Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Janda memikat


__ADS_3

Eps. 20 – Janda memikat


Ana : “Tuan,


jangan kurang ajar. Saya janda. Tolong jangan dekat-dekat.”


Nanda : “Kenapa


kalau janda? Kalau saya menyukai nona, apa nona akan menolak saya?”


Ana : “Tuan,


anda pasti bercanda, kan. Nadia sudah menunggu di kamarnya. Kita sebaiknya


segera kesana.”


Nanda : “Apa


menurut nona, kamar saya ini kurang kehangatan seorang wanita?”


Ana : “Saya


rasa orang seperti tuan sudah banyak memiliki wanita yang bisa menghangatkan


kamar tuan. Dan saya bukan salah satunya.”


Ana berjalan


keluar dari kamar Nanda, disusul oleh pria itu yang asyik memikirkan satu cara


agar Ana mau naik ke tempat tidur Nanda atas kemauannya sendiri.


Nadia


menggandeng tangan Ana ketika Ana mengajaknya pergi sekarang. Mereka tidak


melihat siapapun di ruang tamu ketika berjalan keluar dari villa. Tapi mobil


Boy masih ada di halaman villa Nanda.


Nanda membuka


pintu untuk Nadia dan Ana. Nadia duduk di pangkuan Ana dengan nyaman. Nanda


tersenyum tipis melihat semua itu. Ia berharap Ana mau membuka hatinya untuk


dirinya. Tapi semua itu tergantung sampai dimana Nadia bertahan dengan Ana.


Kalau Ana bisa terus menaklukkan Nadia seperti saat ini, Nanda akan dengan


senang hati menikahi janda cantik itu.


*****


Boy, Joya,


Nando dan Carol sedang duduk di pinggir kolam renang untuk menikmati makan


siang mereka. Tentu saja Ana tidak melihat mereka karena kolam itu berada jauh


dari tangga.


Nando : “Kenapa


kakak lama sekali sich? Bikin orang penasaran dan gak tenang.”


Carol : “Kenapa


kamu gak telpon kakak ipar aja. Tanya langsung.”


Nando : “Coba


ya.”


Nando mencoba


menelpon Nanda tapi Nanda mengabaikan suara ponselnya. Ia sedang asyik melamun


di samping Ana dan Nadia. Membayangkan dirinya dan Ana menikah terus dia akan


mengejarnya di malam pertama pernikahan mereka.


Tunggu, kenapa


mereka harus kejar-kejaran? Bukannya tidur saja akan lebih baik. Bagaimana


rasanya kalau mereka tidur berpelukan di atas ranjang? Nanda membayangkan Ana


berbaring di ranjangnya. Ia tidak pernah melakukan itu pada wanita lain,


membayangkan seorang wanita berbaring di ranjangnya.


Lamunan Nanda


terhenti, mereka sudah sampai di rumah Ana. Rumah kontrakan yang sangat kecil


menurut Nanda, tapi ketika mereka masuk bersama ke dalamnya. Rumah itu sangat


bersih dan nyaman. Ada sofa besar di depan TV, sebuah tempat tidur, AC, lemari,


kamar mandi, dapur, kulkas kecil, dan juga tempat menjemur di belakang.


Semuanya dalam satu ruangan yang sama.


Nadia : “Rumah

__ADS_1


tante wangi ya.”


Ana : “Itu


karena tante selalu mengatur pengharum ruangan bertepatan dengan jam pulang


kantor. Sebentar ya, tante ambil baju dulu.”


Nanda dan Nadia


duduk di atas sofa besar, sementara Ana mengambil satu stel pakaian kerjanya


untuk besok. Dan juga piyama tidur untuk malam ini. Ia segera siap karena tidak


mau Nanda dan Nadia menunggunya terlalu lama.


Ana : “Ayo,


tante sudah siap. Gak lama, kan?”


Nanda : “Kenapa


buru-buru? Kita belum dijamu disini. Apa tante Ana tidak mau bersikap baik?”


Ana mulai


menatap sebal kepada Nanda. Ia berjalan ke kulkas dan membuatkan sirup dingin


untuk Nanda dan Nadia. Ia juga menghidangkan kue kering yang dibuatnya sendiri.


Nadia memakan kue kering itu dengan nikmat.


Ana : “Pelan-pelan,


nak.”


