Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Rekaman CCTV


__ADS_3

Sementara itu


di pagi yang sama, Rian sedang mengumpulkan rekaman CCTV di setiap sudut lobby


kantor Joya. Semalam ia menghubungi manager operasional untuk membantunya


mengambil rekaman CCTV dari sejak Joya turun dari tangga bersama Meta sampai


mobil Boy keluar dari parkiran kantor.


Rekaman itu


sangat menunjukkan kalau Joya tidak melakukan apa yang dituduhkan pada Boy


semalam. Rian menghela nafasnya, sejak pertama kali bertemu Joya, dia sudah


melihat wanita itu sangat mencintai tuannya.


Rian : “Tuan,


saya harap rekaman ini bisa membantu tuan berpikir lebih jernih.”


Ceklek! Pintu kamar


apartment Boy terbuka. Tuannya sudah bangun, terlihat berantakan dengan rambut


acak-acakan dan memegangi kepalanya yang pusing.


Rian : “Tuan,


selamat pagi. Silakan kopinya.”


Rian membantu Boy


duduk di sofa. Keadaan apartmentnya sudah bersih kembali. Hanya TV saja yang


kosong karena tokonya belum buka sepagi itu.


Boy : “Kepalaku


sakit sekali. Apa yang terjadi, Rian?”


Deg! Boy


melotot melihat Rian dan mengguncang tubuh asistennya itu.


Boy : “Mana


Joya?”


Rian : “Tuan,


tolong tenang dulu. Ny. Joya sudah dibawa pulang Ny. Besar semalam. Apa tuan


tidak ingat?”


Boy : “Oh, ya.


Aku...”


Boy bersandar


di sofa, dalam ingatannya sangat jelas terlihat bagaimana ia memperlakukan Joya


semalam. Dalam kemarahannya, Boy menuduh Joya tidak setia.


Boy : “Rian,


aku harus pulang ke rumah ibu sekarang. Aku harus bertemu Joya.”


Rian : “Tuan,


sebaiknya tuan lihat dulu rekaman ini.”


Rian memutar


rekaman CCTV dari berbagai sudut secara bersamaan. Boy sampai gemetar menahan


rasa yang berkecamuk di dadanya.


Boy : “Aku


bersalah, Rian.”


Rian : “Maaf,


tuan. Kali ini memang tuan keterlaluan. Saya juga ceroboh tidak segera


memeriksa rekaman CCTV saat kita sampai di kantor Ny. kemarin.”


Boy : “Bukan


salahmu. Aku harus pulang sekarang.”


Rian : “Tuan


sebaiknya mandi dulu.”


Boy : “Biar saja


seperti ini. Aku harus tahu keadaan Joya sekarang juga.”


Rian menuruti


Boy dan mengantar tuannya itu ke rumah Ny. Besar.


*****


Ny. Besar baru


selesai melihat rekaman CCTV yang dikirim Rian bersama Ny. Lastri dan Ny.

__ADS_1


Putri. Ia bernafas lega karena terbukti Joya memang tidak bersalah.


Ny. Lastri : “Joya


tidak salah, bu.”


Ny. Besar : “Iya,


ini semua hanya salah paham. Apa sudah ada kabar tentang keadaan Boy?”


Ny. Lastri : “Rian


bilang tadi kalau semalam Boy minum miras sampai mabuk. Dan dia baru saja


bangun waktu Rian mengirim rekaman ini.”


Ny. Besar : “Boy,


Boy... Keadaan Joya begini, dia malah mabuk.”


Ny. Putri : “Boy


juga terluka, bu. Dia terlalu mencintai Joya sampai menyakiti dirinya sendiri.”


Ny. Besar : “Iya,


ibu tahu. Kita harus bagaimana sekarang?”


Ny. Lastri : “Bagaimana


kalau kita kurung mereka di kamar ini?”


Ny. Besar : “Jangan!


Nanti kalau Boy kasar lagi sama Joya gimana?”


Ny. Putri : “Kalau


Boy sudah melihat rekaman ini, dan melihat keadaan Joya sekarang, mana mungkin


dia akan menyakiti Joya lagi, bu.”


Tok, tok,


tok... Pintu kamar itu diketuk seseorang, Bi Ijah masuk dan memberi tahu kalau


tuan Boy sudah datang dan ingin bertemu Joya. Sesuai perintah Ny. Besar


semalam, beberapa bodyguard sedang menahan agar Boy tidak bisa naik ke lantai


2.


