
Sementara itu
di pagi yang sama, Rian sedang mengumpulkan rekaman CCTV di setiap sudut lobby
kantor Joya. Semalam ia menghubungi manager operasional untuk membantunya
mengambil rekaman CCTV dari sejak Joya turun dari tangga bersama Meta sampai
mobil Boy keluar dari parkiran kantor.
Rekaman itu
sangat menunjukkan kalau Joya tidak melakukan apa yang dituduhkan pada Boy
semalam. Rian menghela nafasnya, sejak pertama kali bertemu Joya, dia sudah
melihat wanita itu sangat mencintai tuannya.
Rian : “Tuan,
saya harap rekaman ini bisa membantu tuan berpikir lebih jernih.”
Ceklek! Pintu kamar
apartment Boy terbuka. Tuannya sudah bangun, terlihat berantakan dengan rambut
acak-acakan dan memegangi kepalanya yang pusing.
Rian : “Tuan,
selamat pagi. Silakan kopinya.”
Rian membantu Boy
duduk di sofa. Keadaan apartmentnya sudah bersih kembali. Hanya TV saja yang
kosong karena tokonya belum buka sepagi itu.
Boy : “Kepalaku
sakit sekali. Apa yang terjadi, Rian?”
Deg! Boy
melotot melihat Rian dan mengguncang tubuh asistennya itu.
Boy : “Mana
Joya?”
Rian : “Tuan,
tolong tenang dulu. Ny. Joya sudah dibawa pulang Ny. Besar semalam. Apa tuan
tidak ingat?”
Boy : “Oh, ya.
Aku...”
Boy bersandar
di sofa, dalam ingatannya sangat jelas terlihat bagaimana ia memperlakukan Joya
semalam. Dalam kemarahannya, Boy menuduh Joya tidak setia.
Boy : “Rian,
aku harus pulang ke rumah ibu sekarang. Aku harus bertemu Joya.”
Rian : “Tuan,
sebaiknya tuan lihat dulu rekaman ini.”
Rian memutar
rekaman CCTV dari berbagai sudut secara bersamaan. Boy sampai gemetar menahan
rasa yang berkecamuk di dadanya.
Boy : “Aku
bersalah, Rian.”
Rian : “Maaf,
tuan. Kali ini memang tuan keterlaluan. Saya juga ceroboh tidak segera
memeriksa rekaman CCTV saat kita sampai di kantor Ny. kemarin.”
Boy : “Bukan
salahmu. Aku harus pulang sekarang.”
Rian : “Tuan
sebaiknya mandi dulu.”
Boy : “Biar saja
seperti ini. Aku harus tahu keadaan Joya sekarang juga.”
Rian menuruti
Boy dan mengantar tuannya itu ke rumah Ny. Besar.
*****
Ny. Besar baru
selesai melihat rekaman CCTV yang dikirim Rian bersama Ny. Lastri dan Ny.
__ADS_1
Putri. Ia bernafas lega karena terbukti Joya memang tidak bersalah.
Ny. Lastri : “Joya
tidak salah, bu.”
Ny. Besar : “Iya,
ini semua hanya salah paham. Apa sudah ada kabar tentang keadaan Boy?”
Ny. Lastri : “Rian
bilang tadi kalau semalam Boy minum miras sampai mabuk. Dan dia baru saja
bangun waktu Rian mengirim rekaman ini.”
Ny. Besar : “Boy,
Boy... Keadaan Joya begini, dia malah mabuk.”
Ny. Putri : “Boy
juga terluka, bu. Dia terlalu mencintai Joya sampai menyakiti dirinya sendiri.”
Ny. Besar : “Iya,
ibu tahu. Kita harus bagaimana sekarang?”
Ny. Lastri : “Bagaimana
kalau kita kurung mereka di kamar ini?”
Ny. Besar : “Jangan!
Nanti kalau Boy kasar lagi sama Joya gimana?”
Ny. Putri : “Kalau
Boy sudah melihat rekaman ini, dan melihat keadaan Joya sekarang, mana mungkin
dia akan menyakiti Joya lagi, bu.”
Tok, tok,
tok... Pintu kamar itu diketuk seseorang, Bi Ijah masuk dan memberi tahu kalau
tuan Boy sudah datang dan ingin bertemu Joya. Sesuai perintah Ny. Besar
semalam, beberapa bodyguard sedang menahan agar Boy tidak bisa naik ke lantai
2.
