
Eps. 20 – Janda memikat
Ana : “Tuan,
jangan kurang ajar. Saya janda. Tolong jangan dekat-dekat.”
Nanda : “Kenapa
kalau janda? Kalau saya menyukai nona, apa nona akan menolak saya?”
Ana : “Tuan,
anda pasti bercanda, kan. Nadia sudah menunggu di kamarnya. Kita sebaiknya
segera kesana.”
Nanda : “Apa
menurut nona, kamar saya ini kurang kehangatan seorang wanita?”
Ana : “Saya
rasa orang seperti tuan sudah banyak memiliki wanita yang bisa menghangatkan
kamar tuan. Dan saya bukan salah satunya.”
Ana berjalan
keluar dari kamar Nanda, disusul oleh pria itu yang asyik memikirkan satu cara
agar Ana mau naik ke tempat tidur Nanda atas kemauannya sendiri.
Nadia
menggandeng tangan Ana ketika Ana mengajaknya pergi sekarang. Mereka tidak
melihat siapapun di ruang tamu ketika berjalan keluar dari villa. Tapi mobil
Boy masih ada di halaman villa Nanda.
Nanda membuka
pintu untuk Nadia dan Ana. Nadia duduk di pangkuan Ana dengan nyaman. Nanda
tersenyum tipis melihat semua itu. Ia berharap Ana mau membuka hatinya untuk
dirinya. Tapi semua itu tergantung sampai dimana Nadia bertahan dengan Ana.
Kalau Ana bisa terus menaklukkan Nadia seperti saat ini, Nanda akan dengan
senang hati menikahi janda cantik itu.
*****
Boy, Joya,
Nando dan Carol sedang duduk di pinggir kolam renang untuk menikmati makan
siang mereka. Tentu saja Ana tidak melihat mereka karena kolam itu berada jauh
dari tangga.
Nando : “Kenapa
kakak lama sekali sich? Bikin orang penasaran dan gak tenang.”
Carol : “Kenapa
kamu gak telpon kakak ipar aja. Tanya langsung.”
Nando : “Coba
ya.”
Nando mencoba
menelpon Nanda tapi Nanda mengabaikan suara ponselnya. Ia sedang asyik melamun
di samping Ana dan Nadia. Membayangkan dirinya dan Ana menikah terus dia akan
mengejarnya di malam pertama pernikahan mereka.
Tunggu, kenapa
mereka harus kejar-kejaran? Bukannya tidur saja akan lebih baik. Bagaimana
rasanya kalau mereka tidur berpelukan di atas ranjang? Nanda membayangkan Ana
berbaring di ranjangnya. Ia tidak pernah melakukan itu pada wanita lain,
membayangkan seorang wanita berbaring di ranjangnya.
Lamunan Nanda
terhenti, mereka sudah sampai di rumah Ana. Rumah kontrakan yang sangat kecil
menurut Nanda, tapi ketika mereka masuk bersama ke dalamnya. Rumah itu sangat
bersih dan nyaman. Ada sofa besar di depan TV, sebuah tempat tidur, AC, lemari,
kamar mandi, dapur, kulkas kecil, dan juga tempat menjemur di belakang.
Semuanya dalam satu ruangan yang sama.
Nadia : “Rumah
__ADS_1
tante wangi ya.”
Ana : “Itu
karena tante selalu mengatur pengharum ruangan bertepatan dengan jam pulang
kantor. Sebentar ya, tante ambil baju dulu.”
Nanda dan Nadia
duduk di atas sofa besar, sementara Ana mengambil satu stel pakaian kerjanya
untuk besok. Dan juga piyama tidur untuk malam ini. Ia segera siap karena tidak
mau Nanda dan Nadia menunggunya terlalu lama.
Ana : “Ayo,
tante sudah siap. Gak lama, kan?”
Nanda : “Kenapa
buru-buru? Kita belum dijamu disini. Apa tante Ana tidak mau bersikap baik?”
Ana mulai
menatap sebal kepada Nanda. Ia berjalan ke kulkas dan membuatkan sirup dingin
untuk Nanda dan Nadia. Ia juga menghidangkan kue kering yang dibuatnya sendiri.
Nadia memakan kue kering itu dengan nikmat.
Ana : “Pelan-pelan,
nak.”
