
Rian yang
kembali ke depan kamar apartment Boy, mengetuk pintu dan mendapati pintunya
tidak tertutup sempurna. Rian masuk ke dalam dan melihat keadaan apartment yang
seperti kapal pecah. Sofa, meja, bahkan TV juga retak. Apartment itu seperti
habis kena angin topan.
Rian melihat
sekeliling mencari sosok Boy yang ternyata duduk sambil bersandar di samping
tempat tidurnya. Di sampingnya ada dua botol miras yang isinya sudah hampir
kosong.
Rian : “Tuan?”
Rian melihat
keadaan Boy yang mengenaskan, lebih mengenaskan dari keadaan Joya tadi. Dengan
perlahan, Rian menarik tangan Boy agar bangkit dan membaringkan bos-nya itu
diatas tempat tidurnya.
Rian : “Tuan,
kalau saja tuan mau dengar kata-kata saya tadi, pasti tidak akan begini
jadinya.”
Boy : “Joya...”
Rian menarik
selimut menutup tubuh Boy. Ia mengambil botol miras dan membawanya ke dalam
lemari penyimpanan Boy. Setelah itu Rian mengambil bantal dan membaringkan
tubuhnya di sofa apartement yang sudah ia kembalikan ke tempat semula. Rian
menghitung beberapa kerusakan yang harus ia perbaiki besok sebelum Boy bangun.
*****
Sementara itu
di rumah Ny. Besar, kakak laki-laki Boy tampak menggendong Joya keluar dari
mobil. Setelah menangis dengan kencang, Joya kelelahan dan akhirnya tertidur
pulas.
Joya
dibaringkan diatas tempat tidurnya. Hanya tinggal Ny. Besar, Ny. Putri, Ny.
Lastri, dan Bi Ijah di dalam kamar itu. Bi Ijah dan Ny. Putri melepas pakaian
Joya dan menggantinya dengan piyama tidur. Mereka semua bisa melihat bekas
cengkeraman Boy di lengan dan ada beberapa memar di tubuh Joya yang lain.
Ny. Lastri :
“Boy kasar banget, bu.”
Ny. Besar :
“Iya, lebamnya banyak sekali. Itu ada bekas gigitan juga.”
Ny. Putri
mengoleskan obat ke tubuh Joya yang merintih setiap kali lebamnya dibaluri
obat.
Ny. Besar : “Pelan-pelan,
Putri. Ijah, malam ini kamu tidur disini. Temani Joya.”
Bi Ijah :
“Baik, Ny. Besar.”
Ny. Besar :
“Untuk sementara mereka jangan kasih ketemu dulu. Apalagi kalo masih emosi. Ibu
yakin ini hanya salah paham. Rian akan mencari tahu besok, apa yang sebenarnya
terjadi.”
Ny. Lastri :
“Iya, bu. Lastri juga gak percaya kalau Joya seperti itu.”
Mereka semua
menatap Joya yang sesekali masih sesenggukan dan air mata terus keluar dari
sudut matanya.
*****
Keesokan
harinya, Joya terbangun dengan kondisi tubuh yang sakit. Ia tidak bisa
menggerakkan kedua tangannya dengan baik. Ketika ia ingin turun dari tempat
tidur, Joya terjatuh dengan keras.
Bum! Bi Ijah
sampai terlonjak bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, dan melihat
Joya berusaha bangun dari lantai.
__ADS_1
Bi Ijah : “Ny.
Joya mau kemana?”
Joya : “Saya
mau ke toilet, bi. Tapi badan saya lemes.”
Saking
lemesnya, Joya sampai ngompol ketika ia jatuh dari atas tempat tidur. Bi Ijah
membantu Joya bangun dan ingin membantu melepas pakaian Joya yang basah.
Joya : “Bi,
tolong ambilkan handuk dulu sama lap. Saya malu, bi.”
Bi Ijah
mengambil handuk dan membantu Joya melepas pakaiannya dulu.
Bi Ijah :
“Jangan malu sama saya, Ny. Tunggu sebentar saya ambil baju ganti dulu ya.”
Bi Ijah
membantu Joya berpakaian setelah mengelap tubuh Joya dengan tisu basah, tangan
Joya masih belum bisa digerakkan.
Bi Ijah : “Ny.
baring dulu ya. Saya akan membersihkan ini dulu.”
Joya menurut
karena memang ia tidak bisa bergerak bebas. Pandangannya teralihkan ke samping,
tempat Boy biasa tidur disana. Air matanya kembali menetes, tak kuasa menahan
kesedihannya karena keraguan Boy terhadap kesetiannya.
Joya : “Bi,
dimana mas Boy?”
Bi Ijah :
“Semalam masih di apartment, Ny. Ny. mau minum?”
