
Eps. 20 – Alasan sepele
Carol sudah bernafas lega tapi Nanda kembali lagi. Dan bertanya pada Carol apa perlu
membuat kamar sangat berantakan saat malam pertama pernikahan. Wajah Carol
memerah mendengar pertanyaan Nanda. Untung saja Nando keburu terbangun dan
menjawab pertanyaan kakaknya dengan tengil.
Nando : “Tentu saja, kak. Apalagi kalau kakak menikah mendadak tanpa berpacaran dulu. Perlu
menangkap istri kakak dulu untuk melakukan malam pertama pernikahan.”
Nanda : “Kalian kejar-kejaran di dalam kamar?”
Nando : “Iya, kak. Kalau tidak begitu, mana mau dia tidur denganku diatas ranjang.”
Carol memukul lengan Nando karena kata-katanya bisa membuat Nanda salah paham. Yang membuat
Carol bingung, sepertinya kakak iparnya itu percaya pada kata-kata Nando. Carol
melihat Nanda tampak memikirkan sesuatu dengan sangat serius.
Nanda : “Berapa lama kau harus berlari semalam untuk menangkap adik ipar?”
Nando : “Entahlah, sampai dia capek dan berhenti berlari.”
Nanda : “Bagaimana kalau dia tidak berhenti berlari sampai pagi?”
Nando : “Aku harus terus mengejarnya sampai dia capek.”
Charlie memberitahu kalau mereka akan terlambat mengantar Nadia ke sekolah dan Nanda
keluar dari kamar Nando tanpa bicara lagi. Nando menggigil menahan tawanya. Ia
ketawa ngakak setelah yakin kakaknya tidak akan mendengarnya tertawa.
Carol : “Kenapa kau bilang gitu sama kakak ipar? Dia bisa salah paham?”
Nando : “Biarkan saja kakak itu. Untuk pertama kalinya kakak kepo dengan sesuatu yang
aku tahu, biar kakak rasakan salah paham itu.”
Carol : “Memangnya kakak ipar gak ngerti urusan itu?”
Nando : “Dia terlalu sibuk menghajar orang, cari duit, cari kekuasaan. Disodorin cewek,
ceweknya diusir. Sampai ada yang ngira kakak gay.”
Carol : “Oh, polos sekali.”
Nando : “Makanya coba kita kenalkan dengan Bu Ana. Pasti seru.”
Carol hanya mengangguk. Ia ingin ke kamar mandi tapi kaget sendiri melihat yang tersisa di
tubuhnya hanya pakaian dalam. Nando senyum-senyum melihat wajah panik Carol. Ia
ingin menggodanya, Nando mengucapkan terima kasih atas pelayanan Carol semalam.
Carol memukul lengan Nando, ia tahu kalau Nando hanya menggodanya. Giliran Carol menarik
piyama Nando agar terlepas dari badannya. Carol memakai piyama itu dan masuk ke
kamar mandi, membiarkan Nando tetap di atas ranjang, pura-pura ngambek.
*****
__ADS_1
Siang itu, Nando dan Carol menyambut kedatangan Boy dan Joya di villa Nanda. Joya
memberikan puding buah pada Carol yang langsung menghidangkannya. Carol
melayani mereka semua makan sambil ngobrol ringan.
Beberapa pelayan Nanda tampak membantu Carol dan menyebut Carol dengan panggilan Ny.muda kedua. Joya juga ikutan memanggil Carol dengan sebutan yang sama. Ia mengatakan panggilan
Carol menunjukkan kalau dia sudah menikah dengan Nando. Carol mengangguk untuk
membenarkan tebakan Joya.
Nando : “Kakak yang minta Carol tanda tangan kemarin malam.”
Carol : “Saya tidak tau kalau itu surat nikah. Saya pikir perjanjian pra nikah.”
Nando : “Sudah kubilang kakak hanya sekedar bicara saja. Kakak tidak serius menarik uang
sakuku. Kemana lagi uangnya akan mengalir kalau gak ke adik-adiknya.”
Carol : “Pokoknya aku gak mau pake uang kakak ipar, ya. Awas kamu!”
Nando : “Baru nikah udah berani ngancem.”
