
Melihat Joya
berjalan masuk ke ruang kerjanya, Boy kembali memanggil sekretaris Lia.
Boy :
“Sekretaris Lia, kemari sebentar.”
Lia : “Iy...
Iya, tuan.”
Boy : “Lia,
mungkin kamu sudah kenal dengan Joya karena sebelumnya dia magang di kantor
ini. Tapi mulai sekarang kamu harus memanggilnya nyonya muda. Joya sudah jadi
istriku sekarang.”
Lia : “Istri?!”
Boy : “Kenapa
kamu terkejut begitu?”
Lia : “Maaf,
tuan. Baik, tuan. Saya permisi.”
Boy : “Segera
eksekusi perintah saya tadi.”
Lia : “Baik, tuan.”
Wajar saja
sekretaris Lia terkejut ketika mengetahui kalau Boy sudah menikahi Joya.
Pernikahan mereka dirahasiakan sedemikian rupa hingga hanya yang diundang saja
yang mengetahuinya. Joya meminta Boy untuk tidak mengundang karyawan di
kantornya karena pasti akan menambah jumlah undangan. Sedangkan Joya hanya
mengundang bosnya dan beberapa teman dekatnya di kantor.
Tentu saja Rian
dan Niken mengetahui pernikahan Boy dan Joya. Sekretaris Lia berjalan dengan
cepat keluar dari ruang kerja Boy. Sementara Joya mendekati Boy dan berdiri di
sampingnya.
Joya :
“Maas...”
Boy : “Ya,
sayang?” Rian menahan tawanya mendengar Boy memanggil Joya dengan mesra.
Joya : “Mas,
apa seseorang akan di pecat hari ini?”
Boy : “Kenapa
kau menanyakan itu?”
Joya : “Jadi
gak ada yang akan dipecat?”
Boy :
“Tergantung?”
Joya :
“Tergantung apa?”
Boy :
“Tergantung apa yang kau janjikan untuk malam ini.”
Joya melirik
Rian yang tampak sibuk dengan ponselnya, pura-pura
tidak mendengar apa yang dikatakan Boy. Joya menarik nafas panjang dan
mendekatkan dirinya pada Boy. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Boy tersenyum
lebar.
Boy : “Kau yang
bilang ya. Rian, hari ini tidak ada pemecatan. Tapi mereka harus diberi
peringatan. Pak Wika sudah datang?”
Rian : “Baru
sampai di loby, tuan. Saya akan menemuinya.”
Rian keluar
dari ruang kerja Boy, meninggalkan pasangan suami istri itu berdua saja. Boy
melirik Joya yang menunduk malu.
Boy : “Jadi...
nanti malam apa kau akan melakukan itu?”
Joya : “Iy...
Iya, mas.”
Boy : “Kenapa
kamu malu?”
Joya : “Saya
tidak pernah melakukan itu... tidak tahu gimana caranya.”
__ADS_1
Boy : “Trus
darimana kamu tahu tentang posisi itu?”
Joya : “Itu...
mb Putri yang bilang... katanya harus dicoba.”
Boy : “Apalagi
yang mb Putri bilang?”
Boy menarik
tangan Joya membuatnya terjatuh ke atas pangkuan Boy.
Joya : “Mas,
nanti ada yang masuk...”
Boy : “Gak
ada...”
Baru saja Boy
menarik tengkuk Joya ingin menciumnya, Rian masuk tanpa ketuk pintu dulu.
Rian : “Ups,
maaf tuan. Pak Wika sudah menunggu di ruang meeting. Permisi, tuan.”
Boy dan Joya
bengong melihat Rian muncul dan kembali menghilang dengan cepat. Joya buru-buru
bangkit dari pangkuan Boy dan berjalan ke sofa.
Boy bangkit dari
kursinya dan menyerahkan ponselnya pada Joya.
Joya : “Untuk
apa, mas?”
Boy : “Kalau
kau bosan. Passwordnya tanggal dan bulan ulang tahunmu. 4 digit.”
Joya baru ingat
kalau ia sama sekali tidak membawa ponsel ataupun dompet. Joya menerima ponsel
Boy dan duduk di sofa.
*****
Setelah berlalu
10 menit setelah Boy pergi meeting, Joya mulai merasa gabut. Ia melirik ponsel
Boy yang diletakkannya di samping tempat duduknya. Joya menekan angka ulang
tahunnya dan ponsel itu terbuka kuncinya.
Joya membaca
ponsel keluaran terbaru itu karena ponsel Joya bisa dibilang sangat sederhana.
Iseng, Joya
menekan aplikasi chat di ponsel Boy. Chat dari dirinya menjadi prioritas dalam
aplikasi chat itu. Joya tersenyum melihatnya. Ia meng-scroll beberapa chat yang
ada disana dan melihat beberapa chat masuk dengan profil wanita seksi tapi
tidak dibaca Boy.
