Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Menemani jalan


__ADS_3

Eps. 21 – Menemani


jalan


“Aku tahu,


Joya. Aku terlalu emosi saat itu. Seharusnya aku bisa lebih bersabar, tapi


melihat ibu pingsan, aku gelap mata. Maafkan aku, sayang.”sesal Boy sambil


mengeratkan pelukannya pada tubuh Joya.


“Aku belum bisa


maafin, mas. Hatiku masih sakit.”ujar Joya lirih.


“Yah, kok gitu,


sayang.”


“Sekarang mas


bersih-bersih sana. Trus pulang. Aku gak mau mas disini.”


“Sa...sayang,


mas diusir? Tapi kita barusan...”


Joya sudah


berbaring membelakangi Boy, ia tidak mau bicara dengan Boy apapun yang


dikatakan pria itu. Boy membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian yang sudah


disiapkan Joya. Keningnya mengkerut karena pakaian itu sangat pas di tubuhnya.


“Joya, kenapa


ada pakaian laki-laki disini?”


Joya tidak


mengatakan apa-apa, ia tetap mendiamkan Boy. Boy mulai hilang kesabaran, tapi


melihat punggung Joya dan gerakan tangannya yang mengelus perutnya, membuat Boy


memilih mengalah.


Boy keluar dari


kamar Joya tanpa bicara apa-apa. Bi Ijah sudah menyediakan makanan dan juga


kopi untuk Boy.


“Joya meminta


saya menyiapkan makanan untuk tuan muda. Silakan dimakan dulu, tuan muda.”


“Bi, kenapa ada


baju laki-laki di kamar Joya? Baju siapa ini?”


“Tuan muda, Joya


membeli pakaian itu untuk tuan muda. Dia bilang suatu saat tuan muda akan


memerlukannya.”


Boy menunduk


malu dengan pertanyaannya tadi, bahkan setelah kesalahan besar yang ia lakukan,


Joya masih peduli padanya. Semua yang terhidang di meja adalah makanan kesukaan


Boy.


“Bi, duduk,


temani saya makan. Saya mau bicara.”


Bi Ijah duduk


di meja makan, menemani Boy yang makan sangat lambat. Ia tidak ingin pergi dari


sana dan memikirkan banyak alasan agar bisa tetap bersama Joya. Pertama, Boy


menanyakan kebiasaan Joya mulai dari bangun pagi sampai kembali tidur di malam


hari.


Bi Ijah bercerita


kalau setiap bangun pagi, Joya akan duduk di teras menikmati matahari pagi. Atau


jalan-jalan di sekitar perkebunan. Orang yang dikirim Ny. Besar akan menemani


Joya sepanjang jalan sampai ia kembali dengan aman.


“Bi Ijah gak

__ADS_1


nemenin, Joya?”


“Kadang saya


nemenin, tuan muda. Tapi Joya sudah kelaparan setelah berjalan-jalan dan ingin


segera makan. Jadi saya tetap disini untuk masak.”


“Disini aman


kan, bi? Saya kok ragu ya. Sepertinya gelap juga waktu malam.”


“Disini aman,


tuan muda. Setiap malam pekerja perkebunan datang untuk patroli. Siang-siang


juga banyak ibu-ibu yang lewat kalau mau kerja di perkebunan. Sampai sekarang


belum ada kejadian yang membahayakan Joya.”


“Jangan sampai


kejadian, bi.”


Boy melanjutkan


makannya sampai habis, ia menelpon seseorang setelah itu.


Joya baru


keluar dari kamarnya setelah Bi Ijah memanggilnya untuk makan. Ia sempat


melihat sekeliling rumah yang sepi. Entah apa yang ada dipikiran Joya saat itu


tapi ia terlihat sedih.


“Joya, makan


dulu. Ini sudah hampir jam 3 sore loh. Kamu gak lapar?”


“Capek, bi. Mau


makan sup aja.”


