Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Pertunangan


__ADS_3

Akhirnya Indonesia…


Aliya dan Aldo tiba di bandara di kota S jam 10 pagi, mereka berjalan beriringan dibelakang porter yang membawa koper-koper mereka. Penampilan keduanya menarik perhatian karena sangat serasi dengan pakaian dominan putih. Mereka terlihat seperti model papan atas.


Sopir yang bertugas menjemput, melambaikan tangan pada Aldo,


Mang Maman : “Tuan Aldo!”


Aldo : “Itu sopir papa, ayo kesana.”


Mang Maman : “Apa kabar, Tuan? Barangnya sudah semua?”


Aldo : “Baik, Mang Maman. Iya, sudah semua. Mang, ini Aliya calon istri saya.”


Mang Maman : “Selamat datang, non Aliya. Mari, mobilnya disebelah sini.”


Mereka berjalan sebentar mendekati mobil mewah berwarna hitam yang parkir tak jauh dari mereka karena fasilitas VIP.  Aldo membukakan pintu untuk Aliya dan ikut masuk, sementara Mang Maman dan porter memasukkan koper ke bagasi.


Mang Maman : Tuan mau kemana dulu? Mau makan, pulang ke rumah, atau ke rumah non Aliya?”


Aldo : “Memang Mang Maman tahu rumahnya Aliya.”


Mang Maman : “Saya tahu, Tuan. Minggu lalu saya mengantarkan beberapa hadiah dan pakaian untuk seragam pernikahan Tuan Andra. Ibu non Aliya sangat baik, saya diajak ngobrol lama sekali.”


Aldo : “Ngobrol apa, Mang?”


Mang Maman : “Tentang Tuan Aldo, bagaimana kecilnya dulu.”


Aliya : “Kok mama kepo sich?”


Aldo : “Terus, Mang Maman jawab apa?”


Mang Maman : “Saya cerita seadanya saja, kan Tuan hanya sampai SMP disini, lalu pindah ke LN.”


Aldo : “Mang Maman gak cerita yang aneh-aneh kan?”


Mang Maman : “Saya gak berani, Tuan. Nanti Tuan Aldo marah lagi sama saya.”


Aldo : “Sepertinya nanti aku yang akan diinterogasi mamamu, Al.”


Aliya : “Berjuanglah, aku tidak akan mendukungmu…”


Aldo : “Al…”


Aliya menoleh keluar jendela, menahan tawanya. Wajah Aldo sudah memelas dan terlihat jelek. Mang Maman melirik keduanya dari spion tengah, ikut tersenyum melihat kemesraan pasangan aneh itu.


------


Mobil hitam memasuki halaman rumah Aliya, Aldo meminta Mang Maman mengantarkan Aliya dulu pulang ke rumahnya.


Joya menyambut mereka di depan pintu,


Joya : “Aliya sudah pulang. Peluk mama sini, nak.”


Aliya : “Papa mana mah?” kata Aliya sambil mencium tangan Joya dan memeluknya.


Joya : “Papa di kantor dong sayang, ayo masuk dulu. Aldo, apa kabar?”


Aldo : “Baik, tante.” Aldo membungkuk mencium tangan Joya.


Mang Maman menurunkan koper Aliya dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.


Joya : “Mang Maman, langsung ke belakang ya. Makanannya sudah siap, Mang Maman istirahat dulu.”


Mang Maman : “Terima kasih, Nyonya. Saya parkir mobil dulu.”


Joya menuntun Aliya dan Aldo duduk di ruang makan.


Joya : “Kalian makan dulu ya. Mama mau panggil Rara dulu.”


Aliya : “Kak Rara disini, mah?”


Joya : “Iya, Rara lagi ngidam dan cukup lemah. Jadi untuk sementara tinggal disini, biar mama mudah merawatnya.”


Aliya : “Kalau kak Rara masih istirahat, biarkan saja, mah. Nanti Aliya yang jenguk ke kamar.”


Joya : “Iya.”


Aliya mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Aldo. Ia melayani Aldo seperti seorang istri melayani suaminya. Aldo bukannya makan, malahan melihat semua aktivitas Aliya. Ia merasa senang mendapat perlakuan seperti itu.


Aliya : “Ayo makan.”

__ADS_1


Aldo : “Gak mau… suapin…”


Aliya berjengit mendengar kata-kata Aldo yang sok imut dan pandangan puppy eye Aldo.


Aliya : “Aku pasti sudah gila…” gumam Aliya sambil mulai menyendok makanan di piring ke mulut Aldo.


Aldo : “Hmm… enak banget. Masakan mama emang paling enak.”


Aliya : “Itu mamaku…” Aliya protes sambil terus menyuapi Aldo makan.


Aldo : “Bentar lagi fix jadi mamaku juga.”


Aliya : “Al, makan sendiri dong. Aku juga laper.”


