Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu untuk Ibu 19


__ADS_3

Safira terjaga saat pagi azan berkumandang, wajahnya terlihat menegang menyadari semalam ia tak lagi tidur sendiri. Pelan ia bangkit menuruni tempat tidur. Harapan agar Tyo tak terbangun pupus, pria itu menahan tangan Safira.


"Mau ke mana?"


"Eum, mau ...."


"Ambil wudhu?"


Ia mengangguk pelan. Senyum pria itu terbit, pelan ia juga bangkit. Mengecup kening sang istri.


"Oke, kita salat bareng ya," bisiknya ditanggapi anggukan oleh Safira.


***


Alva merapikan kemeja menuruni anak tangga menuju ruang makan. Mata tajamnya sekilas menatap Safira yang menyiapkan makan pagi suaminya. Sejenak ia terpaku, tapi kemudian segera kembali meneruskan langkah.


"Al, nggak sarapan dulu?" tegur Pak Yuda. Lelaki berkemeja biru itu menggeleng.


"Al buru-buru, Yah. Bu, Kak Tyo, Al pergi dulu ya." Tanpa menunggu jawaban ia pergi meninggalkan rumah. Hal itu tentu saja menimbulkan tanya mereka semua. Sebab tak biasanya Alva bersikap seperti itu.


"Ibu sih senang, dia mulai bisa bertanggung jawab. Betul begitu kan, Yah?"


"Iya, proyek yang dia tangani mulai menunjukkan progres yang baik," sahut Pak Yuda seraya menikmati sarapan.


Tak lama seusai sarapan, pasangan pengantin baru itu bersiap untuk pergi berbulan madu. Safira terlihat anggun dengan dress biru dengan rambut dibiarkan tergerai. Sementara Tyo juga tampak gagah dengan t-shirt pas badan berwarna biru gelap.


"Kalian pasangan serasi!" puji Bu Santi sesaat sebelum mereka berangkat.


"Selamat berbulan madu, nggak perlu berpikir untuk cepat bekerja. Alva bisa handle kerjaanmu, Tyo!" Pak Yuda menepuk bahu putranya, "kembali berbulan madu, ayah harap ada kabar bagus!" sambungnya lagi dengan mata menggoda Tyo.


"Beres, Yah. Wish me luck!" Ia melirik Safira yang tersenyum malu-malu.


Mobil meluncur menuju bandara. Sepanjang perjalanan Tyo tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Safira.


"Kamu bahagia, Safira?" Pria itu menyelipkan rambut Safira ke belakang telinga. Gadis itu mengangguk tersenyum, ia menyandarkan kepala ke bahu Tyo.


"Saya tidak pernah pergi jauh, Mas. Ini pengalaman pertama saya."


"Aku tahu, dan aku pastikan itu menjadi pengalaman yang tidak pernah terlupakan sepanjang hidupmu, Sayang." Kecupan hangat mendarat lembut di puncak kepalanya. Gadis itu memejamkan mata merasakan kehangatan perlakuan sang suami. Baginya Tyo adalah suami yang ia impikan selama ini. Bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang.


***


Destinasi bulan madu mereka adalah ke Gili Nanggu. Gili Nanggu merupakan sebuah pulau kecil yang berada di Kabupaten Lombok Barat. Untuk menuju ke sana dibutuhkan perjalanan selama kurang lebih satu jam dari Mataram.

__ADS_1


Dikelilingi oleh hamparan pasir putih yang sangat lembut serta suasana sunyi, Gili Nanggu adalah surga sempurna untuk wisatawan terlebih untuk mereka yang ingin merasakan suasana private dan ingin menjauh dari semua keramaian serta hiruk-pikuk kehidupan kota.


Terdapat banyak pondok kecil yang bisa digunakan hanya untuk rebahan sambil menikmati semilir angin dan pemandangan laut lepas. Karena termasuk pulau privat, momen bersantai pengunjung tidak akan diganggu oleh pedagang asongan yang biasanya berlalu-lalang di tempat wisata.


Tyo menyewa satu bungalow yang tak jauh dari pantai. Sungguh pilihan yang manis bagi sepasang suami istri itu.


Berada berdua di pulau yang sepi dan bangun dengan suara laut, serta aroma khas pantai. Pulau tropis dengan air biru cerah dan pantai putih itu, siap memanjakan siapa pun yang ingin menikmatinya. Bangun dengan matahari terbit dan saksikan matahari terbenam di sisi lain pulau pada hari yang sama.


"Kamu suka?" tanyanya saat mereka tiba di cottage. Wajah lelah Safira berganti binar bahagia. Ia terpukau oleh putih pasir pantai dan birunya lautan. Semilir angin seolah melakukan penyambutan kepada mereka. Pulau itu benar-benar tenang.


Melihat ekspresi sang istri, Tyo tersenyum puas. Ia mengajak Safira untuk masuk ke dalam cottage.


"Kita masih akan lama di sini, kamu bisa puas menikmati pasir dan karang sesering yang kamu mau. Sekarang sebaiknya kita beristirahat dulu. Kamu pasti lelah," tuturnya membelai rambut Safira.


"Saya mandi dulu ya, Mas?"


"Oke, setelah itu kita makan. Kamu juga pasti lapar, 'kan?"


Mengangguk, Safira melangkah ke kamar mandi. Sementara Tyo memilih merebahkan diri di sofa melepas lelah, sehingga tak sadar ia terlelap. Melihat Tyo memejamkan mata, Safira sedikit lega. Sedari ia merasa tegang membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Safira ke kamar, menukar bathrobe dengan baju yang ia bawa. Saat baru saja ia hendak membuka baju mandi, suara Tyo mengejutkannya. Pria itu telah berdiri di pintu menatapnya dirinya yang hampir telanjang. Mata Safira membulat segera kembali merapatkan bathrobe ke tubuhnya.


