Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Alvin Prawira


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu, tak terasa Alvin sudah tumbuh dewasa, saat ini dia sudah kuliah semester 6 di salah satu universitas swasta di kotanya dan sedang PKL di kantor papanya. Ketampanan Alvin sangat mirip dengan papanya, bahkan sifat dan karakternya, hanya saja Alvin lebih mudah bergaul dengan orang lain dan sangat berbakat dalam bisnis. Sejak sekolah menengah, Alvin sudah mengelola beberapa gerai makanan sebagai sampingan, sampai saat ini Alvin sudah memiliki 16 cabang di kota yang berbeda di Indonesia. Ia tidak lagi meminta uang pada papanya


untuk biaya kuliah maupun kebutuhannya sehari-hari.


Malam itu, jurusan Alvin mengadakan pesta dansa untuk pelepasan wisuda senior Alvin. Acara itu selalu diadakan setiap tahun untuk menjalin keakraban antara senior dan junior dalam satu jurusan. Dress code yang digunakan juga selalu sederhana, sesuai dengan warna pelangi, agar mudah diikuti semua mahasiswa. Alvin sudah tiba sejak acara baru dimulai, ia hanya duduk di salah satu meja yang sudah disiapkan untuk mereka, sesekali Alvin melirik jam tangannya, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.


Tak lama, Alvin berjalan diantara beberapa pasangan yang sedang berdansa, ia langsung menuju panggung dan mengambil gitar. Dalam sekejap suasana hening, semua orang berkumpul mendekati panggung. Alvin memainkan lagu romantis tepat saat Lia masuk ke ruangan pesta. Seperti biasanya, Lia selalu tampak anggun dan cantik. Lia tersenyum pada Alvin yang juga tersenyum menatapnya. Siapakah Lia?


Alvin dan Lia pertama kali bertemu saat Alvin baru merintis gerai makanan miliknya, mereka teman satu sekolah menengah. Lia yang memang cantik, sangat pintar dalam hal marketing, ia membantu Alvin membuat iklan dan promosi untuk gerai makanannya. Lama kelamaan mereka jadi sahabat baik yang sangat akrab, kemana-mana selalu berdua. Tidak ada Alvin tanpa Lia dan tidak ada Lia tanpa Alvin. Gosip pacaran tentu saja sangat sering mereka dengar, tapi Alvin hanya tersenyum menanggapinya. Dia bukannya tidak jatuh cinta pada Lia, tapi Lia hanya menganggapnya sebagai sahabat. Alvin teringat kata-kata Lia ketika mereka sedang dinner romantis di


salah satu restauran, Alvin sudah berencana menembak Lia agar bisa merubah kata sahabat diantara mereka menjadi pacar.


Lia : “Vin, selamanya kita akan jadi sahabat baik ya. Kita akan selalu saling mendukung, meskipun nantinya kita sudah punya pasangan. Janji ya.”


Alvin : “Apa menurutmu kita bisa seperti itu terus?”


Lia : “Tentu saja, aku percaya persahabatan kita akan berlangsung selamanya, sampai kakek nenek?”


---------


Alvin tetap tersenyum sambil tetap memainkan gitar di tangannya, saat seseorang mendekati Lia, mencium pipinya, Meskipun dalam hatinya ia mencintai Lia, tapi Alvin tidak bisa memilikinya karena Lia akan menikah dengan tunangannya, Dipta. Dipta juga salah satu mahasiswa tampan dan kaya di kampus mereka. Lia memperkenalkan tunangannya saat ulang tahunnya yang ke 18, mereka akan menikah setelah lulus


kuliah S2 nanti.


Di sisi lain panggung, tampak seorang gadis bergaun biru muda yang sedang menatap Alvin dengan intens. Matanya yang hitam tampak berbinar indak ketika melihat senyuman Alvin untuk Lia. Rara, nama mahasiswi itu, saat ini sudah semester 4. Ia sudah jatuh cinta pada Alvin sejak pandangan pertama ketika ospek dulu, dan dengan


sangat nekat menyatakan cintanya pada Alvin yang langsung ditolak mentah-mentah dengan cara mengabaikan Rara. Alvin masih belum bisa melupakan cintanya untuk Lia.