Joya segera
keluar dari aplikasi chat itu takut kalau ada orang yang melihat Boy sedang
online dan malah menelponnya.
Joya berpindah
ke galeri, ia melihat-lihat foto yang diambil Boy, kebanyakan foto proyek dan
foto dirinya bersama beberapa orang yang diyakini Joya sebagai client Boy. Saat
ia melihat folder dengan nama Joya, Joya jadi penasaran. Ia celingukan sebentar
dan membuka folder itu.
Mata Joya
melotot melihat banyak sekali fotonya. Foto sedang memasak, berangkat kuliah, baru
mandi, sedang makan, sedang belajar, sampai ia terpaku melihat foto dirinya
bersama Boy. Foto yang diambil Boy saat Joya masih magang dan mereka menginap di
luar kota karena tugas kerja saat itu.
Tangan Joya
gemetar melihat foto mereka berdua yang sangat intim diatas tempat tidur. Joya
ingat dekorasi dalam kamar hotel itu dan langsung bisa menebak kapan foto itu
diambil. Joya memperbesar salah satu foto intimnya itu dan melihat dirinya
tidak berpakaian begitu pula dengan Boy.
Joya : “Kenapa
bisa ada foto ini? Tapi saat itu aku sekamar dengan kak Niken. Kapan mas Boy
mengambil foto ini?”
Joya
mengingat-ingat lagi perjalanan bisnis itu, ia ingat selama dua malam berturut-turut
ia tidak sadar dan selalu terbangun dengan kepala sakit dan dengan pakaian yang
tidak lengkap. Mata Joya terbelalak seperti menyadari sesuatu, jadi sejak
__ADS_1
dirinya belum lulus kuliah, Boy sudah melakukan sesuatu padanya tanpa dirinya sadar.
Tiba-tiba Joya
merasa kesal pada Boy, lagaknya saja sok cuek selama tiga tahun itu, tapi
rupanya Boy diam-diam melakukan hal seperti ini di saat Joya tidak sadar. Joya
kembali konsen melihat foto-foto mereka berdua.
Ia tidak
menyadari kalau Boy sudah masuk kembali ke ruang kerjanya bersama Rian. Mereka
berdua berdiri di belakang Joya, kepo dengan apa yang sedang dilihat Joya. Boy
yang melihat lebih dulu kalau Joya membuka galeri fotonya, langsung mendorong
Rian keluar dari ruang kerjanya.
Rian menatap
Boy seolah bertanya ada apa? Tapi Boy sudah menutup pintu dengan cepat tanpa
suara. Boy menarik nafas panjang, siap menerima reaksi Joya. Bagaimana pun dia
sudah ketahuan bukan?
Boy : “Sayang,
kamu lagi ngapain?”
Joya : “Mas!!
Ini apa maksudnya?!”
Boy : “Tuch,
kan marah. Alamat tidur diluar dech malam ini.” Batin Boy.
Ia berdehem
saat melihat fotonya dengan Joya yang sangat mesra.
Joya : “Jangan
coba-coba bohong, saya bisa tanya kak Rian dan kak Niken. Dan kalau mereka gak
mau bilang juga, saya terpaksa bilang sama Nyonya Besar.”
Boy : “Jangan ibu!!
Aku jawab jujur. Itu... kamu tenang dulu ya... kamu laper gak?”
Joya : “Jangan mengalihkan
pembicaraan, tuan Boy. Jelaskan maksud foto ini!” Joya semakin mendesak Boy.
Boy : “Itu...
Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku buat kamu gak sadar biar bisa tidur sama
kamu, disamping kamu.”
Joya : “Dan
pakaian saya...?”
Boy : “Aku...
khilaf membuka bajumu. Kamu juga mabuk, Joya. Kamu bilang panas, panas...”
Joya memandang
suaminya itu tidak percaya, bisa-bisanya ia merencanakan hal semesum itu. Joya
sebenarnya tidak marah, ia hanya syok mengetahui kalau Boy berani menjamah
tubuhnya disaat Joya tidak sadar.
Joya juga mulai
iba melihat wajah Boy yang pucat saat menjelaskan semuanya pada Joya, tapi Joya
melihat ada peluang untuknya bisa pulang ke rumah Nyonya Besar kalau dirinya
berpura-pura ngambek.
Joya : “Saya
mau pulang ke rumah Nyonya Besar.”
Boy : “Sayang,
jangan ngambek dong. Maafin mas...”
Joya : “Saya
mau nanti sore, pulang ke rumah Nyonya Besar.”
Boy : “Iya,
iya... Kita pulang kesana.”
Joya : “Saya
aja yang pulang. Mas tetap pulang ke apartment.”
Boy : “Joya!!”
Joya mengkerut
mendengar bentakan Boy, ia menunduk tidak berani menatap Boy.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”
dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
🌴🌴🌴🌴🌴