Aldo : “Aku suapin kamu.”


Akhirnya mereka suap-suapan di meja makan, membuat Joya dan Rara senyum-senyum sendiri melihatnya.


Rara : “Mah, mereka romantis banget ya. Rara juga pengen disuapin Alvin…”


Rara mengambil ponsel di sakunya dan mengirimkan pesan, disertai foto Aliya dan Aldo yang sedang suap-suapan.


Rara : “Vin, Rara mau disuapin…” Pesan masuk ke HP Alvin yang langsung dibaca.


Alvin : “OMW!” Alvin yang baru selesai meeting dan ingin makan siang, berlari mengambil kunci mobilnya dan pergi begitu saja dari kantor, membuat asistennya lemas tak berdaya karena harus lembur lagi.


-------


Decit mobil Alvin berhenti di halaman rumah Joya, ia segera turun dan masuk ke dalam rumah. Di ruang makan, Aliya dan Aldo masih duduk disana menikmati dessert.


Alvin : “Hai, Al. Aldo.”


Aliya & Aldo : “Hai, Vin.”


Alvin : “Panggil aku kakak, Aliya. Rara mana?”


Aliya : “Ck. Kau bahkan tidak menanyakan kabarku dulu. ~~~~Aku baru pulang.”


Alvin mendekati Aliya, memegang dahi Aliya dan menatapnya dengan khawatir,


Alvin : “Apa kau sakit? Kemana perginya Aliya yang cuek? Kau bukan adikku, siapa kau?” Aldo hampir tersedak melihat kelakuan Alvin. Kakak sama adik sama gilanya. Aliya menepis tangan Alvin yang langsung memeluknya,


Alvin : “Aku merindukanmu adik kecilku, tapi kau harus maklum sekarang karena kakak iparmu sedang hamil buah cinta kami. Hasil perbuatan kami di malam-malam yang panas, bahkan terkadang di pagi dan siang yang panas.”


mengajarinya bercumbu.


Rara : “Vin, jangan mencemari Aliya dengan kata-kata mesummu itu. Lihat wajah Aliya sampai merah begitu.”


Rara berjalan mendekati meja makan dituntun Joya, ia merasa lebih baik setelah kedatangan Aliya. Usia kandungannya sudah masuk 4 bulan, tapi ngidamnya masih parah. Aliya menepis pelukan Alvin dan menghampiri


Rara. Mereka berpelukan sebelum duduk di meja makan.


Kali ini mereka yang melihat keromantisan Rara dan Alvin yang lagi suap-suapan. Boy yang datang setelah mendengar kabar kepulangan Aliya, ikut bergabung dengan mereka. Aliya memeluk erat papanya, sosok laki-laki yang masih terlihat tangguh meski usianya tidak muda lagi. Aliya sangat menyayangi papanya.


Boy : “Aldo, apa kabar? Bagaimana di LN, semua sudah beres?”


Aldo : “Baik, om. Sesuai permintaan om, semua sudah beres. Kami sudah mulai tinggal bersama.”


Alvin menoleh mendengar Aldo mengatakan kata-kata tinggal bersama.


Alvin : “What!!!! Adik kesayanganku tinggal bersamamu???!!!!”


Rara : “Sayang, dedeknya kaget nich, jangan teriak-teriak.”


Seketika Alvin lupa dengan bentakannya pada Aldo, ia mengelus perut Rara yang sedikit buncit.


Alvin : “Maaf, ya sayang. Papa gak sengaja. Jangan marah ya…”


Aliya melirik Alvin dengan malas, ia ingin memanas-manasi Alvin dengan mulai mengungkit masalah tinggal bersama.


Aliya : “Ternyata enak tinggal sama Aldo, pah. Pagi-pagi ada yang bangunin, buatin sarapan. Pokoknya service memuaskan.”


Alvin : “Service memuaskan?! Kalian uda ngapain aja?!!” Alvin kembali membentak tapi dengan nada suara yang lebih kecil, takut bayi dalam kandungan Rara kaget.


Aliya : “Tenang aja, kak. Belum sampai tahap ‘menghabiskan malam yang panas’ kok. Soon…”


Aldo : “Sabar, Vin. Matamu bisa keluar karena kebanyakan melotot. Aku meminta Aliya tinggal bersamaku untuk menjaganya dari pria yang mencoba mendekatinya.”


Aliya : “Deril cuma partner ya. Aku professional.”


Aldo : “Kamu iya, tapi pria itu, aku tidak percaya padanya.”

__ADS_1


Aliya : “Apa kau cemburu?”


Aldo : “Iya…”


Aliya : “Manis sekali…”


Aliya menyuapi Aldo dessert lagi sambil menatapnya penuh cinta. Mengabaikan semua orang di ruangan itu yang sudah bengong melihat perubahan sikap Aliya yang cuek.