__ADS_1


Rara tidak pernah menyerah, ia berusaha sangat keras untuk menarik perhatian Alvin, membuat Alvin tertarik padanya, tapi tidak juga berhasil. Sampai Alvin membentaknya di awal tahun kedua kuliah, Rara merasakan kebencian yang sangat besar untuknya saat itu dari sorot mata Alvin yang gelap. Sejak kejadian itu Rara hanya menatap Alvin setiap mereka bertemu, tersenyum dan pergi dari hadapan Alvin tanpa bicara apa-apa.


Sama seperti saat ini, ketika Alvin mengalihkan pandangannya dari Lia dan menatap Rara. Rara tersenyum, menunduk sebentar dan berjalan pergi dari sisi panggung. Alvin masih mengikuti kemana Rara pergi sambil tetap bermain gitar. Rara tampak mendekati meja minuman, ia mengambil segelas minuman di atas meja yang disediakan. Matanya melihat tumpukan kue yang tampak enak, tapi ia hanya mengambil tissu dan mengusap sudut matanya yang berair.


Perlahan ia melangkah ke balkon ruang pesta yang masih sepi, padahal langit malam itu sangat indah. Rara mengangkat gelasnya bersulang dan bicara pada bintang-bintang,


Rara : “Untuk Alvin yang selalu membuatku merasa bahagia.”


Rara tidak jadi minum, ia mengambil tissu lagi untuk mengusap air matanya yang hampir meleleh ke pipinya. Hatinya berdebar sangat kencang, debaran yang sama setiap mengingat Alvin. Rara tersenyum menyadari cintanya tidak akan berbalas.


Alvin : “Kau baik-baik saja?”


Rara menoleh menatap Alvin yang sudah berdiri di sampingnya.


Rara : “Kak Alvin? Baik kak, ini ada debu masuk ke mataku.” Rara tersenyum sambil mengusap matanya lagi. Ia sedikit takut berdiri di samping Alvin, takut dibentak lagi.


Rara : “Gimana pestanya? Seru kan?” Rara mencoba membuka pembicaraan.


Rara : “Langitnya cerah sekali, kakak lihat banyak bintang.”


Alvin meletakkan minumannya di balkon, terdengar alunan musik kesukaan Alvin. Ia melirik Rara yang masih


menikmati pemandangan langit malam.


Alvin : “Mau dansa?” Rara menoleh, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Alvin : “Ini hanya dansa. Mau apa tidak?” Rara tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdansa sambil sesekali ngobrol, Rara merasa sangat bahagia, setelah hampir setahun berlalu, Alvin mau bicara dengannya lagi. Melihat Rara yang terus tersenyum, membuat Alvin merasa tindakannya sudah tepat. Ia ingin memberi sedikit kebahagiaan ada Rara setelah perlakukan kasarnya dulu.


Tiba-tiba bintang jatuh tampak di hadapan mereka


Rara : “Ada bintang jatuh, kakak ayo buat permohonan.” Rara memejamkan matanya dan menyebutkan satu


permohonan dalam hati. Alvin hanya menatap Rara saja sampai ia membuka matanya lagi.


Alvin : “Apa yang kau minta?”


Rara : “Itu rahasia kak, nanti tidak terkabul.” Alvin tertawa, bahkan seumur ini Rara masih percaya dengan takhayul seperti itu.


Rara : “Eh, sudah jam 10, aku pulang dulu ya kak. Sampai jumpa dan terima kasih untuk malam ini.”


Alvin : “Jangan pikir akan ada kedua kalinya.”


Rara : “Aku tahu kak. Bye.”


Alvin menatap kepergian Rara, ia menatap bintang lagi sambil membayangkan wajah Lia.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak

__ADS_1


kalah seru.


-------


__ADS_2