Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Kita keluarga


__ADS_3

Eps. 20 – Kita keluarga


Melihat Nanda


keras kepala, Ana mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Nanda langsung


bangun dari sofa dan keluar dari sana. Pelayan wanita masuk dan pintu ditutup.


“Kak Ana bilang


apa sama kakak ipar sampai nurut gitu?”tanya Carol sambil membantu pelayan


membuka kancing kebaya di patung.


“Kalau dia


tidak keluar, kami tidak bisa masuk ke kamar dengan cepat. Kau tau maksudku


kan?”kata Ana sambil melepas pakaiannya.


Carol dan


pelayan wanita membantu Ana memakai kebaya pengantin itu berikut perhiasan dan


heels-nya.


“Kak, apa kau


suka dengan pilihan perhiasan dan heelsnya? Mungkin kakak mau coba yang lain?”tanya


Carol.


“Apa tidak


bagus? Aku suka ini. Sudah pas semua. Carol, cobalah kebaya itu juga. Banyak


pilihan disini.”


“Tidak, kak.


Aku akan sewa kebaya saja. Lebih murah. Aku dan Nando sudah membicarakannya,


kami akan menyiapkan keperluan pernikahan kami sendiri. Ya, mungkin kami nebeng


acara ijab dengan kakak dan kakak ipar. Jadi kami tidak berencana mengundang


teman-teman kami.”jelas Carol.


“Kenapa begitu?


Carol, lihat semua barang ini. Sudah siap. Kau tinggal memakainya. Ini


pernikahan sekali seumur hidupmu.”


“Tidak apa-apa,


kak. Aku sudah bilang sama Nando, jangan merepotkan kakak ipar. Sepertinya


sudah waktunya memanggil kakak ipar. Pelayan, tolong panggil tuan muda pertama


ya.”


Nanda masuk


kembali ke kamar Ana. Ia memutari Ana dan mengangguk puas. Ana melihat Carol


mendekati Nando dan memeluknya sambil tersenyum manis.


“Kak Ana


terlihat cantik ya. Pilihanku cocok juga.”kata Carol manja.


“Kau memang


yang terbaik, sayang.”puji Nando.


“Carol, apa kau


yakin tidak mau mencoba satu saja kebaya disini?”tanya Ana dengan hati-hati.


“Tidak, kak.


Kami ke kamar dulu ya. Selamat malam, kak, kakak ipar”


Ana ingin


menahan Carol tapi sepertinya Carol tidak nyaman berada disana karena Nanda.


“Apa kau pernah


mengatakan sesuatu pada Carol, suamiku?”tanya Ana.


Ia meminta


pelayan membantunya melepaskan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.


“Mengatakan


apa?”


“Sesuatu yang


menyakiti hatinya? Jelas sekali ia ingin mencoba kebaya itu. Tapi melihatmu,


dia tidak jadi melakukannya.”


“Mungkin dia

__ADS_1


masih tersinggung karena aku pernah mengujinya.”


Ana


mendengarkan cerita Nanda saat ia harus menguji cinta Carol untuk Nando. Ana


hanya berkomentar kalau Nanda sedikit keterlaluan. Sekarang Carol sudah


tersinggung dan tidak mau memakai barang pemberian Nanda.


“Aku lihat juga


mereka lebih sering berada di luar rumah ini. Mereka hanya kembali saat malam


dan langsung tidur. Kalau terus seperti ini, hubungan kalian akan renggang.


Kita sudah jadi keluarga sekarang.”


“Ya, aku tahu.


Setelah ijab juga mereka akan tinggal di rumah Nando. Nando juga minta uang


saku bulanannya dihentikan saja.”


Ana yang sudah


mengganti pakaiannya dengan lingeri dan meminta pelayan keluar dari kamarnya,


mendekati Nanda.


“Suamiku, kenapa


kau tidak mengujiku juga?”


“Nadia sudah


melakukannya, aku tidak perlu repot. Lagipula aku sudah tahu rasamu.”


“Terus


bagaimana caramu mengatasi masalah ini? Aku tidak mau tidur denganmu sampai


masalah ini beres.”kata Ana sambil memanyunkan bibirnya.


“Kalau begitu,


sebagai kakak yang baik, kita harus memberikan hadiah untuk adik ipar, bukan?”kata


Nanda.


“Maksudmu, kita


kasi saja kebaya itu untuk Carol? Perhiasan dan heels juga?”