"Maaf! Aku nggak tahu kalau kamu ...."


"Nggak apa-apa, saya yang salah tidak mengunci pintu," tuturnya lirih seraya menunduk. Tyo mendekat mengulum senyum. Direngkuhnya bahu sang istri sambil berbisik, "bahkan jika kamu sengaja sekalipun aku akan dengan senang hati menikmatinya ... bukankah sekarang keindahan itu buatku?"


Seolah tahu apa yang akan terjadi, kembali Safira memejamkan mata membiarkan bibirnya di kulum lembut sang suami. Awal yang terasa lembut kini semakin menuntut. Reflek ia mengalungkan tangannya ke leher Tyo.


Napas mereka saling beradu saat pria itu mencoba menjelajah lebih dalam ke mulut istrinya. Tanpa Safira sadari bathrobe yang tadi ia kenakan lolos dari tubuh langsingnya. Ia memekik pelan saat ia dibawa ke ranjang. Sejenak Tyo terpesona menatap tubuh polos sang istri. Ia tersenyum saat Safira mencoba menarik selimut untuk menutupi .


"Tidak perlu ditutupi. Biarkan aku menikmatinya," tuturnya dengan suara serak. Dengan wajah memerah, Safira diam membiarkan Tyo kembali menyentuh lembut bagian dadanya. Tak sanggup ia menyembunyikan erang yang ia tahan sedari tadi.


"Aku ... boleh meminta sekarang?"


Senyum malu-malu cukup membuat pria itu mengerti. Penuh kelembutan Tyo memperlakukan Safira, sehingga sang istri merasa nyaman saat melaksanakan kewajibannya. Senja beranjak gelap, perut lapar dan rasa lelah hilang seketika saat mereka memadu kasih. Keduanya hanyut dalam kenikmatan penyatuan halal di tepi pantai Gili Nanggu.


***


Di suatu tempat yang berjarak ribuan kilometer, seorang pria berkali-kali mengusap wajahnya. Asbak telah penuh dengan puntung rokok. Aroma tembakau memenuhi kamar itu. Alva mencoba menenangkan diri menahan perasaan tak menentu di hatinya. Bayangan Safira tengah berbahagia dengan sang kakak cukup membuat dirinya frustrasi.


"Sudah, Al. Lo bilang mau move on! Udah jangan mundur lagi," ujar Deva dari seberang. Bagi Alva bercerita perasaan pada sahabatnya itu bisa sedikit mengurangi beban.


"Iya, tapi gila ini gila! Tahu nggak loe!"

__ADS_1


"Gila kenapa? Lo aja yang gila, Al! Ingat dia istri kakak loe!"


"Iya! Tapi gue nggak bisa bohong kalau gue mencintainya, Dev! Bahkan sampai saat ini! Meski gue tahu itu tidak mungkin!"


"Alva? Mencintainya? Kamu sedang mencintai siapa?" Suara ibunya tanpa ia sadari ada di pintu kamarnya. Wajah Alva menegang menoleh pada Bu Santi. Perlahan ia putuskan sambungan telepon Deva.


"Ibu kenapa nggak ketuk pintu dulu? Al kaget, 'kan?"


Bu Santi mengatakan bahwa sedari tadi ia mengetuk pintu kamar, tapi Alva tak juga mendengar.


"Ibu masuk saja, sebab pintu tak dikunci. Apa ibu salah?"


Dengan senyum Alva menggeleng. Ia mempersilakan ibunya untuk masuk. Kening Bu Santi berkerut mencium aroma kamar sang putra.


"Al, sampai kapan kamu bisa berhenti merokok?"


Alva mengusap tengkuknya kembali tersenyum.


"Oh iya, kamu tadi bilang masih mencintai? Mencintai siapa?"


"Eum ... nggak, Bu ...."


"Ibu dengar tadi kamu juga bilang meski kamu tahu itu tidak mungkin ... ada yang kamu sembunyikan dari ibu?" cecar Bu Santi menatap penuh tanya pada lelaki di depannya.


Alva menolak menjelaskan, ia berkelit mengalihkan pembicaraan. Namun, Bu Santi terus mengejarnya dengan pertanyaan yang sama.


"Nggak ada yang Al sembunyikan, Bu. Al cuma ...."


"Kamu masih mencintai Luna-mu itu?"


Cepat Alva menggeleng.


"Nggak, Bu."


"Syukurlah kalau begitu. Ibu bisa mencarikan jodoh yang tepat untukmu. Ibu harap kamu tidak menolaknya," tegas Bu Santi. Mendengar itu Alva menelan ludahnya. Ia sama sekali tak mengerti arah pikiran sang ibu yang kembali akan mencarikan jodoh untuknya.


"Eum ..., Bu. Sebaiknya biarkan Al sendiri yang mencari jodoh Al," pintanya.


"Ibu tak ingin kamu salah pilih lagi, Al!"


"Al nggak akan salah pilih, Bu. Percaya deh." Ia mengangkat dua jari membentuk huruf V. Melihat itu sang ibu tersenyum mengusap kepala sang putra.


"Ibu menyayangimu, Al. Ibu ingin kamu pun bahagia menemukan jodohmu seperti Tyo."

__ADS_1


Alva kembali mengusap wajahnya, seolah ada beribu anak panah terasa menghunjam jantung saat ucapan ibunya justru kembali mengingatkan dia pada sosok Safira.


***


__ADS_2