
Eps. 21 – Menemani
jalan
“Aku tahu,
Joya. Aku terlalu emosi saat itu. Seharusnya aku bisa lebih bersabar, tapi
melihat ibu pingsan, aku gelap mata. Maafkan aku, sayang.”sesal Boy sambil
mengeratkan pelukannya pada tubuh Joya.
“Aku belum bisa
maafin, mas. Hatiku masih sakit.”ujar Joya lirih.
“Yah, kok gitu,
sayang.”
“Sekarang mas
bersih-bersih sana. Trus pulang. Aku gak mau mas disini.”
“Sa...sayang,
mas diusir? Tapi kita barusan...”
Joya sudah
berbaring membelakangi Boy, ia tidak mau bicara dengan Boy apapun yang
dikatakan pria itu. Boy membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian yang sudah
disiapkan Joya. Keningnya mengkerut karena pakaian itu sangat pas di tubuhnya.
“Joya, kenapa
ada pakaian laki-laki disini?”
Joya tidak
mengatakan apa-apa, ia tetap mendiamkan Boy. Boy mulai hilang kesabaran, tapi
melihat punggung Joya dan gerakan tangannya yang mengelus perutnya, membuat Boy
memilih mengalah.
Boy keluar dari
kamar Joya tanpa bicara apa-apa. Bi Ijah sudah menyediakan makanan dan juga
kopi untuk Boy.
“Joya meminta
saya menyiapkan makanan untuk tuan muda. Silakan dimakan dulu, tuan muda.”
“Bi, kenapa ada
baju laki-laki di kamar Joya? Baju siapa ini?”
“Tuan muda, Joya
membeli pakaian itu untuk tuan muda. Dia bilang suatu saat tuan muda akan
memerlukannya.”
Boy menunduk
malu dengan pertanyaannya tadi, bahkan setelah kesalahan besar yang ia lakukan,
Joya masih peduli padanya. Semua yang terhidang di meja adalah makanan kesukaan
Boy.
“Bi, duduk,
temani saya makan. Saya mau bicara.”
Bi Ijah duduk
di meja makan, menemani Boy yang makan sangat lambat. Ia tidak ingin pergi dari
sana dan memikirkan banyak alasan agar bisa tetap bersama Joya. Pertama, Boy
menanyakan kebiasaan Joya mulai dari bangun pagi sampai kembali tidur di malam
hari.
Bi Ijah bercerita
kalau setiap bangun pagi, Joya akan duduk di teras menikmati matahari pagi. Atau
jalan-jalan di sekitar perkebunan. Orang yang dikirim Ny. Besar akan menemani
Joya sepanjang jalan sampai ia kembali dengan aman.
“Bi Ijah gak
__ADS_1
nemenin, Joya?”
“Kadang saya
nemenin, tuan muda. Tapi Joya sudah kelaparan setelah berjalan-jalan dan ingin
segera makan. Jadi saya tetap disini untuk masak.”
“Disini aman
kan, bi? Saya kok ragu ya. Sepertinya gelap juga waktu malam.”
“Disini aman,
tuan muda. Setiap malam pekerja perkebunan datang untuk patroli. Siang-siang
juga banyak ibu-ibu yang lewat kalau mau kerja di perkebunan. Sampai sekarang
belum ada kejadian yang membahayakan Joya.”
“Jangan sampai
kejadian, bi.”
Boy melanjutkan
makannya sampai habis, ia menelpon seseorang setelah itu.
Joya baru
keluar dari kamarnya setelah Bi Ijah memanggilnya untuk makan. Ia sempat
melihat sekeliling rumah yang sepi. Entah apa yang ada dipikiran Joya saat itu
tapi ia terlihat sedih.
“Joya, makan
dulu. Ini sudah hampir jam 3 sore loh. Kamu gak lapar?”
“Capek, bi. Mau
makan sup aja.”
