
Eps. 21 – Gak
ada saksi
“Boy!!”
Brak! Ponsel
Joya dibanting lagi keatas meja hingga layarnya retak.
“Anak itu minta
dibejek-bejek! Ngomong sembarangan!”kemarahan Ny. Lastri sama mengerikannya
dengan kemarahan Ny. Besar.
Ny. Putri yang
kepo, menyambar ponsel Joya dan membaca pesan dari Boy. Kali ini ponsel Joya
dibanting ke lantai dan pecah berantakan. Joya hanya terima nasib ponselnya
dihancurkan kedua kakak iparnya.
“Mbak, jangan
marah-marah lagi. Nanti ibu denger.”pinta Joya sambil mengelap air matanya
dengan tisu.
“Tapi, Joya.
Kamu gak sakit hati?”
Joya hanya
diam, mau dibilang sakit hati ya jelas Joya sakit hati, tapi ia tidak mau
melihat Ny. Besar tambah marah melihat dan mendengar apa yang dikatakan Boy.
“Mbak, jangan
sampai ibu tahu ya. Biar kita aja yang tau mas Boy ngomong gitu.”
“Ngomong apa,
Joya?”
Deg! Deg! Ketiganya
menoleh melihat Ny. Besar berdiri di dekat mereka. “Ibu...”Joya melirik
ponselnya yang berantakan di lantai, belum sempat ia pungut.
“Joya, bilang
sama ibu, Boy bilang apa? HP siapa itu?”
“HP Joya, bu.
Mas Boy gak...”
“Boy nyalahin
Joya kalau sampai ibu sakit, bu. Pake bilang awas”Joya memejamkan matanya
mendengar kata-kata Ny. Putri yang bicara terus terang. Hatinya mencelos
melihat ekspresi ibu mertuanya yang tampak shock.
“Ibu!”pekik
Joya melihat Ny. Besar hampir jatuh.
Joya berlari
cepat menahan tubuh mertuanya, hingga dirinya yang tertimpa tubuh Ny. Besar
yang sudah pingsan. Kepala Joya terantuk di ujung meja pajangan hingga terluka
dan berdarah.
“Ibu! Joya!”
Kedua kakak ipar
Joya panik melihat Ny. Besar pingsan dan Joya yang berdarah. Keduanya segera dibawa
ke kamar Ny. Besar dan dokter Risman langsung datang dengan ambulance.
Boy yang masih
menunggu di depan rumah Ny. Besar di dalam mobilnya melihat ambulance masuk
kerumah itu. Ia keluar dari mobilnya dan ditahan security.
“Kenapa ada
ambulance? Ibu kenapa?”
“Saya gak tau,
tuan muda. Jangan masuk, tuan.”
“Aaarrgghhh!!!”teriak
Boy dengan frustasi.
Boy menelpon ke
__ADS_1
ponsel Joya, siap ngamuk pada istrinya itu tapi ponsel itu tidak aktif. Boy
menggenggam ponselnya dengan erat hampir membanting ponsel itu juga. Ia
berpikir untuk menelpon ke rumah.
Seorang pelayan
mengangkat telpon dari Boy dan mengatakan kalau Ny. Besar pingsan. Boy memaksa
masuk ke rumah itu, ia menerjang security yang berjaga dan berlari menaiki
tangga masuk ke dalam rumah.
Boy masuk ke
kamar Ny. Besar, ia melihat ibunya terbaring diatas tempat tidur sedang
diperiksa dokter Risman.
“Ngapain kamu
kesini?!”bentak Ny. Lastri melihat Boy masuk.
Bentakan Ny.
Lastri membuat Boy menoleh menatap mereka yang sedang duduk bersama Joya.
“Apa yang kau
bilang sama ibu?! Hah! Kebohongan apa yang kau bilang sampai ibu jadi gini!!”teriak
Boy pada Joya.
Mata Joya
berkaca-kaca mendengar Boy membentaknya tanpa melihat darah yang merembes dari
kepalanya. Ny. Lastri mendekati Boy dan Plak!, sebuah tamparan mendarat di pipi
kiri Boy. Plak! Tamparan mendarat lagi di pipi kanan Boy.
“Seharusnya
kamu tanya dirimu sendiri. Kata-kata kejam apa yang kau katakan pada Joya!
Pergi dari sini!! Security!! Bawa dia keluar!!”lengking Ny. Lastri marah besar.
Dua security
menarik paksa Boy keluar dari kamar Ny. Besar. Mereka meminta maaf dan meminta
Boy pergi sendiri. Boy mendengus kesal, ia sedang sangat marah sampai
kehilangan akal sehatnya.
Boy memutuskan
bisa membuktikan kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang dilihat Joya. Rian
yang kebingungan karena Boy menghilang, menahan nona Kristal yang tadi
mengobrol bersama Boy di ruang kerja Boy.
