
Akhirnya hari pernikahan Aliya dan Aldo digelar juga. Sejak pagi Aliya sudah didandani oleh MUA professional, ia tampak cantik memakai gaun pernikahan berwarna putih dari bahan kebaya. Semua orang yang hadir di acara akad nikah sontak terdiam melihat Aliya dibawa masuk ke dalam ruangan.
Beberapa orang mempertanyakan apakah itu benar Aliya atau orang lain. Wajah Aliya terlihat berbeda setelah dirias, memancarkan aura kecantikan murni bagaikan seorang dewi yang diturunkan dari khayangan hanya untuk Aldo.
Aldo yang sudah duduk di depan penghulu memilih tidak menatap Aliya ketika Aliya duduk di sampingnya. Sejak pagi tadi, ia sangat gugup menunggu acara ini. Papanya sudah memperingatkan Aldo untuk tidak menatap Aliya dulu sebelum ijab, karena pengalaman mereka dulu Aldo bersikap bodoh di hadapan semua orang.
Aldo duduk berhadapan dengan Boy yang terus tersenyum melihat putrinya yang terlihat sangat cantik dan menawan. Penghulu meminta Boy dan Aldo berjabat tangan, Boy merasakan tangan Aldo gemetaran.
Boy : “Pak penghulu, boleh saya bicara sebentar dengan Aldo.”
Penghulu mempersilahkan dan Boy berdiri mendekati Aldo, membisikkan sesuatu padanya.
Boy : "Kalau kau tidak berhasil dalam sekali ucapan, papa akan bawa Aliya pergi jauh darimu."
Wajah Aldo menegang, ia melihat ke samping menatap Aliya yang juga menatapnya bingung. Papa Aldo sudah bersiap memukul kepala Aldo yang akan bersikap bodoh karena tidak mendengarkan kata-katanya.
Boy kembali duduk dan menjabat tangan Aldo, penghulu menanyakan kesediaan kedua calon pengantin yang dijawab dengan tegas oleh keduanya. Boy mengucapkan kalimat bagiannya dengan tegas sambil menatap mata Aldo dan Aldo menjawab kalimat Boy dengan lantang dan jelas.
Penghulu : “Bagaimana para saksi?”
Para saksi tersenyum dan berteriak, “Sah!Sah!”
Hati Aldo mencelos, ia kembali merasa gugup sekaligus lega. Boy mengacungkan jempolnya, sementara papa Aldo memegangi dadanya yang terkejut mendengar teriakan saksi.
Aliya tersenyum malu saat Aldo menatapnya lagi, mengabaikan semua orang. Andra sampai harus mengguncang tubuh kakaknya yang fokus menatap Aliya.
Andra : “Kak! Tukar cincinnya, cepat.”
Aldo : “Sebentar…”
Pletak! Aldo meringis memegangi kepalanya yang sudah dijitak papanya.
Papa Aldo : “Fokus, Al. Ritualnya masih banyak. Jangan buat papa malu lagi.”
Aldo : “Galak amat, sich.”
Aldo memasangkan cincin di jari manis Aliya dan Aliya melakukan hal yang sama, trus mencium tangan Aldo yang sekarang resmi jadi suaminya.
Aldo melakukan semua ritual dibawah ancaman papanya karena dia lebih fokus menatap Aliya. Pernikahan mereka membuat suasana akad menjadi hangat dan penuh tawa karena kelakuan Aldo.
🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah sesi foto dan salaman yang panjang, mereka berdua sudah boleh beristirahat di kamar yang sudah disediakan di hotel itu. Bersiap-siap untuk resepsi nanti sore.
Aliya diantar masuk oleh Joya dan adik Aldo, mereka ingin membantu Aliya ganti baju. Tapi Aliya teringat kata-kata Aldo,
Aliya : “Biar aja, mah. Nanti Aldo yang bantu ganti baju.”
Joya : “Kalian uda gak sabaran ya.”
Aliya : “Aldo yang minta, mah.”
__ADS_1
Aliya menunduk malu, membuatnya terlihat semakin cantik dan imut. Joya dan adik Aldo berjalan keluar kamar pengantin, berpapasan dengan Aldo yang akan masuk ke dalam.
Aldo : “Loh, mah, mau kemana?”
Joya : “Mama mau balik ke kamar dulu, ganti baju. Kamu bantu Aliya ya. Katanya kamu yang mau bantu.”
Aldo : “Hehe… iya mah.”
Joya : “Ingat jam 3 sore, MUA akan datang lagi kesini untuk persiapan resepsi.”
Aldo : “Iya mah. Makasih mah.”
