Boy menuruti


Joya, masuk ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat karena tidak mau membuat Joya


menunggu lama. Joya terpana saat melihat Boy keluar dari kamar mandi hanya


berbalut handuk. Aroma maskulin menguar memenuhi kamar Joya. Joya selalu


memakai sabun milik Boy di dalam kamar mandinya.


“Mas, pake baju


dulu ya. Aku tunggu di luar.”


“Joya, tunggu.”


Boy menahan tangan Joya dan langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.

__ADS_1


Joya tidak


meronta, ia juga sangat merindukan sentuhan Boy. Boy mengecupi tangan Joya yang


sudah ditariknya keatas. Ia menunduk mengecup tengkuk putih Joya setelah


menyingkirkan rambut panjangnya ke depan bahunya.


“Sayang, aku


sangat mencintaimu.”bisik Boy merayu Joya.


“Aku juga,


mas.”


Merasa Joya


tidak melawan, Boy mengangkat tubuh Joya dan membaringkannya diatas tempat


tidur. Boy mengelus kepala Joya, mengecup kening istrinya, kedua matanya, kedua


pipinya dan terakhir m****** bibir ranum Joya yang sejak 5 bulan ini belum


pernah diciumnya lagi.


Joya melenguh


menerima sentuhan Boy yang sangat ia rindukan selama 5 bulan ini. Saat


dress-nya sudah terlepas dari tubuhnya, Joya menyadari sesuatu. Ia mendorong


tubuh Boy dengan kedua tangannya.


“Kenapa,


sayang? Kamu gak suka aku cium?”


“Korden sama


pintunya, mas. Nanti ada yang liat.”ujar Joya malu, ia mengambil bantal untuk


menutupi tubuhnya.


Boy mendongak


melihat jendela besar, ia bangkit dengan cepat menarik korden menutup dan


berlari mengunci pintu kamar itu. Joya menatap Boy dari atas ranjangnya,


pipinya bersemu merah dengan dada bergemuruh ketika Boy mendekatinya.


“Maas...”kata


Joya lirih. Ia menggigit bibir bawahnya melihat tubuh kurus Boy yang masih


terlihat seksi dengan otot perut dan dada yang membuat Joya menelan salivanya.


“Ya, sayang.”


“Pelan-pelan...”


Boy mengangguk.


Keduanya saling menatap dalam sebelum tenggelam dalam lautan asmara yang dalam


dan menyesakkan nafas. Sekali lagi mereka merengkuh nikmatnya surga dunia yang


hanya bisa mereka dambakan setelah 5 bulan berpisah.


Boy sangat


berhati-hati hingga tidak menyakiti Joya dan bayi di dalam kandungannya. Ia


merebahkan dirinya di samping Joya setelah semua permainan itu akhirnya usai.


Dipeluknya tubuh istrinya yang berkeringat itu.


“Joya, maafkan


aku. Aku menyesali sikapku sama kamu. Aku kasar sama kamu. Aku sadar kalau aku


sudah egois.”


“Aku sakit


hati, mas. Mas tega menuduhku yang menyebabkan ibu sakit. Aku bukan orang


seperti itu, mas. Entah mas percaya atau tidak. Salahku memang yang tidak mau


mendengar penjelasanmu, tapi mas juga sama.”


“Aku tahu,


Joya. Aku terlalu emosi saat itu. Seharusnya aku bisa lebih bersabar, tapi


melihat ibu pingsan, aku gelap mata. Maafkan aku, sayang.”sesal Boy sambil


mengeratkan pelukannya pada tubuh Joya.


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2