Joya menggeleng,
ia tidak berselera untuk makan dan minum. Satu sisi hatinya sangat merindukan
sosok Boy tapi sisi lainnya masih terasa sakit.
Joya : “Bi,
dimana HP saya?”
Bi Ijah
itu dan menghidupkannya.
Deretan chat
dan juga pemberitahuan panggilan tak terjawab mulai masuk ke ponsel Joya. Ada
chat dari Meta menanyakan apa dirinya baik-baik saja? Tapi tidak ada satupun
dari Rio. Selebihnya hanya chat dan missed call dari Boy.
Joya bernafas
lega, ia membalas chat Meta dengan sangat lambatr dan memintanya menyampaikan
pesan pada manager operasional kalau Joya minta cuti beberapa hari. Joya juga
minta agar Meta jangan khawatir karena dirinya baik-baik saja dan ada masalah
pribadi yang harus ia selesaikan dulu.
Joya melihat
wallpaper pada ponselnya, ada foto dirinya dan Boy dalam busana pengantin. Joya
memejamkan matanya, ia mengerti kenapa Boy marah. Tapi hatinya sakit mendengar
tuduhan dari suaminya sendiri. Sungguh kejadian yang sebenarnya bukan seperti
yang dituduhkan Boy.
Flash back...
Meta tercengang
saat Rio berlutut di depannya membawa buket bunga mawar dan sebuah kotak, ia
menoleh menatap Joya yang sudah tersenyum manis dan berjalan menjauh dari
mereka berdua.
Rio : “Meta,
maukah kau menikah denganku?”
Meta : “Hah?!”
Rio : “Jawab
dong.”
Meta : “Iya,
aku mau.”
Rio dan Meta
tersenyum bahagia, Rio bangkit dan memberikan bunga itu pada Meta yang hampir
__ADS_1
menjatuhkannya karena gugup. Joya refleks memegangi bunga itu agar tidak jatuh.
Rio juga kesulitan membuka kotak kecil di tangannya, jadi ia melepaskan bunga
itu untuk dipegang Joya.
Rio : “Hehe...
susah buka kotaknya. Nah.”
Meta
mengulurkan tangannya dan Rio menyematkan cincin itu dengan pas di jari manis
Meta. Rio dan Meta saling berpegangan tangan dan mereka berpelukan. Tepat saat
Rian memanggil Joya agar mengikutinya ke mobil Boy.
Flash back
end...
Joya menahan
sesak di dadanya, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Menariknya lagi
dan menghembuskannya lagi, sampai ia merasakan tubuhnya semakin lemas. Bi Ijah
yang kembali dari dapur, tampak membawa susu segar di tangannya.
Bi Ijah : “Ny.
Joya. Bangun sebentar, minum susu dulu.”
Joya mendengar
panggilan Bi Ijah, tapi seluruh tubuhnya tidak terasa apa-apa. Tubuhnya mati
rasa, ia bahkan tidak bisa membuka matanya.
Bi Ijah : “Ny.?
Bangun...”
Bi Ijah
memegang lengan Joya dan merasakan badannya panas sekali. Joya menderita demam
tinggi. Dengan cepat Bi Ijah memberitahu Ny. Putri yang langsung menelpon
dokter Risman. Mereka semua sudah berkumpul di kamar Joya, ketika dokter Risman
datang dan memeriksa Joya.
dr. Risman :
“Joya hanya kelelahan dan dehidrasi. Sepertinya belum makan dan minum sejak
kemarin ya.”
Ny. Besar : “Iya,
dokter.”
dr. Risman :
“Saya pasangkan infus agar Joya cepat sadar dan demamnya turun. Kalau sudah
habis, bisa dicabut jarumnya dan tempel dengan plester ini.”
Ny. Besar :
“Baik, dokter. Terima kasih.”
Setelah dokter
Risman pergi, Ny. Besar duduk di samping Joya dan mengelus kepala Joya.
Ny. Besar :
“Maafkan ibu, nak. Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik.”
Ny. Lastri :
“Bu, sebaiknya ibu istirahat dulu. Joya sudah baik-baik saja sekarang.”
Ny. Besar : “Lastri,
ada kabar dari Rian?”
Ny. Lastri :
“Ini masih terlalu pagi, bu.”
Ny. Besar :
“Ach, iya. Kita saja belum sarapan.”
Ny. Besar
kembali mengelus kepala Joya dan mencium keningnya.
Joya : “Mmm...
mas... Boy...”
Mereka saling
pandang mendengar Joya mengigau memanggil nama Boy.
*****
Joya sampai
sakit loh. Tunggu up dari author ya kk yang baik. Ingat vote novel ini dan
novel author yang lain. Jadi author lebih semangat nich buat up yang banyak.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.