Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 - Nyonya Joya


__ADS_3

Joya menemukan


pakaian yang dimaksud Boy dan juga pakaian dalam yang sangat seksi. Keningnya


mengkerut, kapan Boy menyiapkan semua ini? Tapi ia cepat-cepat masuk ke kamar


mandi, takut Boy keburu masuk dan malah meminta jatah lagi padanya.


Setelah selesai


memakai pakaiannya, Joya keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias. Ia


melihat wajahnya yang polos tanpa make up dan ingin memakai lipstik. Boy masuk


ke dalam kamar, ia melihat Joya menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya.


Boy : “Kenapa


sayang?”


Joya : “Mas,


saya gak bawa tas. Gak bisa pakai lipstik.”


Boy : “Coba


buka lacinya.”


Joya menatap


bingung pada Boy tapi tangannya membuka laci meja rias dan menemukan beberapa


make up di dalam laci itu.


Boy :


“Sepertinya Rian melakukan tugasnya dengan baik.”


Joya : “Mas


kapan nyiapin ini semua?”


Boy : “Setelah


aku mengajakmu kesini untuk pertama kalinya. Rian bilang kalau kau mungkin akan


perlu beberapa barang wanita disini. Siapa tahu kita akan menginap dan...”


Joya merasakan


Boy mengelus punggungnya,


Joya : “Dan


apa, mas?”


Boy : “Dan


siapa tahu kita khilaf...”


Wajah Joya


merona, jadi itu yang ada dipikiran Boy saat mereka berdua saja di apartment


saat itu.


Joya : “Mas kan


memang sempat khilaf waktu itu. Tapi saya gak sengaja nyikut mas.”


Boy : “Kamu


ingat? Apa yang kau rasakan saat itu?”


Joya : “Saya


takut, mas. Takut mas memaksa saya...”


Boy : “Kalau


itu terjadi, apa kau akan marah padaku?”


Joya : “Saya...


mungkin akan trauma melakukan itu.”


Boy : “Kalau


sekarang, trauma gak?”


Joya menunduk,


menggeleng malu. Tangannya mengambil satu persatu lipstik dengan warna netral


yang ada di dalam laci dan memilih warna pink. Ia menyapukan lipstik itu ke


bibirnya dan mengulumnya sebentar.


Setiap gerakan


Joya di perhatikan Boy dengan detail dan itu memancing hasratnya. Ia bergerak


mendekat dan mencium bibir Joya.


Joya : “Maas...”


Boy tidak


peduli dengan panggilan Joya, ia terus mencium istrinya itu sampai bibir Joya


memerah dan bengkak.


Joya : “Ssss...


sakit...”


Boy menegakkan


tubuhnya dan melihat hasil perbuatannya pada bibir Joya. Joya menatap bibirnya


yang aduhai di cermin.


Boy : “Sudah,


kamu gak perlu pake lipstik lagi kan?”


Joya : “Ya,


ampun. Mas nich...”


Boy : “Ayo kita


pergi sekarang.”


Mereka berdua


bersiap-siap keluar dari apartment Boy dan menuju lift. Beberapa orang sempat


melirik mereka yang tampak mesra.


Cewek 1 : “Lihat


bibirnya sampe gitu.”


Cewek 2 : “Iya,


ganas banget lakinya. Tapi ganteng oii...”


Cewek 1 : “Lakinya


apa pacarnya?”


Cewek 2 : “Coba

__ADS_1


kau goda dia.”


Joya menoleh


saat salah satu perempuan yang ada disana berjalan mendekati Boy yang berdiri


di sampingnya.


Cewek 1 : “Permisi,


boleh kenalan?”


Boy : “Anda


bicara dengan saya atau istri saya?”


Cewek 1 : “Oh,


istri ya. Maaf mengganggu.”


Pintu lift


terbuka dan Boy menarik Joya masuk ke dalamnya, cuek dengan perempuan yang tadi


mengajaknya kenalan.


Joya tersenyum


melihat reaksi Boy pada perempuan lain. Boy menunduk sedikit dan berbisik


melihat senyuman Joya.


Boy : “Jangan


tersenyum semanis itu. Atau kita balik lagi ke kamar sekarang.”


Kata-kata Boy


membuat Joya berhenti tersenyum, ia menunduk malu digoda suaminya.


*****


Sampai di


kantor Boy, semua orang di loby menatap mobil Boy yang berhenti di depan lobby.


Security segera membuka pintu untuk Boy yang langsung berlari kecil ke pintu


penumpang untuk membuka pintu untuk Joya yang masih kesulitan membuka sabuk


pengamannya.


Joya tercekat


saat Boy membantunya melepas sabuk pengaman, masalahnya Boy mencuri kesempatan


dengan menempelkan pipinya ke bibir Joya.


Boy : “Makasih,


sayang.”


Joya : “Apa?


Mas...”


Joya melirik


security yang masih menunggu bosnya, ia berharap perbuatan Boy barusan tidak


dilihat orang lain.


