Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Gak ada saksi


__ADS_3

Eps. 21 – Gak


ada saksi


“Boy!!”


Brak! Ponsel


Joya dibanting lagi keatas meja hingga layarnya retak.


“Anak itu minta


dibejek-bejek! Ngomong sembarangan!”kemarahan Ny. Lastri sama mengerikannya


dengan kemarahan Ny. Besar.


Ny. Putri yang


kepo, menyambar ponsel Joya dan membaca pesan dari Boy. Kali ini ponsel Joya


dibanting ke lantai dan pecah berantakan. Joya hanya terima nasib ponselnya


dihancurkan kedua kakak iparnya.


“Mbak, jangan


marah-marah lagi. Nanti ibu denger.”pinta Joya sambil mengelap air matanya


dengan tisu.


“Tapi, Joya.


Kamu gak sakit hati?”


Joya hanya


diam, mau dibilang sakit hati ya jelas Joya sakit hati, tapi ia tidak mau


melihat Ny. Besar tambah marah melihat dan mendengar apa yang dikatakan Boy.


“Mbak, jangan


sampai ibu tahu ya. Biar kita aja yang tau mas Boy ngomong gitu.”


“Ngomong apa,


Joya?”


Deg! Deg! Ketiganya


menoleh melihat Ny. Besar berdiri di dekat mereka. “Ibu...”Joya melirik


ponselnya yang berantakan di lantai, belum sempat ia pungut.


“Joya, bilang


sama ibu, Boy bilang apa? HP siapa itu?”


“HP Joya, bu.


Mas Boy gak...”


“Boy nyalahin


Joya kalau sampai ibu sakit, bu. Pake bilang awas”Joya memejamkan matanya


mendengar kata-kata Ny. Putri yang bicara terus terang. Hatinya mencelos


melihat ekspresi ibu mertuanya yang tampak shock.


“Ibu!”pekik


Joya melihat Ny. Besar hampir jatuh.


Joya berlari


cepat menahan tubuh mertuanya, hingga dirinya yang tertimpa tubuh Ny. Besar


yang sudah pingsan. Kepala Joya terantuk di ujung meja pajangan hingga terluka


dan berdarah.


“Ibu! Joya!”


Kedua kakak ipar


Joya panik melihat Ny. Besar pingsan dan Joya yang berdarah. Keduanya segera dibawa


ke kamar Ny. Besar dan dokter Risman langsung datang dengan ambulance.


Boy yang masih


menunggu di depan rumah Ny. Besar di dalam mobilnya melihat ambulance masuk


kerumah itu. Ia keluar dari mobilnya dan ditahan security.


“Kenapa ada


ambulance? Ibu kenapa?”


“Saya gak tau,


tuan muda. Jangan masuk, tuan.”


“Aaarrgghhh!!!”teriak


Boy dengan frustasi.


Boy menelpon ke

__ADS_1


ponsel Joya, siap ngamuk pada istrinya itu tapi ponsel itu tidak aktif. Boy


menggenggam ponselnya dengan erat hampir membanting ponsel itu juga. Ia


berpikir untuk menelpon ke rumah.


Seorang pelayan


mengangkat telpon dari Boy dan mengatakan kalau Ny. Besar pingsan. Boy memaksa


masuk ke rumah itu, ia menerjang security yang berjaga dan berlari menaiki


tangga masuk ke dalam rumah.


Boy masuk ke


kamar Ny. Besar, ia melihat ibunya terbaring diatas tempat tidur sedang


diperiksa dokter Risman.


“Ngapain kamu


kesini?!”bentak Ny. Lastri melihat Boy masuk.


Bentakan Ny.


Lastri membuat Boy menoleh menatap mereka yang sedang duduk bersama Joya.


“Apa yang kau


bilang sama ibu?! Hah! Kebohongan apa yang kau bilang sampai ibu jadi gini!!”teriak


Boy pada Joya.


Mata Joya


berkaca-kaca mendengar Boy membentaknya tanpa melihat darah yang merembes dari


kepalanya. Ny. Lastri mendekati Boy dan Plak!, sebuah tamparan mendarat di pipi


kiri Boy. Plak! Tamparan mendarat lagi di pipi kanan Boy.


“Seharusnya


kamu tanya dirimu sendiri. Kata-kata kejam apa yang kau katakan pada Joya!


Pergi dari sini!! Security!! Bawa dia keluar!!”lengking Ny. Lastri marah besar.


Dua security


menarik paksa Boy keluar dari kamar Ny. Besar. Mereka meminta maaf dan meminta


Boy pergi sendiri. Boy mendengus kesal, ia sedang sangat marah sampai


kehilangan akal sehatnya.


Boy memutuskan


bisa membuktikan kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang dilihat Joya. Rian


yang kebingungan karena Boy menghilang, menahan nona Kristal yang tadi


mengobrol bersama Boy di ruang kerja Boy.


