Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Malam rindu


__ADS_3

Malam itu setelah mereka mandi dan bersiap-siap, mereka makan malam bersama di restaurant hotel. Boy dan Rian memesan segelas wine untuk menemani mereka makan.


Dan entah bagaimana gelas wine mereka tertukar dengan gelas air putih Niken dan Joya. Kedua gadis itu meminum wine itu dalam sekali teguk dan pelayan mengirimkan gelas kedua.


Boy mengkerutkan keningnya ketika merasakan air putih dalam gelas yang ia minum. Ia melirik Rian yang juga kebingungan dengan gelasnya.


Keduanya kompak melihat kedua gadis manis di depan mereka yang tampak sedikit mabuk. Joya sedang menghabiskan gelas ketiganya dan Niken hanya diam menatap makanannya, gelas ketiganya masih penuh.


Boy mengambil gelas Joya, meminum sisa wine dalam gelas itu dan bangkit berdiri. Joya menatap makanan didepannya dengan mata sedikit terpejam.


Hik! Joya hampir jatuh dari kursi. Boy dengan sigap menahan tubuh Joya dan membantunya berdiri.


Joya : "Tuan Boy..."


Joya bergelayut di tubuh Boy, membuat pria itu panas dingin. Ia melihat sekeliling restaurant yang cukup ramai dan memutuskan membawa Joya kembali ke kamar.


Boy : "Rian, kau urus Niken. Pakai kamar kita, aku pakai kamar sebelah. Jangan ganggu kami."


Rian : "Perlu pengaman, Tuan?"


Boy melotot pada Rian yang mencoba jadi setan, Rian hanya nyengir dan cepat-cepat menatap Niken yang masih diam saja.


Rian : "Niken? Kau baik-baik aja?"


Niken : "Kepalaku sedikit pusing."


Rian : "Mau balik ke kamar? Tapi malam ini kita harus berbagi kamar."


Niken : "Ok, tapi kalau kau macam-macam..."


Niken mengambil pisau dan memotong sosis kecil yang masih tersisa di piringnya dengan sadis. Rian tersenyum garing, bagian bawahnya terasa ngilu melihat kejadian itu.


Tentu saja Rian tidak akan mengambil kesempatan, ia hanya berharap Niken yang akan memulainya. Lihat saja besok pagi.


------


Boy sudah membawa Joya masuk ke dalam lift. Mereka hanya berdua di dalam sana dan Joya merangkul leher Boy dengan erat.


Joya : "Tuan Boy..."


Bisikan Joya di telinga Boy membuat Boy menoleh dan mencium pipi Joya.


Boy : "Kau berani menggodaku, Joya."


Joya mengusap pipinya, ia menunjuk dada Boy dan berkata,


Joya : "Tuan gak boleh cium saya. Tuan Boy nakal."


Boy : "Kenapa aku gak boleh cium kamu? Kamu mencintai aku kan?"

__ADS_1


Wajah Joya memerah, ia ingin menjawab Boy tapi pintu lift sudah terbuka. Boy menuntun Joya menuju kamar mereka, membukakan pintu, dan membaringkannya ke atas salah satu ranjang di dalam kamar itu.


Boy menarik selimut akan menyelimuti Joya, tapi Joya menepis selimut itu. Ia mengipasi tubuhnya sambil membuka kancing kemeja yang dipakainya. Kemeja itu terbuka dan Joya melemparkannya begitu saja.


Boy mengusap kasar wajahnya, ia menatap tubuh bagian atas Joya yang masih tertutup bra. Belahan dadanya terlihat jelas memenuhi bayangan di mata Boy.


Boy : "Kau benar-benar..."


Entah dorongan apa yang membuat Boy akhirnya menyerang Joya hingga terlentang di atas ranjang. Ia menurunkan tali bra Joya dan menciumi lehernya.


Joya : "Hmm... Jangan, geli..."


Joya mendorong wajah Boy, ia masih setengah sadar dan mulai mengenali Boy,


Joya : "Tuan... Tuan Boy... Jangan...!!"


Joya menarik selimut menutupi tubuhnya, ia meringkuk diatas ranjang tampak ketakutan. Kepalanya kembali sakit, ia kembali dipengaruhi wine yang diminumnya tadi.


Joya memejamkan matanya karena pusing yang melanda kepalanya. Ia merasakan seseorang lebih mendekat padanya. Boy mendekati Joya, ia ingin sekali tidur sambil memeluk wanita pujaannya yang sangat ia rindukan itu.


Joya meraba dada Boy yang sedang mendekapnya. Tangannya dengan nakal membuka satu kancing kemeja Boy dan memasukkan tangannya kedalam sana. Jemari Joya menyusuri otot dada Boy dengan perlahan.


Kali ini Boy bisa menguasai hasratnya. Ia mengusap kepala Joya agar ia cepat tertidur. Tapi Joya masih mengoceh,


Joya : "Tuan Boy, kamu menyebalkan... Cium aku lagi, cepat..."


