
Eps. 21 – Gini
amat yak
Boy mengangguk,
melihat pintu kamarnya yang sudah tertutup . Joya tidak terbangun bahkan sampai
makan malam berakhir. Ia juga belum mandi, Boy ingin membangunkan Joya tapi
takut Joya terganggu waktu istirahatnya.
Akhirnya Boy
mengelap seluruh tubuh Joya yang bahkan tidak terbangun sama sekali. “Sayang,
kamu pasrah banget sich. Coba kamu gak lagi hamil, udah habis sama aku.”
Boy tidak
memakaikan apapun pada Joya setelah selesai mengelap tubuhnya. Ia mengatur suhu
kamarnya agar tidak terlalu dingin. Boy berbaring di samping Joya, mengelus-elus
kepalanya.
Tengah malam,
Boy yang sedang tidur di samping Joya, merasa hidungnya gatal, ia terbangun
mendapati Joya tersenyum memandangnya.
“Mas, aku mau
Mcd.”
“Kalau aku
tidak membelinya, kau akan menangis sekarang kan?”tanya Boy sambil memijat atas
hidungnya. Matanya terasa sepet, tapi ia harus bangun sekarang.
Joya mengangguk
dengan semangat, “Aku ikut.”
“Iya, tapi
pakai baju dulu ya.”
“Mas, mana
bajuku? Kenapa aku gak pake baju gini? Mas habis ngapain tadi?”selidik Joya
sambil memicingkan matanya.
“Sayang, kamu
belum mandi udah tidur aja. Gak gerah apa? Aku cuma bantu ngelapin badan kamu
aja.”
Joya beranjak
mengambil pakaiannya di lemari dan memakainya dengan cepat. Boy tidak bisa
melarang Joya ikut padahal sudha tengah malam, mereka berdua akhirnya pergi.
Boy lebih bingung lagi saat melihat Joya membawa bed cover dan bantal mereka
berdua. Ia hanya membantu Joya tidak berani bertanya kenapa.
Akhirnya mereka
sampai juga di restaurant cepat saji yang buka 24 jam itu. Suasana cukup sepi,
ketika Joya menyebutkan semua pesanannya. Ia memesan semua jenis burger, 2 es
krim, dan juga minuman ringan. Tidak lupa kentang goreng dan seporsi dada ayam.
“Gak pake nasi,
yank?”tanya Boy.
“Jangan
ngomongin nasi, mas. Aku mual.”
Boy membayar
pesanan mereka dan menunggu di tempat yang sudah disediakan. Tak sampai 10
menit, beberapa kantong makanan berpindah ke dalam mobil Boy. Wangi burger
memenuhi mobil Boy, ia sampai harus membuka kaca jendelanya sedikit untuk
mengurangi baunya.
“Mas, aku gak
__ADS_1
mau pulang. Kita ke pantai ya.”
“Ke pantai,
yank? Gak aman malem-malem gini ke pantai, sayang. Besok aja ya.”
Joya mulai
menangis dengan pipi cemberut yang menggembung setelah menggigit burger. Boy
jadi ingin mencubit pipi Joya, “Iya, sayang. Sekarang kita ke pantai. Bentar,
mas telpon dulu ya.”
*****
Nando yang
sedang siap-siap memulai ronde kedua dengan Carol, mengkerut melihat ponselnya
berdering.
“Siapa, yank?”tanya
Carol sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Eh, tuan Boy,
ngapain nelpon malem-malem gini. Halo, tuan?”
“Nando, maaf
mengganggu malam-malam gini. Kamu tahu gak pantai yang aman didatangi jam
segini?”
“Tuan mau ke
pantai jam segini? Ngapain, tuan?”
“Ini, Joya lagi
ngidam minta ke pantai. Kamu tau gak?”
“Oh, Ny.
ngidam. Hah?! Ngidam?! Ny. hamil, tuan?!”
Boy mengatakan
kalau dia juga baru tahu tadi dan anaknya tidak membiarkan dirinya tenang
sekarang. “Mas, cepetan ke pantainya. Aku mau tiduran di pasir.”rengek Joya
“Saya tahu
tempat yang aman, pantai pribadi di dekat hotel kakak. Saya kirim lokasinya dan
tuan bisa menelpon saya setelah sampai disana.”
“Makasi ya,
Nando. Nanti aku kirimin bonus.”
“Siap, tuan.”
Boy mengikuti
peta yang dikirim Nando, mereka sampai di depan gerbang sebuah hotel dan
security menghentikan mobil Boy. “Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya
bantu?”
“Tunggu
sebentar ya. Saya telpon dulu.”
Boy menghubungi
Nando yang langsung minta bicara dengan security yang bertugas itu. Dua orang
berbadan besar tampak menghampiri mobil Boy dan mengambil alih semuanya.
“Tuan Boy, kami
diperintahkan tuan Nando untuk melayani tuan dan Ny. Silakan mengikuti mobil di
depan.”
“Terima kasih.”
Mereka dibawa
ke pinggir pantai yang terletak di dekat hotel. Joya bersorak gembira melihat
pasir yang menggunung di depannya. Beberapa kursi santai juga disiapkan disana,
lengkap dengan tenda ala-ala yang didalamnya sudah digelar kasur yang terlihat
__ADS_1
nyaman untuk ditiduri. Beberapa orang tampak berjaga tak jauh dari tempat itu.
“Silakan
menikmati minumannya, tuan. Ada lagi yang perlu kami siapkan?”
“Tidak, terima
kasih.”
“Kalau tuan
membutuhkan kami, di atas meja ada tombol yang bisa di tekan dan kami akan
segera datang.”
Boy benar-benar
senang melihat Joya tidak ngambek lagi. Setelah puas berlarian dan
berguling-guling sebentar di atas pasir, Joya mulai menguap.
“Sayang, kamu
ngantuk? Kita pulang ya?”tanya Boy.
“Kita tidur sini
aja ya, mas. Gak pa-pa, kan?”
Boy celingukan
sebentar, beberapa tenda tampak sudah terpasang di sekitar mereka. Pria yang
tadi bicara dengannya kebetulan melihat ke arah Boy dan Boy melambaikan tangan
memanggilnya.
“Ada yang bisa
saya bantu, tuan?”
“Apa saya bisa
menginap disini? Tidur di tenda?”
“Silakan tuan,
sebentar saya siapkan dulu agar lebih nyaman.”
Beberapa orang
membuka tirai di sudut tenda dan mengikatnya dibawah. Mereka kembali ke tempat
semula dan Boy menuntuk Joya yang hampir tertidur ke dalam tenda itu.
Untuk pertama
kalinya mereka menginap di tempat terbuka seperti itu. Joya menatap langit
malam bertabur bintang. Ia menoleh menatap Boy dan mencium suaminya itu.
“Makasih, mas. Aku
cinta kamu.”
“Aku juga cinta
kamu, Joya. Tidur ya.”
Keduanya mulai
terlelap dibawah selimut tebal sampai pagi menjelang.
Boy terbangun
ketika mendengar teriakan Joya, “Joya!” Ia panik tidak mendapati istrinya di
sampingnya. Boy cepat-cepat keluar dari tenda dan melihat Joya tertawa girang
melihat matahari terbit.
“Mas, lihat
deh. Matahari terbit.”
Boy ikut
tersenyum melihat Joya terlihat sangat gembira. Ternyata begini banget rasanya
punya istri ngidam sampai harus rela tidur di luar biar gak ngambek aja.
*****
Kira-kira Joya
ngidam apalagi ya?
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.