Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Wisuda


__ADS_3

Joya menyelesaikan skripsinya sedikit ngebut, ia rajin datang ke kampus untuk mengejar dosennya atau mencari referensi buku yang ia perlukan.


Ia benar-benar sangat sibuk sampai selalu pulang terlambat. Ny. Besar jadi merasa kehilangan Joya yang biasanya selalu ada saat makan malam.


Malam itu setelah sekian kalinya Joya terlambat pulang, Joya masuk ke dalam rumah Ny. Besar sedikit terburu-buru. Ny. Besar dan keluarganya sedang makan malam bersama. Ada Boy juga disana, duduk di kursinya.


Sekilas Joya merasa kalau Boy sedang menatapnya. Tapi ia tidak berani menatap balik. Ny. Besar menghentikan Joya, ia memperhatikan  tubuh Joya yang kurus dan pipinya yang tirus.


Ny. Besar : " Joya, makan dulu."


Joya : "Baik, Ny. Besar. Saya ke kamar dulu."


Joya membungkuk sebentar dan berjalan ke kamarnya. Ia mandi dengan cepat dan mengganti pakaiannya. Kalau Ny. Besar sudah memintanya makan, artinya Joya harus segera mengambil piring dan makan, meskipun di dapur sekalipun.


Joya kembali ke ruang makan, ia tersenyum pada Ny. Besar dan berjalan cepat masuk ke dapur. Bi Ijah memberikan piring pada Joya. Ia mengambil sedikit nasi dan lauk seadanya.


Bi Ijah : "Dikit banget makannya, Joya. Kamu gak pa-pa?"


Joya : "Ssttt... Jangan keras-keras, bi. Joya cuma lagi males makan."


Joya tidak ingin Ny. Besar mendengar kalau dia makan sedikit saja. Tubuhnya sangat lelah sampai tidak punya selera makan. Ia hanya ingin tidur saja setelah membantu membereskan dapur.


Kerja kerasnya selama sebulan ini sudah membuahkan hasil. Ia bisa ujian skripsi minggu depan kalau bisa mencari buku yang diinginkan dosennya. Buku ini cukup langka karena terbitan lama dan sangat eksklusif.


Dosennya mendesaknya kalau Joya bisa menemukan buku itu, ia bisa ujian dan lulus dengan cepat. Joya kepikiran untuk mencari buku itu di ruang kerja rumah itu. Dulu ruangan itu dipakai oleh ayah Boy untuk bekerja dan disana banyak terdapat buku-buku langka yang sangat lama.


Tapi Joya harus ijin dulu dengan Ny. Besar untuk bisa masuk kesana. Joya menyelesaikan makannya dengan cepat dan mencuci piring. Ia melihat Ny. Besar dan Boy berjalan ke arah kamar Ny. Besar.


Mereka semua sudah selesai makan dan Bi Ijah mulai mengambil piring kotor dari atas meja makan. Joya mendekati Bi Ijah,


Joya : "Bi, Joya gak ikutan beberes ya. Mau ijin sama Ny. Besar."


Bi Ijah : "Ok."


Joya berjalan cepat menuju kamar Ny. Besar. Ia mengetuk pintu kamar dan masuk,


Joya : "Permisi, Ny. Besar. Saya mau ijin."


Ny. Besar : "Joya? Ijin apa?"


Joya menatap Boy yang duduk di samping ibunya. Boy juga menatap Joya. Joya menceritakan kesulitannya pada Ny. Besar. Boy yang ikut mendengarkan, mulai sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Joya mengatakan dengan jelas mengenai penerbit dan judul buku yang dicarinya. Ny. Besar tampak berpikir sejenak,


Joya : Jadi saya bermaksud mencari buku itu di ruang kerja Tuan Besar."


Ny. Besar : "Apa kamu yakin buku itu ada disana?"

__ADS_1


Joya : "Saya tidak yakin, Ny. Besar. Tapi saya tidak punya pilihan lain."


Ny. Besar : "Boy, bagaimana?"


Boy : "Buku itu tidak ada disini. Tapi di apartmentku, bu."


Joya : "Benarkah? Saya boleh meminjamnya?"


Boy : "Ya, tapi kau harus ikut ke apartmentku sekarang."


Ny. Besar : "Ini sudah malam, Boy. Tidak bisa besok saja?"


Boy : "Bu, besok aku agak sibuk dan buku itu tersimpan di lemari brankas. Cuma aku yang tahu cara membukanya."


Ny. Besar : "Sepertinya tidak ada jalan lain ya. Joya, ikut Boy ya. Dan kalian harus segera kembali."