Boy : "Kamu yakin minta itu?"


Boy : "Aku harap kamu ingat ini. Kamu yang memintanya."


Boy mencium Joya, mengukungnya dibawah tubuh kekarnya. Joya merangkul leher Boy, merapatkan tubuh mereka.


Boy melepaskan ciuman mereka saat nafasnya sudah hampir habis. Ia tersenyum melihat bibir Joya yang bengkak, entah apa yang dipikirkan Joya besok saat melihat keadaannya sekarang.


Joya tidak mau melepaskan pelukannya, membuat tubuh Boy memanas. Ia membuka pakaiannya dan kembali memeluk Joya.


Mereka berdua terlihat intim diatas ranjang. Boy mengambil ponselnya dan mulai mengambil foto mereka berdua.


Joya sudah tertidur lelap, Boy akhirnya bisa melepaskan dirinya dari pelukan Joya. Ia turun dari atas ranjang Joya dan duduk di sofa sambil melihat-lihat foto di ponselnya. Ia tersenyum puas melihat hasil foto-foto panas mereka.


Boy memasang alarm di ponselnya sekitar jam 5 pagi. Ia yakin kalau Joya akan terbangun setelah jam 8 pagi besok. Ia punya waktu untuk bertukar tempat dengan Niken.


Setelah meletakkan ponselnya diatas nakas, Boy berbaring di samping Joya. Menarik tubuh Joya agar bisa memeluknya sambil tidur. Hatinya girang sekali karena Tuhan juga membantunya malam ini.


Semula rencana Boy ingin memberikan sedikit obat tidur pada Joya agar bisa tidur bersamanya tapi Tuhan memudahkan jalannya dengan menukar minuman mereka.


Boy tidak ingin mengambil kesempatan dari ketidaksadaran Joya, meskipun ia ingin sekali. Ia masih bisa menahan dirinya untuk tidak merenggut kehormatan Joya malam ini.


------

__ADS_1


Sementara itu di kamar sebelah, Niken sudah selesai membersihkan dirinya dan bersiap tidur. Kepalanya terasa pusing akibat pengaruh alkohol.


Rian memberikan segelas minuman hasil racikannya pada Niken.


Rian : "Minum ini, kau akan merasa lebih baik."


Niken menerima gelas itu dan menghabiskan isinya yang terasa sedikit pahit. Kepalanya berdenyut setelah itu dan bruk! Niken jatuh tertidur di atas ranjang. Rian tersenyum tipis melihatnya.


Keesokan paginya, Niken terbangun mendengar suara alarm ponselnya. Ia bangun dari tidurnya dan mematikan alarm itu. Saat itu ia menyadari kalau pakaiannya sudah tidak melekat di tubuhnya.


Ia melihat seseorang tidur disampingnya, punggung orang itu terlihat naik turun seiring nafasnya. Niken menendang orang itu keras-keras hingga jatuh dari ranjang.


Rian : "Aduh!" Rian mengusap bokongnya yang sakit karena membentur lantai.


Niken berpaling melihat ke arah lain karena Rian cuma pakai boxer.


Niken : "Kamu kurang ajar! Laki-laki ********!"


Niken memukul kepala Rian dengan bantal, membuatnya pusing. Rian mencoba menahan tangan Niken yang kalap memukulinya.


Sekilas ia melihat air mata membasahi pipi Niken. Rian menerjang Niken, memitingnya dengan kuat diatas ranjang sampai Niken tidak bisa bergerak.


Niken : Aduh, sakit..! Kenapa kamu lakukan..?"


Rian : "Uda terlanjur, kamu juga menginginkannya semalam."


Niken terpana mendengar kata-kata Rian, minuman apa yang diberikan Rian semalam, Niken tidak ingat apa-apa setelah itu.


Pria itu sudah membuatnya tidak sadar dan menidurinya. Niken mengambil semua pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya di kamar mandi. Ia tidak ingin Boy memergoki apa yang terjadi dengan mereka.


Boy masuk ke kamarnya melalui connecting door sekitar jam setengah enam pagi. Ia melihat Niken duduk di sofa dengan pakaian lengkap dan mata yang sembab, sedangkan Rian setengah berbaring di ranjang sedang memainkan ponselnya.


Boy : "Niken, kamu bisa kembali. Jangan katakan apapun pada Joya. Kalian sama-sama mabuk dan tidak ingat apa-apa. Kamu paham?"


Niken hanya mengangguk dingin dan berjalan ke kamar sebelah. Boy memberi kode pada Rian seolah bertanya apa yang terjadi?"


Rian : "Dia pikir aku menidurinya..."


Boy : "Dan... Apa itu benar?"


Rian tersenyum penuh arti dan menunjukkan jempolnya. Boy hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan asistennya itu.


------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2