
Tut, tut, tut...
Telpon diputus
tanpa Joya sempat bicara lagi. Ia menatap ponsel Boy yang layarnya kembali
gelap. Diletakkannya kembali ponsel itu ke atas meja kerja Boy. Joya kembali
duduk dengan rasa penasaran menggerogoti dirinya.
Apa yang harus
ia katakan pada Boy? Siapa Melinda, gitu? Boy tidak akan mengatakannya, kan?
Maksud Joya kenapa tidak mau mengatakannya? Joya istrinya dan berhak mengetahui
apapun tentang perempuan yang dekat dengan suaminya. Apa Melinda dekat dengan
Boy?
Dari cara
bicara perempuan itu tadi seperti terbiasa bicara dengan Boy. Apa Boy selalu
menitipkan ponselnya pada sekretarisnya saat meeting? Segala macam kemungkinan
berputar di kepala Joya. Sampai ia memutuskan menanyakan secara langsung.
Toh, Melinda
juga berpesan untuk menyampaikan dirinya menelpon Boy tadi dan perlu bicara
penting. Tapi kenapa Boy lama sekali di kamar mandi. Joya teringat pada Rian,
ia hampir bangkit dari sofa untuk bertanya langsung tapi urung mengingat
penampilannya saat ini.
Joya mengambil
ponselnya, mengirimkan chat pada Rian tentang siapa Melinda. Semenit, dua
menit, Joya terus melotot pada ponselnya. Rian tak juga menjawab chatnya.
Ponsel Boy tiba-tiba berdering lagi, membuat Joya kaget dan hampir melempar
ponsel di tangannya.
Boy yang baru
keluar dari kamar mandi, segera menghampiri meja kerjanya. Boy mengangkat
telpon itu, Joya memasang telinganya baik-baik. Ia sengaja berjalan mendekati
Boy, sambil pura-pura melihat-lihat lukisan di belakang kursi Boy.
Suara seorang
wanita, Boy tidak menyebut namanya saat ia menjawab telpon itu tadi. Sesekali
Boy terkekeh, ia tertawa entah karena apa. Boy memutar kursinya, menatap Joya
yang membelakanginya karena sedang melihat lukisan.
Satu tarikan
pada tangan Joya, membuatnya jatuh ke pangkuan Boy. Joya menutup mulutnya agar
tidak berteriak karena kaget. Sungguh, ia ingin sekali bertanya siapa yang
menelpon Boy. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Joya menatap mata Boy yang
menatapnya juga.
Masih, sesekali
tertawa mendengar suara wanita di seberang sana. Pelan-pelan membuat Joya mulai
kesal, Joya tahu itu bukan suara orang rumah. Joya tahu dengan jelas suara Ny.
Besar, Ny. Lastri, bahkan Bi Ijah. Buat apa juga Bi Ijah menelpon Boy, kan? Gak
mungkin buat nanya apa bumbu ayam bakar.
Joya tersenyum
geli dengan pemikirannya sendiri. Senyuman Joya mengundang hasrat Boy ingin
mencium istrinya itu. Sambil mendengarkan lawan bicaranya terus mengoceh, Boy mendekat
__ADS_1
pada Joya. Mencium Joya adalah kewajiban bagi Boy. Sehari saja ia tidak
melakukannya, Boy akan merasa hidupnya tidak lengkap.
Begitulah rasa
cinta Boy pada Joya. Sentuhan Joya menjadi semangatnya untuk menghadapi hari
yang melelahkan. Senyuman Joya membuatnya percaya kalau hari esok pasti akan
lebih baik dari hari ini. Suara tawa Joya adalah suara paling indah yang pernah
ia dengar di dunia ini melebihi indahnya suara alam.
Dan ciuman Joya
membuatnya kecanduan seperti minuman keras yang memabukkan. Boy kecanduan bibir
Joya dan segalanya yang ada pada diri Joya. Bahkan setelah mereka menikah,
hasrat Boy tidak pernah habis tiap Joya ada di dekatnya.
Sedikit saja
gerakan Joya, bisa memancing hasratnya dan dokter mengatakan untuk tidak
menyentuh Joya selama sebulan. Saat Boy mendengar hal itu, ia tidak menyangka
dirinya akan sakau seperti ini.
