
Cinta itu ... kamu! Tapi aku terlambat menyadarinya ...
ππ
Alva menunggu Safira berkemas. Ia duduk di teras bersama Pak Soleh. Pria sederhana itu menyenangkan diajak ngobrol. Meski pendidikannya tidak tinggi tetapi pengetahuan tentang hidup membuat Alva menyukai setiap ucapan yang keluar dari bibirnya.
"Mas Alva, terkadang hidup memang tidak mulus seperti yang kita inginkan. Tapi bukan berarti kita menyerah, tetap nyalakan keyakinan bahwa akan ada kebahagiaan setelah kekecewaan," tuturnya seolah mengerti kegalauan hati pria itu.
Alva mengangguk tersenyum datar.
"Jadi Pak Soleh kapan ke kota?" tanyanya.
"Mungkin sehari sebelum Mas Tyo dan Safira menikah."
Pak Soleh kembali bercerita tentang cucunya yang baru saja dilahirkan. Mata pria itu berbinar bahagia.
"Percayalah, Mas. Ayah dan ibu Mas Alva akan sangat bahagia jika mereka telah punya cucu!" ungkapnya menatap lurus ke depan, "oh iya, Mas Alva apa sudah memiliki calon juga?"
Mendengar hal itu, ia hanya tersenyum mengusap tengkuk lalu menggeleng.
"Sulit, Pak!"
"Sulit?"
"Sulit cari pasangan yang baik."
Pak Soleh terkekeh mengatakan bahwa jika ingin mendapatkan pasangan yang baik, maka ia pun harus menjadi baik juga.
"Mana mungkin orang baik mau dengan orang yang tidak baik ... sederhananya seperti itu, Mas." Lagi-lagi ia tersenyum datar. Alva menyadari bahwa dirinya memang tidak pantas merindukan Safira. Ia merasa kalah segalanya dibanding sang kakak. Tyo adalah pria dewasa, baik dan selalu bersikap manis pada Safira.
Alva meneguk teh hangat yang disuguhkan Bu Soleh saat gadis yang ditunggunya keluar dari kamar. Dengan rambut diikat kebelakang, baju terusan berwarna biru dan bibir berpoles lipstik pink membuatnya memesona. Alva seolah tersihir melihat pemandangan itu.
"Nah, itu Nak Safira sudah siap, Mas!" Suara Pak Soleh mengejutkannya.
Senyum gadis itu menyapanya ramah.
"Eum ... kita berangkat sekarang?" tanyanya menutupi kegugupan. Entah kenapa, sebelumnya ia begitu percaya diri dan tidak pernah segugup ini di hadapan wanita. Meski berkali-kali bertemu Safira, baru kali ini ia merasakan gugup luar biasa.
"Iya, Mas. Nanti kemalaman di jalan."
Alva mengangguk, lalu mereka berpamitan pada pasangan suami istri yang menjaga rumah itu.
Sepanjang jalan mereka saling diam. Sesekali Alva melirik gadis di sebelahnya kemudian kembali fokus mengemudi.
"Eum ... kita berhenti minum yuk! Kalua kamu nggak keberatan sih," ajak Alva.
"Boleh," sahut Safira.
Pria itu tersenyum lega saat gadis itu setuju. Perlahan ia meminggirkan mobil dan berhenti di depan kios kaki lima yang menawarkan aneka jus segar.
"Kamu suka jus apa?"
"Saya ... jambu aja!"
Duduk berhadapan di depan sambil menunggu pesanan lagi-lagi membuat keduanya membisu. Alva sendiri seolah kehabisan kata, ia hanya memainkan gadget kemudian memasukkan kembali ke kantong bajunya.
"Mas, kenapa gelisah? Sepertinya ada yang ...."
"Nggak apa-apa, cuma ...."
"Cuma apa?"
__ADS_1
Tak lama pelayan datang membawa pesanan.
"Diminum dulu."
Telepon Alva bergetar, bibirnya menyungging senyum.
"Halo, Kak."
"___"
"Beres, aman!"
"___"
"Iya, Kak. Tenang."
"___"
"Bye!"
Alva menutup teleponnya. Ia menatap Safira seraya berkata, "Kakakku sangat menyayangimu!"
Safira tersenyum mengangguk, "saya tahu."
Mendengar jawaban itu Alva tersenyum getir. Segera ia menghabiskan jus di depannya.
"Kita lanjut lagi!" ucapnya beringsut dari duduk lalu meninggalkan Safira begitu saja.
"Mas Al, tunggu! Kuncinya nih!" SafiraΒ mengekori pria itu.
