
Joya menemukan
pakaian yang dimaksud Boy dan juga pakaian dalam yang sangat seksi. Keningnya
mengkerut, kapan Boy menyiapkan semua ini? Tapi ia cepat-cepat masuk ke kamar
mandi, takut Boy keburu masuk dan malah meminta jatah lagi padanya.
Setelah selesai
memakai pakaiannya, Joya keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias. Ia
melihat wajahnya yang polos tanpa make up dan ingin memakai lipstik. Boy masuk
ke dalam kamar, ia melihat Joya menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya.
Boy : “Kenapa
sayang?”
Joya : “Mas,
saya gak bawa tas. Gak bisa pakai lipstik.”
Boy : “Coba
buka lacinya.”
Joya menatap
bingung pada Boy tapi tangannya membuka laci meja rias dan menemukan beberapa
make up di dalam laci itu.
Boy :
“Sepertinya Rian melakukan tugasnya dengan baik.”
Joya : “Mas
kapan nyiapin ini semua?”
Boy : “Setelah
aku mengajakmu kesini untuk pertama kalinya. Rian bilang kalau kau mungkin akan
perlu beberapa barang wanita disini. Siapa tahu kita akan menginap dan...”
Joya merasakan
Boy mengelus punggungnya,
Joya : “Dan
apa, mas?”
Boy : “Dan
siapa tahu kita khilaf...”
Wajah Joya
merona, jadi itu yang ada dipikiran Boy saat mereka berdua saja di apartment
saat itu.
Joya : “Mas kan
memang sempat khilaf waktu itu. Tapi saya gak sengaja nyikut mas.”
Boy : “Kamu
ingat? Apa yang kau rasakan saat itu?”
Joya : “Saya
takut, mas. Takut mas memaksa saya...”
Boy : “Kalau
itu terjadi, apa kau akan marah padaku?”
Joya : “Saya...
mungkin akan trauma melakukan itu.”
Boy : “Kalau
sekarang, trauma gak?”
Joya menunduk,
menggeleng malu. Tangannya mengambil satu persatu lipstik dengan warna netral
yang ada di dalam laci dan memilih warna pink. Ia menyapukan lipstik itu ke
bibirnya dan mengulumnya sebentar.
Setiap gerakan
Joya di perhatikan Boy dengan detail dan itu memancing hasratnya. Ia bergerak
mendekat dan mencium bibir Joya.
Joya : “Maas...”
Boy tidak
peduli dengan panggilan Joya, ia terus mencium istrinya itu sampai bibir Joya
memerah dan bengkak.
Joya : “Ssss...
sakit...”
Boy menegakkan
tubuhnya dan melihat hasil perbuatannya pada bibir Joya. Joya menatap bibirnya
yang aduhai di cermin.
Boy : “Sudah,
kamu gak perlu pake lipstik lagi kan?”
Joya : “Ya,
ampun. Mas nich...”
Boy : “Ayo kita
pergi sekarang.”
Mereka berdua
bersiap-siap keluar dari apartment Boy dan menuju lift. Beberapa orang sempat
melirik mereka yang tampak mesra.
Cewek 1 : “Lihat
bibirnya sampe gitu.”
Cewek 2 : “Iya,
ganas banget lakinya. Tapi ganteng oii...”
Cewek 1 : “Lakinya
apa pacarnya?”
Cewek 2 : “Coba
__ADS_1
kau goda dia.”
Joya menoleh
saat salah satu perempuan yang ada disana berjalan mendekati Boy yang berdiri
di sampingnya.
Cewek 1 : “Permisi,
boleh kenalan?”
Boy : “Anda
bicara dengan saya atau istri saya?”
Cewek 1 : “Oh,
istri ya. Maaf mengganggu.”
Pintu lift
terbuka dan Boy menarik Joya masuk ke dalamnya, cuek dengan perempuan yang tadi
mengajaknya kenalan.
Joya tersenyum
melihat reaksi Boy pada perempuan lain. Boy menunduk sedikit dan berbisik
melihat senyuman Joya.
Boy : “Jangan
tersenyum semanis itu. Atau kita balik lagi ke kamar sekarang.”
Kata-kata Boy
membuat Joya berhenti tersenyum, ia menunduk malu digoda suaminya.
*****
Sampai di
kantor Boy, semua orang di loby menatap mobil Boy yang berhenti di depan lobby.
Security segera membuka pintu untuk Boy yang langsung berlari kecil ke pintu
penumpang untuk membuka pintu untuk Joya yang masih kesulitan membuka sabuk
pengamannya.
Joya tercekat
saat Boy membantunya melepas sabuk pengaman, masalahnya Boy mencuri kesempatan
dengan menempelkan pipinya ke bibir Joya.
Boy : “Makasih,
sayang.”
Joya : “Apa?
Mas...”
Joya melirik
security yang masih menunggu bosnya, ia berharap perbuatan Boy barusan tidak
dilihat orang lain.
Boy : “Ayo
turun.”
