
Mobil Boy memasuki halaman rumah Ny. Besar dan berhenti di tempat biasa. Joya keluar dari sana setelah mengucapkan terima kasih pada asisten Boy.
Asisten Boy : "Joya, lain kali kalau kamu diganggu lagi, hubungi aku ya."
Asisten Boy menyerahkan kartu namanya pada Joya, yang menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
Asisten Boy : "Atau kamu bisa menghubungi Tuan Boy..."
Joya : "Saya gak berani, kak. Takut mengganggu. Saya masuk dulu ya, kak. Terima kasih sudah mengantar."
Boy meraba kaca mobil, seolah melambaikan tangan pada Joya. Baru lewat beberapa hari tapi kerinduannya sudah hampir meledak.
Asisten Boy : "Tuan, sampai kapan mau seperti ini?"
Boy : "Sampai Joya lulus kuliah dan bekerja. Tapi rasanya lama sekali."
Asisten Boy : "Memang lama, Tuan. Paling cepat 3 tahun."
Boy : "3 tahun...!!! Darimana kamu tahu itu?"
Asisten Boy : "Sekarang saja sudah magang, sebentar lagi skripsi. Paling tidak perlu waktu 1 tahun kurang. Kemudian Joya baru bisa melamar pekerjaan setelah dinyatakan lulus kuliah. Dan biasanya perusahaan akan mengontrak karyawan baru selama 2 tahun sebelum diijinkan menikah. Tuan mau menikah dengan Joya kan?"
Boy : "Iya, kenapa juga aku harus menunggu selama itu. Apa yang bisa kulakukan sekarang?"
Asisten Boy : "Tuan hanya bisa mengawasi saja untuk saat ini. Membantunya mempercepat semuanya hanya akan merusak hubungan Tuan kalau Joya tahu yang sebenarnya. Bersabar, tuan."
Boy : "Coba kau katakan itu pada naluri priaku..."
Asisten Boy : "... Atau Tuan mau melampiaskannya pada Joya sekarang?"
Pleetaakkk!!!
Asisten Boy mengelus kepalanya yang benjol karena jitakan Boy.
Asisten Boy : "Saya bisa mengaturnya..."
Boy : "Berhenti bicara, cepat jalankan mobilnya. Kalau ibu dengar apa yang kau katakan tadi, ibu tidak akan membiarkan aku bertemu Joya lagi sampai Joya benar-benar siap."
Mobil Boy berjalan keluar dari halaman rumah Ny.Besar dan kembali ke apartment Boy.
------
Boy duduk di sofa apartmentnya, ia mengambil laptop di meja dan membukanya. Ia meng-klik aplikasi CCTV yang terhubung dengan CCTV di rumah Ny.Besar. Salah satu kebiasaan baru Boy setelah penolakan Joya adalah jadi penguntit.
Tampak Joya sedang berada di dapur, mencuci piring bekas makan malam keluarga Boy. Salah satu ART membantunya mengelap piring yang sudah bersih. Sesekali mereka ngobrol sambil tertawa.
Boy tersenyum melihat senyuman Joya, ia meraba layar laptop yang memuat gambar Joya.
Boy : "Aku kangen banget sama kamu, meskipun bisa melihatmu setiap hari tapi rasanya masih kurang."
Usai mencuci piring, Joya beranjak ke kamarnya. Ia membawa laptopnya dan pergi kearah gazebo di belakang rumah. Tempat mereka pernah mengerjakan pekerjaan dan tugas bersama.
Boy mengalihkan CCTV ke gazebo belakang dan melihat Joya baru saja duduk disana. Ia menghidupkan laptopnya dan mulai mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Sebuah buku tampak tergeletak di diatas meja disamping laptop.
Boy melihat foto seseorang diatas buku itu dan men-zoom CCTV. Ia tersenyum girang melihat fotonya disana.
Boy : 'Kalau kamu kangen aku, kenapa kamu gak ngirim chat?"
