
Eps. 20 – Kita keluarga
Melihat Nanda
keras kepala, Ana mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat Nanda langsung
bangun dari sofa dan keluar dari sana. Pelayan wanita masuk dan pintu ditutup.
“Kak Ana bilang
apa sama kakak ipar sampai nurut gitu?”tanya Carol sambil membantu pelayan
membuka kancing kebaya di patung.
“Kalau dia
tidak keluar, kami tidak bisa masuk ke kamar dengan cepat. Kau tau maksudku
kan?”kata Ana sambil melepas pakaiannya.
Carol dan
pelayan wanita membantu Ana memakai kebaya pengantin itu berikut perhiasan dan
heels-nya.
“Kak, apa kau
suka dengan pilihan perhiasan dan heelsnya? Mungkin kakak mau coba yang lain?”tanya
Carol.
“Apa tidak
bagus? Aku suka ini. Sudah pas semua. Carol, cobalah kebaya itu juga. Banyak
pilihan disini.”
“Tidak, kak.
Aku akan sewa kebaya saja. Lebih murah. Aku dan Nando sudah membicarakannya,
kami akan menyiapkan keperluan pernikahan kami sendiri. Ya, mungkin kami nebeng
acara ijab dengan kakak dan kakak ipar. Jadi kami tidak berencana mengundang
teman-teman kami.”jelas Carol.
“Kenapa begitu?
Carol, lihat semua barang ini. Sudah siap. Kau tinggal memakainya. Ini
pernikahan sekali seumur hidupmu.”
“Tidak apa-apa,
kak. Aku sudah bilang sama Nando, jangan merepotkan kakak ipar. Sepertinya
sudah waktunya memanggil kakak ipar. Pelayan, tolong panggil tuan muda pertama
ya.”
Nanda masuk
kembali ke kamar Ana. Ia memutari Ana dan mengangguk puas. Ana melihat Carol
mendekati Nando dan memeluknya sambil tersenyum manis.
“Kak Ana
terlihat cantik ya. Pilihanku cocok juga.”kata Carol manja.
“Kau memang
yang terbaik, sayang.”puji Nando.
“Carol, apa kau
yakin tidak mau mencoba satu saja kebaya disini?”tanya Ana dengan hati-hati.
“Tidak, kak.
Kami ke kamar dulu ya. Selamat malam, kak, kakak ipar”
Ana ingin
menahan Carol tapi sepertinya Carol tidak nyaman berada disana karena Nanda.
“Apa kau pernah
mengatakan sesuatu pada Carol, suamiku?”tanya Ana.
Ia meminta
pelayan membantunya melepaskan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.
“Mengatakan
apa?”
“Sesuatu yang
menyakiti hatinya? Jelas sekali ia ingin mencoba kebaya itu. Tapi melihatmu,
dia tidak jadi melakukannya.”
“Mungkin dia
__ADS_1
masih tersinggung karena aku pernah mengujinya.”
Ana
mendengarkan cerita Nanda saat ia harus menguji cinta Carol untuk Nando. Ana
hanya berkomentar kalau Nanda sedikit keterlaluan. Sekarang Carol sudah
tersinggung dan tidak mau memakai barang pemberian Nanda.
“Aku lihat juga
mereka lebih sering berada di luar rumah ini. Mereka hanya kembali saat malam
dan langsung tidur. Kalau terus seperti ini, hubungan kalian akan renggang.
Kita sudah jadi keluarga sekarang.”
“Ya, aku tahu.
Setelah ijab juga mereka akan tinggal di rumah Nando. Nando juga minta uang
saku bulanannya dihentikan saja.”
Ana yang sudah
mengganti pakaiannya dengan lingeri dan meminta pelayan keluar dari kamarnya,
mendekati Nanda.
“Suamiku, kenapa
kau tidak mengujiku juga?”
“Nadia sudah
melakukannya, aku tidak perlu repot. Lagipula aku sudah tahu rasamu.”
“Terus
bagaimana caramu mengatasi masalah ini? Aku tidak mau tidur denganmu sampai
masalah ini beres.”kata Ana sambil memanyunkan bibirnya.
“Kalau begitu,
sebagai kakak yang baik, kita harus memberikan hadiah untuk adik ipar, bukan?”kata
Nanda.
“Maksudmu, kita
kasi saja kebaya itu untuk Carol? Perhiasan dan heels juga?”