Boy : “Ayo


turun.”


Boy mengulurkan


tangannya pada Joya dan membantu istrinya turun dari mobil. Saat mereka


belakang Boy.


Boy sedikit


mengkerutkan keningnya melihat reaksi Joya, tapi ia menahan dirinya dan tetap


berjalan mendekati lift.


Semua orang : “Selamat


pagi, tuan Boy.”


Boy : “Pagi.”


Resepsionis : “Pagi,


Joya. Lama gak ketemu ya. Apa kabar?”


Joya : “Baik,


mb. Mb, apa kabar?”


Boy


mendengarkan percakapan Joya dengan resepsionis itu dan tersenyum. Ternyata


Joya cukup terkenal di kantornya. Saat Boy masih menunggu lift terbuka,


seseorang mendekati Joya yang masih bicara dengan resepsionis.


Staf 1 : “Joya?


Ngapain kamu kesini?”


Staf 2 : “Mau


ngapain lagi kalo gak godain tuan Boy.”


Joya : “Mb, apa


kabar?”


Staf 1 : “Gak


usah nanya kabar. Sok basa-basi lagi. Kamu kan uda selesai magang disini.


Ngapain kesini lagi?”


Staf 2 : “Jangan-jangan


sasarannya sekarang ke pak Rian.”


Joya : “Oh,


saya kesini...”


Rian : “Joya,


ayo masuk. Maksudku...”


Rian melihat


Joya menggeleng dan mengikuti Joya berjalan ke lift. Kedua staf tadi menengok


ke arah lift dan melihat Boy sudah menatap mereka dengan pandangan dingin yang


membekukan. Mereka berdua keburu kabur dari sana.


Boy tampak


kesal, ia masuk ke dalam lift tanpa mengajak Joya yang masih ngobrol dengan


Rian. Rian dan Joya saling pandang melihat Boy meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Joya : “Mas Boy


kenapa?”


Rian : “Apa


kamu gak tahu? Maksud saya, apa nyonya muda gak tau?”


Joya : “Jangan


manggil saya begitu, kak. Mas Boy kenapa?”


Rian : “Aku


saja kesal mendengar dua staf itu. Masa kamu gak kesal?”


Joya : “Kenapa


harus kesal? Mereka kan gak tahu saya sudah menikah dengan Mas Boy.”


Pintu lift di


sebelah mereka terbuka dan mereka berdua masuk ke dalamnya. Di dalam lift mereka


melanjutkan ngobrol,


Rian : “Entah


apa yang akan dilakukan tuan Boy pada dua orang itu. Dari caranya melihat tadi


sepertinya akan ada yang dipecat hari ini.”


Joya : “Oh,


jangan sampai mas Boy melakukan itu. Cepat cegah dia.”


Rian : “Sebaiknya


kita tunggu reaksi tuan Boy. Silakan, nyonya muda.”


Joya tidak bisa


berbuat apa-apa saat Rian kembali memanggilnya nyonya muda. Ia berjalan


mendekati pintu ruang kerja Boy dan hampir masuk ketika sekretaris Boy


memanggilnya.


Lia : “Joya?


Ngapain kamu kesini?”


Joya : “Pagi,


mb Lia. Saya...”


Lia : “Tuan Boy


sedang tidak ingin ditemui siapapun. Jangan masuk.”


Joya : “Ach,


baik. Saya tunggu disini saja ya.”


Lia : “Ngapain


lagi kamu kesini? Gak kerja?”


Joya : “Saya


sedang cuti, mb.”


Lia : “Kamu


kesini gak ada maksud tertentu kan?”


Joya : “Maksud,


mb?”


Lia : “Yah, kau


tahu tuan Boy masih single, apa kau berniat menggodanya?”


Joya : “Saya...”


Lia : “Sudah,


sudah... bicara denganmu hanya buang-buang waktuku saja. Duduk disana, jangan


bergerak.”


Joya duduk di


kursi tunggu di dekat ruang kerja Boy. Sekretaris Lia meliriknya dengan


pandangan sinis dan masuk ke ruangan Boy.


Rian yang


menerima telpon tepat saat Joya keluar dari lift, masih sibuk bicara di telpon


saat ia melihat Joya duduk di kursi tunggu.


Rian : “Nyonya


sedang apa disini? Kenapa tidak masuk?”


Joya : “Itu


sekretaris Lia bilang kalau mas Boy tidak ingin menemui siapapun saat ini. Jadi


aku menunggu disini, kak.”


Rian : “Omong


kosong! Ayo, ikut.”


Joya mengekor


di belakang Rian yang berjalan mendekati pintu ruang kerja Boy. Ia membuka


pintu lebih lebar tepat saat sekretaris Lia hampir keluar dari sana.


Rian : “Silakan


masuk, Nyonya muda.”


Lia : “Nyo...


Nyonya muda??!!”


Joya berjalan


masuk sambil tersenyum pada sekretaris Lia yang langsung pucat.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis”


dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak..

__ADS_1


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2