Joya


menghabiskan semangkuk sup, lalu pergi keluar rumah. Ia berjalan ke kebun mini


di samping rumah untuk melihat tanaman wortel yang sudah siap panen. Joya


membungkuk hampir meraih ujung daun wortel tapi tangan seseorang lebih cepat


meraihnya.


yang cabut. Tunggu sebentar.”


“Kamu siapa?


Mana Deny?”tanya Joya waspada. Ia sudah melangkah mundur menjauh dari pria di


depannya.


“Saya pengganti


sementara Deny, Ny. Nama saya Bima.”


“Bima?”Joya


mengamati sosok Bima dengan curiga. “Ya, sudah. Cepat cabut wortelnya, nanti


taruh di teras. Dan kamu gak boleh masuk ke dalam rumah. Toilet sama tempat


istirahat ada di samping rumah. Kalau perlu apa-apa, panggil Bi Ijah dari luar


teras. Ingat pesan saya, Bima.”


Joya sudah


berbalik, berjalan kembali ke rumah, tapi ia berbalik lagi. “Bima.”panggil


Joya.


“Ya, Ny.”


“Tolong jaga


jarak kamu sama saya sejauh 2 meter ya. Kamu gak boleh sembarangan


pegang-pegang saya. Kamu sudah lihat peraturannya, kan?”


“Iya, Ny. Sudah


saya baca semua.”


“Bagus.


Lanjutkan cabut wortelnya.”


“Baik, Ny.”

__ADS_1


Bima menatap


kepergian Joya dengan senyum misterius. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya,


lalu membawa wortel yang sudah bersih ke teras rumah. Joya yang kebetulan


sedang duduk di teras, meminta Bima meletakkan saja wortel itu diatas meja.


“Makasih, Bima.”


Beberapa


pekerja perkebunan lewat di jalan dekat rumah Joya, mereka menyapa Joya dengan


ramah.


“Joya, singkong


sama pisangnya sudah ada ini, jadi diambil?”tanya seorang pekerja paruh baya


yang membawa keranjang.


“Iya, pak.


Mampir dulu, pak.”


“Lain kali ya


Joya, mau pulang cepat, sudah hampir hujan.”


Pekerja itu


meletakkan singkong yang sudah dibersihkan dari tanah dan pisang di teras


rumah. Ia mengangguk pada Bima, lalu kembali bergabung dengan rombongannya. Joya


mengucapkan terima kasih sebelum mereka pergi.


“Bi Ijah, singkongnya


udah dateng nich. Kita bisa bikin kolaknya.”


Joya berdiri


dengan hati-hati sambil memegangi perutnya, ia ingin mengambil singkong tapi


Bima melarangnya.


“Ny. sebaiknya


biar Bi Ijah yang ambil, singkongnya berat. Ny. duduk saja.”


Joya


mengurungkan niatnya, ia menunggu Bi Ijah keluar, lalu masuk membawa wortel di


meja.


Malam hari,


Bima berjaga di depan rumah. Ada semacam pos ronda di depan rumah itu. Orang-orang


Ny. Besar akan bergantian berjaga disana saat malam hari. Bima mengobrol


sebentar dengan orang-orang Ny. Besar.


Mereka tampak


mengenal Bima dengan baik dan hormat pada pria itu. Joya memperhatikan


interaksi Bima dengan orang yang berjaga malam itu dari balik jendela sebelum


menutup korden. Ia masih merasa aneh dengan Bima.


Keesokan


harinya, Joya berjalan-jalan pagi seperti biasa. Kali ini Bima yang


mengikutinya, ia mengawasi Joya yang berjalan 2 meter di depannya. Semalam


hujan turun cukup lebat, jalanan di depan mereka jadi sedikit tergenang air dan


licin.


Joya meminta


Bima mendekat, ia memegang lengan Bima ketika melewati genangan air. “Sudah,


makasih.” Joya melepaskan tangannya dari Bima, ia kembali berjalan sambil


melihat pemandangan. Setelah merasa cukup lelah, Joya berbalik menuju rumah.


Saat mereka melewati genangan air yang sama, Joya terpeleset dan hampir jatuh


kalau Bima tidak segera menahan tubuhnya.


*****


Klik

__ADS_1


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2