
Hari bahagia Andra pun tiba. Andra berjalan menuju pelaminan bersama kekasih masa kecilnya yang sekarang sudah jadi istri dan calon ibu bagi anak dalam kandungannya. Senyum bahagia menebar ke seluruh penjuru, menandakan betapa bahagianya kedua mempelai itu.
Tamu undangan mulai berbaris, mengantri untuk memberikan ucapan selamat. Tidak terlalu banyak yang datang karena kondisi mempelai wanita yang sedang hamil muda, membuat jumlah undangan dibatasi oleh Andra. Ia akan mengadakan pesta lagi setelah anak mereka lahir nanti.
Aldo menatap pintu masuk dengan cemas, ia menunggu Aliya sejak tadi yang tidak kunjung datang, padahal orang tua Aliya sudah datang lebih dulu. Malahan Deril yang datang bersama Mila, mereka terlihat serasi dengan pakaian berwarna biru muda.
Deril menatap Aldo yang kebingungan dan membisikkan sesuatu pada Mila.
Mila : “Aldo, sini!”
Aldo : “Kenapa? Aliya mana?”
Mila : “Tadi Aliya sama kita, tapi dia masih di belakang. Coba samperin sana.”
Aldo melongok ke belakang Mila dan melihat Aliya berjalan menaiki tangga rumahnya. Belum sampai Aliya ke atas tangga, Aldo sudah mencegatnya, menarik Aliya masuk ke kamarnya dari pintu samping rumah.
Aliya : “Aldo! Ngapain kita kesini?”
Aldo : “Aku kangen banget sama kamu. Kamu temenin aku disini ya.”
Aliya : “Besok kan kita bisa jalan-jalan. Nanti papamu nyariin kita, gimana?”
Aldo : “Peluk bentar aja.”
Aldo menatap Aliya yang terlihat cantik, ia meminta Aliya berputar dan memeluknya dari belakang. Aliya memeluk lengan Aldo yang melingkar di dadanya. Sedang asyik berduaan, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar Aldo yang tidak terkunci,
Mila : “Nah loo, ngapain kalian disini?!” Mila, Deril, Alma (adik Aldo), Alvin dan Rara berdiri di depan pintu kamar Aldo.
Aldo segera melepaskan pelukannya dari Aliya dan tersenyum malu, Aliya berjalan keluar kamar Aldo dengan wajah merona. Mereka segera berkumpul karena sesi foto bersama sudah dimulai.
-------
Saat sedang makan bersama, Aliya melotot melihat foto-foto pertunangannya dengan Aldo ikut ditayangkan di big screen. Bukan hanya itu saja, tapi foto saat mereka berciuman dan pelukan setelah tukar cincin tunangan juga ada disana. Dalam foto itu mereka terlihat sangat mesra dan alami, seolah tidak tahu kalau sedang di foto.
Aliya menginjak kaki Aldo dengan kesal, ia sangat malu karena tamu undangan mulai menatap mereka berdua.
Aldo : “Aduch, sayang. Jangan marah, mereka kan belum tahu kalau kita sudah bertunangan kemarin. Biarkan mereka tahu sekarang.”
Aliya : “Itu kerjaan siapa sich?”
Aldo : “Mungkin Andra, tapi aku senang, semua orang jadi tahu kalau kau sudah jadi milikku.”
Aliya : “Tapi aku malu, Al. Sekarang kita jadi pusat perhatian.”
Aldo : “Kita bisa pergi kalau kau mau, ke kamarku misalnya.”
Aliya : “Mesum! Belum cukup tadi pagi kita sudah kepergok.”
__ADS_1
Aldo : “Jangan cemberut gitu dong, aku jadi tidak tahan ingin menciummu. Ayo kita pergi, pestanya juga sudah mau selesai.”
Aliya dan Aldo pergi meninggalkan tempat resepsi, Aldo mengendarai mobilnya menuju sebuah apartment di pusat kota. Mobil Aldo memasuki parkiran bawah tanah dan berhenti di salah satu tempat parkir VIP.
Aliya : “Kita ngapain disini?”
Aldo : “Apa aku pernah cerita kalau disini aku punya apartment?”
Aliya : “Sepertinya belum pernah, setahuku papaku dan Alvin juga punya apartment disini. Cuma aku yang belum punya.”
Aldo : “Apartment ini untukmu, setelah kita menikah, proses balik namanya akan otomatis berjalan.”
Aliya kehilangan kata-katanya, sudah cukup kejutan yang Aldo berikan ketika merubah semua passwordnya menjadi ulang tahun Aliya. Kartu kredit unlimited, dan sekarang apartment.
Aliya : “Sekalian saja kau belikan aku mobil.”
Aldo : “Kau tinggal pilih warna yang kau suka, aku sudah membayar satu unit mobil untukmu disini, hanya saja aku belum mengambilnya dari dealer.”