“Ya, dan aku


sekarang kita bisa tidur?”


“Suamiku, kau


jenius. Ayo kita tidur. Aku tidak sabar menunggu reaksi Carol besok.”


Nanda mengikuti


Ana yang menarik tangannya menuju kamar Nanda. Tentu saja mereka tidak langsung


tidur karena Nanda tidak mau melewatkan satu hari pun tanpa berolahraga dengan


Ana.


*****


Satu hal yang


menarik perhatian Carol saat terbangun adalah satu set kebaya cantik lengkap


dengan perhiasan dan juga heels sudah terpajang di sudut kamar Nando. Carol


mengerjapkan matanya, berpikir mungkin dia halu pagi ini karena bangun


kepagian.


Carol bangun


dari atas ranjang Nando, ia berjalan perlahan mendekati kebaya itu dan meraba


detailnya. Kebaya berwarna putih dengan permata biru, tampak serasi dengan jas


biru yang terpajang di sampingnya.


“Oh, indah


sekali. Tapi dari siapa?”tanya Carol pada dirinya sendiri.


“Itu hadiah


pernikahan dari kak Nanda, sayang. Coba baca kartunya.”kata Nando yang


terbangun juga.


Carol melihat


sebuah kartu diletakkan diatas set perhiasan. Ia membacanya dan tersenyum


bahagia. ‘Teruntuk kedua mempelai. Selamat atas pernikahan kalian berdua. Terimalah


hadiah dari kami dan semoga kalian selalu bahagia. Dari Nanda dan Ana.’

__ADS_1


“Aku gak bisa


terima ini. Nando, kembalikan saja.”


“Kak Ana dan


kak Nanda sudah bersusah payah menyiapkan semua ini untuk kita. Jangan marah


lagi sama kak Nanda ya. Dia hanya ingin aku bahagia dan aku sudah bilang akan


bahagia sama kamu.”


Nando memeluk


Carol dari belakang dan membawanya ke kamar mandi.


“Nando, kamu mau


ngapain?”tanya Carol yang mulai ketakutan melihat Nando membuka pakaiannya.


“Mandi. Aku mau


lihat kamu coba kebaya itu. Janji cuma mandi. Jangan takut.”


Meskipun sudah


menikah secara negara, Nando belum meminta hak-nya sebagai suami pada Carol


sampai saat ini. Carol tersenyum malu menatap Nando yang membantunya melepas


baju tidurnya. Sepuluh menit kemudian, keduanya keluar dengan wajah fresh dan


terlihat segar.


Nando membantu


Carol mencoba kebaya pengantin itu berikut perhiasan dan heels-nya. Carol


melihat penampilannya di depan cermin dan tidak menyangka kebaya itu sangat pas


di tubuhnya.


“Cantik sekali.


Aku foto ya.”pinta Nando


“Jangan. Nanti


aja kalo aku uda dirias.”larang Carol.


“Padahal aku


mau kirim ke kak Nanda. Biar dia lihat hadiahnya pas. Ya, udah. Ayo, siap-siap


kita ke kantor.”


Nando membantu Carol


melepas kebayanya dan mengembalikan semuanya ke tempat semula. Di meja makan,


Nanda, Ana, dan Nadia sudah siap lebih dulu.


“Kakak ipar, kak


Ana, terima kasih kado pernikahannya. Pas sekali kebayanya.”kata Carol pada


Nanda dan Ana.


“Sama-sama,


adik ipar. Aku harap kita jadi satu keluarga yang bahagia. Tinggal Charlie saja


yang masih harus berusaha.”kata Nanda sambil melirik Charlie. Yang dilirik cuma


bisa senyum manis.


“Oho, apa


Charlie sudah punya pacar?”tanya Carol ikutan kepo.


“Bukan pacar,


nyonya muda kedua. Cuma teman dekat.”kata Charlie.


“Teman dekat


tapi tiap malam kau tidur bersama dia. Apa perlu kita culik wanita itu? Dan


membawanya ke pelaminan sama kamu?”


“Tolong jangan,


tuan muda pertama. Hubungan kami agak rumit. Biarkan seperti ini dulu. Saya gak


mau maksa dia.”


Nanda


tidak memperpanjang masalah itu lagi, mereka harus segera berangkat ke sekolah


Nadia dan lanjut ke kantor.


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2