
Pagi itu, Aliya resmi berpartner dengan Deril. Kontrak yang dibuat Aliya, sedikit ditambahkan profit untuk Aliya apabila berhasil melakukan negosiasi dengan client.
Deril menyediakan meja kerja untuk Aliya di ruangannya. Tumpukan kontrak untuk di-review mulai menggunung di sisi sebelah kanan meja Aliya.
Deril : “Aku sengaja menaruh mejamu disini, bukan karena tidak ada ruangan lain, tapi ruanganku sering dipakai Aril dan Cecil. Kau tahu apa yang kumaksud kan? Mereka selalu ‘bersemangat’ sampai lupa sedang berada dimana.”
Aliya : “Oh, maksudmu aku harus jaga kantormu dari mereka.”
Deril : “Ya, begitulah. Apalagi aku sering meeting keluar. Ruangan ini pasti kosong.”
Aliya : “Bagaimana kalau mereka tetap melakukannya meskipun aku disini?”
Deril : “Mereka tidak akan berani. Kau mulai kerja sekarang atau besok?”
Aliya : “Ada yang urgent?”
Deril : “Map merah itu. Papaku yakin tidak ada kesalahan dalam kontrak itu, tapi aku tidak yakin. Coba kau lihat dulu.”
Aliya membuka kontrak itu dan mulai membaca, sekilas tidak ada masalah, hasilnya menguntungkan kedua belah pihak. Tapi kening Aliya mengkerut melihat lokasi yang dipillih, terlalu berisiko sekarang kalau memilih tempat itu. Apalagi dengan pihak papa Deril yang menanggung biaya di awal kontrak.
Aliya : “Deril, coba kau cek lokasi proyek ini. Bukankah disana sering terjadi gempa dan tanah longsor.”
Deril : “Papa memang bilang seperti itu, tapi papa tetap mau memakainya karena pemandangannya bagus.”
Aliya : “Kalau seperti itu bukankah struktur tanahnya tidak stabil, bangunan akan cepat rusak kalau begitu.”
Deril : “Papaku bilang sudah menemukan solusinya. Jadi apa saranmu?”
Aliya : “Kontrak ini harus direvisi, biaya awal tetap ditanggung kedua belah pihak dengan nilai yang sama. Dan ada batas waktu untuk penyelesaian pembayarannya. Ini, sudah selesai.”
Deril : “Akan kukirim ke papa. Sepertinya dia akan ngomel.”
Benar saja, dering HP Deril berbunyi dilanjutkan suara melengking dari HP itu. Deril tampak tegang, rupanya saat itu juga ada partner papa Deril bersamanya.
Deril : “Aliya, bersiaplah. Kita harus conference call.”
Deril menghidupkan TV di depan mejanya, sementara Aliya pindah duduk ke sebelah Deril. Dua orang pria paruh baya tampak di layar TV. Deril bicara duluan dengan keduanya yang meminta penjelasan. Saat suasana kembali tegang, dengan tenang Aliya mulai bicara.
Bantahan demi bantahan bisa diatasi Aliya dengan baik, sampai suasana kembali tenang. Deril menghentikan conference call dan menatap Aliya,
Deril : “Bagaimana kau bisa tenang begitu? Aku sempat berpikir tadi ada asap yang keluar dari kepala papaku.”
Aliya : “Aku juga tidak tahu, mungkin karena aku menyukai bidang ini. Rasanya sangat menyenangkan.”
Deril : “Kau luar biasa, Al. Aku yakin sebentar lagi papaku akan minta bertemu langsung denganmu.”
Aliya : “Kalau dalam waktu dekat ini, aku tidak bisa. Lusa aku harus berangkat ke Indonesia dan hari ini aku harus berkemas.”
Deril : “Memang berapa lama kau disana?”
Aliya : “Mungkin seminggu, aku juga sibuk mengurus kepindahanku.”
Deril : “Kau mau pindah? Lalu perjanjian kita?”
Aliya : “Aku akan tinggal bersama Aldo.”
Deril : “…”
Deril mengalihkan pandangan dari Aliya, hatinya sedikit sakit. Tapi Deril tidak bisa berbuat apa-apa.
-------
__ADS_1
Pulang dari kantor Deril, Aliya melihat tumpukan dus yang berisi barang-barang pribadinya dipindahkan satu per satu ke dalam kontainer. Semuanya disusun dengan rapi dan dibeli label, siap dipindahkan ke apartment Aldo.
Aliya masuk ke apartment-nya yang sedikit kosong karena masih ada beberapa barang yang belum dipindahkan. Aldo ada disana, duduk di sofa sambil mengetik sesuatu di HP-nya.
Aliya : “Hai, Al.”
Aldo : “Hai, sayang. Bagaimana harimu?”
Aliya : “Aku berdebat dengan papanya Deril.”
Aliya menceritakan kejadian di kantor Deril tadi sambil bersandar di dada Aldo, beberapa petugas pindahan hanya melirik kemesraan mereka saat masuk ke apartment Aliya.
Aldo : “Apa kau sudah makan?” Tangan Aldo mengusap rambut Aliya.
Aliya : “Sepertinya belum, aku malas makan. Apa mereka sudah selesai?”
Aldo : “Sepertinya sudah, aku membayar tenaga pindahan professional. Mereka akan mengatur barang-barangmu sesuai dekorasi di kamar ini sebelumnya.”
