
Eps. 20 – Tawaran mengejutkan
Carol : “Itu kak Nanda.”
Nando menoleh melihat kakaknya berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Ia langsung
menjauh dari Carol.
Nanda : “Kalian kalau mau sekamar, boleh. Tapi Nando tidur di sofa.”
Carol : “Nggak, kak. Aku tidur di kamar yang tadi aja. Nando, antar aku balik ke kamar yang
tadi ya.”
Nanda : “Biar aku yang antar. Sini.”
Carol mengikuti Nanda keluar dari kamar Nando, ia menoleh saat Nando memanggilnya dan
mengirimkan flying kiss. Carol tersipu malu melihat tinggal Nando itu. Nanda
dan Carol berjalan melewati beberapa pintu dari kamar Nando dan Nanda
membukakan pintu.
Carol : “Makasih, kakak ipar. Selamat malam.”
Carol hampir menutup pintu saat Nanda menahan pintu kamar itu. Nanda ingin bicara dengan
Carol, dan Carol membuka pintu lebih lebar agar Nanda bisa masuk. Ia membiarkan
pintu kamar itu tetap terbuka. Nanda melirik Carol yang membiarkan pintu kamar
tetap terbuka.
Mereka duduk berhadapan di sofa. Nanda menatap Carol dengan intens, Carol yang awalnya
tersenyum sambil menatap Nanda, jadi risih sendiri dan mulai mengalihkan
perhatiannya pada bantal sofa.
Nanda : “Sebelum kamu menikah dengan Nando, aku perlu menyampaikan beberapa hal yang
penting. Pertama, Nando itu adik kandungku tapi aku tidak akan mewariskan
sepeserpun uangku padanya sampai kapanpun.”
Nanda menghentikan kata-katanya dan menatap wajah Carol yang sedikit terkejut. Ia
menaruh sedikit curiga pada Carol saat Nando memperkenalkannya sebagai calon
istrinya. Nanda tahu kalau Nando sedang berusaha mengejar Carol dan
kemarahannya sebelumnya hanya untuk mendesak Carol untuk mengakui perasaannya
pada Nando.
Sekarang setelah Carol mengakui perasaannya, Nanda akan melanjutkan perannya dalam kepala
keluarga mereka, menyelidiki sendiri bagaimana karakter calon adik iparnya ini.
Nanda : “Yang kedua, setelah menikah kalian tidak akan tinggal disini. Tapi di rumah Nando
sendiri. Apa kau pernah kesana?”
Carol menggeleng. Ia bahkan tidak tahu apa Nando punya rumah kalau pria itu tidak
memberitahunya. Nanda melihat lagi ekspresi Carol yang biasa saja, tidak
__ADS_1
terkejut seperti tadi.
Nanda : “Ketiga, aku akan menghentikan uang saku bulanan untuk Nando setelah kalian
menikah. Aku rasa kalian pasti ingin mandiri setelah nikah nanti.”
Nanda melihat sepertinya Carol ingin bicara sesuatu, ia mempersilakan Carol bicara.
Carol : “Kalau boleh tahu, berapa besarnya uang itu?”
Nanda : “5 juta. Ada masalah?”
Carol : “Gaji saya 7,5 juta, saya rasa cukup untuk menutup itu.”
Nanda melihat Carol seperti sedang menghitung sesuatu. Ia menahan tawanya melihat ekspresi
serius Carol dan keningnya yang berkerut.
Nanda : “Keempat, terakhir. Kalau kau memilih menikah denganku, semua asetku akan
beralih atas namamu.”
Carol : “Apaa?!”
Nanda : “Menikah denganku dan tinggalkan Nando. Kau akan jadi kaya dalam sekejap.”
Nanda terus menatap wajah Carol yang sangat terkejut mendengar kata-katanya. Tangan Carol
mengepal menahan perasaannya yang tak karuan. Dirinya terkejut, mendengar calon
kakak iparnya, kakak kandung dari pria yang baru saja membuatnya jatuh cinta,
mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya.
Carol : “Tuan Nanda, kalau memang tuan tidak setuju saya menikah dengan Nando, sebaiknya tuan
katakan terus terang. Tuan tidak perlu menghina saya seperti ini.”
