
Aliya sedang duduk di sofa ruang keluarga Alvin, ia sedang menemani Arya bermain.
Celoteh Arya mulai terdengar lebih banyak untuk anak seusia Arya. Ia suka sekali bermain puzzle dan balok susun.
Aliya : "Arya, minum susumu. Ayo."
Arya mengambil susu yang disodorkan Aliya dan mulai meminumnya. Sedikit susu tumpah dari gelas yang dipegang Arya dan membasahi pipinya.
Aliya mengambil tisu dan membersihkan bekas tumpahan itu. Kening Aliya sedikit mengernyit ketika pinggangnya terasa sakit.
Aliya menegakkan kembali tubuhnya, dan mengelus perutnya yang sudah membesar.
Sejak hasil test menunjukkan kehamilan Aliya, seluruh keluarga menyambut dengan gembira. Boy dan Joya minta agar Aliya melahirkan di Indonesia agar lebih nyaman.
Sudah dua bulan Aliya dan Aldo tinggal bersama Boy dan Joya, otomatis semua pekerjaan mereka ikut pindah juga. Lebih banyakan online sich.
Rutinitas Aliya kalau sedang tidak bekerja adalah mengunjungi keponakannya Arya. Aldo akan mengantar Aliya ke rumah Alvin dan kembali ke rumah Boy untuk bekerja.
Usia kandungan Aliya sekarang sudah masuk 9 bulan. Berat badannya tidak terlalu meningkat drastis karena Aliya ngidam parah sejak kehamilannya.
Ia kesulitan makan tanpa muntah hingga selama 3 bulan pertama harus bedrest. Aldo selalu setia mendampinginya.
Aliya kembali mengusap punggungnya, Arya melihat tantenya yang meringis kesakitan dan mendekatinya.
Arya : "Tante, akit...?"
Aliya tidak bisa menjawab Arya, rasa sakit semakin menjalar ke tubuhnya. Aliya meraih ponselnya di atas meja, ia menekan nomor telpon Aldo dan menaruhnya di dekat Arya.
Aldo yang menerima panggilan telpon dari Aliya, segera berlari keluar rumah sambil mengangkat telponnya. Joya memanggilnya, tapi Aldo hanya menunjuk rumah Alvin.
Saat Aldo sampai di rumah Alvin, Aliya sedang meringkuk di sofa. Arya menepuk kening Aliya yang berkeringat dingin.
Aldo : "Sayang, kamu kenapa?!!"
Rara yang mendengar suara Aldo, segera menghampiri ke depan. Ia sedang memasak makan siang tadi, jadi sibuk di dapur.
Rara : "Aliya kenapa?"
Aliya : "Sakit..."
Rara : "Aldo, cepat bawa Aliya ke rumah sakit. Mungkin dia akan melahirkan."
Aldo mengangguk, ia berlari keluar rumah dan mendapati Joya sudah siap di depan gerbang bersama mobil dan sopir.
Aldo balik lagi ke dalam dan menggendong Aliya dengan hati-hati. Rara mengambil tasnya dan menggendong Arya lalu menyusul mereka ke depan tak lupa memberitahu bibik.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Aliya terus merintih memegangi perutnya. Aldo menelpon dokter kandungan Aliya agar siaga di rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Aldo menggendong Aliya ke dalam dan disambut suster dan dokter. Aliya dibawa ke ruangan bersalin dan segera diperiksa.
Aldo berjalan mondar mandir di depan ruang bersalin. Ia menunggu kabar dari dokter dengan cemas.
Joya, Rara dan Arya setia menanti di ruang tunggu. Tak lama Boy dan Alvin juga datang. Alvin langsung membooking kamar inap untuk Aliya.
__ADS_1
Tak lama dokter keluar dan memanggil Aldo, kondisi Aliya tidak baik, ia mengalami kontraksi tapi tidak ada bukaan. Aldo hampir jatuh mendengar kata-kata dokter.
Boy menahan tubuh Aldo dan meminta solusi dari dokter. Satu-satunya cara adalah operasi cesar. Tapi kemungkinannya juga tipis.
Boy : "Kuatkan dirimu, Al. Kita harus yakin Aliya dan bayinya akan baik-baik saja."
Suara Boy bergetar, bagaimana seorang ayah tidak khawatir mendengar kondisi putri dan calon cucunya dalam bahaya.
Tapi bukan saatnya ia jadi lemah sekarang, menantunya sedang membutuhkan dukungannya saat ini.
Aldo : "Boleh aku masuk? Aku ingin temani Aliya."
Dokter menyodorkan beberapa formulir untuk di tanda tangani Aldo dan memintanya berganti pakaian steril.
