Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Mencari perhatian


__ADS_3

Ada kejadian menarik setelah Aliya dan Aldo pergi dari pesta pernikahan Andra. Deril yang melihat mereka menyelinap pergi, cuma bisa tersenyum miris. Ia mulai bosan di pesta itu tanpa seorang pun yang menemaninya. Mila meninggalkannya ketika sesi foto dan belum juga kembali.


Deril melihat Boy turun dari pelaminan, dan berniat berpamitan, tapi belum sampai di depan Boy, Mila muncul entah darimana mengagetkan Deril,


Mila : “Deril, kamu mau kemana?”


Deril : “Aku mau pamitan, udah sore juga. Kamu darimana?”


Mila : “Biasa, gosip sama sepupuku. Aku nebeng pulang ya. Kapan kamu balik ke LN?”


Deril : “Besok malam, ayo pamitan sama om Boy.”


Mila dan Deril menghampiri Boy dan berpamitan, mereka keluar dari tempat pesta dan masuk ke mobil yang dibawa Deril.


Deril : “Aku antar ke rumah Aliya, atau ke rumahmu?”


Mila : “Langsung ke apartmentku ya, deket kok.”


Deril mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Mila yang duduk dengan tenang di sampingnya.


Mila ini usianya hanya selisih setahun dari Deril dan sudah lebih dulu tinggal di LN daripada Aliya. Mila memang tidak secantik Aliya, tapi keceriaannya menarik perhatian Deril. Saat ini Deril sedang galau dan perlu yang manis-manis.


Tak lama berkendara, mereka sampai di apartment Mila. Deril memarkir mobil di tempat parkir bawah tanah.


Mila : “Ayo mampir dulu, aku buatin kopi. Kamu ada acara lain?”


Deril : “Ok.”


Mereka berdua keluar dari mobil, tiba-tiba seseorang menabrak Mila, menyudutkannya ke mobil Deril.


Mila : “Adduch..!! Mike??!!”


Mike : “Kau kemana saja, Mil. Aku merindukanmu.”


Mila : “Lepaskan aku, brengsek! Kita sudah putus! Ach, sakit!”


Deril yang melihat kejadian itu, refleks mendorong Mike dan menarik Mila ke dalam pelukannya.


Mike : “Siapa kau! Jangan ikut campur!”


Bugh!


Mike melayangkan pukulan pada Deril mengenai punggungnya karena Deril melindungi Mila.


Duaakk!


Sekali tendang, Mike tersungkur ke lantai parkiran dan tidak bisa bangun lagi. Security yang melihat kejadian itu, segera membawa Mike pergi. Sementara Mila nyaris pingsan karena ketakutan, Deril membawa Mila masuk


ke dalam lift.


Deril : “Mila… Mila..! Apartmentmu lantai berapa?”


Gemetar tangan Mila menekan lantai 14, ia susah payah mengeluarkan kartu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Deril. Keluar dari lift, Deril terpaksa membopong Mila yang lemas.

__ADS_1


Deril : “Mila, nomor berapa kamarmu?”


Mila : “425”


Deril berjalan menyusuri lorong apartment dan menemukan kamar Mila, ia menurunkan Mila sebentar dan membukakan pintu apartment.


Di dalam, Deril mendudukkan Mila di atas sofa. Ia melihat diatas meja makan ada air minum dan mengambilkannya untuk Mila.


Deril : “Minumlah dulu, Mil.”


Mila meminum air sedikit demi sedikit sampai nafasnya sudah tidak memburu lagi. Deril melihat pakaian yang Mila pakai robek dibagian lengan dan bahunya. Ada lebam di lengan dan sedikit cakaran di bahunya.


Deril : “Mil, ganti baju dulu sana. Bajumu robek. Kamu bisa berdiri?”


Mila berdiri dengan susah payah, kakinya masih gemetar, baru dua langkah, tubuh Mila hampir jatuh lagi. Deril membopong Mila ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan Mila ke ranjang, dengan cepat membuka lemari pakaian Mila dan menemukan piyama kaos disana.


Deril : “Mil, aku gak maksud kurang ajar. Boleh aku bantu ganti bajumu? Aku janji gak akan terjadi apa-apa.”


Mila hanya mengangguk lemah, ia hanya ingin tidur saja sekarang. Deril duduk di belakang Mila, ia mulai membuka kancing kebaya yang di pakai Mila dan melepaskannya dengan hati-hati. Mila masih memakai angkin kebayanya sekarang.


Deril : “Kau punya kotak obat? Di bahumu ada luka.”


Mila hanya menunjuk laci di samping tempat tidurnya. Deril mengambil obat dari dalam laci dan mengoleskannya ke bahu Mila. Tubuh Mila gemetar menahan perih dan dingin dari AC kamarnya. Deril menarik selimut diujung ranjang dan menutupi tubuh Mila.


Deril kembali duduk di belakang Mila, kali ini ia menurunkan retsleting angkin Mila hingga terlepas.


Deril menelan salivanya menatap punggung Mila yang putih mulus. Ia mengambil kaos di dekatnya dan mulai memakaikannya pada Mila yang kesakitan ketika mengangkat tangannya yang lebam.


