Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Aliya Prawira


__ADS_3

Aliya Prawira, anak kedua Boy dan Joya, sejak kecil selalu hidup dengan kemewahan, tapi dia tidak menyukainya sama sekali. Aliya selalu melakukan apapun yang ia sukai seperti berpetualang ke halaman belakang rumah neneknya yang sangat luas. Tak jarang ia sering terluka karena jatuh atau tergores sesuatu. Sifat Aliya sama isengnya dengan Alvin tapi ia lebih pintar, sehingga hampir tidak pernah dihukum.


Sebelum menyelesaikan sekolah menengahnya, Aliya memutuskan melanjutkan sekolah ke LN. Tanpa sepengetahuan Boy dan Joya, Aliya mengajukan permohonan beasiswa di salah satu sekolah menengah disana dan lulus sekolah menengah pada umur 17 tahun. Aliya memang lebih cerdas dari Alvin, ia menggunakan semua kemampuannya untuk bisa lulus sekolah dengan cepat dan melanjutkan kuliah juga dengan beasiswa penuh.


Meskipun orang tuanya sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya di LN, Aliya tidak pernah memakai uang orang tuanya yang selalu ditransfer ke rekeningnya setiap bulan. Ia berusaha hidup mandiri dengan bekerja paruh waktu di beberapa tempat sambil belajar. Sampai akhirnya sebuah agency melihat bakatnya sebagai model dan memintanya bergabung. Aliya menyetujuinya tapi dengan persyaratan ia tidak mau kuliahnya sampai terganggu.


Aliya baru menyelesaikan pemotretannya untuk edisi majalah ke empat tahun ini saat Alvin menelponnya,


Aliya : “Hai kak.”


Alvin : “Kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa kau tidak kangen padaku?


Aliya : “Tentu saja aku kangen..., apa maumu?” Suara Aliya cepat berubah dari ceria menjadi dingin.


Alvin : “Al, bisakah kau pulang?”


Aliya : “Coba kuperiksa jadwalku, aku rasa... tidak.”


Alvin : “Pulanglah sebentar, aku akan menikah.”


Aliya : “Siapa gadis malang itu? Kenapa dia bisa tertipu olehmu.”


Alvin : “Dia jatuh cinta padaku, tahu. Aku sudah kirim detail acaranya ke e-mailmu, aku harap kau bisa datang... ah bukan... aku harap kau bisa pulang.”


Aliya : “Aku tidak janji. Bye.”


Aliya menutup telponnya, ia sangat merindukan rumah, tapi jiwa petualangnya belum mau pulang. Ia membuka e-mail dari Alvin yang berisi detail dimana dan apa saja acara yang akan diadakan. Acara akad dua minggu lagi, ia mengecek jadwalnya dan menemukan ada ujian pada hari itu. Ujian pagi, terus langsung ke bandara, dia akan tiba tepat saat resepsi dimulai. Aliya tersenyum meletakkan HP-nya dan bersiap kuliah.


Aliya berjalan ke kampusnya yang letaknya tidak jauh dari lokasi pemotretan, ia masuk ke salah satu gedung dan hampir menabrak seorang pria yang baru keluar dari sana. Pria itu menangkap tangan Aliya agar ia tidak jatuh dari


tangga di belakangnya.


Pria : “Sorry.” Ia melepaskan tangan Aliya setelah Aliya aman.


Aliya : “It’s ok.”


Aliya memperhatikan wajah pria itu, ia belum pernah melihatnya di kampus sebelumnya. Pria itu berlalu sambil memasang earphone ke telinganya, meninggalkan Aliya yang segera berbalik menuju ruang kuliahnya.


Selesai kuliah yang cukup padat, Aliya dipanggil ke ruang profesornya. Pria yang hampir ia tabrak tadi sudah duduk disana.


Selanjutnya anggap saja setiap percakapan mereka dalam bahasa Inggris.


Profesor : “Aliya, duduklah. Perkenalkan ini Deril, dia akan membantumu dalam tugas akhirmu. Seperti yang kau bilang kalau kau ingin lulus tahun ini. Deril sudah membaca tugas akhirmu dan bersedia membantumu.


Aliya : “Hai, kita bertemu lagi. Aku Aliya.”

__ADS_1


Deril : “Hai, Deril. Kita bisa mulai sekarang, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu. Dalam seminggu ini, seharusnya kau sudah bisa menyelesaikan bagian 4 dan 5.”


Aliya : “Sebenarnya aku sudah menyelesaikan bagian itu dan sekarang masuk ke bagian 6, tapi aku belum sempat bertemu professor kemarin. Bisa kita bahas sekarang, professor.


Profesor : “Kalian lakukan berdua, aku akan memeriksa hasil koreksimu, Deril. Semoga berhasil, Aliya.”


Aliya : “Terima kasih, professor.”


