
Minggu berikutnya setelah fitting baju pengantin, mereka akan melakukan sesi foto prawedding di beberapa tempat.
Mulai pagi ini di rumah Ny. Besar. Joya sudah berganti pakaian sekretaris dan Boy memakai jas kerjanya.
Mereka berfoto di ruang kerja kakek Boy. Terlihat Joya sedang bekerja di depan laptop dan Boy mengukungnya. Joya melihat ke samping dan Boy berpose mendekati wajahnya.
Fotografer : "Bagus, sekali lagi. Pengantin wanitanya ayo senyum."
Joya tersenyum manis dengan mata berbinar. Kemurniannya terpancar keluar mengusik hasrat Boy.
Mereka pindah pose, Boy berdiri agak bersandar ke meja kerja, dan Joya berdiri di depannya bingung harus berpose bagaimana.
Boy menarik lengan Joya hingga ia jatuh ke pelukan Boy. Cup. Boy sengaja mencium Joya membuat semua orang disana mesam-mesem melihatnya.
Fotografer : "Iihh... Cute banget dech. Aku suka kalo gini cemistrynya dapet."
Joya mendorong dada Boy, melepaskan ciuman mereka. Jepitan rambutnya sampai terlepas, membuat Boy menariknya lagi.
Boy : "Sayang, coba kamu pake lingeri."
Joya : "Apa?!"
Boy : "Kamu hot banget."
Bisikan mesum Boy membuat wajah Joya merona. Belum lagi tangannya yang nakal menyusuri paha Joya.
Fotografer : "Good! Perfecto! Kita pindah tempat."
Boy tersenyum lebar, tempat selanjutnya di kamar mereka. Boy menginginkan foto mesra mereka diatas ranjang.
Joya mengangkat baju tidur yang harus ia pakai untuk fotoΒ shot kali ini. Ia meneguk liurnya melihat betapa hotnya baju tidur itu.
Sebelum memakainya, Joya melihat ke tumpukan pakaian yang dibawa tim fotografer untuk kostumnya. Ia mencari sesuatu dan tersenyum lega ketika mendapatkannya.
Boy melirik Joya yang masuk ke kamar mereka. Matanya tidak lepas menatap Joya yang telah didandani dengan warna yang lebih berani.
Tubuhnya dibungkus baju tidur dengan leher rendah dan memakai sweater diluarnya.
Bibirnya terlihat sensual dengan lipstik berwarna pink glossy. Boy menahan dirinya untuk tidak mengusir semua orang keluar dari kamarnya.
Ia sungguh tidak tahan ingin menerkam Joya saat ini juga. Boy duduk di pinggir ranjang, Joya masih menunggu instruksi dari fotografer tapi Boy sudah menarik Joya hingga duduk di pangkuannya.
Boy memeluk pinggang Joya dengan erat. Boy mengatur letak tangan Joya membuat Joya terlihat sedang menggoda Boy.
Fotografer : "Lebih dekat lagi... Pengantin wanitanya ayo senyum."
Joya memaksa tersenyum menahan malunya. Sesi foto itu dimanfaatkan Boy dengan menyentuh seluruh bagian tubuhnya. Membuat Joya tidak berhenti mengipasi dirinya yang kepanasan.
Apalagi saat mereka duduk di atas ranjang, Boy berbaring sedikit bersandar pada sandaran tempat tidur dan Joya duduk di sampingnya.
Joya berpose menyibak rambutnya sambil tersenyum menatap Boy. Ia mulai pintar mencari pose yang aman.
Tapi tetap saja Boy menariknya hingga bersandar pada tubuh Boy. Hanya selimut yang jadi saksi bisu apa yang dilakukan tangan Boy dibawah sana.
Yang jelas, ketika fotografer berkata 'perfect, ganti lokasi' Joya langsung melompat turun dari atas ranjang dan berlariΒ masuk ke kamar mandi.
Boy terkekeh geli melihat tingkah Joya. Ia hanya meraba tubuh Joya dibawah selimut mencari titik sensitifnya, dan ia menemukannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Wajah Joya benar-benar merah padam saat ia keluar dari kamar mandi. Ia minta break sebentar untuk menenangkan jantungnya.
Joya mengambil air minum di dapur, ia belum mengganti pakaiannya dan Bi Ijah memuji kecantikannya,
Bi Ijah : "Cantik sekali, Joya. Harus sering-sering dandan gini ya."
Joya : "Gak mau, bi."
Bi Ijah : "Kenapa?"
__ADS_1
Joya : "Ntar gak dikasi keluar kamar sama tuan Boy."
Bi Ijah : "Loh, bagus kan. Biar cepet nambah cucunya Ny. Besar."
Joya : "Iih, bibi kok gitu sich."
Joya menunduk malu-malu digoda Bi Ijah. Ia tidak melihat Boy yang berjingkat masuk ke dapur dan berdiri di belakangnya.
Boy memberi isyarat untuk terus bicara pada Bi Ijah.
Bi Ijah : "Loh, kan emang bener. Bentar lagi Joya nikah sama tuan Boy. Trus malam pertama..."
Joya : "Malam pertama? Itu ngapain?"
Bi Ijah : "Ya, malam pertama pernikahan. Joya sama Tuan Boy tidur sama-sama."
Joya : "Oh, kayak sekarang ya. Joya sudah tidur satu tempat tidur sama tuan Boy. Cuma bedanya uda nikah gitu?"
Bi Ijah tepuk jidat, pusing jelasinnya. Bi Ijah tahu meskipun Joya dan Boy sudah sekamar, mereka belum melakukan hubungan suami istri.