Boy mengulurkan
tangannya pada Joya dan membantu istrinya turun dari mobil. Saat mereka
belakang Boy.
Boy sedikit
mengkerutkan keningnya melihat reaksi Joya, tapi ia menahan dirinya dan tetap
berjalan mendekati lift.
Semua orang : “Selamat
pagi, tuan Boy.”
Boy : “Pagi.”
Resepsionis : “Pagi,
Joya. Lama gak ketemu ya. Apa kabar?”
Joya : “Baik,
mb. Mb, apa kabar?”
Boy
mendengarkan percakapan Joya dengan resepsionis itu dan tersenyum. Ternyata
Joya cukup terkenal di kantornya. Saat Boy masih menunggu lift terbuka,
seseorang mendekati Joya yang masih bicara dengan resepsionis.
Staf 1 : “Joya?
Ngapain kamu kesini?”
Staf 2 : “Mau
ngapain lagi kalo gak godain tuan Boy.”
Joya : “Mb, apa
kabar?”
Staf 1 : “Gak
usah nanya kabar. Sok basa-basi lagi. Kamu kan uda selesai magang disini.
Ngapain kesini lagi?”
Staf 2 : “Jangan-jangan
sasarannya sekarang ke pak Rian.”
Joya : “Oh,
saya kesini...”
Rian : “Joya,
ayo masuk. Maksudku...”
Rian melihat
Joya menggeleng dan mengikuti Joya berjalan ke lift. Kedua staf tadi menengok
ke arah lift dan melihat Boy sudah menatap mereka dengan pandangan dingin yang
membekukan. Mereka berdua keburu kabur dari sana.
Boy tampak
kesal, ia masuk ke dalam lift tanpa mengajak Joya yang masih ngobrol dengan
Rian. Rian dan Joya saling pandang melihat Boy meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Joya : “Mas Boy
kenapa?”
Rian : “Apa
kamu gak tahu? Maksud saya, apa nyonya muda gak tau?”
Joya : “Jangan
manggil saya begitu, kak. Mas Boy kenapa?”
Rian : “Aku
saja kesal mendengar dua staf itu. Masa kamu gak kesal?”
Joya : “Kenapa
harus kesal? Mereka kan gak tahu saya sudah menikah dengan Mas Boy.”
Pintu lift di
sebelah mereka terbuka dan mereka berdua masuk ke dalamnya. Di dalam lift mereka
melanjutkan ngobrol,
Rian : “Entah
apa yang akan dilakukan tuan Boy pada dua orang itu. Dari caranya melihat tadi
sepertinya akan ada yang dipecat hari ini.”
Joya : “Oh,
jangan sampai mas Boy melakukan itu. Cepat cegah dia.”
Rian : “Sebaiknya
kita tunggu reaksi tuan Boy. Silakan, nyonya muda.”
Joya tidak bisa
berbuat apa-apa saat Rian kembali memanggilnya nyonya muda. Ia berjalan
mendekati pintu ruang kerja Boy dan hampir masuk ketika sekretaris Boy
memanggilnya.
Lia : “Joya?
Ngapain kamu kesini?”
Joya : “Pagi,
mb Lia. Saya...”
Lia : “Tuan Boy
sedang tidak ingin ditemui siapapun. Jangan masuk.”
Joya : “Ach,
baik. Saya tunggu disini saja ya.”
Lia : “Ngapain
lagi kamu kesini? Gak kerja?”
Joya : “Saya
sedang cuti, mb.”
Lia : “Kamu
kesini gak ada maksud tertentu kan?”
Joya : “Maksud,
mb?”
Lia : “Yah, kau
tahu tuan Boy masih single, apa kau berniat menggodanya?”
Joya : “Saya...”
Lia : “Sudah,
sudah... bicara denganmu hanya buang-buang waktuku saja. Duduk disana, jangan
bergerak.”
Joya duduk di
kursi tunggu di dekat ruang kerja Boy. Sekretaris Lia meliriknya dengan
pandangan sinis dan masuk ke ruangan Boy.
Rian yang
menerima telpon tepat saat Joya keluar dari lift, masih sibuk bicara di telpon
saat ia melihat Joya duduk di kursi tunggu.
Rian : “Nyonya
sedang apa disini? Kenapa tidak masuk?”
Joya : “Itu
sekretaris Lia bilang kalau mas Boy tidak ingin menemui siapapun saat ini. Jadi
aku menunggu disini, kak.”
Rian : “Omong
kosong! Ayo, ikut.”
Joya mengekor
di belakang Rian yang berjalan mendekati pintu ruang kerja Boy. Ia membuka
pintu lebih lebar tepat saat sekretaris Lia hampir keluar dari sana.
Rian : “Silakan
masuk, Nyonya muda.”
Lia : “Nyo...
Nyonya muda??!!”
Joya berjalan
masuk sambil tersenyum pada sekretaris Lia yang langsung pucat.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”
dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
__ADS_1
🌴🌴🌴🌴🌴