Aliya : “Memangnya semua ini muat di apartmentmu?”
Aldo : “Karena itu aku merombaknya sedikit. Kita cari makan dulu, baru pulang.”
Aliya mengambil tasnya dan Aldo membawa mereka ke restauran favorit Aliya. Kebetulan Deril ada disana juga sedang makan sendirian. Aliya berjalan menghampiri meja Deril,
Aliya : “Hai, Deril.”
Deril : “Hai, Al. Kau bersama Aldo?”
Aldo : “Hai, aku Aldo.”
Deril : “Deril. Mau bergabung?”
Pelayan menanyakan pesanan mereka dan segera menyiapkannya,
Aliya : “Apa kau cemburu?”
Aldo : “Belum, hanya saja aku tidak mau duduk satu meja dengannya.” Kata Aldo membuang muka.
Aliya : “Ah, manis sekali.”
Aldo : “Apa maksudmu?”
Aliya : “Kau terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.”
Aldo : “Apa kau mau mencium anak kecil ini? Cium aku, cepat…”
Aliya : “Ini tempat umum, aku malu, Al.”
Aldo : “Ah, manis sekali.”
Aliya dan Aldo tersenyum dengan penuh cinta, sementara di pojok restauran ada seseorang yang menatap keduanya dengan tatapan kosong.
-------
Aldo menelpon seseorang ketika mereka sudah selesai makan, ia hanya bertanya sekali kemudian diam mendengarkan. Pelayan datang membawakan bill, Aliya hampir mengeluarkan dompetnya, tapi Aldo dengan cepat
meletakkan kartu di atas bill.
Aldo : “Passwordnya, tanggal lahirmu.” Kata Aldo sambil menjauhkan HP-nya.
Aliya menekan password pada mesin EDC dan pembayaran sukses dilakukan. Pelayan tersenyum manis pada mereka dan berlalu. Aldo sudah selesai menelpon, ia menatap Aliya yang masih menatapnya.
__ADS_1
Aldo : “Kenapa sayang?”
Aliya : “Apa kau selalu melakukan ini?”
Aldo : “Melakukan apa?”
Aliya : “Merubah semua password milikmu menjadi ulang tahun pacarmu?”
Aldo : “Cuma sama kamu.” Kata Aldo cuek, tapi bisa membuat jantung Aliya mulai berdebar kencang.
Aliya bukan tipe perempuan pada umumnya yang sangat suka diberi bunga dan coklat. Ia lebih dewasa daripada itu, baginya sebuah perlakuan manis dari orang paling cuek di depannya ini saja sudah merupakan hal paling romantis yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Karena bunga dan coklat adalah hal biasa, tapi kartu kredit unlimited dengan password yang kau tahu... Hmmm..
Aliya : “Aku bisa membobol seluruh uangmu kalau begitu.”
Aldo : “Lakukan saja kalau kau mau, asalkan kau mau hidup bersamaku. Bawa saja kartu itu, ayo kita pulang.”
Aliya : “Nggak ah, aku bisa khilaf menghabiskan uangmu nanti.”
Aldo : “Kalau begitu aku juga bisa khilaf menyentuhmu sebelum pernikahan… Hehehe…” Aldo menaik-turunkan alisnya menggoda Aliya, membuat Aliya mencubit lengannya.
-------
Aliya dan Aldo masuk ke apartment Aldo, lagi-lagi passwordnya ulang tahun Aliya. Masuk ke dalam, tidak banyak yang berubah dengan apartment Aldo kecuali beberapa perlengkapan Aliya sudah menghiasi beberapa sudut ruangan, melengkapi minimnya perabotan di apartment Aldo.
Aldo : “Kau mau lihat kamar kita?”
Aliya : “Jangan bilang begitu, aku geli mendengarnya seolah-olah kita sudah menikah.”
Aldo : “Apa salahnya? Memang kenyataannya kan?”
Aliya : “Ok, kamar kita dimana?”
Aldo menarik Aliya ke kamarnya dulu. Saat pintu terbuka, suasana kontras terlihat di dalam ruangan itu. Kamar Aldo sudah disulap menjadi dua sisi yang berbeda sesuai selera masing-masing pemiliknya.
Aldo : “Ini bagianku dan sebelah sana bagianmu. Tirai ini bisa dibuka dan ditutup secara otomatis jadi kau tidak perlu khawatir saat ganti baju.”
Aliya : “Ini permintaan ayahku?”
Aldo : “Sebenarnya papamu cuma minta agar kita tidur di tempat tidur terpisah, tapi aku rasa sekalian saja aku merombaknya agar kau bisa merasa nyaman.”
Aliya duduk di ranjangnya, suasana di kamar itu benar-benar mirip dengan kamarnya di apartment. Bruk! Aliya berbaring sambil memeluk gulingnya, melungker bersiap tidur.
Aldo : “Apa kau suka?”
Aliya : “Aku suka sekali, aku jadi mengantuk.”
Aldo : “Tidurlah, aku harus keluar sebentar. Kau mau apa untuk makan malam?”
Aliya tidak menjawab, ia sudah terbang ke alam mimpi membiarkan Aldo bicara sendiri. Aldo mendekati ranjang Aliya, mengelus kepalanya dan mencium singkat bibir Aliya.
Aldo : “Aku akan selalu menjagamu, Al. Aku mencintaimu.”
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------
__ADS_1