
Aliya memperhatikan saat Pak Alex dan papanya berjalan menjauh, ia mengerti kalau papanya berusaha mencarikannya pacar atau mungkin calon suami. Salah satu hal yang membuat Aliya pergi dari rumah adalah kemungkinan perjodohan. Ia tidak suka terlibat dalam hal yang ia benci, ia ingin hidup sesuai keinginannya sendiri.
Aldo : “Jangan pasang wajah cemberut begitu. Tetaplah tersenyum seperti tadi.”
Aliya : “Aku rasa itu bukan urusanmu.”
Aldo : “Bukan kau saja yang tidak suka dengan semua ini, aku juga sudah muak. Tapi kau tidak bisa mengecewakan orang tuamu, kan.”
Aliya : “Apa kau sudah terbiasa melakukan ini?”
Aldo : “Melakukan apa?”
Aliya : “Bertingkah menyebalkan.”
Aldo : “Aku hanya mencoba jujur, setidaknya ada pembicaraan diantara kita. Sudah 10 menit berlalu, aku harus pergi. Sampai jumpa.”
Aldo meninggalkan Aliya yang masih tidak percaya bertemu dengan makhluk seperti Aldo, tapi ia lega karena Aldo tidak tertarik meneruskan hubungan dengannya.
Malam semakin larut, beberapa tamu undangan mulai undur diri hingga tersisa hanya beberapa orang saja. Aliya merenggangkan tubuhnya, ia mulai mengantuk dan ingin segera mandi. Melihat Aliya sendiri, mama Rara mendekatinya,
Mama Rara : “Nak, menginaplah disini malam ini, ada kamar kosong dibelakang, kapan kembali ke LN?”
Aliya : “Iya, tante. Terima kasih, Aliya balik besok penerbangan pertama, tante.”
Mama Rara : “Ayo, tante antar ke kamarmu, besok biar sopir yang mengantar ke bandara.”
Aliya mengikuti mama Rara menuju ke kamarnya yang ternyata melewati kamar pengantin, papa Rara sedang ada disana mencoba menguping.
Mama Rara : “Papa ngapain disini?”
Papa Rara : “Gak, papa cuma lewat kok.”
Mama Rara : “Cuma lewat? Kenapa sampai bungkuk gitu? Hayo…”
Aliya tersenyum melihat tingkah kedua mertua kakaknya itu, mama Rara mengantar Aliya sampai ke kamarnya dan menunggu Aliya masuk, baru balik lagi ke depan kamar pengantin untuk menyeret papa Rara kembali ke ruang resepsi. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, rasa nyaman membuat Aliya langsung tertidur lelap.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jam 4 pagi, Aliya menggeliat mendengar suara alarm di HP-nya yang mengingatkan tentang perjalanannya kembali ke LN. Ia sadar kalau belum mandi dan ganti baju sejak semalam. Aliya bergegas mandi dan ganti baju, kali ini ia memakai baju yang lebih santai karena sampai di LN, dia harus langsung ikut pemotretan. Seseorang mengetuk pintu kamar Aliya, Aliya membukanya dan melihat seorang gadis tersenyum padanya.
ART : “Selamat pagi, nona. Sarapan sudah siap, ada yang bisa saya bantu bawakan?”
Aliya : “Pagi, mb. Tunggu sebentar ya.”
Aliya mengambil tas tangan, kacamata, dan kopernya yang sudah siap dan membawanya keluar kamar. ART itu mendorong koper Aliya, membawanya ke ruang makan. Belum ada seorangpun di sana.
ART : “Silakan sarapan dulu, non.”
Aliya : “Yang lainnya belum bangun ya mb?”
ART : “Tadi Nyonya Besar sudah bangun, tapi sepertinya ke kamar lagi.”
Aliya : “Makasih, mb.”
Aliya menikmati sarapannya, dan bersiap berangkat tapi yang punya rumah belum juga kembali ke ruang makan. Akhirnya Aliya menitip pesan pada ART kalau dia pamit ke bandara.
Mobil yang akan mengantar Aliya ke bandara sudah siap di depan, Aliya tertegun melihat orang yang menyetir mobil itu.
Aliya : “Aldo? Sedang apa kau disini?”
__ADS_1
Aldo : “Apalagi? Mengantarmu ke bandara, cepat masuk.”
Aliya ingin menolak tapi sudah tidak ada waktu lagi, ia terpaksa merepotkan orang aneh ini. Aliya meletakkan kopernya di bagasi dan duduk disamping Aldo yang segera menyetir sedikit ngebut.
Aldo : “Kenapa cepat sekali kau kembali?”
Aliya : “Aku masih ada ujian besok, kau sendiri?”
Aldo : “Aku masih ada urusan disini. Mungkin lusa baru balik. Kau kuliah dimana?”
Aliya : “Uni. G”
Aldo : “Dekat kantorku, kapan-kapan kita makan siang ya.”
Aliya : “Aku sibuk.”
Aldo : “Hmm… alasan klasik, sepertinya papaku akan ngomel lebih lama lagi.”
Aliya : “Apa hubungannya dengan papamu?”
Aldo : “Papaku bahkan mengirimkan nomormu padaku dan ingin kita mengenal lebih jauh. Kau tahu, semacam PDKT.”
Aliya : “Kamu gak bisa nolak?”