Rian sedang


mencoba bernegosiasi, tapi gagal. Mereka hampir berkelahi karena Boy emosi


lagi, Ny. Besar turun tepat waktu.


Joya?”


Ny. Besar : “Kau


mau apa lagi? Sudah cukup kelakuanmu semalam. Ibu sudah kirim Joya keluar kota.”


Boy : “Boy tahu


salah, bu. Dimana dia?”


Ny. Besar : “Ibu


sudah bilang Joya ibu kirim keluar kota. Dia gak mau ketemu kamu lagi.”


Boy : “Bu...”’


Bruk! Boy


berlutut di depan ibunya, ia memohon maaf dengan sangat memilukan. Bahkan Ny. Lastri


dan Ny. Putri tidak kuat menahan emosinya juga. Mereka hampir menangis melihat


Boy menangis di kaki ibunya.


Tiba-tiba dari


atas tangga, Joya muncul dengan tertatih-tatih. Ia sudah bangun saat Bi Ijah


masuk dan memberitahu kalau Boy menunggu di bawah.


Joya : “Mas...”


Boy mendongak


dan melihat Joya hampir jatuh terguling dari tangga. Semua orang menahan nafas


melihat keadaan Joya.


Boy : “Joya!!”


Ny. Besar : “Joya!!”


Boy berlari


secepat yang ia bisa menaiki tangga dan menahan tubuh istrinya itu. Tampak


darah mengalir dari tangan Joya yang infusnya sudah tercabut. Sepertinya Joya


tidak sengaja menarik jarum infus di tangannya hingga terlepas.


Boy : “Sayang!


Joya, bangun!”

__ADS_1


Joya : “Mas...


ma...af.” lirih Joya dengan suara lemah, dirinya kembali tidak sadarkan diri. Rian


menyusul di belakang Boy,


Rian : “Tuan,


angkat Ny. dulu. Bi Ijah, tolong panggilkan dokter.”


Boy mengangkat


tubuh Joya dibantu Rian. Mereka membawa Joya ke dalam kamar dan menyelimutinya.


Wajah Joya semakin pucat saat Rian menekan luka di tangannya dengan tisu.


Boy : “Sayang,


bangun. Aku mohon maafkan aku...”


Dokter Risman


segera datang bersama ambulance, Joya diperiksa lagi oleh dokter dan suster


kembali memasang infus di tangan Joya.


dr. Risman : “Joya


semakin lemah, tubuhnya menolak cairan infus yang masuk. Sepertinya Joya harus


dirawat intensif di rumah sakit.”


Ny. Besar : “Lakukan


saja yang terbaik, dokter.”


Dokter Risman


segera mempersiapkan keberangkatan Joya ke rumah sakit. Boy terus berada di


sampingnya, tidak melepas tangan Joya. Ia masuk ke ambulance bersama Joya yang


dibawa dengan bed rumah sakit.


Setelah


ambulance berangkat, Ny. Besar juga bersiap-siap menyusul Joya. Tapi Ny. Lastri


menghentikannya,


Ny. Lastri : “Bu,


ibu tunggu disini dulu ya. Biar Lastri dan Putri ke rumah sakit duluan. Kalau


Joya sudah dipindahkan ke kamar, ibu bisa menengoknya di kamar.”


Ny. Besar : “Tolong


kabari ibu terus. Ibu takut terjadi sesuatu yang buruk pada Joya.”


Ny. Lastri : “Dia


akan baik-baik saja, bu. Boy sudah menemaninya. Joya akan segera sembuh.”


Ny. Besar : “Semoga


saja.”


Ny. Lastri dan


Ny. Putri menyusul ambulance yang membawa Joya dan Boy ke rumah sakit tempat


dokter Risman praktek.


Di dalam


ambulance, Boy mulai merasakan gerakan tangan Joya. Tubuh Joya gemetar semakin


lama semakin hebat. Suara mesin pemantau jantung dan tekanan darah mulai


berbunyi tidak normal. Dokter Risman sampai harus menyuntikkan sesuatu pada


infus Joya.


Boy : “Joya,


bangunlah. Aku mohon...”


Dokter Risman


menepuk pundak Boy yang terlihat seperti gelandangan dengan wajah berhias kumis


tipis dan cambang yang belum dicukur pagi ini, serta baju yang sudah kotor.


dr. Risman : “Sabar,


Boy. Joya akan baik-baik saja.”


Boy hanya


mengangguk lemah, menatap wajah Joya yang pucat.


*****


Author ikutan


nangis waktu nulis ini. Ingat vote ya kk. Makasih.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2