Rian sedang
mencoba bernegosiasi, tapi gagal. Mereka hampir berkelahi karena Boy emosi
lagi, Ny. Besar turun tepat waktu.
Joya?”
Ny. Besar : “Kau
mau apa lagi? Sudah cukup kelakuanmu semalam. Ibu sudah kirim Joya keluar kota.”
Boy : “Boy tahu
salah, bu. Dimana dia?”
Ny. Besar : “Ibu
sudah bilang Joya ibu kirim keluar kota. Dia gak mau ketemu kamu lagi.”
Boy : “Bu...”’
Bruk! Boy
berlutut di depan ibunya, ia memohon maaf dengan sangat memilukan. Bahkan Ny. Lastri
dan Ny. Putri tidak kuat menahan emosinya juga. Mereka hampir menangis melihat
Boy menangis di kaki ibunya.
Tiba-tiba dari
atas tangga, Joya muncul dengan tertatih-tatih. Ia sudah bangun saat Bi Ijah
masuk dan memberitahu kalau Boy menunggu di bawah.
Joya : “Mas...”
Boy mendongak
dan melihat Joya hampir jatuh terguling dari tangga. Semua orang menahan nafas
melihat keadaan Joya.
Boy : “Joya!!”
Ny. Besar : “Joya!!”
Boy berlari
secepat yang ia bisa menaiki tangga dan menahan tubuh istrinya itu. Tampak
darah mengalir dari tangan Joya yang infusnya sudah tercabut. Sepertinya Joya
tidak sengaja menarik jarum infus di tangannya hingga terlepas.
Boy : “Sayang!
Joya, bangun!”
__ADS_1
Joya : “Mas...
ma...af.” lirih Joya dengan suara lemah, dirinya kembali tidak sadarkan diri. Rian
menyusul di belakang Boy,
Rian : “Tuan,
angkat Ny. dulu. Bi Ijah, tolong panggilkan dokter.”
Boy mengangkat
tubuh Joya dibantu Rian. Mereka membawa Joya ke dalam kamar dan menyelimutinya.
Wajah Joya semakin pucat saat Rian menekan luka di tangannya dengan tisu.
Boy : “Sayang,
bangun. Aku mohon maafkan aku...”
Dokter Risman
segera datang bersama ambulance, Joya diperiksa lagi oleh dokter dan suster
kembali memasang infus di tangan Joya.
dr. Risman : “Joya
semakin lemah, tubuhnya menolak cairan infus yang masuk. Sepertinya Joya harus
dirawat intensif di rumah sakit.”
Ny. Besar : “Lakukan
saja yang terbaik, dokter.”
Dokter Risman
segera mempersiapkan keberangkatan Joya ke rumah sakit. Boy terus berada di
sampingnya, tidak melepas tangan Joya. Ia masuk ke ambulance bersama Joya yang
dibawa dengan bed rumah sakit.
Setelah
ambulance berangkat, Ny. Besar juga bersiap-siap menyusul Joya. Tapi Ny. Lastri
menghentikannya,
Ny. Lastri : “Bu,
ibu tunggu disini dulu ya. Biar Lastri dan Putri ke rumah sakit duluan. Kalau
Joya sudah dipindahkan ke kamar, ibu bisa menengoknya di kamar.”
Ny. Besar : “Tolong
kabari ibu terus. Ibu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Joya.”
Ny. Lastri : “Dia
akan baik-baik saja, bu. Boy sudah menemaninya. Joya akan segera sembuh.”
Ny. Besar : “Semoga
saja.”
Ny. Lastri dan
Ny. Putri menyusul ambulance yang membawa Joya dan Boy ke rumah sakit tempat
dokter Risman praktek.
Di dalam
ambulance, Boy mulai merasakan gerakan tangan Joya. Tubuh Joya gemetar semakin
lama semakin hebat. Suara mesin pemantau jantung dan tekanan darah mulai
berbunyi tidak normal. Dokter Risman sampai harus menyuntikkan sesuatu pada
infus Joya.
Boy : “Joya,
bangunlah. Aku mohon...”
Dokter Risman
menepuk pundak Boy yang terlihat seperti gelandangan dengan wajah berhias kumis
tipis dan cambang yang belum dicukur pagi ini, serta baju yang sudah kotor.
dr. Risman : “Sabar,
Boy. Joya akan baik-baik saja.”
Boy hanya
mengangguk lemah, menatap wajah Joya yang pucat.
*****
Author ikutan
nangis waktu nulis ini. Ingat vote ya kk. Makasih.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.