
Deril meletakkan ponselnya ke atas meja, ia melihat jam sudah hampir jam 4 sore. Mereka harus segera berangkat ke bandara. Deril masuk ke kamar Mila, ia berdiri di depan pintu kamar mandi dan hampir mengetuk saat pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.
Deril melihat penampilan Mila yang hanya memakai handuk. Rambutnya sudah rapi tergerai, sebagian menutup pundaknya yang putih. Deril bisa mencium aroma sabun mandi dari tubuh Mila, membangkitkan gairahnya.
Wajah Mila memerah menatap Deril yang berdiri di depannya. Ia memegang erat handuk yang hanya menutupi bagian terpenting dari tubuhnya. Deg! Deg! Mata Mila tertuju pada bibir Deril, tiba-tiba ia merasa kepanasan lagi.
Deril : “Kau cantik...”
Mila : “Hah! Apa?”
Deril : “Aku... kita harus segera ke bandara. Aku mau ke toilet dulu. Kamu siap-siap ya.”
Deril segera masuk ke kamar mandi, setelah Mila menyingkir. Ia mengacak kepalanya yang tidak gatal, frustasi karena tidak bisa mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya takut hingga tidak tahu harus berkata apa.
Mila segera memakai pakaiannya dan mengemasi kopernya dengan cepat. Ia berjalan keliling kamar untuk
memastikan tidak ada yang tertinggal. Saat itu Deril keluar dari kamar mandi.
Deril : “Sudah siap? Ayo berangkat.”
Mila : “Iya, ayo.”
🌺🌺🌺🌺🌺
Beruntung jalanan sedikit lengang, sehingga mereka tidak terlambat tiba di bandara. Setelah menyerahkan kunci mobil pada orang yang sudah menunggu mereka, Deril mendorong troli yang berisi barang-barang mereka memasuki keberangkatan international.
Setelah melewati pengecekan barang dan tubuh, mereka berdiri mengantri di depan loket check in.
Deril : “Berikan tiket dan passportmu.”
Mila mengeluarkan dokumen itu dari dalam tasnya, Deril mendekati petugas yang berjaga dan meminta agar kursi mereka berdampingan. Untung saja mereka datang lebih awal, jadi hal itu bisa dilakukan.
Deril : “Kita bisa menunggu di ruang tunggu sampai ada panggilan. Apa kau lapar?”
Mila : “Mungkin kita bisa menunggu sambil minum kopi.”
Deril : “Ok, ayo.”
Mereka berjalan beriringan menuju coffe shop di dalam bandara. Pesawat mereka akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Deril ingin menggunakan kesempatan ini untuk membuat Mila melupakan kejadian panas yang terjadi dengan mereka tadi.
🌻🌻🌻🌻🌻
Pesanan mereka sudah diantarkan, Deril meminum sedikit kopinya yang masih panas,
Deril : “Ugh, panas sekali.”
Mila : “Seharusnya kau menunggu sebentar.”
Deril : “Aku bukan tipe orang yang sabar menunggu.”
Mila : “Kau ini sungguh lucu dan baik. Terima kasih karena sudah menolongku.”
Deril : “Memang apa yang kulakukan?”
__ADS_1
Mila : “Kau membantuku lepas dari Mike.”
Deril : “Apa kau yakin?”
Mila : “Maksudmu, Mike belum jera?”
Deril : “Bukan itu maksudku. Maksudku apa kau sungguh berterima kasih, aku juga mengambil keuntungan darimu, kan?”
Mila : “Aku tidak berpikir begitu. Meskipun aku akui ciumanmu sangat bagus.”
Deril : “Hanya sangat bagus? Kau yakin?”
Mila : “Ok, ciumanmu sangat luar biasa. Kau puas!”
Deril tersenyum lebar, ia menghirup kopinya sambil tetap menatap Mila. Mila juga tersenyum malu dan menghirup kopinya. Mereka kembali berbincang akrab seperti dua teman yang sudah saling mengenal sangat lama.
🍊🍊🍊🍊🍊
Setelah perjalanan panjang, Deril dan Mila tiba di bandara LN. Seseorang mendekati Deril dan menyerahkan kunci mobil padanya.
Deril : “Ayo, La. Aku antar pulang.”
Mila : “Ok.”
Mereka masuk ke dalam mobil Deril dan bergegas pergi ke apartment Mila. Sepanjang jalan, Mila mengoceh tanpa henti membuat Deril terus saja tersenyum.
Deril : “Apa kau lapar? Ayo makan.”
Mila : “Ini sudah tengah malam, mana ada restauran yang masih buka.”
Mila : “Boleh.”
Deril menghentikan mobilnya di parkiran apartment, ia menatap Mila yang sudah menatapnya.