Ny. Besar melarang Boy mendahului melakukan ritual itu sebelum mereka sah. Dan Boy mati-matian menjaga hasratnya saat Joya tertidur di sampingnya.
Bi Ijah : "Kalo cuma tidur gitu, kapan Tuan Muda kecil keluarnya."
Joya : "Oh iya ya. Trus gimana, bi."
Bi Ijah : "Mungkin tuan Boy bisa bantu jelasin?"
Deg! Joya menghentikan gerakannya, ia melirik ke belakang dan mendapati Boy sudah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti Joya.
Joya : "Eh, tuan. Saya lagi minum. Tuan mau minum?"
Boy : "Ayo ikut."
Joya meletakkan gelas di tangannya dan menatap Bi Ijah memohon pertolongan. Bi Ijah memberi isyarat untuk mengikuti Boy saja.
Boy berjalan ke arah halaman belakang rumah. Disana ada kolam renang dan juga halaman belakang yang cukup luas.
Joya yang tidak mahir berenang, sedikit panik, sempat memberontak di dalam air. Tapi saat ia melihat siapa yang memeluknya, Joya menjadi tenang.
Joya mencoba berenang ke atas ingin mengambil udara, tapi lagi-lagi Boy menciumnya didalam air. Membagi udara diantara mereka.
Foto bawah air itu benar-benar luar biasa hasilnya. Joya terlihat seperti bidadari yang sedang terbang di langit.
Setelah mencium Joya, Boy menariknya keatas.
Uhuk! Uhuk! Boy mengangkat tubuh Joya ke pinggir kolam renang. Ia menepuk punggung Joya yang terbatuk-batuk.
Boy : "Kamu gak pa-pa?"
Joya : "Tuan, uhuk! kenapa gak bilang dulu?"
Boy : "Baru nemu konsepnya tadi. Gak ada waktu jelasinnya."
Joya melihat arah tatapan Boy kearah dadanya. Joya baru menyadari baju tidur yang ia pakai jadi tembus pandang karena basah. Joya menunduk sambil merapatkan sweater menutupi tubuhnya.
Boy melihat sekeliling, banyak kru dan juga ART yang menonton mereka di foto.
Boy : "Ambilkan bathrobe, handuk! Cepat!"
Boy berteriak membuat ART disana kocar-kacir mengambil handuk di pinggir kolam renang dan memberikannya pada Boy. Joya merasakan pelukan Boy saat pria itu memakaikan bathrobe menutupi tubuh atasnya dan handuk untuk tubuh bawahnya.
Boy : "Ayo, ke kamar."
Boy membantu Joya bangun dan menuntunnya ke lantai 2.
Sampai di dalam kamar mereka, Boy menutup pintu dan menguncinya. Joya hampir membuka bathrobe-nya saat sadar dirinya hanya berdua dengan Boy.
Joya : "Tuan, saya ganti baju dulu ya."
__ADS_1
Joya membuka lemari ingin mengambil pakaian ganti tapi Boy menghentikannya. Tubuh Joya gemetar saat Boy memaksa menarik bathrobe dari tubuh Joya dan juga sweaternya.
Boy : "Kamu takut?"
Joya mengangguk, ia menggenggam erat handuk yang melingkar dipinggangnya.
Boy : "Maaf..."
Joya : "Kenapa minta maaf, Tuan?"
Boy : "Aku menceburkanmu ke kolam tanpa melihat akibatnya."
Wajah Joya merona lagi. Ia melepaskan pegangannya pada handuk yang juga dilepaskan Boy. Tangan Boy bergerak menurunkan baju tidur basah yang masih dikenakan Joya.
Joya : "Tuan..."
Boy : "Tenanglah, aku sudah menutup mataku."
Joya menoleh ke belakang, ia tersenyum melihat Boy sudah menutup matanya dengan kain berwarna hitam yang entah ia dapat darimana.
Joya memeluk lengannya, ia hanya tinggal memakai pakaian dalam saja. Saat Boy akan melepaskan pakaian dalam Joya, Joya menahan tangan Boy.
Joya : "Jangan, Tuan..."
Boy : "Aku gak akan ngintip."
Joya : "Rasanya aneh kalau Tuan membantu saya."
Boy : "Aneh kenapa?"
Joya : "Saya malu, Tuan. Bisa tunggu sebentar, saya pakai baju dulu."
Boy : "Gak mau. Tetap didepanku atau kubuka penutup mataku sekarang."
Joya : "Sa... Saya ganti baju di depan Tuan, gitu?"
Boy : "Iya, cepetan. Aku hitung sampai 25. Satu..."
Joya mengambil pakaian dalamnya di lemari dan dengan cepat menggantinya. Ia juga menarik asal saja baju kaos dan celana pendek.
Tepat saat Joya menurunkan kaosnya, Boy sudah selesai menghitung dan membuka penutup matanya. Joya ngos-ngosan memunguti pakaian basahnya di lantai.
Ia memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.
Joya : "Tuan, sudah selesai kan? Saya mau ke dapur dulu."
Boy : "Berani keluar, awas ntar malem."
Joya : "Trus saya harus diam disini terus, gitu?"
Boy : "Pijitin aku."
Joya : "Baik, tuan. Tapi..."
Boy : "Masi ngbantah."
Joya : "Bukan gitu, tuan. Tuan ganti baju dulu. Ntar masuk angin."
Boy tersenyum penuh kemenangan. Ia membuka kaosnya di depan Joya yang langsung balik badan sambil memejamkan matanya.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dan βDuren Manisβ dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
__ADS_1
π΄π΄π΄π΄π΄