Joya : "Baik, Ny. Besar. Terima kasih. Tuan, terima kasih."


Boy : "Kau harus membayar lebih untuk ini." Boy berbicara sambil berbisik.


Joya : "Apa, tuan?"


Boy : "Ayo, cepat!"


Boy bersikap dingin seperti biasanya. Mereka berjalan keluar dari kamar Ny. Besar dan langsung menuju parkiran mobil. Boy memanggil sopir Ny. Besar dan meminta kunci mobil ibunya itu.


Sopir : "Baik, Tuan Boy."


Boy dan Joya masuk ke dalam mobil. Boy tersenyum tipis melihat Joya tidak membawa ponselnya.


Selama dalam perjalanan, Joya sedikit menggigil. Tubuhnya terasa sakit dan tidak nyaman, kepalanya juga pusing. Sepertinya kondisi tubuhnya benar-benar sudah sampai puncaknya. Tapi ia harus bertahan sebentar lagi atau usahanya akan sia-sia.


Perjalanan ke apartment Boy cukup lama, sama dengan jarak ke kantor Boy. Dalam kondisi tidak sehat dan Boy yang hanya diam sepanjang jalan, membuat Joya mulai mengantuk.


Beberapa kali ia menguap dan menggelengkan kepalanya. Boy melihat kelakuan Joya,


Boy : "Tidurlah dulu."


Joya : "Tidak, Tuan. Saya belum ngantuk."


Boy menyetel musik beat yang cukup menghentakkan tubuh. Joya merasa lebih sadar setelah musik itu diputar.


Akhirnya mereka sampai di apartment. Joya pelan-pelan keluar dari mobil. Kepalanya benar-benar pusing sekarang. Ia menahan dirinya agar tetap kuat berjalan di samping Boy.


Dan sepertinya Boy sangat menikmati perjalanan lama mereka masuk ke apartment. Setelah masuk ke dalam lift, Joya bersandar di dinding lift. Tubuhnya kembali menggigil.


Boy bukannya gak tahu ada yang tidak beres dengan Joya, dari tadi ia terus berjaga kalau-kalau Joya pingsan. Dia gak mungkin menunjukkan perhatiannya sekarang.

__ADS_1


Mereka sampai depan pintu apartment Boy yang langsung membuka pintu. Boy berjalan masuk dan memberi jalan pada Joya untuk masuk. Boy tersenyum puas saat Joya berjalan masuk ke apartmentnya.


Boy : "Duduk."


Boy menunjuk sofa, sementara ia mendekati lemari di samping TV. Ada deretan buku disana yang di lengkapi dengan kunci password. Boy menekan beberapa nomor dan pintu lemari itu terbuka.


Bau khas buku lama menguar di dalam apartment. Boy menelusuri deretan buku itu dan menarik salah satunya. Ia membawa buku itu mendekati Joya.


Boy : "Ini kan bukunya?"


Joya : "Iya, tuan."


Joya menerima buku itu dan mencari ponselnya.


Joya : " Aduch, saya lupa bawa ponsel. Padahal cuma perlu foto cover sama halaman... Lupa lagi halaman berapa..."


Kesadaran Joya menurun, ia menjatuhkan buku itu diatas sofa, tubuhnya meluncur jatuh ke depan. Boy dengan sigap menahan tubuh Joya, ia merasakan tubuh Joya panas tinggi.


Boy : "Joya! Joya, bangun!"


Boy menggendong Joya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya diatas ranjang. Joya menggigil, keringat dingin membasahi pakaiannya.


Boy mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat Joya. Ia melihat Joya menggigil dan menarik selimut menutup tubuhnya.


Boy : "Joya, bangun..."


Joya tidak mendengar Boy, kesadarannya benar-benar sudah hilang sepenuhnya. Boy dengan cepat menelpon dokter keluarga untuk datang ke aparmentnya. Tapi dokter itu tidak bisa datang karena sedang diluar kota.


Dokter keluarga menyarankan Boy untuk merawat Joya dengan cara sederhana setelah mendengar penyebab sakitnya gadis itu. Boy harus mengganti pakaian Joya yang basah dan mengompresnya.


Boy : "Ganti bajunya?"


Dokter juga menyarankan untuk adanya skin to skin dengan pasien dalam keadaan mendesak. Artinya Boy harus memeluk Joya agar panasnya cepat turun.


Boy menatap Joya yang masih tidak sadar. Ia menimbang pilihan yang diberikan dokter dan memutuskan melakukan salah satunya.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak...


-------

__ADS_1


__ADS_2