Deril : “Ini apartmentku, kalau kau tidak keberatan aku bisa memasak sedikit makanan untuk kita. Setelah
itu aku antar kau pulang.”
Mila : “Aku tidak enak dengan orang tuamu. Takutnya mereka pikir aku bukan wanita baik-baik karena ke apartmentmu tengah malam gini.”
Deril : “Aku tinggal sendiri disini. Ayo.”
Mila menuruti ajakan Deril yang sudah menurunkan koper dan oleh-oleh dari dalam bagasi mobil.
Mila : “Turunkan koperku juga ya. Aku boleh numpang mandi?”
Deril tersenyum tipis, ia menurunkan koper Mila juga dan mendorongnya ke dekat Mila. Mereka masuk ke dalam apartment Deril.
Deril : “Kamarku ada disana, kau bisa memakai kamar mandinya. Aku akan memasak dulu. Kunci saja pintunya kalau kau merasa tidak nyaman.”
Mila : “Memangnya kau mau mengintipku?”
Deril : “Aku bisa melakukannya kalau aku mau, ini apartmentku.”
__ADS_1
Mila : “Aku percaya padamu, Ril. Kau pria yang baik.”
Deril : “Tapi pria yang baik akan jadi jahat kalau dia terus digoda, La. Aku yakin kau tahu tentang itu.”
Mila : “Ok, ok aku akan mandi. Masak yang enak ya.”
Deril menyelesaikan masakannya dan menghidangkan diatas meja makan, ia menguap lebar karena sudah lelah selama diperjalanan.
Deril duduk di sofa, menunggu Mila keluar dari kamarnya, ia tidak ingin membuat Mila merasa tidak nyaman. Ia juga tidak tahu apa bisa menahan dirinya kalau melihat tubuh Mila lagi.
🌎🌎🌎🌎🌎
Deril merasakan seseorang bersandar di bahunya, ia membuka matanya menatap Mila yang sudah tertidur di sampingnya. Selimut menutupi tubuh mereka berdua, Deril memijat atas hidungnya yang sakit. Ia melihat diatas meja makan yang sudah rapi dan beberapa lampu apartmentnya sudah mati.
Deril melihat jam tangannya, sudah hampir pagi, tapi dia masih ingin tidur. Pelan-pelan Deril menggeser tubuhnya, ia membaringkan Mila di sofa dan menatapnya. Entah apa yang dipikirkan Deril, ia mengangkat tubuh Mila masuk ke dalam kamarnya.
Mila masih belum bangun, meskipun Deril sudah membaringkannya di atas ranjang. Tiba-tiba rasa kantuk yang dirasakan Deril hilang entah kemana, ketika dilihatnya paha mulus Mila yang belum tertutup selimut. Setengah mati ia berusaha menahan hasratnya, tapi tidak bisa.
Sudah sepuluh tahun lamanya ia tidak pernah bersentuhan lagi dengan wanita. Bukan karena tidak bisa, tapi ia tidak nyaman bersama wanita lain.
Deril kembali menatap Mila yang terbaring diatas ranjangnya. Tidak ada wanita lain yang pernah berbaring disana.
Aroma manis khas wanita mulai tercium dari tubuh Mila. Deril mendekatkan hidungnya, menyesap aroma manis itu dengan lembut tanpa membangunkam Mila.
Hasrat Deril semakin bergejolak, antara sekarang atau tidak. Malaikat dan setan terus saja menariknya kedua arah yang berbeda.
Sekali lagi ia melihat Mila dan kali ini, Deril benar-benar tidak bisa menahan dirinya lagi. Baginya apapun yang terjadi sekarang, dia sudah siap bertanggung jawab.
Tiba-tiba Mila membuka matanya, nafasnya memburu melihat Deril. Ia shock dan malu melihat keadaannya di depan Deril.
Mila : “Deril! Jangan…!” Mila menggelengkan kepalanya, menghindari ciuman Deril. Tangannya tidak bisa bergerak.
Deril : “La, sebentar saja…”
Mila : “Ja… jangan, Ril. Aku takut…” Ia mencoba menarik tangannya yang terikat kuat hingga terasa sakit.
Deril : “Nggak..."
Mila : “Jangan…! Stop...!” Deril tidak mau mendengar jeritan Mila, ia hanya ingin memiliki Mila seutuhnya.
Mila memalingkan wajahnya, air matanya sudah mengalir deras membasahi bantal Deril. Ia merasakan malu, takut, senang, gelisah disaat yang bersamaan.
Tangan Deril mengusap air mata Mila dan menciumnya lembut.
Wajah Mila memerah, ia menutup matanya tidak mau melihat Deril. Harta berharganya sebagai seorang wanita sudah hilang, direngut paksa oleh pria yang mulai dipercayainya ini.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
-------