Aldo : “Aku hanya perlu beberapa kali bertemu denganmu, makan siang atau menjemputmu, lalu aku akan bilang kalau kita tidak ada kecocokan, papaku akan berhenti mengomel. Memang papamu gak bilang apa-apa?”
Aliya terdiam, mana mungkin papanya akan mengatakan hal yang dibencinya. Tapi perkataan Aldo ada benarnya, setidaknya mereka terlihat berusaha menjalani dulu.
Aldo : “Bagaimana?”
Aliya : “Terserah kau saja, tapi aku tidak mau dipaksa. Jadwalku cukup sibuk.”
Aliya : “Aku juga kerja jadi model, dan sekarang tambah lagi part time di kantor Deril.”
Aldo : “Siapa Deril?”
Mereka sudah sampai di depan gerbang masuk bandara. Aldo memarkir mobilnya di depan keberangkatan internasional.
Aliya : “Makasih ya. Sampai jumpa.”
Aldo mengeluarkan koper Aliya dan pergi begitu saja. Sebenarnya Aliya sedikit kecewa dengan sikap Aldo, sejak pertemuan pertama mereka, Aliya mulai merasakan sesuatu pada Aldo.
🌴🌴🌴🌴🌴
Aliya kembali ke rutinitas sehari-harinya di LN, ia sampai lupa dengan Aldo, bahkan sudah jarang bertemu Deril. Konsentrasinya full untuk sidang yang akan diadakan di lusa. Siang itu, saat Aliya sedang berjalan kaki mencari makan siang di salah satu restoran favoritnya, seseorang memanggilnya,
Aldo : “Aliya!” Aliya menoleh dan melihat Aldo sedang berdiri di dekat sebuah mobil mewah.
Aliya : “Aldo. Kamu ngapain disini?”
Aldo : “Itu kantorku. Aku mau makan siang.” Aldo menunjuk gedung di sebelah restoran favorit Aliya.
Aliya : “Aku juga mau makan. Kau mau makan disini?”
Aldo mengangguk, Aliya terdiam melihat mobil di belakang Aldo.
Aldo : “Itu bukan punyaku.”
Aliya : “Aku merasa pernah lihat mobil ini, tapi dimana ya?”
__ADS_1
Aldo mengajak Aliya masuk saja ke restauran, daripada mereka hanya berdiri saja. Pelayan mendekati mereka dan Aldo memesan dengan cepat sementara Aliya masih memandang mobil yang terlihat dari tempat mereka duduk.
Aldo : “Al, kau mau makan apa?”
Pelayan : “Hai, Al? Menu biasa?”
Aliya : “Iya, makasih.”
Aldo : “Kau sering makan disini?”
Aliya : “Iya, masa kau gak lihat di dinding sana ada fotoku.”
Aldo menoleh melihat ke dinding yang memang banyak foto pelanggan restauran itu, tampak foto Aliya sedang makan siang sendirian di salah satu sudut restauran. Pelayan datang membawa pesanan mereka. Tiba-tiba Aliya melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aldo menoleh lagi melihat Aliya melambaikan tangan pada seorang pria.
Aldo : “Siapa dia?” Nada suara Aldo terdengar acuh.
Aliya : “Dia Deril, aku baru ingat itu mobilnya.”
Aldo : “Oh, apa hubunganmu dengannya?”
Aliya : “Dia mentorku di kampus, kenapa kau ingin tahu?”
Aldo : “Hanya bertanya. Kapan kau sidang?”
Aliya : “Sepertinya aku tidak pernah cerita kalau aku akan sidang? Apa kau…”
Aldo : “Papaku selalu bicara tentangmu, Aliya begini lah, Aliya begitu lah… Tadi aku berusaha menghubungimu untuk makan siang, untung saja kita ketemu disini.”
Aliya : “Sekarang kau akan laporan pada papamu kalau sudah mengajakku makan siang, gitu?”
Aldo : “Sepertinya aku tidak perlu melakukan itu, bukannya papamu menyewa detektif untuk menjagamu disini? Sepertinya dia sedang ada disekitar sini.”
Aliya mengedarkan pandangannya, tapi ia tidak melihat om Roy diantara pengunjung restauran.
Aldo : “Jadi kapan kau sidang?”
Aliya : “Lusa pagi, apa kau juga mau datang? Kau tahu sambil membawa bunga dan kawan-kawannya.”
Aldo : “Hei, ini bagian rencana kita kan, setelah lewat beberapa minggu, papaku akan mulai melupakan tentang ini dan kita bisa bebas lagi.”
Aliya : “Kau sangat yakin kalau papamu akan bersikap begitu.”
Aldo : “Aku sudah melewati ini selama 3 tahun, dari mulai bekerja sampai sekarang. Kebiasaan papa memang seperti itu.”
Aliya : “Berarti banyak gadis yang sudah kau temui, ya kan. Apa tidak ada satu pun dari mereka yang bisa membuatmu jatuh cinta?”
Aldo : “Aku tidak mau membicarakannya, lagipula urusan kita hanya beberapa minggu saja kan. Kita belum seakrab itu untuk saling bertukar cerita.”
Aliya meneruskan makannya, ia sedikit kecewa karena Aldo tidak mau menjawab pertanyaannya. Aldo memang benar, seharusnya Aliya tidak berusaha akrab dengannya. Toh, sebentar lagi mereka akan menempuh jalan masing-masing.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------