Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 - Ketahuan


__ADS_3

Melihat Joya


berjalan masuk ke ruang kerjanya, Boy kembali memanggil sekretaris Lia.


Boy :


“Sekretaris Lia, kemari sebentar.”


Lia : “Iy...


Iya, tuan.”


Boy : “Lia,


mungkin kamu sudah kenal dengan Joya karena sebelumnya dia magang di kantor


ini. Tapi mulai sekarang kamu harus memanggilnya nyonya muda. Joya sudah jadi


istriku sekarang.”


Lia : “Istri?!”


Boy : “Kenapa


kamu terkejut begitu?”


Lia : “Maaf,


tuan. Baik, tuan. Saya permisi.”


Boy : “Segera


eksekusi perintah saya tadi.”


Lia : “Baik, tuan.”


Wajar saja


sekretaris Lia terkejut ketika mengetahui kalau Boy sudah menikahi Joya.


Pernikahan mereka dirahasiakan sedemikian rupa hingga hanya yang diundang saja


yang mengetahuinya. Joya meminta Boy untuk tidak mengundang karyawan di


kantornya karena pasti akan menambah jumlah undangan. Sedangkan Joya hanya


mengundang bosnya dan beberapa teman dekatnya di kantor.


Tentu saja Rian


dan Niken mengetahui pernikahan Boy dan Joya. Sekretaris Lia berjalan dengan


cepat keluar dari ruang kerja Boy. Sementara Joya mendekati Boy dan berdiri di


sampingnya.


Joya :


“Maas...”


Boy : “Ya,


sayang?” Rian menahan tawanya mendengar Boy memanggil Joya dengan mesra.


Joya : “Mas,


apa seseorang akan di pecat hari ini?”


Boy : “Kenapa


kau menanyakan itu?”


Joya : “Jadi


gak ada yang akan dipecat?”


Boy :


“Tergantung?”


Joya :


“Tergantung apa?”


Boy :


“Tergantung apa yang kau janjikan untuk malam ini.”


Joya melirik


Rian yang tampak sibuk dengan ponselnya,                pura-pura


tidak mendengar apa yang dikatakan Boy. Joya menarik nafas panjang dan


mendekatkan dirinya pada Boy. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Boy tersenyum


lebar.


Boy : “Kau yang


bilang ya. Rian, hari ini tidak ada pemecatan. Tapi mereka harus diberi


peringatan. Pak Wika sudah datang?”


Rian : “Baru


sampai di loby, tuan. Saya akan menemuinya.”


Rian keluar


dari ruang kerja Boy, meninggalkan pasangan suami istri itu berdua saja. Boy


melirik Joya yang menunduk malu.


Boy : “Jadi...


nanti malam apa kau akan melakukan itu?”


Joya : “Iy...


Iya, mas.”


Boy : “Kenapa


kamu malu?”


Joya : “Saya


tidak pernah melakukan itu... tidak tahu gimana caranya.”

__ADS_1


Boy : “Trus


darimana kamu tahu tentang posisi itu?”


Joya : “Itu...


mb Putri yang bilang... katanya harus dicoba.”


Boy : “Apalagi


yang mb Putri bilang?”


Boy menarik


tangan Joya membuatnya terjatuh ke atas pangkuan Boy.


Joya : “Mas,


nanti ada yang masuk...”


Boy : “Gak


ada...”


Baru saja Boy


menarik tengkuk Joya ingin menciumnya, Rian masuk tanpa ketuk pintu dulu.


Rian : “Ups,


maaf tuan. Pak Wika sudah menunggu di ruang meeting. Permisi, tuan.”


Boy dan Joya


bengong melihat Rian muncul dan kembali menghilang dengan cepat. Joya buru-buru


bangkit dari pangkuan Boy dan berjalan ke sofa.


Boy bangkit dari


kursinya dan menyerahkan ponselnya pada Joya.


Joya : “Untuk


apa, mas?”


Boy : “Kalau


kau bosan. Passwordnya tanggal dan bulan ulang tahunmu. 4 digit.”


Joya baru ingat


kalau ia sama sekali tidak membawa ponsel ataupun dompet. Joya menerima ponsel


Boy dan duduk di sofa.


*****


Setelah berlalu


10 menit setelah Boy pergi meeting, Joya mulai merasa gabut. Ia melirik ponsel


Boy yang diletakkannya di samping tempat duduknya. Joya menekan angka ulang


tahunnya dan ponsel itu terbuka kuncinya.


Joya membaca


ponsel keluaran terbaru itu karena ponsel Joya bisa dibilang sangat sederhana.


Iseng, Joya


menekan aplikasi chat di ponsel Boy. Chat dari dirinya menjadi prioritas dalam


aplikasi chat itu. Joya tersenyum melihatnya. Ia meng-scroll beberapa chat yang


ada disana dan melihat beberapa chat masuk dengan profil wanita seksi tapi


tidak dibaca Boy.