"Makasih!" ucapnya mengambil kunci dari tangan Safira. Gadis itu merasa ada yang tidak beres dari perubahan sikap Alva. Namun, ia menahan diri untuk bertanya.
Pria itu memacu mobil lebih kencang, kali ini ia memutar musik keras membuat Safira tak nyaman.
Alva menoleh sekilas.
"Kamu bisa atur sendiri, aku sibuk mengemudi!" ketusnya.
Safira mengatur volume sehingga suara tak lagi memekakkan telinga.
"Safira."
"Iya, Mas?"
"Gak apa-apa. Perjalanan masih cukup jauh. Kamu bisa tidur sampai kita tiba nanti," tuturnya.
"Saya tidak mengantuk, Mas. Saya ... takut!"
"Takut? Takut kenapa?"
Ia tampak ragu menjawab.
"Kamu takut kenapa?" Alva meraih rokok di dashboard lalu menyalakannya menciptakan kepulan asap. Gadis itu tampak sedikit terbatuk.
"Kamu nggak suka perokok?" Liriknya tajam.
Safira diam. Ia menatap ke luar jendela.
"Oh iya, kamu takut apa?"
"Saya bisa buka kaca jendela?"
__ADS_1
Alva mengangkat alis setuju.
"Mas Alva suka merokok?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku."
Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Dengan suara pelan ia mengatakan bahwa dirinya takut melihat perubahan sikap Alva.
"Kenapa Mas Al seperti marah pada saya?"
Alva menarik bibirnya ke atas kemudian menggeleng.
"Bukankah aku sejak dulu seperti ini? Kenapa takut?"
Hening, ada rasa pilu mendadak menyeruak di hati Safira. Mata beningnya berkaca-kaca. Pria angkuh itu kembali. Ia tak lagi hangat seperti beberapa saat lalu. Ia tak lagi perhatian seperti saat di kebun waktu itu.
Kepulan asap rokok Alva, kembali menyapa indra penciuman Safira. Gadis itu terpaksa menahan napas demi tak terbatuk. Namun, tak urung ia terbatuk juga. Bukan berhenti, seolah ingin mengungkapkan kekecewaannya, ia tak peduli dengan Safira.
"Saya mau turun!"
Ia menoleh terkejut lalu kembali menatap ke depan.
"Ada apa? Mau ke kamar kecil?"
Safira menggeleng.
"Saya mau naik bus saja!"
Alva mendadak mengerem mendengar permintaan itu.
"Mas! Kita bisa celaka!"
"Kamu yang bikin celaka! Kenapa tiba-tiba bicara ngawur?" Klakson dari mobil di belakang membuat Alva meminggirkan mobilnya.
"Kenapa tiba-tiba mau naik bus?"
"Saya nggak tahan! Cukup, Mas! Saya bukan patung yang nggak punya perasaan!" keluhnya.
"Maksud kamu apa?"
"Mas, asap rokok Mas sudah mengganggu saya. Mas tahu itu, tapi kenapa seolah Mas tidak peduli? Lalu kenapa Mas jadi kembali kasar pada saya? Salah saya apa?" cecarnya dengan pipi basah.
Alva menyandarkan kepalanya, Lalu mengusap wajah kasar. Ia sendiri merasa frustrasi dengan keadaan. Sesungguhnya dirinya mencoba untuk tidak bersikap seperti itu.
Akan tetapi, ia tak bisa menyembunyikan betapa hatinya dijajah rasa cemburu membayangkan gadis itu sebentar lagi akan lepas darinya. Meski itu juga terjadi akibat ulah sendiri.
Safira tersedu, sementara senja mulai menampakkan warnanya. Ia meraih tas berniat keluar dari mobil. Tangan kokoh Alva menahannya.
"Jangan keluar! Kamu akan aku antar sampai rumah. Aku janji tidak akan membuatmu menangis setelah ini!"
Safira tertunduk mengusap air mata yang mengalir. Dengan telunjuk Alva mengangkat pelan dagu gadis itu.
"Tatap aku, Safira. Setidaknya untuk hari ini saja ...." tuturnya lembut jauh dari sikapnya tadi. Mata bening gadis itu menatap mata tajam di depannya.
Mereka kini sangat dekat tak berjarak. Ada degub berbeda di hati keduanya. Ada rasa yang sulit diungkap dari netra mereka. Lama mereka saling menatap, seolah satu dari mereka tak ingin mengakhiri.
"Terima kasih, Safira. Maafkan aku!"
Alva menyudahi kontak mata itu, ia cepat menyalakan mobil lalu kembali memacunya menuju kota.
"Setidaknya aku tahu kamu juga memilikinya," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Ada sungging kecil di bibirnya saat melihat rona merah di wajah gadis itu.
***