Suara decapan
karena ******* bibir Boy pada bibir Joya membuat lawan bicara Boy terdiam. Ia
sedang menunggu jawaban Boy atas pertanyaan yang dilontarkannya tadi, tapi Boy
tidak mengatakan apa-apa.
Berkali-kali ia
memanggil nama Boy tapi Boy tidak mendengarnya. Fokusnya hanya pada bibir Joya.
Sambungan telpon terputus, dan tiba-tiba ponsel Boy berdering lagi. Boy
melepaskan ciumannya dan melirik ponselnya.
Boy menerima
dengan ciuman Boy sampai setengah sadar bersandar di dada bidang suaminya. Boy
melanjutkan pembicaraan dengan lawan bicaranya tanpa menjelaskan kenapa ia
terdiam cukup lama tadi.
Tangan Boy
merangkul tubuh Joya dengan erat agar wanita yang sangat dicintainya itu tidak
jatuh. Pelukan Boy membuat Joya hampir tertidur saat akhirnya Boy menyebut nama
Melinda dari mulutnya.
Mata Joya
terbuka sempurna, ia kembali mencuri dengar pembicaraan suaminya itu. Kali ini
pembicaraan mereka lebih serius dan sepertinya mereka janjian untuk bertemu.
Joya memasang wajah cemberut lagi, bibirnya yang bengkak karena ulah Boy tadi
semakin maju dengan seksinya.
Boy kembali
terusik, tapi ia dengan cepat berkonsentrasi lagi dengan pembicaraan di telpon.
Joya mulai menggerakkan tubuhnya di pangkuan Boy. Tentu saja itu membangunkan
sesuatu yang susah payah ia tidurkan tadi. Boy mengeratkan pelukannya, berpikir
itu akan menghentikan gerakan Joya. Tapi tidak, Boy dengan sangat terpaksa
menyudahi pembicaraannya di ponsel dan berjanji akan mengatur janji temu dengan
lawan bicaranya.
Boy menatap
Joya yang tersenyum manis. Ia ingin menangis karena sangat putus asa. Harus
__ADS_1
bagaimana ia menjelaskan pada Joya kalau apa yang ia lakukan barusan sudah
memancing hasrat Boy. Boy memejamkan matanya, membiarkan Joya melakukan apa
yang ia mau. Tapi Joya malah bertanya padanya,
Joya : “Mas,
siapa Melinda?”
Boy : “Melinda
ya... Kalau aku cerita, kamu marah?”
Joya : “Mas
punya hubungan apa sama dia?”
Boy : “Marah
gak?”
Joya
menggeleng, sorot matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Boy
mulai bercerita sambil mengusap-usap punggung Joya. Kata-kata pertama Boy
adalah dia menyukai Melinda dan Joya langsung pasang wajah cemberut.
Boy menahan
senyumnya melihat wajah Joya, ia tetap melanjutkan bercerita. Melinda adalah
teman SMA Boy. Dia sangat pintar dan juga sangat cerdas. Melinda selalu juara 1
di sekolah Boy. Dan Boy menyukainya karena itu. Sayang sekali kalau saja
kepintarannya diimbangi juga dengan penampilannya, sudah barang tentu Melinda
akan jadi idola di sekolah mereka.
Joya : “Apa mas
suka banget sama dia?”
Boy tersenyum
dan menjawab iya, tapi tidak cukup menyukai sampai mencintai seperti ia
mencintai Joya. Boy menyukai Melinda sebagai teman saja.
Joya : “Masa?”
jemari Joya kembali bermain di kancing kemeja Boy.
Boy : “Kalau
aku mencintai dia, aku akan menikahinya dan bukan malah menikah sama kamu,
sayang.”
Joya tersenyum
malu, ia memukul dada Boy yang menangkap jemari tangannya. Boy menunduk dan
mencium bibir Joya lagi, Joya mendorong Boy.
Joya : “Kenapa nyium terus sich?”
Boy : “Hanya ini sumber energiku sekarang. Kan kita gak boleh itu sebulan.”
Joya : “Dua minggu, mas.”
Boy : “Tapi, kata dokter...”
Joya : “Aku udah nego.”
Boy tersenyum manis dan...
*****
Dan jelas minta
vote lagi kk.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.