Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Lembur


__ADS_3

Akhir bulan, seminggu telah berlalu sejak Joya mulai membawa bekal makanan untuk Boy. Pagi itu seperti biasa ia meletakkan bekal makanan di tempat yang tersedia dan mengambil tas bekal bekas kemarin.


Saat ia akan keluar dari ruang kerja Boy, ia melihat celah di dinding dekat dengan kamar mandi. Joya melihat Boy tertidur di atas ranjang yang tersedia disana.


Joya melongok ke dalam sana, ia melihat ruangan itu berantakan sekali. Pakaian kerja Boy berserakan di bawah ranjang. Wajah Joya memerah melihat otot dada Boy yang terlihat seksi menggoda.


Setelah berpikir sejenak, Joya segera membereskan ruangan yang berantakan itu. Ia menyusun majalah menumpuk dibawah meja, mengatur CD musik di samping DVD player.


Ia juga menggantung pakaian kerja Boy di belakang pintu dan membereskan sisanya. Joya tersenyum puas melihat ruangan yang sudah rapi.


Joya melirik jam tangannya, sebentar lagi sekretaris Lia akan datang. Joya tidak mau bertemu dengannya pagi ini dan dikepoin.


Tapi saat ia ingin membuka pintu ruangan itu, pintunya tidak mau terbuka. Jantung Joya berdegup kencang, bagaimana cara membuka pintu itu.


Ada beberapa angka di pintu dan sepertinya otomatis terkunci saat pintu tertutup. Ia melirik Boy yang masih tidur, ia tidak mungkin membangunkan Boy sekarang.


Apa yang akan ia katakan pada Boy saat Boy terbangun nanti dan mendapati dirinya masuk ke ruangan pribadi Boy. Joya teringat asisten Boy, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan pada asisten Boy.


Tapi pesan itu tidak terkirim, Joya memutuskan menelpon asisten Boy.


Asisten Boy : "Halo, Joya. Ada apa?"


Joya : "Halo, kak. Bisa datang sekarang ke ruang kerja tuan Boy?"


Asisten Boy : "Kenapa kamu bisik-bisik? Ada apa?"


Joya : "Tolong datang saja. Saya terkunci di..."


Joya menghentikan kata-katanya saat Boy menggeliat bangun. Ia langsung menunduk dan balik badan. Boy bangkit dari ranjang dan berjalan ke pintu keluar. Ia menekan beberapa nomor dan pintu terbuka.


Boy membuka lebar pintu itu dan kembali ke atas ranjang. Ia mengambil ponselnya, mengacuhkan Joya seolah Joya tidak ada disana.


Joya yang melihat pintu terbuka, sejenak melirik Boy dan berjalan cepat keluar dari sana. Ia menyambar tas ranselnya yang diberikan Ny. Putri minggu lalu, berjalan cepat keluar dari ruang kerja Boy, menutup pintu dan segera masuk ke dalam lift yang terbuka.


Asisten Boy yang masih terhubung dengan telpon, mencoba memanggil Joya,


Asisten Boy : "Joya? Kamu masih disana? Halo?"


Joya : "Ha... halo, kak. Saya sudah bisa keluar."


Asisten Boy : "Memangnya kamu kejebak dimana?"


Joya : "Itu... ruangan yang ada ranjangnya."


Asisten Boy : "Kok bisa masuk kesana? Tuan Boy kan lagi nginep disana. Malam tadi dia lembur sampai pagi."


Joya : "Saya lihat ruangannya berantakan, kebiasaan saya merapikan kamar tuan Boy jadi terbawa kesini, kak."


Asisten Boy : "Tapi kok bisa keluar? Kamu diapain sama tuan Boy?"


Joya : "Gak diapa-apain, tuan Boy bangun dan langsung membuka pintunya."


Asisten Boy : "Oh, kirain kamu yang dibuka..."


Joya : "Apa...??!!"

__ADS_1


Asisten Boy : "Eh, ngaco aja. Ya sudah, aku harus pergi. Bye, Joya."


Joya menutup pembicaraan dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. Jantungnya sudah tidak berdegup kencang lagi.


Tapi wajahnya memerah mengingat otot tubuh Boy yang terlihat kuat. Andai bisa memeluknya, pasti senang sekali.


Joya menepuk kedua pipinya agar sadar akan khayalan mesumnya. Astaga, Joya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Ia harus fokus menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Ny. Besar sudah berpesan agar Joya pulang tepat waktu. Mereka akan merayakan ulang tahun salah satu cucu Ny.Besar.


Lift terbuka di lantai tempat Joya bekerja. Niken langsung memberi tugas pada Joya untuk menyiapkan meeting siang itu.


Seperti biasa, Joya melakukannya dengan sangat baik. Joya membawa berkas-berkas yang diperlukan ke ruang meeting di lantai atas.


Lagi-lagi ia berpapasan dengan Boy dan asistennya yang baru keluar dari ruang kerja. Joya menunduk sambil merapatkan tubuhnya ke dinding dekat sana.


Asisten Boy : "Hai, Joya. Nanti sore aku tunggu di bawah ya. Ny.Besar memintaku mengantarmu pulang. Hari ini ada acara kan?"


Joya : "Tapi, tuan Boy bagaimana?" Joya berbisik takut kedengaran Boy.