Aldo menutup pintu kamar, ia melepas jas putih yang dipakainya dan menaruhnya di atas sofa. Aliya berdiri di samping tempat tidur menatap Aldo yang berjalan mendekatinya.
Aldo : “Sayang, kamu cantik banget. Boleh aku cium?”
Aliya : “Biasanya kamu gak nanya, yang.”
Aldo : “Aku gugup banget, Al. Tanganku masih gemetar sampai sekarang.”
Aliya : “Oh, ya. Tadi papa bilang apa?”
Aldo : “Papamu mengancamku kalau sampai aku gagal mengucapkan ijab tadi, dia akan membawamu pergi jauh. Aku takut, Al.”
Aliya : “Hadeh, papa itu. Kamu juga kena keisengan papa ya.”
Aldo : "Papamu suka iseng?"
Aliya : "Sama aja sama Alvin. Kalo uda kumat, parah banget."
Aliya mengangguk malu, Aldo menunduk mencium bibir Aliya. Ia melakukannya sangat lembut, seolah itu adalah ciuman pertama mereka. Aliya juga membalas ciuman itu dengan lembut. Keduanya terhanyut sesaat dalam kemesraan pasangan suami istri.
Tangan Aldo menggenggam tangan Aliya, menyatukan jemari mereka. Aldo melepas ciumannya, ia menatap mata Aliya,
Aldo : "Al, aku bantu lepas gaunmu ya?"
Aliya : "Al, kamu kenapa nanya terus sich?"
Aldo : "Karena ini pertama kalinya aku menyentuh istriku, Al. Aku ingin kau mengingat semua ini, menjadikannya kenangan manis untuk kau ceritakan pada anak-anak kita di masa depan."
Aliya : "Kamu sweet banget sich, sayang."
Aldo : "Aku buka sekarang ya?"
Aldo membuka satu persatu kancing kebaya berpayet yang dipakai Aliya. Kebaya itu meluncur turun lolos dari tangan Aliya.
Tangan Aldo mulai membuka retsleting angkin yang dipakai Aliya. Angkin itu terjatuh ke lantai.
Tubuh bagian atas Aliya terpampang jelas di hadapan Aldo. Aldo berpindah ke belakang Aliya, membuka retsleting bagian bawah gaunnya. Rok itu meluncur turun dari pinggang Aliya.
Aliya : "Sayang, apa kau suka dengan apa yang ku pakai?"
__ADS_1
Aldo : "Iya, kalau kita lakukan sekarang, masih sempat gak?"
Aliya : "Sebentar lagi jam 3. Kita bisa mandi bareng, tapi kamu bisa sabar sampai nanti malam kan?"
Aldo : "Ayo mandi."
Lagi-lagi mereka mandi bareng, cuma mandi ya. Kalau pada mikir jorok tolong jangan salahkan author donk.
🌲🌲🌲🌲🌲
Acara resepsi segera dimulai, Aliya dan Aldo berpegangan tangan berjalan memasuki ruangan. Seluruh tamu undangan terpukau melihat penampilan keduanya yang terlihat seperti pangeran dan putri.
Deretan tamu undangan berbaris rapi untuk mengucapkan selamat kepada kedua mepelai dan foto bersama. Beberapa kolega penting Boy dan papa Aldo tampak memberikan hadiah langsung kepada Aliya dan Aldo.
Tumpukan kado di belakang mereka semakin tinggi seiring semakin sedikitnya barisan tamu yang mengantri.
Saat acara foto bersama keluarga, Aliya dan Aldo tersenyum bahagia. Mereka berfoto bersama kedua orang tua, para sepupu, keluarga masing-masing, dan juga seluruh keluarga.
Semua orang tertawa bahagia dengan pernikahan Aliya. Termasuk Boy yang sedang menatap putrinya.
Joya : "Apa kau menangis, sayang?"
Boy : "Anak-anak kita sudah menikah, sayang. Seharusnya kita buat satu lagi atau dua lagi."
Joya : "Kan kamu yang gak mau nambah anak dulu. Katamu dua saja sudah membuatku jauh darimu."
Boy : "Aku harap anak-anak kita mau membuatkan cucu yang lebih banyak untuk kita."
Joya : "Sepertinya masing-masing dari mereka hanya akan membuat dua saja."
Boy : "Aku tidak sabar menunggu saudara baby Arya yang lain."
Joya tersenyum melihat tingkah Boy yang kembali menatap Aliya.
Sementara itu diatas pelaminan, Aldo berbisik pada Aliya.
Aldo : "Sayang, kita ke kamar yuk."
Aliya : "Bentar, sayang. Kita makan dulu ya, abis itu kita menyelinap ke kamar."
Aldo tersenyum manis mendengar jawaban Aliya yang mendukung keinginannya.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat
ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan
__ADS_1
Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------