Uhuk! Uhuk! Baru


saja Ana memperingatkan Nadia, gadis cilik itu sudah tersedak duluan. Ana


memberikan air putih pada Nadia. Ia memangku Nadia sambil menepuk-nepuk


punggungnya. Batuk Nadia cepat mereda dan Ana tersenyum padanya.


Nanda menikmati


suasana nyaman di rumah Ana. Ia belum ingin pergi dari sana. Melihat Ana


mengurus Nadia, membuatnya ingin berlama-lama bersama mereka.


Ana : “Sungguh


tidak sopan bertamu lama-lama, tuan Nanda.”


Nanda : “Apa


Ana : “Tuan


bisa pulang, Nadia bisa tetap disini. Ya kan, sayang.”


Nadia : “Iya,


tante.”


Nanda terdiam.


Ana hanya mau dekat dengan Nadia saja tapi tidak dengannya.


Nanda : “Kalau


Nadia disini, saya juga harus tetap disini.”


Nadia : “Tante,


kalau dirumah gini, tante ngapain aja?”


Ana menceritakan


kegiatannya di rumah pada Nadia sambil menyuapinya makan kue kering. Nanda


tentu saja menguping semua permbicaraan mereka sambil berpura-pura sibuk dengan


ponselnya.


Setelah kue


kering dan minuman habis, Ana membawa gelas kotor ke dapur dan langsung


mencucinya.


Ana : “Nadia,


mau buah?”


Nadia


menggeleng. Ia tidak suka makan buah, apalagi sayur dan tidak ada siapapun yang


bisa membujuknya.


Ana : “Oh, gak


suka sayur juga. Kalau tante yang masak, mau makan gak?”


Nadia terlihat

__ADS_1


ragu-ragu. Tapi ia ingin terus bersama Ana, jadi ia mengangguk. Nanda


membulatkan matanya lagi melihat Nadia setuju memakan sayur.


Nadia : “Kakak,


ayo kita pulang. Tante Ana mau masakin Nadia.”


Gadis cilik itu


menggandeng tangan Ana dan membiarkan Nanda membawa tas Ana. Bodyguard Nanda


langsung mengambil alih tas Ana dengan cepat dan mengunci pintu rumah Ana lagi.


Nadia : “Aku


mau makan masakan tante, tapi tante tinggal di rumahku ya.”


Ana : “Nadia,


tante kan uda bilang, tante cuma tamu. Dan tamu...”


Nadia : “Gak


boleh bertamu lama-lama. Tante...”


Nadia merajuk


manja pada Ana.


Ana : “Apa...”


Ana balik


merajuk pada Nadia. Keduanya tertawa geli sampai tubuh Ana terdorong ke samping


Nanda. Ana belum menyadari posisi tubuhnya menempel pada tubuh Nanda. Ia masih


asyik bercanda dengan Nadia. Nanda mengambil kesempatan melingkarkan tangannya


ke pinggang Ana.


Nadia yang


melihat kakaknya memeluk pinggang Ana, membuat Ana sangat sibuk menjawab


pertanyaannya. Ana hanya fokus mengobrol dengan Nadia sampai mereka tiba


kembali ke villa Nanda.


Saat Ana sadar


dimana letak tangan Nanda, ia menyikut perut Nanda dengan keras. Nanda


melepaskan tangannya, Ana segera keluar dari mobil bersama Nadia.


Ana : “Nadia,


dimana dapurnya?”


Nadia : “Sini,


tante.”


Boy dan Joya


bahkan sudah pulang saat mereka dalam perjalanan pulang. Nando dan Carol yang


sedang mengobrol di meja bar, menyapa Ana.


Carol : “Bu


Ana, dari mana?”


Ana : “Dari


rumah, ambil baju. Nadia minta saya nginep disini. Kamu masih disini, Carol?”


Nando : “Carol


suah jadi istri saya, Bu Ana.”


Ana : “Oh,


selamat atas pernikahan kalian. Btw, itu kakakmu belum nikah?”


Nando : “Belum,


bu. Bu Ana tertarik pada kakak saya?”


Ana : “Bukan


gitu. Carikan jodoh sana. Kasian kayaknya uda lama jomblo ya.”


Nando


mengatakan kalau kakaknya jomblo sejak lahir. Ana mengatakan pantas saja


tangannya gak bisa diem. Tapi saat Nando mengusulkan bagaimana kalau Ana yang


menikah dengan Nanda, Ana langsung menolaknya dan mengatakan tentang statusnya.


*****


Klik

__ADS_1


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2