Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Sakit hati


__ADS_3

Rian yang


kembali ke depan kamar apartment Boy, mengetuk pintu dan mendapati pintunya


tidak tertutup sempurna. Rian masuk ke dalam dan melihat keadaan apartment yang


seperti kapal pecah. Sofa, meja, bahkan TV juga retak. Apartment itu seperti


habis kena angin topan.


Rian melihat


sekeliling mencari sosok Boy yang ternyata duduk sambil bersandar di samping


tempat tidurnya. Di sampingnya ada dua botol miras yang isinya sudah hampir


kosong.


Rian : “Tuan?”


Rian melihat


keadaan Boy yang mengenaskan, lebih mengenaskan dari keadaan Joya tadi. Dengan


perlahan, Rian menarik tangan Boy agar bangkit dan membaringkan bos-nya itu


diatas tempat tidurnya.


Rian : “Tuan,


kalau saja tuan mau dengar kata-kata saya tadi, pasti tidak akan begini


jadinya.”


Boy : “Joya...”


Rian menarik


selimut menutup tubuh Boy. Ia mengambil botol miras dan membawanya ke dalam


lemari penyimpanan Boy. Setelah itu Rian mengambil bantal dan membaringkan


tubuhnya di sofa apartement yang sudah ia kembalikan ke tempat semula. Rian


menghitung beberapa kerusakan yang harus ia perbaiki besok sebelum Boy bangun.


*****


Sementara itu


di rumah Ny. Besar, kakak laki-laki Boy tampak menggendong Joya keluar dari


mobil. Setelah menangis dengan kencang, Joya kelelahan dan akhirnya tertidur


pulas.


Joya


dibaringkan diatas tempat tidurnya. Hanya tinggal Ny. Besar, Ny. Putri, Ny.


Lastri, dan Bi Ijah di dalam kamar itu. Bi Ijah dan Ny. Putri melepas pakaian


Joya dan menggantinya dengan piyama tidur. Mereka semua bisa melihat bekas


cengkeraman Boy di lengan dan ada beberapa memar di tubuh Joya yang lain.


Ny. Lastri :


“Boy kasar banget, bu.”


Ny. Besar :


“Iya, lebamnya banyak sekali. Itu ada bekas gigitan juga.”


Ny. Putri


mengoleskan obat ke tubuh Joya yang merintih setiap kali lebamnya dibaluri


obat.


Ny. Besar : “Pelan-pelan,


Putri. Ijah, malam ini kamu tidur disini. Temani Joya.”


Bi Ijah :


“Baik, Ny. Besar.”


Ny. Besar :


“Untuk sementara mereka jangan kasih ketemu dulu. Apalagi kalo masih emosi. Ibu


yakin ini hanya salah paham. Rian akan mencari tahu besok, apa yang sebenarnya


terjadi.”


Ny. Lastri :


“Iya, bu. Lastri juga gak percaya kalau Joya seperti itu.”


Mereka semua


menatap Joya yang sesekali masih sesenggukan dan air mata terus keluar dari


sudut matanya.


*****


Keesokan


harinya, Joya terbangun dengan kondisi tubuh yang sakit. Ia tidak bisa


menggerakkan kedua tangannya dengan baik. Ketika ia ingin turun dari tempat


tidur, Joya terjatuh dengan keras.


Bum! Bi Ijah


sampai terlonjak bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, dan melihat


Joya berusaha bangun dari lantai.

__ADS_1


Bi Ijah : “Ny.


Joya mau kemana?”


Joya : “Saya


mau ke toilet, bi. Tapi badan saya lemes.”


Saking


lemesnya, Joya sampai ngompol ketika ia jatuh dari atas tempat tidur. Bi Ijah


membantu Joya bangun dan ingin membantu melepas pakaian Joya yang basah.


Joya : “Bi,


tolong ambilkan handuk dulu sama lap. Saya malu, bi.”


Bi Ijah


mengambil handuk dan membantu Joya melepas pakaiannya dulu.


Bi Ijah :


“Jangan malu sama saya, Ny. Tunggu sebentar saya ambil baju ganti dulu ya.”


Bi Ijah


membantu Joya berpakaian setelah mengelap tubuh Joya dengan tisu basah, tangan


Joya masih belum bisa digerakkan.


Bi Ijah : “Ny.


baring dulu ya. Saya akan membersihkan ini dulu.”


Joya menurut


karena memang ia tidak bisa bergerak bebas. Pandangannya teralihkan ke samping,


tempat Boy biasa tidur disana. Air matanya kembali menetes, tak kuasa menahan


kesedihannya karena keraguan Boy terhadap kesetiannya.


Joya : “Bi,


dimana mas Boy?”


Bi Ijah :


“Semalam masih di apartment, Ny. Ny. mau minum?”