Alvin : “Dia jadi gila karena cinta.. Huhuhu, adik kesayanganku sudah diambil orang, Ra.” Kata Alvin memeluk Rara sambil nangis bombay.


Aliya : “Kau juga sama gilanya, kak.” Balas Aliya dengan kejam.


Semua orang akhirnya tertawa bersama, melepas kerinduan satu sama lain. Mengukir kenangan indah ini agar selalu mereka ingat dalam beberapa foto welfie.


-------


Aldo sudah pulang ke rumahnya, nanti malam papa dan mama Aldo akan datang ke rumah Aliya untuk berbincang-bincang tentang persiapan pertunangan.


Pesta pernikahan Andra akan berlangsung tiga hari lagi dan pertunangan Aldo akan dilangsungkan sehari setelahnya dan hanya dihadiri keluarga besar saja. Itu rencana awal mereka, tapi Andra ingin kakaknya duluan


yang bertunangan, meskipun dia yang akan menikah duluan.


Andra : “Pah, aku sudah sangat bahagia karena kakak tidak keberatan aku menikah duluan. Tapi bisakan kakak tunangan dulu, baru pernikahanku dilangsungkan.”


Pak Alex : “Bagaimana, Al? Andra inginnya seperti itu.”


Andra : “Kak, setidaknya aku tidak melangkahimu begitu saja, kan. Ayolah.”


Aldo : “Aku tidak masalah, tapi bagaimana dengan persiapan dari pihak Aliya? Aku belum menanyakannya.”


Pak Alex : “Papa yakin mereka sudah siap. Lagi pula beberapa keluarga besar akan menginap sebelum acara utama, kan.”


Akhirnya malam itu juga, Aldo kembali ke rumah Aliya bersama kedua orang tuanya, Andra dan Aliya tampak cantik dengan balutan dress berwarna pink dengan make up dan hair do. Aldo yang baru melihat Aliya tampil lain dari biasanya, meremas tangan Andra yang duduk disamping,


Aldo : “Katakan apa aku sudah mati? Kenapa ada bidadari di depanku?”


Andra : “Tanyakan itu pada calon istrimu, sejak kapan kau pintar nggombal.”


Aldo : “Oh, shot me down. Aliya cantik banget. Aku tidak sabar…”


Andra : “Tahan dirimu, kak. Tingkahmu memalukan.”


Aldo menarik nafas panjang, mencoba menahan gejolak hasratnya melihat penampilan Aliya. Beberapa kali Aliya mengalihkan pandangannya dari Aldo yang menatapnya dengan intens, seolah mencari apa yang salah dari penampilannya.


Rara : “Kamu kenapa, Al?” Rara berbisik di samping Aliya.


Aliya : “Kak, apa ada yang salah dengan penampilanku?”


Rara : “Kau terlihat sangat cantik, kenapa memangnya?”


Aliya : “Kenapa Aldo terus menatapku begitu? Rasanya jantungku mau meledak, kak.”


Rara : “Sepertinya dia sudah terpikat dengan pesonamu, wah, kakak tidak sabar melihat pertunangan kalian besok.”


Aliya tersenyum malu, membuat Aldo semakin terbius dengan kecantikan Aliya sampai ia mengabaikan papa Alex yang sedang menanyakan kesungguhannya meminang Aliya.


Papa Alex : “Aldo, apa kamu sudah yakin dan mantap memilih Aliya sebagai calon istrimu?”


Hening… Semua mata tertuju pada Aldo yang sedang menatap Aliya tanpa berkedip. Bahkan saat Andra melambaikan tangannya di depan Aldo untuk menyadarkannya, Aldo hanya menepis tangan Andra dan kembali menatap Aliya.


Papa Alex : “Sepertinya saya tidak perlu menanyakan lagi ya. Aldo sepertinya sudah tergila-gila dengan Aliya. Next.”


Papa Alex menutup wajahnya karena malu melihat kelakuan Aldo yang hanya melongo menatap Aliya. Semua orang menahan tawa melihat kejadian itu, sedangkan wajah Aliya merona merah.


Giliran Boy yang menanyai Aliya yang dibalas dengan anggukan kepala Aliya, sambil berkata malu-malu,


Aliya : “Iya, pah. Aliya mau jadi istri Aldo.”


Saat melihat Aliya mengangguk, Aldo juga mengangguk dan tanpa sadar berkata,


Aldo : “Iya, pah. Aldo mau jadi suami Aliya.”


Bwuakakakaka… hahaha… tawa menggema memenuhi ruang tamu rumah Aliya. Aldo yang menyadari semua orang sedang tertawa, tersadar dari lamunannya dan melihat sekeliling dengan bingung.


Aldo : “Kenapa pada ketawa? Apa yang lucu?”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.

__ADS_1


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------


__ADS_2