Uhuk! Uhuk! Baru
saja Ana memperingatkan Nadia, gadis cilik itu sudah tersedak duluan. Ana
memberikan air putih pada Nadia. Ia memangku Nadia sambil menepuk-nepuk
punggungnya. Batuk Nadia cepat mereda dan Ana tersenyum padanya.
Nanda menikmati
suasana nyaman di rumah Ana. Ia belum ingin pergi dari sana. Melihat Ana
mengurus Nadia, membuatnya ingin berlama-lama bersama mereka.
Ana : “Sungguh
tidak sopan bertamu lama-lama, tuan Nanda.”
Nanda : “Apa
Ana : “Tuan
bisa pulang, Nadia bisa tetap disini. Ya kan, sayang.”
Nadia : “Iya,
tante.”
Nanda terdiam.
Ana hanya mau dekat dengan Nadia saja tapi tidak dengannya.
Nanda : “Kalau
Nadia disini, saya juga harus tetap disini.”
Nadia : “Tante,
kalau dirumah gini, tante ngapain aja?”
Ana menceritakan
kegiatannya di rumah pada Nadia sambil menyuapinya makan kue kering. Nanda
tentu saja menguping semua permbicaraan mereka sambil berpura-pura sibuk dengan
ponselnya.
Setelah kue
kering dan minuman habis, Ana membawa gelas kotor ke dapur dan langsung
mencucinya.
Ana : “Nadia,
mau buah?”
Nadia
menggeleng. Ia tidak suka makan buah, apalagi sayur dan tidak ada siapapun yang
bisa membujuknya.
Ana : “Oh, gak
suka sayur juga. Kalau tante yang masak, mau makan gak?”
Nadia terlihat
__ADS_1
ragu-ragu. Tapi ia ingin terus bersama Ana, jadi ia mengangguk. Nanda
membulatkan matanya lagi melihat Nadia setuju memakan sayur.
Nadia : “Kakak,
ayo kita pulang. Tante Ana mau masakin Nadia.”
Gadis cilik itu
menggandeng tangan Ana dan membiarkan Nanda membawa tas Ana. Bodyguard Nanda
langsung mengambil alih tas Ana dengan cepat dan mengunci pintu rumah Ana lagi.
Nadia : “Aku
mau makan masakan tante, tapi tante tinggal di rumahku ya.”
Ana : “Nadia,
tante kan uda bilang, tante cuma tamu. Dan tamu...”
Nadia : “Gak
boleh bertamu lama-lama. Tante...”
Nadia merajuk
manja pada Ana.
Ana : “Apa...”
Ana balik
merajuk pada Nadia. Keduanya tertawa geli sampai tubuh Ana terdorong ke samping
Nanda. Ana belum menyadari posisi tubuhnya menempel pada tubuh Nanda. Ia masih
asyik bercanda dengan Nadia. Nanda mengambil kesempatan melingkarkan tangannya
ke pinggang Ana.
Nadia yang
melihat kakaknya memeluk pinggang Ana, membuat Ana sangat sibuk menjawab
pertanyaannya. Ana hanya fokus mengobrol dengan Nadia sampai mereka tiba
kembali ke villa Nanda.
Saat Ana sadar
dimana letak tangan Nanda, ia menyikut perut Nanda dengan keras. Nanda
melepaskan tangannya, Ana segera keluar dari mobil bersama Nadia.
Ana : “Nadia,
dimana dapurnya?”
Nadia : “Sini,
tante.”
Boy dan Joya
bahkan sudah pulang saat mereka dalam perjalanan pulang. Nando dan Carol yang
sedang mengobrol di meja bar, menyapa Ana.
Carol : “Bu
Ana, dari mana?”
Ana : “Dari
rumah, ambil baju. Nadia minta saya nginep disini. Kamu masih disini, Carol?”
Nando : “Carol
suah jadi istri saya, Bu Ana.”
Ana : “Oh,
selamat atas pernikahan kalian. Btw, itu kakakmu belum nikah?”
Nando : “Belum,
bu. Bu Ana tertarik pada kakak saya?”
Ana : “Bukan
gitu. Carikan jodoh sana. Kasian kayaknya uda lama jomblo ya.”
Nando
mengatakan kalau kakaknya jomblo sejak lahir. Ana mengatakan pantas saja
tangannya gak bisa diem. Tapi saat Nando mengusulkan bagaimana kalau Ana yang
menikah dengan Nanda, Ana langsung menolaknya dan mengatakan tentang statusnya.
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.