Aliya dibawa ke ruang operasi, ia setengah sadar karena menahan sakit. Aldo berdiri di sudut ruangan, ia melihat bagaimana dokter membius Aliya dan kain hijau mulai menutup sebagian tubuh Aliya yang telanjang.
Dokter meminta Aldo duduk di samping Aliya, mengajaknya bicara sesekali agar Aliya tetap sadar.
Aliya : "Sakit..."
Aldo : "Tidak lama lagi semua akan baik-baik saja, Al."
Aldo menggenggam tangan Aliya yang bebas dari selang infus. Ia ingin menangis melihat keadaan Aliya saat itu, tapi ditahannya air matanya.
Aldo : "Sayang, ingat kan waktu pertama kita ketemu?"
Aliya : "Iya... kau sangat menyebalkan saat itu."
Aliya : "Kenapa kau selalu gombal?"
Tit, tit, tit... Suara peringatan muncul dari monitor membuat dokter menghentikan obrolan mereka.
Dokter : "Tolong jaga emosi pasien, pak. Cukup perhatikan saja dan jangan sampai pasien tertidur."
Aldo : "Al, kau dengar kan. Kamu gak boleh tidur."
Aliya : "Iya, aku tahu. Bawel."
Tak lama kemudian, terdengar suara mesin sedang menyedot sesuatu dan oeekkk...! ooeeekkk...!
Aldo meneteskan air mata mendengar suara tangisan bayi. Ia menoleh melihat bayinya dibawah ke sudut ruangan untuk dibersihkan.
Saat itu genggaman tangan Aliya melemah dan terlepas dari pegangan Aldo. Aliya tersenyum mendengar tangisan bayinya. Ia merasa sangat mengantuk dan ingin tidur.
Aldo : "Aliya...!!! Bangun...!!! Aliya...!!!!"
Teriakan Aldo terdengar sampai ke depan ruang operasi, Boy memejamkan matanya mendengar suara Aldo.
Joya duduk gemetar mendengar teriakan Aldo, Alvin langsung memeluk mamanya. Rara dan Arya sudah pulang sejak tadi untuk mengambil perlengkapan Aliya.
Seorang suster keluar dari ruang operasi, Boy mencegat suster itu dan menanyakan keadaan Aliya.
Suster : "Pasien membutuhkan transfusi darah. Saya akan mengambilnya dulu."
__ADS_1
Boy : "Saya saja, sus. Golongan darah kami sama."
Suster membawa Boy masuk ke ruang operasi dan mempersiapkan transfusi darah untuk Aliya. Boy berbaring di samping putrinya, ia menoleh melihat wajah putrinya yang pucat.
Aldo masih duduk di samping Aliya, memanggil namanya tanpa henti. Boy melihat wajah Aldo yang dipenuhi air mata.
Sementara cucunya digendong suster yang menunggu disana, bayi itu terus menggeliat mencari sesuatu.
Dokter Aliya yang sudah selesai melakukan pekerjaannya, meminta suster mendekatkan bayi Aliya padanya.
Dokter : "Letakkan bayinya dekat dada ibunya. Biarkan bayi itu menyusu pada ibunya."
Suster membantu meletakkan bayi merah itu ke dada Aliya dan langsung melahap puncak dada Aliya dengan lahap.
Tangisan Aldo semakin kuat melihat anaknya untuk pertama kalinya. Bayi itu belum puas dan suster memindahkannya ke dada satunya.
Saat itu keajaiban muncul, tangan Aliya menghangat dan mulai bergerak. Ia menggerakkan matanya mencoba membukanya tapi tidak bisa.
Aldo : "Aliya... sayang... kau mendengarku?
Dokter melihat ke layar monitor dan memeriksa kondisi Aliya. Ia menghela nafas panjang dan menepuk pundak Boy.
Dokter : "Sudah stabil. Aliya akan baik-baik saja."
Aldo mengusap air matanya dan tersenyum memandang Boy yang juga tersenyum.
Aldo : "Sayang, bayimu sedang menyusu. Dia kuat sekali minum."
Aliya hanya menekan tangan Aldo sebagai balasannya. Aldo mendekatkan jemari Aliya agar bisa menyentuh kepala bayinya.
Bayi itu sudah pulas tertidur, suster memindahkan bayi itu lebih ke atas agar detak jantung Aliya bisa terdengar oleh bayinya.
Boy yang sudah selesai melakukan transfusi darah, mendekati Aldo dan menepuk pundaknya.
Boy : "Selamat jadi ayah, Al."
Aldo : "Selamat nambah cucu, pa. Makasih pa."
Boy tersenyum, ia mencium kening Aliya dan keluar ruang operasi. Hatinya lebih lega karena keluarga kecilnya kini sudah lengkap dan bahagia.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Please vote poin buat karya author ya...
Makasi banyak...
-------
__ADS_1