Kristal adalah


perwakilan MJ Grup yang sedang ingin bertemu langsung dengan Boy. Selain sangat


cantik, nona satu ini memang sangat suka menggoda pengusaha muda yang tampan.


Hanya untuk senang-senang saja tentunya.


Kristal


terpesona saat melihat Boy secara langsung, ia tahu kalau Boy sudah menikah


tapi bersikap pada Boy seolah Boy masih lajang. Saat perwakilan MJ Grup yang


lain sedang bersama Rian dan Carol di ruang meeting, Kristal mengajak Boy untuk


bicara secara pribadi.


Dengan alasan


ada sesuatu yang ingin dibahas Kristal secara pribadi, Boy tidak curiga dan


mengajaknya bicara di ruang kerjanya. Saat Boy hampir duduk di kursi kerjanya,


Kristal tiba-tiba jatuh. Boy segera membantu Kristal berdiri tapi dengan lihai


Kristal mendorong Boy hingga jatuh terduduk di kursi di belakangnya. Kristal


berpura-pura kakinya sakit dan tidak stabil, ia terjatuh di pangkuan Boy,


sempat menunduk mencium dada Boy dan saat itulah bekas lipstiknya tertinggal


disana.


Boy mendorong


Kristal tepat saat Joya masuk dan melihat semuanya. Boy tidak menyadari


kehadiran Joya awalnya karena Kristal terus menahannya. Tapi ketika ia melihat


kotak bekal yang terjatuh di samping pintu yang terbuka, Boy sadar kalau ada


seseorang yang datang dan memergoki mereka.


Boy berlari

__ADS_1


cepat keluar ruang kerjanya, ia tidak melihat siapapun di depan lift. Dengan


cepat Boy menelpon ke resepsionis, menanyakan tamu terakhir yang datang untuk


menemuinya. Mendengar nama Joya disebutkan, Boy langsung memanggil Rian untuk


menahan Kristal sementara ia mengejar Joya.


Menyadari


mungkin Kristal sudah menjebaknya, membuat darah Boy mendidih. Ia akan


membatalkan perjanjian kerja sama diantara perusahaannya dengan MJ Grup kalau


sampai Kristal tidak membantunya menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Joya


dan ibunya.


Steven


menggeleng pada Rian saat tidak menemukan apapun yang membuktikan kalau Boy


tidak  berbuat salah. Di ruang kerja Boy


memang tidak dipasangi CCTV. Yang ada cuma di depan pintu ruang kerja Boy. Terlihat


saat Boy dan Kristal masuk kesana dan Joya menyusul dua menit kemudian. Tapi


keluar lagi. Sebenarnya itu lebih dari cukup untuk membuktikan Boy mungkin


tidak bersalah.


“Ada apa sich?”tanya


Steven.


“Sepertinya Ny.


Joya memergoki tuan muda sedang bersama nona Kristal. Aku yakin cuma salah


paham, tapi merembet sampai Ny. Besar pingsan dan tuan Boy ngamuk di rumah


besar.”ucap Rian. “Kamu gak bisa nyari celah lain?”


“Aku coba CCTV


di luar ya.”


Carol datang


dan mengatakan kalau nona Kristal memaksa untuk pulang. Ia sudah selesai dengan


urusannya disini dan tidak sabar lagi menunggu Boy kembali. Boy tiba tepat


waktu, ia langsung mencari Kristal di ruang meeting dan meminta semua orang


keluar.


Entah apa yang


mereka bicarakan di dalam sana, tapi Kristal keluar dengan wajah merah dan


tampak sangat kesal. Rian melangkah masuk ke ruang meeting, ia melihat Boy


mengacak-acak rambutnya dan terduduk di kursi dengan wajah marah.


“Maaf, bos. Apa


yang terjadi?”


Melihat Rian


mendekat, Boy berusaha meredakan amarahnya. Ia minta diambilkan minum,


pertengkarannya dengan Kristal membuat tenggorokannya kering.


“Panggil


pengacaraku, aku ingin membatalkan kerjasama dengan MJ Grup.”


“Tapi, bos. Itu


sama saja kerugian buat kita tahun ini.”


“Aku tahu. Kita


bisa memperbaikinya, Rian. Ini belum akhirnya. Kita masih punya waktu sampai


akhir tahun.”


“Kenapa, bos? Apa


alasannya?”


“Aku tidak mau


kerja sama dengan wanita penggoda. Karena ulahnya, Joya mengatakan kebohongan pada


ibu dan sekarang ibu sakit!”Boy memukul meja meeting dengan sangat kesal. Amarahnya


kembali memuncak ketika mengingat ibunya yang terbaring di tempat tidur.


“Ny. Joya berbohong?”


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2