Kristal adalah
perwakilan MJ Grup yang sedang ingin bertemu langsung dengan Boy. Selain sangat
cantik, nona satu ini memang sangat suka menggoda pengusaha muda yang tampan.
Hanya untuk senang-senang saja tentunya.
Kristal
terpesona saat melihat Boy secara langsung, ia tahu kalau Boy sudah menikah
tapi bersikap pada Boy seolah Boy masih lajang. Saat perwakilan MJ Grup yang
lain sedang bersama Rian dan Carol di ruang meeting, Kristal mengajak Boy untuk
bicara secara pribadi.
Dengan alasan
ada sesuatu yang ingin dibahas Kristal secara pribadi, Boy tidak curiga dan
mengajaknya bicara di ruang kerjanya. Saat Boy hampir duduk di kursi kerjanya,
Kristal tiba-tiba jatuh. Boy segera membantu Kristal berdiri tapi dengan lihai
Kristal mendorong Boy hingga jatuh terduduk di kursi di belakangnya. Kristal
berpura-pura kakinya sakit dan tidak stabil, ia terjatuh di pangkuan Boy,
sempat menunduk mencium dada Boy dan saat itulah bekas lipstiknya tertinggal
disana.
Boy mendorong
Kristal tepat saat Joya masuk dan melihat semuanya. Boy tidak menyadari
kehadiran Joya awalnya karena Kristal terus menahannya. Tapi ketika ia melihat
kotak bekal yang terjatuh di samping pintu yang terbuka, Boy sadar kalau ada
seseorang yang datang dan memergoki mereka.
Boy berlari
__ADS_1
cepat keluar ruang kerjanya, ia tidak melihat siapapun di depan lift. Dengan
cepat Boy menelpon ke resepsionis, menanyakan tamu terakhir yang datang untuk
menemuinya. Mendengar nama Joya disebutkan, Boy langsung memanggil Rian untuk
menahan Kristal sementara ia mengejar Joya.
Menyadari
mungkin Kristal sudah menjebaknya, membuat darah Boy mendidih. Ia akan
membatalkan perjanjian kerja sama diantara perusahaannya dengan MJ Grup kalau
sampai Kristal tidak membantunya menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Joya
dan ibunya.
Steven
menggeleng pada Rian saat tidak menemukan apapun yang membuktikan kalau Boy
tidak berbuat salah. Di ruang kerja Boy
memang tidak dipasangi CCTV. Yang ada cuma di depan pintu ruang kerja Boy. Terlihat
saat Boy dan Kristal masuk kesana dan Joya menyusul dua menit kemudian. Tapi
keluar lagi. Sebenarnya itu lebih dari cukup untuk membuktikan Boy mungkin
tidak bersalah.
“Ada apa sich?”tanya
Steven.
“Sepertinya Ny.
Joya memergoki tuan muda sedang bersama nona Kristal. Aku yakin cuma salah
paham, tapi merembet sampai Ny. Besar pingsan dan tuan Boy ngamuk di rumah
besar.”ucap Rian. “Kamu gak bisa nyari celah lain?”
“Aku coba CCTV
di luar ya.”
Carol datang
dan mengatakan kalau nona Kristal memaksa untuk pulang. Ia sudah selesai dengan
urusannya disini dan tidak sabar lagi menunggu Boy kembali. Boy tiba tepat
waktu, ia langsung mencari Kristal di ruang meeting dan meminta semua orang
keluar.
Entah apa yang
mereka bicarakan di dalam sana, tapi Kristal keluar dengan wajah merah dan
tampak sangat kesal. Rian melangkah masuk ke ruang meeting, ia melihat Boy
mengacak-acak rambutnya dan terduduk di kursi dengan wajah marah.
“Maaf, bos. Apa
yang terjadi?”
Melihat Rian
mendekat, Boy berusaha meredakan amarahnya. Ia minta diambilkan minum,
pertengkarannya dengan Kristal membuat tenggorokannya kering.
“Panggil
pengacaraku, aku ingin membatalkan kerjasama dengan MJ Grup.”
“Tapi, bos. Itu
sama saja kerugian buat kita tahun ini.”
“Aku tahu. Kita
bisa memperbaikinya, Rian. Ini belum akhirnya. Kita masih punya waktu sampai
akhir tahun.”
“Kenapa, bos? Apa
alasannya?”
“Aku tidak mau
kerja sama dengan wanita penggoda. Karena ulahnya, Joya mengatakan kebohongan pada
ibu dan sekarang ibu sakit!”Boy memukul meja meeting dengan sangat kesal. Amarahnya
kembali memuncak ketika mengingat ibunya yang terbaring di tempat tidur.
“Ny. Joya berbohong?”
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.