Carol memeletkan lidahnya pada Nando yang langsung memeluknya erat. Mereka lupa masih
ada Boy dan Joya di depan mereka.
Joya : “Apa kami perlu pergi dulu sebentar dan kembali nanti?”
Carol : “Ach, tidak perlu begitu. Nando lepas. Malu tuch.”
Carol memukul lengan Nando agar melepaskan pelukannya. Boy dan Joya tersenyum melihat
orang-orang di sekitar mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.
Nanda, pria 34 tahun, jadi seorang bos mafia sejak usia 22 tahun. Memiliki perusahaan IT
terbesar di negara ini dan beberapa club malam dan kasino. Nanda juga memiliki
saham di beberapa hotel dan perusahaan lainnya.
Nando : “Secara legal, kakak tidak sekaya tuan Boy. Tapi kalau bersaing dengan dunia lain, tidak
ada yang bisa menandingi kekuatan kakak.”
Joya : “34 tahun? Kalau Bu Ana umur berapa?”
Carol : “Bulan lalu Bu Ana berulang tahun yang ke 29, Ny. Apa kita bisa memperkenalkan
mereka?”
Nando : “Kita harus cepat, acara sekolah Nadia 2 minggu lagi. Setidaknya mereka bisa datang
bersama sebagai papa dan mama Nadia.”
Boy : “Bagaimana kalau kita pertemukan mereka di kantor saja. Aku akan panggil Ana ke
ruanganku dan kita undang Nanda untuk makan siang bersama.”
Nando : “Saya rasa kakak tidak akan datang semudah itu, tuan Boy. Kakak cukup sibuk sich.
Atau kita undang Bu Ana kesini?”
Carol : “Apa alasannya? Aku rasa Bu Ana tidak mau datang kalau alasannya sepele.”
Mereka berempat jadi pusing sendiri dan akhirnya sibuk dengan cangkir teh masing-masing.
__ADS_1
*****
Sementara itu disebuah mall tak jauh dari sekolah Nadia,
Gadis cilik itu sedang menyelinap dari para bodyguardnya. Ia berlari kencang meninggalkan semua
pria kekar itu di belakangnya. Ia menuruni tangga eskalator dengan cepat dan
sampai di lobby mall. Nadia menuruni tangga dengan cepat dan berlari sepanjang
trotoar.
Terlalu sering menengok ke belakang, ia tidak melihat seseorang berjalan di depannya. Brak!
Nadia menabrak orang itu yang langsung memegang lengannya.
Ana : “Nak, kamu gak pa-pa? Kenapa kamu sendirian? Dimana ibumu?”
Nadia menatap mata Ana yang terlihat khawatir padanya. Ana celingukan ke sekitarnya, ia tidak
menemukan siapapun yang terlihat sedang mencari seseorang.
Ana : “Nak, kau harus minta maaf kalau sudah menabrak seseorang seperti tadi ya. Dan jangan
berlari seperti itu atau kau akan jatuh nanti.”
Nadia tertegun lagi saat mendengar Ana memanggilnya nak untuk kedua kalinya. Hatinya terasa
hangat mendengar kata-kata Ana. Selama ini belum pernah ada orang yang berani
menegurnya seperti itu.
Nadia : “Bukan urusanmu.”
Ana : “Nak, bicaramu kasar sekali. Kau harus belajar bersikap dan berbicara lebih sopan
atau kau akan kena masalah nantinya.”
Nadia : “Itu urusanku. Jangan cerewet, tante.”
Ana : “Nak, gak baik ngomong begitu. Dimana orang tuamu? Tidak seharusnya kau berkeliaran
sendirian.”
Nadia : “Mereka pergi jauh!”
Ana tertegun mendengar jawaban ketus Nadia. Nadia melihat beberapa bodyguard Nanda berlari
menyeberang jalan dan hampir menemukannya. Nadia menepis tangan Ana tanpa
mengatakan apapun dan berlari menyeberang jalan tanpa melihat kanan dan
kirinya.
Kejadiannya sangat cepat ketika Ana melihat ada sebuah mobil melaju kencang hampir menabrak
Nadia.
Ana : “Awas!!”
*****
"Awas!! Jangan lupa vote novel ini kk" kata Ana sambil nyengir lebar
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1