Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Masa lalu Boy


__ADS_3

Tut, tut, tut...


Telpon diputus


tanpa Joya sempat bicara lagi. Ia menatap ponsel Boy yang layarnya kembali


gelap. Diletakkannya kembali ponsel itu ke atas meja kerja Boy. Joya kembali


duduk dengan rasa penasaran menggerogoti dirinya.


Apa yang harus


ia katakan pada Boy? Siapa Melinda, gitu? Boy tidak akan mengatakannya, kan?


Maksud Joya kenapa tidak mau mengatakannya? Joya istrinya dan berhak mengetahui


apapun tentang perempuan yang dekat dengan suaminya. Apa Melinda dekat dengan


Boy?


Dari cara


bicara perempuan itu tadi seperti terbiasa bicara dengan Boy. Apa Boy selalu


menitipkan ponselnya pada sekretarisnya saat meeting? Segala macam kemungkinan


berputar di kepala Joya. Sampai ia memutuskan menanyakan secara langsung.


Toh, Melinda


juga berpesan untuk menyampaikan dirinya menelpon Boy tadi dan perlu bicara


penting. Tapi kenapa Boy lama sekali di kamar mandi. Joya teringat pada Rian,


ia hampir bangkit dari sofa untuk bertanya langsung tapi urung mengingat


penampilannya saat ini.


Joya mengambil


ponselnya, mengirimkan chat pada Rian tentang siapa Melinda. Semenit, dua


menit, Joya terus melotot pada ponselnya. Rian tak juga menjawab chatnya.


Ponsel Boy tiba-tiba berdering lagi, membuat Joya kaget dan hampir melempar


ponsel di tangannya.


Boy yang baru


keluar dari kamar mandi, segera menghampiri meja kerjanya. Boy mengangkat


telpon itu, Joya memasang telinganya baik-baik. Ia sengaja berjalan mendekati


Boy, sambil pura-pura melihat-lihat lukisan di belakang kursi Boy.


Suara seorang


wanita, Boy tidak menyebut namanya saat ia menjawab telpon itu tadi. Sesekali


Boy terkekeh, ia tertawa entah karena apa. Boy memutar kursinya, menatap Joya


yang membelakanginya karena sedang melihat lukisan.


Satu tarikan


pada tangan Joya, membuatnya jatuh ke pangkuan Boy. Joya menutup mulutnya agar


tidak berteriak karena kaget. Sungguh, ia ingin sekali bertanya siapa yang


menelpon Boy. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Joya menatap mata Boy yang


menatapnya juga.


Masih, sesekali


tertawa mendengar suara wanita di seberang sana. Pelan-pelan membuat Joya mulai


kesal, Joya tahu itu bukan suara orang rumah. Joya tahu dengan jelas suara Ny.


Besar, Ny. Lastri, bahkan Bi Ijah. Buat apa juga Bi Ijah menelpon Boy, kan? Gak


mungkin buat nanya apa bumbu ayam bakar.


Joya tersenyum


geli dengan pemikirannya sendiri. Senyuman Joya mengundang hasrat Boy ingin


mencium istrinya itu. Sambil mendengarkan lawan bicaranya terus mengoceh, Boy mendekat

__ADS_1


pada Joya. Mencium Joya adalah kewajiban bagi Boy. Sehari saja ia tidak


melakukannya, Boy akan merasa hidupnya tidak lengkap.


Begitulah rasa


cinta Boy pada Joya. Sentuhan Joya menjadi semangatnya untuk menghadapi hari


yang melelahkan. Senyuman Joya membuatnya percaya kalau hari esok pasti akan


lebih baik dari hari ini. Suara tawa Joya adalah suara paling indah yang pernah


ia dengar di dunia ini melebihi indahnya suara alam.


Dan ciuman Joya


membuatnya kecanduan seperti minuman keras yang memabukkan. Boy kecanduan bibir


Joya dan segalanya yang ada pada diri Joya. Bahkan setelah mereka menikah,


hasrat Boy tidak pernah habis tiap Joya ada di dekatnya.


Sedikit saja


gerakan Joya, bisa memancing hasratnya dan dokter mengatakan untuk tidak


menyentuh Joya selama sebulan. Saat Boy mendengar hal itu, ia tidak menyangka


dirinya akan sakau seperti ini.


