
Eps. 20 – Sandiwara Carol
Nanda menatap tajam pada Nando yang sudah pucat karena hampir ketahuan bohong.
Nando : “Kak, kami sedang bertengkar. Bisa gak kakak keluar dulu. Aku harus bicara berdua
sama Carol.”
Nando berdoa dalam hati agar seseorang menyelamatkannya kali ini. Nanda masih menatapnya
dengan tajam,
Nanda : “Oh, gitu. Cepatlah baikan. Kita harus membicarakan pernikahan kalian.”
Nanda keluar dari kamar dan menutup pintunya. Nando berjalan cepat mengunci pintu itu dan
terlihat lebih lega. Carol menatap ngeri pada Nando yang berjalan mendekatinya
dengan cepat.
Carol : “Jangan dekat-dekat. Apa maksudnya tadi?”
Nando terus mendekati Carol, ia mengambil kompres hangat di atas meja dan naik ke atas
tempat tidur.
Carol : “Nando, jangan mendekat lagi. Aku beneran gak bisa gerak.”
Nando : “Aku tahu. Tapi aku harus mengompresmu sekarang atau lebamnya akan lama sembuhnya.”
Carol : “Ja... jangan lihat. Aku gak pake apa-apa.”
Nando : “Diam! Atau aku buka selimutmu sekarang.”
Carol meringkuk memeluk kakinya, ia tersentak saat Nando menempelkan kompres hangat ke
punggungnya yang lebam. Pria itu sudah duduk di sampingnya.
Nando : “Maaf ya. Apa terasa sakit? Terlalu panas?”
Carol menggeleng dengan wajah sangat merah.
Nando : “Aku terpaksa mengatakan kalau kamu calon istriku. Kakakku itu sudah gila dan ingin
aku segera menikah. Dia tidak mau bantu kita tadi kalau aku gak bawa calon
istriku malam ini.”
Carol : “Jadi kamu belum punya calon istri?” Carol tersenyum malu menyadari dirinya sudah
salah paham.
Nando : “Sekarang punya.” Nando melihat Carol menatapnya kaget,
Carol : “Siapa?” Carol merasa kecewa lagi.
Nando : “Kenapa mau tahu?”
Carol : “Ach, maaf. Itu bukan urusanku.”
Nando melihat lebam di punggung Carol. Ia bergerak mendekat dan mencium lebam itu. Tubuh
Carol tercekat, ia meringis lagi merasakan sakit di punggungnya.
Nando : “Jangan takut. Aku gak bermaksud kurang ajar. Carol... nikah sama aku ya.”
Carol : “Jangan ngaco, deh. Kita baru kenal. Kamu gak tahu gimana aku, aku juga gak tahu gimana
__ADS_1
kamu.”
Nando : “Aku pria tampan, badanku bagus, punya pekerjaan bagus, rumah ada meskipun gak
sebesar vila ini, mobil ada, motor juga ada, aku juga punya tabungan yang
besarnya 9 digit angka. Orang tuaku sudah meninggal. Aku punya 1 kakak
laki-laki dan 1 adik perempuan. Ach, tambahan kakakku bos mafia. Dia bisa
menangkapmu dengan mudah.”
Carol melongo mendengar penjelasan Nando. Tubuhnya mulai gemetar ketika mendengar kata mafia.
Nando : “Tapi sebelum menangkapmu, dia akan membunuhku karena membohonginya.”
Nando meletakkan kompres hangatnya kembali ke tempat semula. Ia berbaring di depan
Carol, dan membolak-balik tubuhnya. Kebingungan jelas terlihat di wajahnya.
Carol memberanikan diri bicara tentang dirinya.
Carol : “Aku juga punya pekerjaan bagus, belum punya rumah sendiri masih tinggal sama orang
tua, aku punya 1 kakak perempuan yang sudah menikah, ayahku pekerja kantoran
juga, ibuku ibu rumah tangga biasa. Aku punya 3 ponakan, 2 laki-laki dan 1
perempuan. Kalau tabungan, aku gak punya banyak sich. Hobbyku nonton dan aku
gak bisa masak.”