Aliya : “Hais, berhentilah memberikan semua milikmu padaku. Atau kau akan menyesal ketika aku menghabiskannya nanti.”
Aldo : “Aku sudah pernah bilang kan, yang penting kau mau hidup bersamaku, aku bisa memberimu semua yang kumiliki.”
Aldo mencium tangan Aliya yang berhiaskan cincin pertunangan mereka. Beriringan mereka masuk ke dalam lift yang membawa mereka naik ke lantai apartment mereka.
Aldo menekan password pintu apartment, ya itu ulang tahun Aliya lagi. Aliya mengamati semua sudut ruangan setelah pintu terbuka. Apartment itu tidak besar, sama seperti apartment Boy dan Alvin, tapi desainnya sangat mewah.
Aldo mulai membuka kemeja formal yang ia pakai tadi dan berjalan ke kamar.
Aliya : “In your dream...”
Aldo tertawa mendengar kata-kata Aliya, ia masuk ke dalam kamar, membiarkan pintunya terbuka. Aliya ikut masuk ke dalam, bukannya mau ngintip, tapi ia hanya penasaran dengan interior kamar itu. Wow, kamar itu sangat indah dengan akses pemandangan kota yang terlihat jelas dari dalam kamar.
Sebuah tempat tidur ukuran king di taruh di tengah ruangan. Lemari besar menempel di dinding, membuat Aliya penasaran isi di dalamnya. Ia membuka salah satu pintu, deretan pakaian perempuan seukuran Aliya terpajang disana.
Aliya meraba satu persatu pakaian branded itu, sampai ia menemukan beberapa piyama seksi di gantungan paling ujung. Aliya mengambil piyama itu, keningnya mengkerut melihat betapa tipisnya pakaian itu.
Aldo : “Apa kau mau memakainya?”kata Aldo yang baru keluar kamar mandi, berbalut handuk.
Aliya : “Kenapa kau membeli ini?”
Aldo : “Kenapa? Ya untuk kau pakai tidurlah.”
Aliya : “Tapi ini tipis banget, gak ada yang lebih tipis lagi?”
Aldo : “Ada kayaknya, kamu beneran mau pakai? Aku bisa bantu kok.” Aldo menaik turunkan alisnya menggoda Aliya.
Aliya : “Yang di LN aja sudah membuatmu tidak tahan, apalagi yang ini. Kamu gak pakai baju?”
__ADS_1
Aldo : “Eh, iya. Kamu mau lihat?”
Aliya balik badan menghadap ke lemarinya lagi, membolak-balik pakaian yang ada disana. Ia juga ingin mandi dan ganti baju.
Aliya : “Al, kamu uda selesai pakai baju?”
Aldo : “Uda, kamu mau ngopi?”
Aliya : “Boleh, capucino ya. Aku mau mandi dulu.”
Aliya menunggu Aldo keluar dari kamar dan menutup pintu. Ia masuk ke dalam kamar mandi, melihat sekeliling kamar mandi dan mulai mandi.
Setelah ganti baju dan berhias sedikit, Aliya keluar kamar dan menemukan Aldo sedang bersantai di sofa. Dua gelas kopi sudah tersedia di atas meja. Aliya duduk di samping Aldo, menyenderkan tubuhnya pada sofa yang nyaman.
Aldo mendekatkan tubuhnya, merangkul Aliya, sehingga kini Aliya bersandar di dada Aldo.
Aliya : “Apa yang kau lakukan?”
Aldo : “Membalas chat papa mertuamu yang panik karena kau menghilang. Papa bahkan
tidak menanyakan aku ada dimana.”
Aliya : “Tentu saja papa khawatir, karena aku dibawa lari sama anaknya yang nakal.”
Aldo : “Memangnya sampai dimana kenakalanku?”
Aliya : “Apa perlu kukatakan semuanya?”
Aldo : “Kau selalu menyukai kenakalanku, Al. Dan berhentilah meraba dadaku. Aku setengah mati menahan diriku sejak kita datang kesini.”
Aliya : “Aku suka melihat wajahmu yang sedang menahannya, Al.”
Aldo meraup bibir manis Aliya dan melumatnya dengan lembut. Tangannya meraih remote TV dan menyalakan film romantis yang sudah ia siapkan tadi. Aldo melepaskan ciumannya dan mengarahkan Aliya menonton TV.
Aldo : “Sebaiknya kita nonton saja, atau kau mau melakukan hal lain?”
Aliya : “Sabar ya, sayang.”
Aldo : “Kalau sudah sah nanti, aku tidak akan menahan diriku lagi, Al.”
Aliya tersenyum, mereka menghabiskan sepanjang sore dengan menonton film sambil ngopi.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------