Suara decapan


karena ******* bibir Boy pada bibir Joya membuat lawan bicara Boy terdiam. Ia


sedang menunggu jawaban Boy atas pertanyaan yang dilontarkannya tadi, tapi Boy


tidak mengatakan apa-apa.


Berkali-kali ia


memanggil nama Boy tapi Boy tidak mendengarnya. Fokusnya hanya pada bibir Joya.


Sambungan telpon terputus, dan tiba-tiba ponsel Boy berdering lagi. Boy


melepaskan ciumannya dan melirik ponselnya.


Boy menerima


dengan ciuman Boy sampai setengah sadar bersandar di dada bidang suaminya. Boy


melanjutkan pembicaraan dengan lawan bicaranya tanpa menjelaskan kenapa ia


terdiam cukup lama tadi.


Tangan Boy


merangkul tubuh Joya dengan erat agar wanita yang sangat dicintainya itu tidak


jatuh. Pelukan Boy membuat Joya hampir tertidur saat akhirnya Boy menyebut nama


Melinda dari mulutnya.


Mata Joya


terbuka sempurna, ia kembali mencuri dengar pembicaraan suaminya itu. Kali ini


pembicaraan mereka lebih serius dan sepertinya mereka janjian untuk bertemu.


Joya memasang wajah cemberut lagi, bibirnya yang bengkak karena ulah Boy tadi


semakin maju dengan seksinya.


Boy kembali


terusik, tapi ia dengan cepat berkonsentrasi lagi dengan pembicaraan di telpon.


Joya mulai menggerakkan tubuhnya di pangkuan Boy. Tentu saja itu membangunkan


sesuatu yang susah payah ia tidurkan tadi. Boy mengeratkan pelukannya, berpikir


itu akan menghentikan gerakan Joya. Tapi tidak, Boy dengan sangat terpaksa


menyudahi pembicaraannya di ponsel dan berjanji akan mengatur janji temu dengan


lawan bicaranya.


Boy menatap


Joya yang tersenyum manis. Ia ingin menangis karena sangat putus asa. Harus

__ADS_1


bagaimana ia menjelaskan pada Joya kalau apa yang ia lakukan barusan sudah


memancing hasrat Boy. Boy memejamkan matanya, membiarkan Joya melakukan apa


yang ia mau. Tapi Joya malah bertanya padanya,


Joya : “Mas,


siapa Melinda?”


Boy : “Melinda


ya... Kalau aku cerita, kamu marah?”


Joya : “Mas


punya hubungan apa sama dia?”


Boy : “Marah


gak?”


Joya


menggeleng, sorot matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Boy


mulai bercerita sambil mengusap-usap punggung Joya. Kata-kata pertama Boy


adalah dia menyukai Melinda dan Joya langsung pasang wajah cemberut.


Boy menahan


senyumnya melihat wajah Joya, ia tetap melanjutkan bercerita. Melinda adalah


teman SMA Boy. Dia sangat pintar dan juga sangat cerdas. Melinda selalu juara 1


di sekolah Boy. Dan Boy menyukainya karena itu. Sayang sekali kalau saja


kepintarannya diimbangi juga dengan penampilannya, sudah barang tentu Melinda


akan jadi idola di sekolah mereka.


Joya : “Apa mas


suka banget sama dia?”


Boy tersenyum


dan menjawab iya, tapi tidak cukup menyukai sampai mencintai seperti ia


mencintai Joya. Boy menyukai Melinda sebagai teman saja.


Joya : “Masa?”


jemari Joya kembali bermain di kancing kemeja Boy.


Boy : “Kalau


aku mencintai dia, aku akan menikahinya dan bukan malah menikah sama kamu,


sayang.”


Joya tersenyum


malu, ia memukul dada Boy yang menangkap jemari tangannya. Boy menunduk dan


mencium bibir Joya lagi, Joya mendorong Boy.


Joya : “Kenapa nyium terus sich?”


Boy : “Hanya ini sumber energiku sekarang. Kan kita gak boleh itu sebulan.”


Joya : “Dua minggu, mas.”


Boy : “Tapi, kata dokter...”


Joya : “Aku udah nego.”


Boy tersenyum manis dan...


*****


Dan jelas minta


vote lagi kk.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2