Nando : “Aku bisa masak. Kamu suka makan apa?”
Nando berbaring menghadap Carol yang sudah menarik selimut menutupi kakinya.
Carol : “Apa ya? Aku suka semua makanan.”
Carol : “Sedikit. Tapi aku mau ke toilet dulu.”
Nando bangkit dan mengambil bathrobe di lemari. Ia membantu memakaikan bathrobe pada Carol
dan membantunya berdiri.
Nando : “Aku bisa gendong kamu, tapi punggungmu gimana?”
Carol : “Aku bisa jalan, kok. Pelan-pelan sich.”
Mereka masuk ke kamar mandi dan Nando keluar setelah mendudukan Carol di toilet. Carol
menyelesaikan urusannya di toilet dan membuka pintu kamar mandi. Nando membantu
Carol berjalan sampai ke tempat tidur.
Nando : “Jadi kita sudah saling mengenal garis besar kehidupan kita. Apa kita bisa nikah, Carol?”
Carol : “Kenapa kamu maksa, sich?”
Nando cemberut, ia beranjak mendekati pintu kamar dan hampir membuka pintunya.
Nando : “Aku akan mengaku sama kakak. Kamu istirahat aja ya.”
Carol : “Tunggu.”
Nando berbalik menghadap Carol lagi.
Carol : “Apa kau mencintaiku?”
__ADS_1
Nando : “Ya, aku jatuh cinta sama kamu.”
Carol : “Sejak kapan?” Ada rasa haru dalam pertanyaannya saat Nando menjawab dengan tegas.
Nando mengatakan sejak pertama kalinya Carol menjejakkan kakinya di meja kerjanya
yang sekarang. Saat itu Nando juga ada disana, menunggu meeting. Wajah Carol
memerah, sungguh ia tidak tahu kalau Nando memiliki rasa untuknya.
Carol : “Oh, aku gak lihat kamu.”
Nando : “Aku ketemu kakak dulu ya.”
Carol merasa kasihan pada Nando karena tekanan kakaknya. Ia memikirkan suatu cara agar
mereka bisa sama-sama saling membantu.
Carol : “Aku akan bantu kamu.”
Nando : “Apa kau serius?”
Carol : “Ya, kita bisa pura-pura bersama di depan kakakmu.”
Nando : “Apa kamu gak bisa mencintai aku?
Carol : “Tolong jangan paksa aku.”
Nando : “Apa kita bisa menikah?”
Carol mengangguk malu. Ia memegang bathrobenya dengan erat saat Nando mendekat dan
mencium keningnya sebelum Carol sempat menghindar.
Nando : “Makasih, Carol. Aku janji akan membuatmu mencintaiku sebelum pernikahan kita.”
Carol : “Semoga saja kau bisa. Orang tuaku juga belum tentu setuju denganmu.”
Nando : “Orang tuamu mungkin akan setuju kalau kakakku kesana melamarmu.”
Carol : “Jangan ancam orang tuaku.”
Nando : “Tentu saja tidak. Kakakku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan menemuinya
dulu. Kamu mau makan apa?”
Carol : “Apa aja. Nando, bajuku mana?”
Nando : “Tunggu ya. Aku segera kembali.”
Carol melihat sekeliling kamar itu setelah Nando pergi. Ia bangkit dan mencoba berjalan
perlahan mendekati pintu. Ketika ia membuka pintu itu, Carol mendengar suara
keras dari kamar di seberangnya. Dari celah pintu Carol bisa melihat Nanda
sedang menunjuk-nunjuk Nando yang tersungkur di lantai.
Carol mendorong pintu terbuka dan langsung melindungi Nando yang hampir kena pukul.
Nanda : “Minggir, kau sama saja. Pembohong!”
Carol : “Jangan kakak ipar! Jangan pukul dia!”
Nanda : “Kenapa aku gak boleh pukul? Kalian pembohong! Berani sekali membohongiku!”
*****
__ADS_1
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.