Aliya dan Deril berjalan keluar ruang professor, mereka bertukar nomor telpon agar bisa saling menghubungi.


Deril : “Aku ada sedikit pekerjaan sebentar lagi, bisa kita bahas ini di kantorku?”


Aliya : “Baiklah. Apa kau dari Indonesia?”


Deril : “Ya, kau juga kan?”


Aliya : “Hmm…”


Deril mengajak Aliya ke parkiran mobil dimana mobil sport-nya terparkir. Seorang wanita tiba-tiba memeluk Deril ketika ia akan membuka pintu mobil.


Vivian : “Deril sayang, kamu kemana saja.”


Deril : “Hai, Vivian. Aku sibuk.”


Vivian : “Oh, kau lagi sibuk sama yang baru ya.” Vivian memandang sinis pada Aliya yang menatapnya dingin.


Deril masuk ke mobil bersama Aliya, memakai sabuk pengaman dan mobil berjalan pergi. Tidak banyak pembicaraan selama perjalanan mereka, Aliya bukan tipe orang yang kepo, sementara Deril terlihat cuek.


Mereka sampai di kantor Deril, beberapa orang menyapa Deril dan memandang Aliya dengan penuh minat. Deril mengajak Aliya masuk ke ruangannya.


Deril : “Duduklah, kamu mau minum sesuatu?”


Aliya : “Mineral water.” Deril mengambil air dari mini bar di samping mejanya.


Deril : “Ini, coba lihat tugasmu.”


Deril segera tenggelam dalam bacaannya, sesekali ia mengkoreksi ejaan pada tugas Aliya. Keningnya mengkerut melihat bagian dalam tugas itu yang sepertinya tidak sesuai. Matanya beralih pada Aliya yang sedang mengerjakan


bagian 6 dan 7 tugas akhirnya.


Deril : “Al, kenapa kau masukkan bagian ini disini?”


Aliya membaca sebentar dan mulai menjelaskan tujuannya memasukkan bagian itu ke dalam tugasnya. Deril mendengarkan sampai Aliya selesai bicara.


Deril : “Apa kau bisa mempertahankan bagian ini nanti saat ujian? Sebenarnya ini menarik karena terlihat baru, tapi kau tahu sendiri bagaimana pemikiran professor.

__ADS_1


Aliya : “Aku yakin bisa, banyak referensi yang kupakai untuk ini.”


Deril : “Ok, aku akan memberi tanda untuk bagian ini.”


Aliya kembali mengetik dengan cepat di laptopnya, mereka kembali sibuk sendiri. Tak lama Deril bangun dari kursinya, ia mengambil telpon dan menghubungi seseorang. Dari pembicaraannya sepertinya itu rekan bisnisnya,


Aliya mendengarkan pembicaraan itu dengan tangan tetap mengetik tugas akhirnya.


Deril memperhatikan kalau Aliya seperti menguping pembicaraannya, ia menutup telponnya. Mata hitamnya menatap Aliya tajam,


Deril : “Apa kau mendengarkan pembicaraanku tadi?”


Aliya : “Aku ada disini dan suaramu lumayan keras. Bagaimana aku bisa tidak mendengarnya?”


Deril : “Aku mau tahu sesuatu, kata professor kau cukup pintar. Apa kau bisa bantu aku?”


Aliya : “Bantu apa?”


Deril membuka laptopnya dan membawanya ke hadapan Aliya yang sudah menutup laptopnya sendiri.


Deril : “Kau lihat dokumen ini, aku rasa tugas akhirmu sama dengan ini. Kalau kau bisa menemukan apa yang salah dengan dokumen ini, aku akan membantumu agar tugas akhirmu bisa selesai bulan ini.”


Aliya : “Aku coba ya.”


Aliya meminta kertas dan pulpen, ia mulai membaca dokumen itu dan menemukan kelemahan dalam dokumen yang bertuliskan kontrak kerja sama. Aliya mencatat detail kata-kata dan solusinya sesuai dengan ketentuan seharusnya.


Aliya : “Ini, coba kau lihat dulu.”


Deril membaca koreksi yang diberikan Aliya dan mengambil HP-nya. Ia menelpon seseorang dan terlibat pembicaraan yang sangat sengit, sampai akhirnya Deril memutuskan pembicaraan dan kembali duduk di sofa. Ia membanting kertas di tangannya dan merebahkan tubuhnya, memejamkan mata. Aliya yang melihat itu hanya diam membiarkan Deril tenang dulu.


Deril : “Thanks, Aliya. Hampir saja papaku menandatangani dokumen ini, dia akan rugi besar kalau sampai deal. Bagaimana kau melakukannya?”


Aliya : “Entahlah, jadi bulan ini tugas akhirku selesai ya.”


Deril : “Tapi kau harus lembur, siap gak?”


Aliya : “Ok.”


 -------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak

__ADS_1


kalah seru.


-------


__ADS_2