Joya menggeleng,


ia tidak berselera untuk makan dan minum. Satu sisi hatinya sangat merindukan


sosok Boy tapi sisi lainnya masih terasa sakit.


Joya : “Bi,


dimana HP saya?”


Bi Ijah


itu dan menghidupkannya.


Deretan chat


dan juga pemberitahuan panggilan tak terjawab mulai masuk ke ponsel Joya. Ada


chat dari Meta menanyakan apa dirinya baik-baik saja? Tapi tidak ada satupun


dari Rio. Selebihnya hanya chat dan missed call dari Boy.


Joya bernafas


lega, ia membalas chat Meta dengan sangat lambatr dan memintanya menyampaikan


pesan pada manager operasional kalau Joya minta cuti beberapa hari. Joya juga


minta agar Meta jangan khawatir karena dirinya baik-baik saja dan ada masalah


pribadi yang harus ia selesaikan dulu.


Joya melihat


wallpaper pada ponselnya, ada foto dirinya dan Boy dalam busana pengantin. Joya


memejamkan matanya, ia mengerti kenapa Boy marah. Tapi hatinya sakit mendengar


tuduhan dari suaminya sendiri. Sungguh kejadian yang sebenarnya bukan seperti


yang dituduhkan Boy.


Flash back...


Meta tercengang


saat Rio berlutut di depannya membawa buket bunga mawar dan sebuah kotak, ia


menoleh menatap Joya yang sudah tersenyum manis dan berjalan menjauh dari


mereka berdua.


Rio : “Meta,


maukah kau menikah denganku?”


Meta : “Hah?!”


Rio : “Jawab


dong.”


Meta : “Iya,


aku mau.”


Rio dan Meta


tersenyum bahagia, Rio bangkit dan memberikan bunga itu pada Meta yang hampir

__ADS_1


menjatuhkannya karena gugup. Joya refleks memegangi bunga itu agar tidak jatuh.


Rio juga kesulitan membuka kotak kecil di tangannya, jadi ia melepaskan bunga


itu untuk dipegang Joya.


Rio : “Hehe...


susah buka kotaknya. Nah.”


Meta


mengulurkan tangannya dan Rio menyematkan cincin itu dengan pas di jari manis


Meta. Rio dan Meta saling berpegangan tangan dan mereka berpelukan. Tepat saat


Rian memanggil Joya agar mengikutinya ke mobil Boy.


Flash back


end...


Joya menahan


sesak di dadanya, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Menariknya lagi


dan menghembuskannya lagi, sampai ia merasakan tubuhnya semakin lemas. Bi Ijah


yang kembali dari dapur, tampak membawa susu segar di tangannya.


Bi Ijah : “Ny.


Joya. Bangun sebentar, minum susu dulu.”


Joya mendengar


panggilan Bi Ijah, tapi seluruh tubuhnya tidak terasa apa-apa. Tubuhnya mati


rasa, ia bahkan tidak bisa membuka matanya.


Bi Ijah : “Ny.?


Bangun...”


Bi Ijah


memegang lengan Joya dan merasakan badannya panas sekali. Joya menderita demam


tinggi. Dengan cepat Bi Ijah memberitahu Ny. Putri yang langsung menelpon


dokter Risman. Mereka semua sudah berkumpul di kamar Joya, ketika dokter Risman


datang dan memeriksa Joya.


dr. Risman :


“Joya hanya kelelahan dan dehidrasi. Sepertinya belum makan dan minum sejak


kemarin ya.”


Ny. Besar : “Iya,


dokter.”


dr. Risman :


“Saya pasangkan infus agar Joya cepat sadar dan demamnya turun. Kalau sudah


habis, bisa dicabut jarumnya dan tempel dengan plester ini.”


Ny. Besar :


“Baik, dokter. Terima kasih.”


Setelah dokter


Risman pergi, Ny. Besar duduk di samping Joya dan mengelus kepala Joya.


Ny. Besar :


“Maafkan ibu, nak. Ibu tidak bisa menjagamu dengan baik.”


Ny. Lastri :


“Bu, sebaiknya ibu istirahat dulu. Joya sudah baik-baik saja sekarang.”


Ny. Besar : “Lastri,


ada kabar dari Rian?”


Ny. Lastri :


“Ini masih terlalu pagi, bu.”


Ny. Besar :


“Ach, iya. Kita saja belum sarapan.”


Ny. Besar


kembali mengelus kepala Joya dan mencium keningnya.


Joya : “Mmm...


mas... Boy...”


Mereka saling


pandang mendengar Joya mengigau memanggil nama Boy.


*****


Joya sampai


sakit loh. Tunggu up dari author ya kk yang baik. Ingat vote novel ini dan


novel author yang lain. Jadi author lebih semangat nich buat up yang banyak.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2