Carol : “Saya setuju menikah karena Nando memang pria yang baik. Saya tidak munafik kalau
saya tidak perlu uang. Tapi saya yakin Nando akan bertanggung jawab untuk hidup
saya setelah kami menikah.”
Nanda : “Jadi kamu mau bergantung pada Nando? Membiarkan dia bekerja keras, sementara kamu
bersenang-senang dengan uangnya?”
Carol : “Saya sudah katakan besarnya gaji saya tadi, saya rasa itu cukup untuk membantu Nando
juga. Kalau tuan tetap tidak percaya, buat saja perjanjian pra nikah. Saya
bersedia tidak memakai uang Nando setelah kami menikah.”
Nanda : “Kau bisa saja merayu Nando untuk membujukku agar memberimu uang.”
Brak! Carol menggebrak meja di depannya. Ia berdiri dan sedikit membungkuk pada Nanda.
Carol : “Saya rasa pembicaraan ini sudah selesai, tuan. Saya permisi. Terima kasih sudah
merawat luka saya. Mengenai pernikahan, anggap saja saya menolak lamaran tuan
Nanda.”
Carol berjalan cepat keluar dari kamar itu. Ia sempat bingung harus kemana karena villa Nanda
sangat besar. Carol bertemu Charlie di lorong dan menanyakan arah pintu keluar.
__ADS_1
Charlie menunjukkan arahnya dan Carol berjalan dengan cepat menyusuri lorong itu.
Tapi bukannya sampai di pintu keluar, ia malah sampai di taman samping villa Nanda. Dengan
mata berkaca-kaca, Carol terus berjalan menyusuri jalan setapak yang entah akan berakhir dimana.
Nando : “Carol! Carol!”
Carol terus berjalan, tidak mempedulikan panggilan Nando. Sampai ia melihat seekor anjing
besar di depannya, matanya menyala dan sedikit menggeram. Carol berjalan
mundur, ia ketakutan melihat anjing yang lebih besar dari tubuhnya itu.
Anjing itu bergerak maju, mengikuti Carol yang terus mundur. Nando yang berhasil mengejar Carol, memeluknya dari belakang.
Nando : “Carol, kamu mau kemana?”
Carol : “Jangan bergerak. Ada anjing galak di depan kita.”
Anjing itu tiba-tiba berlari, Carol refleks berbalik memeluk Nando. Matanya terpejam
bersiap menerima gigitan dari anjing itu. Tapi yang ia rasakan hanya jilatan di kakinya.
Nando : “Carol, ini Blacky, anjingnya kakak. Sepertinya dia suka sama kamu.”
Carol : “Dia gak galak?”
Nando : “Sama orang jahat, dia galak. Coba lihat dia.”
Carol memberanikan dirinya menatap Blacky. Anjing itu duduk di dekat kakinya,
menatapnya juga sambil menjulurkan lidahnya. Nando memegang tangan Carol untuk
mengelus kepala Blacky. Carol mengelus-elus kepala Blacky yang semakin mendekat padanya.
Blacky menaikkan kedua kakinya di pundak Carol seperti memeluk gadis itu. Carol
mengelus bulu-bulu halus Blacky, ia teringat kata-kata Nanda dan kembali menangis.
Nando : “Carol, maaf, kakak gak maksud ngomong seperti itu.”
Carol : “Kamu udah tau? Baiknya kita gak lanjutin rencana pernikahan ini. Aku mau pulang.”
Nando : “Carol, tolong denger dulu. Kakak hanya ingin tahu apa yang kau pikirkan setelah
pernikahan kita nanti.”
Carol : “Kakakmu pikir aku cewek matre! Lebih baik kita gak nikah. Tolong, aku mau
pulang saja.”
Nanda : “Kamu gak boleh pulang. Kamu calon menantu di rumah ini.”
Nanda sudah muncul dari dalam villa, menatap dirinya dan Nando yang masih berdiri di
halaman samping.
Carol : “Saya sudah menolak lamaran tuan. Saya mohon ijinkan saya pulang.”
Nanda : “Blacky, bawa dia mendekat.”
Carol memekik ketakutan saat Blacky mendorongnya, menggigit kecil tangannya agar mau
mengikuti anjing besar itu mendekati Nanda. Carol berdiri di depan Nanda dengan
Blacky berjaga di belakangnya.
__ADS_1
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.