Deril : “Kamu baring dulu ya.”


Mila : “Ja… jangan pergi… A.. aku takut…”


Deril : “Aku akan disini sampai kamu bangun. Tapi aku duduk di sofa ya. Tidurlah.”


Deril menghempaskan tubuhnya di sofa kamar Mila, ia meringis saat punggungnya membentur sofa. Ia ingat tadi Mike sempat memukul punggungnya. Merasa tidak nyaman, Deril membuka kemeja formal yang dipakainya.


Perut eightpack Deril terlihat jelas oleh Mila yang belum juga tertidur, jantungnya berdebar kencang ketika Deril mendekati ranjang tempatnya berbaring.


Tapi alih-alih mendekatinya, Deril membuka laci mencari obat nyeri. Ia mendapatkannya dan berjalan ke depan cermin di depan lemari


baju.


Deril mengoleskan obat ke punggungnya yang terlihat lebam kebiruan. Sesekali wajahnya meringis menahan nyeri, Mila yang tidak tega, bangun dari tidurnya,


Mila : “Ril, aku bantu ya. Maaf, gara-gara aku kamu jadi luka.”


Deril : “Eh, Mil. Istirahat aja dulu. Pukulan dia lumayan keras ya, sudah lama aku gak berlatih jadi agak sakit.”


Mila ngambil obat dari tangan Deril dan mulai mengoleskannya ke punggung Deril. Deril berdiri diam menatap pantulan tubuh Mila dari cermin di depannya. Rambut panjang Mila tergerai menutupi depan tubuhnya yang hanya tertutup kaos, sedangkan pahanya terpampang jelas, putih mulus tanpa bulu.


Deril menarik nafasnya, bagaimanapun ia pria normal yang bisa terangsang melihat wanita cantik setengah telanjang. Apalagi mendapat sentuhan Mila di punggungnya.


Deril membalik tubuhnya menghadap Mila. Mereka bertatapan sejenak, sebelum Deril mulai menunduk menatap mata Mila lebih dekat.

__ADS_1


Deril : “Kamu uda baikan? Mau cerita?”


Mila : “Kita duduk ya, kamu juga harus istirahat kan.”


Mila mengatur bantal diatas ranjangnya, membiarkan Deril bersandar disana, sementara ia duduk di depan Deril, menutupi tubuhnya dengan selimut.


Mila : “Laki-laki tadi namanya Mike, mantanku saat SMA dulu…”


Deril : “Kalau menyakitkan, gak usah cerita…”


Mila : “Gak pa-pa, aku harus berani. Aku kira awalnya kami hanya pacaran biasa, sampai aku mulai mendengar gosip tentang Mike. Dia itu laki-laki brengsek yang suka mengejar gadis untuk mendapatkan keperawanan mereka.”


Deril :”…”


Mila : “Aku bahkan tidak mau mendengar gosip itu, karena Mike memperlakukanku sangat baik. Tidak terlihat seperti apa kata orang. Sampai suatu siang di sekolah, Mike mencoba merayuku saat kami sedang berdua saja di perpustakaan. Aku benar-benar jijik dengan kelakuannya saat itu.”


Deril : “Kau baik-baik saja?” Deril melihat Mila mengepalkan tangannya, marah.


Mila : “Mike hampir melakukannya, untung saja waktu itu beberapa kakak kelas kami sedang lewat dan mendengar teriakanku. Mereka menyeret Mike ke ruang kepala sekolah, dan membawaku untuk diperiksa di UKS. CCTV di lorong dan perpustakaan memperlihatkan dengan jelas bagaimana Mike ingin melecehkan aku.”


Deril : “Tarik nafasmu, La. Menangis saja kalau terasa berat.”


Mila : “Sejak itu aku tidak mau sekolah disana lagi, dan Mike juga dikeluarkan dari sekolah. Mike sempat mengejarku, menerorku lewat telpon dan chat. Ia bukan tipe orang yang mudah menyerah karena aku belum ia


dapatkan. Sampai saat tadi juga… Dasar gila!”


Deril melihat tubuh Mila gemetar bukan karena takut tapi karena marah. Ia menggenggam tangan Mila, menenangkannya,


Deril : “Karena itu kamu tinggal di LN?”


Mila : “Iya, Mike tidak bisa menyentuhku disana. Ada larangan jarak untuknya dan juga om Roy yang menjagaku.”


Deril : “Kalau aku yang jagain kamu, boleh?” Deril melempar umpan pada Mila.


Mila : “Bercanda aja kamu, istirahat dulu, Ril. Besok pesawatmu jam berapa?”


Deril : “Jam 9 malem, kamu kapan balik?”


Mila : “Tunggu, aku lihat tiketku dulu.” Mila bangun dari duduknya, berjalan ke sofa untuk mengambil HP-nya di dalam tas tangan.


Mila : “Pesawatku juga jam 9 malam. Mungkin kita satu pesawat.”


Deril mengambil HP-nya dan mereka kebetulan ada di pesawat yang sama. Deril tersenyum, entah takdir Tuhan kali ini akan mengarahkan hidupnya kemana. Tapi ia merasakan ada seseorang yang bisa ia kejar sekarang.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2