Asisten Boy : "Tuan Boy katanya mau pulang duluan naik mobil lain. Aku tunggu nanti ya."


Joya : "Iya, kak."


Joya melirik Boy yang berdiri di depan lift, dengan pose seperti biasa. Berdiri tegak dengan tangan memegang ponsel. Entah kenapa Joya membayangkan Boy cuma pake boxer saja.


Joya balik badan, malu sendiri dengan pikirannya. Ia berjalan cepat masuk ke ruang meeting yang hampir penuh dengan peserta meeting.


Niken meminta Joya mengantarkan dokumen ke perusahaan client yang letaknya tak jauh dari kantor. Ia segera berangkat agar bisa secepatnya balik ke kantor lagi.


Asisten Boy : "Joya mau kemana?"


Joya : "Aku mau ke client A, kak. Ngantar dokumen ini."


Asisten Boy : "Oh, kamu yang disuruh bawain dokumen. Ayo, kita pergi."


Joya : "Kakak mau kesana juga?"


Asisten Boy : "Tuan Boy lagi meeting disana dan perlu dokumen ini."


Joya : "Kakak aja yang bawa kalo gitu."


Asisten Boy : "Yah, aku sibuk nich. Mau langsung ke pom bensin. Kamu tolongin aku dong."


Joya : "Cuma ngasih dokumen aja kan kak?"


Asisten Boy : "Kalau mau nungguin juga boleh. Sekalian temenin tuan Boy meeting."


Joya nyengir dan menggeleng. Mereka masuk ke dalam mobil dan bergerak menuju perusahaan client.


Setelah sampai disana, Joya turun sendiri. Ia mengatakan pada resepsionis untuk bertemu dengan tuan Boy. Resepsionis menunjukkan ruang meeting di lantai 3 gedung itu.


Joya masuk ke lift yang langsung mengantarnya ke lantai 3 gedung itu. Ia mencari ruang meeting yang terletak di ujung ruangan besar.


Tok, tok, tok... Seseorang membuka pintu untuk Joya dan menanyakan keperluannya.

__ADS_1


Joya : "Saya Joya, saya mengantarkan dokumen untuk tuan Boy. Minta tolong disampaikan dan katakan saya menunggu disini kalau ada yang diperlukan tuan Boy lagi."


Orang itu menerima dokumen dari tangan Joya dan membawanya masuk. Joya menunggu agak lama, orang itu keluar lagi. Dan mengatakan kalau direktur Boy tidak memerlukan apa-apa lagi. Joya bisa kembali ke kantor.


Joya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ia segera pergi dari sana dan memesan ojol untuk kembali ke kantor.


------


Pulang dari kerja, asisten Boy (kita panggil aja Rian ya) sudah menunggu Joya di lobby. Joya segera masuk ke dalam mobil, ia tidak ingin dilihat karyawan lain pulang naik mobil Boy.


Rian : "Joya, besok kau masak bekal apa?"


Joya : "Hmm... apa ya? Mungkin perkedel jagung dan sayur bayam. Kenapa, kak?"


Rian : "Aku boleh minta tolong?"


Joya : "Minta tolong apa, kak?


Rian : "Beberapa hari ini tuan Boy ingin makan spageti. Aku sudah memesan spageti dari restauran terkenal, tapi ia tidak mau makan. Kamu bisa masak spageti gak?"


Joya diam sejenak, ia ingin bilang bisa tapi takut Boy tidak mau makan masakannya. Tapi kalau dia bilang tidak, Joya kasian pada Boy.


Rian : "Joya? Kok nglamun?"


Joya : "Eh, iya kak. Bisa kok."


Rian : "Bagus sekali. Besok tolong bawakan ya. Sekalian untuk sarapan juga."


Joya : "Iya, kak."


Mereka segera tiba di rumah Ny.Besar, Joya turun dari mobil Boy. Berjalan cepat memasuki rumah, menuju dapur.


Setelah memastikan Joya tidak melihatnya, Boy keluar dari pintu belakang mobil. Ia berjalan masuk dan duduk di ruang keluarga. Boy sudah mengganti pakaiannya dengan baju santai, siapapun yang melihatnya pasti mengira Boy sudah lama berada disana.


Joya keluar dari dapur, ia ingin ganti baju sekalian mandi karena acara pesta sebentar lagi dimulai. Ia tidak menyadari kalau setiap langkahnya diikuti pandangan mata Boy.


Setelah mandi dan ganti baju dengan pakaian sederhana yang nyaman, Joya bergabung dengan ART lainnya untuk membantu jalannya pesta.


Boy bergabung dalam pesta dan duduk di bangku dekat Ny.Besar juga duduk. Ia lebih banyak melihat ponselnya daripada menikmati pesta. Ia tidak ingin dipergoki Joya sedang menatapnya, padahal Boy ingin sekali menarik Joya masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


Sesekali Joya melirik Boy yang terlihat tampan dengan pakaian kasual. Ia bahkan tidak berani berada terlalu dekat dengannya. Malam itu, Joya juga menghindari Ny.Besar.


Perasaan keduanya saling terpaut satu sama lain, pikiran mereka saling memikirkan satu sama lain tapi raga mereka terpisah jauh dalam lingkungan yang sama.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak...


-------

__ADS_1


__ADS_2