“Ya, dan aku
sekarang kita bisa tidur?”
“Suamiku, kau
jenius. Ayo kita tidur. Aku tidak sabar menunggu reaksi Carol besok.”
Nanda mengikuti
Ana yang menarik tangannya menuju kamar Nanda. Tentu saja mereka tidak langsung
tidur karena Nanda tidak mau melewatkan satu hari pun tanpa berolahraga dengan
Ana.
*****
Satu hal yang
menarik perhatian Carol saat terbangun adalah satu set kebaya cantik lengkap
dengan perhiasan dan juga heels sudah terpajang di sudut kamar Nando. Carol
mengerjapkan matanya, berpikir mungkin dia halu pagi ini karena bangun
kepagian.
Carol bangun
dari atas ranjang Nando, ia berjalan perlahan mendekati kebaya itu dan meraba
detailnya. Kebaya berwarna putih dengan permata biru, tampak serasi dengan jas
biru yang terpajang di sampingnya.
“Oh, indah
sekali. Tapi dari siapa?”tanya Carol pada dirinya sendiri.
“Itu hadiah
pernikahan dari kak Nanda, sayang. Coba baca kartunya.”kata Nando yang
terbangun juga.
Carol melihat
sebuah kartu diletakkan diatas set perhiasan. Ia membacanya dan tersenyum
bahagia. ‘Teruntuk kedua mempelai. Selamat atas pernikahan kalian berdua. Terimalah
hadiah dari kami dan semoga kalian selalu bahagia. Dari Nanda dan Ana.’
__ADS_1
“Aku gak bisa
terima ini. Nando, kembalikan saja.”
“Kak Ana dan
kak Nanda sudah bersusah payah menyiapkan semua ini untuk kita. Jangan marah
lagi sama kak Nanda ya. Dia hanya ingin aku bahagia dan aku sudah bilang akan
bahagia sama kamu.”
Nando memeluk
Carol dari belakang dan membawanya ke kamar mandi.
“Nando, kamu mau
ngapain?”tanya Carol yang mulai ketakutan melihat Nando membuka pakaiannya.
“Mandi. Aku mau
lihat kamu coba kebaya itu. Janji cuma mandi. Jangan takut.”
Meskipun sudah
menikah secara negara, Nando belum meminta hak-nya sebagai suami pada Carol
sampai saat ini. Carol tersenyum malu menatap Nando yang membantunya melepas
baju tidurnya. Sepuluh menit kemudian, keduanya keluar dengan wajah fresh dan
terlihat segar.
Nando membantu
Carol mencoba kebaya pengantin itu berikut perhiasan dan heels-nya. Carol
melihat penampilannya di depan cermin dan tidak menyangka kebaya itu sangat pas
di tubuhnya.
“Cantik sekali.
Aku foto ya.”pinta Nando
“Jangan. Nanti
aja kalo aku uda dirias.”larang Carol.
“Padahal aku
mau kirim ke kak Nanda. Biar dia lihat hadiahnya pas. Ya, udah. Ayo, siap-siap
kita ke kantor.”
Nando membantu Carol
melepas kebayanya dan mengembalikan semuanya ke tempat semula. Di meja makan,
Nanda, Ana, dan Nadia sudah siap lebih dulu.
“Kakak ipar, kak
Ana, terima kasih kado pernikahannya. Pas sekali kebayanya.”kata Carol pada
Nanda dan Ana.
“Sama-sama,
adik ipar. Aku harap kita jadi satu keluarga yang bahagia. Tinggal Charlie saja
yang masih harus berusaha.”kata Nanda sambil melirik Charlie. Yang dilirik cuma
bisa senyum manis.
“Oho, apa
Charlie sudah punya pacar?”tanya Carol ikutan kepo.
“Bukan pacar,
nyonya muda kedua. Cuma teman dekat.”kata Charlie.
“Teman dekat
tapi tiap malam kau tidur bersama dia. Apa perlu kita culik wanita itu? Dan
membawanya ke pelaminan sama kamu?”
“Tolong jangan,
tuan muda pertama. Hubungan kami agak rumit. Biarkan seperti ini dulu. Saya gak
mau maksa dia.”
Nanda
tidak memperpanjang masalah itu lagi, mereka harus segera berangkat ke sekolah
Nadia dan lanjut ke kantor.
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.