Joya
menghabiskan semangkuk sup, lalu pergi keluar rumah. Ia berjalan ke kebun mini
di samping rumah untuk melihat tanaman wortel yang sudah siap panen. Joya
membungkuk hampir meraih ujung daun wortel tapi tangan seseorang lebih cepat
meraihnya.
yang cabut. Tunggu sebentar.”
“Kamu siapa?
Mana Deny?”tanya Joya waspada. Ia sudah melangkah mundur menjauh dari pria di
depannya.
“Saya pengganti
sementara Deny, Ny. Nama saya Bima.”
“Bima?”Joya
mengamati sosok Bima dengan curiga. “Ya, sudah. Cepat cabut wortelnya, nanti
taruh di teras. Dan kamu gak boleh masuk ke dalam rumah. Toilet sama tempat
istirahat ada di samping rumah. Kalau perlu apa-apa, panggil Bi Ijah dari luar
teras. Ingat pesan saya, Bima.”
Joya sudah
berbalik, berjalan kembali ke rumah, tapi ia berbalik lagi. “Bima.”panggil
Joya.
“Ya, Ny.”
“Tolong jaga
jarak kamu sama saya sejauh 2 meter ya. Kamu gak boleh sembarangan
pegang-pegang saya. Kamu sudah lihat peraturannya, kan?”
“Iya, Ny. Sudah
saya baca semua.”
“Bagus.
Lanjutkan cabut wortelnya.”
“Baik, Ny.”
__ADS_1
Bima menatap
kepergian Joya dengan senyum misterius. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya,
lalu membawa wortel yang sudah bersih ke teras rumah. Joya yang kebetulan
sedang duduk di teras, meminta Bima meletakkan saja wortel itu diatas meja.
“Makasih, Bima.”
Beberapa
pekerja perkebunan lewat di jalan dekat rumah Joya, mereka menyapa Joya dengan
ramah.
“Joya, singkong
sama pisangnya sudah ada ini, jadi diambil?”tanya seorang pekerja paruh baya
yang membawa keranjang.
“Iya, pak.
Mampir dulu, pak.”
“Lain kali ya
Joya, mau pulang cepat, sudah hampir hujan.”
Pekerja itu
meletakkan singkong yang sudah dibersihkan dari tanah dan pisang di teras
rumah. Ia mengangguk pada Bima, lalu kembali bergabung dengan rombongannya. Joya
mengucapkan terima kasih sebelum mereka pergi.
“Bi Ijah, singkongnya
udah dateng nich. Kita bisa bikin kolaknya.”
Joya berdiri
dengan hati-hati sambil memegangi perutnya, ia ingin mengambil singkong tapi
Bima melarangnya.
“Ny. sebaiknya
biar Bi Ijah yang ambil, singkongnya berat. Ny. duduk saja.”
Joya
mengurungkan niatnya, ia menunggu Bi Ijah keluar, lalu masuk membawa wortel di
meja.
Malam hari,
Bima berjaga di depan rumah. Ada semacam pos ronda di depan rumah itu. Orang-orang
Ny. Besar akan bergantian berjaga disana saat malam hari. Bima mengobrol
sebentar dengan orang-orang Ny. Besar.
Mereka tampak
mengenal Bima dengan baik dan hormat pada pria itu. Joya memperhatikan
interaksi Bima dengan orang yang berjaga malam itu dari balik jendela sebelum
menutup korden. Ia masih merasa aneh dengan Bima.
Keesokan
harinya, Joya berjalan-jalan pagi seperti biasa. Kali ini Bima yang
mengikutinya, ia mengawasi Joya yang berjalan 2 meter di depannya. Semalam
hujan turun cukup lebat, jalanan di depan mereka jadi sedikit tergenang air dan
licin.
Joya meminta
Bima mendekat, ia memegang lengan Bima ketika melewati genangan air. “Sudah,
makasih.” Joya melepaskan tangannya dari Bima, ia kembali berjalan sambil
melihat pemandangan. Setelah merasa cukup lelah, Joya berbalik menuju rumah.
Saat mereka melewati genangan air yang sama, Joya terpeleset dan hampir jatuh
kalau Bima tidak segera menahan tubuhnya.
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.