Joya segera


keluar dari aplikasi chat itu takut kalau ada orang yang melihat Boy sedang


online dan malah menelponnya.


Joya berpindah


ke galeri, ia melihat-lihat foto yang diambil Boy, kebanyakan foto proyek dan


foto dirinya bersama beberapa orang yang diyakini Joya sebagai client Boy. Saat


ia melihat folder dengan nama Joya, Joya jadi penasaran. Ia celingukan sebentar


dan membuka folder itu.


Mata Joya


melotot melihat banyak sekali fotonya. Foto sedang memasak, berangkat kuliah, baru


mandi, sedang makan, sedang belajar, sampai ia terpaku melihat foto dirinya


bersama Boy. Foto yang diambil Boy saat Joya masih magang dan mereka menginap di


luar kota karena tugas kerja saat itu.


Tangan Joya


gemetar melihat foto mereka berdua yang sangat intim diatas tempat tidur. Joya


ingat dekorasi dalam kamar hotel itu dan langsung bisa menebak kapan foto itu


diambil. Joya memperbesar salah satu foto intimnya itu dan melihat dirinya


tidak berpakaian begitu pula dengan Boy.


Joya : “Kenapa


bisa ada foto ini? Tapi saat itu aku sekamar dengan kak Niken. Kapan mas Boy


mengambil foto ini?”


Joya


mengingat-ingat lagi perjalanan bisnis itu, ia ingat selama dua malam berturut-turut


ia tidak sadar dan selalu terbangun dengan kepala sakit dan dengan pakaian yang


tidak lengkap. Mata Joya terbelalak seperti menyadari sesuatu, jadi sejak

__ADS_1


dirinya belum lulus kuliah, Boy sudah melakukan sesuatu padanya tanpa dirinya sadar.


Tiba-tiba Joya


merasa kesal pada Boy, lagaknya saja sok cuek selama tiga tahun itu, tapi


rupanya Boy diam-diam melakukan hal seperti ini di saat Joya tidak sadar. Joya


kembali konsen melihat foto-foto mereka berdua.


Ia tidak


menyadari kalau Boy sudah masuk kembali ke ruang kerjanya bersama Rian. Mereka


berdua berdiri di belakang Joya, kepo dengan apa yang sedang dilihat Joya. Boy


yang melihat lebih dulu kalau Joya membuka galeri fotonya, langsung mendorong


Rian keluar dari ruang kerjanya.


Rian menatap


Boy seolah bertanya ada apa? Tapi Boy sudah menutup pintu dengan cepat tanpa


suara. Boy menarik nafas panjang, siap menerima reaksi Joya. Bagaimana pun dia


sudah ketahuan bukan?


Boy : “Sayang,


kamu lagi ngapain?”


Joya : “Mas!!


Ini apa maksudnya?!”


Boy : “Tuch,


kan marah. Alamat tidur diluar dech malam ini.” Batin Boy.


Ia berdehem


saat melihat fotonya dengan Joya yang sangat mesra.


Joya : “Jangan


coba-coba bohong, saya bisa tanya kak Rian dan kak Niken. Dan kalau mereka gak


mau bilang juga, saya terpaksa bilang sama Nyonya Besar.”


Boy : “Jangan ibu!!


Aku jawab jujur. Itu... kamu tenang dulu ya... kamu laper gak?”


Joya : “Jangan mengalihkan


pembicaraan, tuan Boy. Jelaskan maksud foto ini!” Joya semakin mendesak Boy.


Boy : “Itu...


Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku buat kamu gak sadar biar bisa tidur sama


kamu, disamping kamu.”


Joya : “Dan


pakaian saya...?”


Boy : “Aku...


khilaf membuka bajumu. Kamu juga mabuk, Joya. Kamu bilang panas, panas...”


Joya memandang


suaminya itu tidak percaya, bisa-bisanya ia merencanakan hal semesum itu. Joya


sebenarnya tidak marah, ia hanya syok mengetahui kalau Boy berani menjamah


tubuhnya disaat Joya tidak sadar.


Joya juga mulai


iba melihat wajah Boy yang pucat saat menjelaskan semuanya pada Joya, tapi Joya


melihat ada peluang untuknya bisa pulang ke rumah Nyonya Besar kalau dirinya


berpura-pura ngambek.


Joya : “Saya


mau pulang ke rumah Nyonya Besar.”


Boy : “Sayang,


jangan ngambek dong. Maafin mas...”


Joya : “Saya


mau nanti sore, pulang ke rumah Nyonya Besar.”


Boy : “Iya,


iya... Kita pulang kesana.”


Joya : “Saya


aja yang pulang. Mas tetap pulang ke apartment.”


Boy : “Joya!!”


Joya mengkerut


mendengar bentakan Boy, ia menunduk tidak berani menatap Boy.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”


dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2