__ADS_1
Boy teringat sesuatu, apa mungkin Joya tidak tahu nomor ponselnya. Boy mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya,
Ny. Besar : "Malam, Boy. Ada apa?"
Boy : "Bu, apa Joya tahu nomor ponselku?"
Ny. Besar : "Memangnya kalian pernah tukaran nomor?"
Boy : "Eh, pernah dulu. Tapi kenapa Joya gak ngirim chat, bu?"
Ny. Besar : "Mungkin dia takut mengganggumu. Coba chat dia duluan."
Boy : "Kalau Boy chat duluan, nanti Joya gak konsen kuliahnya, Bu."
Ny. Besar : "Haduh, kalian ini sama saja. Bikin ibu pusing, ibu mau tidur dulu."
Boy cemberut karena ibunya ngambek. Ia melihat ke layar laptopnya dan melihat Joya seperti bicara pada fotonya. Boy melihat Joya mencium fotonya, ia juga menunduk mencium layar laptopnya. Boy fix uda mulai gila. Harusnya mereka bisa tetap bertemu dan bersikap biasa saja, tapi Boy terlanjur pindah dari rumah Ny.Besar karena emosi.
------
Pagi itu, Joya terlihat menyiapkan sarapan untuk semua orang saat Ny. Besar menghampirinya.
Ny. Besar : "Pagi, Joya."
Joya : "Pagi, Ny.Besar."
Ny. Besar : "Hari ini kamu bawa bekal lagi?"
Joya : "Iya, Ny.Besar. Kenapa Ny.?"
Joya : "...kurang sehat...? Baik, Ny. Besar."
Joya membayangkan sakitnya Boy seperti sebelumnya, sampai-sampai ia harus istirahat total karena kelelahan. Apa karena akhir-akhir ini Boy sering keluar kota?
Pikiran Joya berkecamuk di kepalanya, membuatnya melamun. Ny.Besar menahan tawanya melihat ekspresi Joya yang khawatir mendengar Boy sakit.
Ny. Besar : "Ya, sudah sana berangkat. Bekalnya Boy jangan lupa."
Joya membawa 2 tas bekal keluar rumah Ny.Besar. Ia sudah memesan ojol yang sedang dalam perjalanan. Joya mulai bingung bagaimana mengantarkan bekal ini, sementara akses ke lantai atas tidak diperbolehkan untuk magang kecuali didampingi karyawan.
Ojol menyapanya dan Joya naik ke boncengan. Ia memutuskan meminta bantuan pada Niken untuk mengantarnya ke lantai atas kantor Boy.
------
Joya sampai juga di kantor Boy, ia berjalan masuk ke lobby dan berpapasan dengan Tama.
Tama : "Pagi, Joya. Wah, hari ini kamu bawa 2 bekal. Untuk aku ya?"
Joya : "Ini bekal punya Tuan Boy. Aku duluan ya."
Joya berjalan cepat masuk ke dalam lift, Tama mengejarnya dan ikut masuk ke dalam lift.
Tama : "Masa buat Tuan Boy, pasti untuk aku kan."
Joya : "Tama, tolong jangan memaksa. Aku harus bilang berapa kali kalau aku gak suka bohong. Tolong jaga sikapmu."
Tama : "Buat apa kamu susah-susah buat bekal buat Tuan Boy. Memangnya kalian ada hubungan apa?"
__ADS_1
Joya : "Aku tinggal di rumah Tuan Boy. Ibunya memintaku membawakan bekal ini."
Tama : "Tidak mungkin...!"
Tring! Pintu lift terbuka, di lantai 6 dan Boy masuk ke dalam lift bersama asistennya. Joya dan Tama yang tadinya berdiri berdampingan, langsung merapat ke sudut lift kanan dan kiri.
Joya menahan nafasnya saat harum parfum Boy menari-nari di hidungnya. Ia ingin sekali menyapa Boy saat itu, tapi rasa takut menelan suaranya.
Asisten Boy : "Pagi, Joya. Dan kamu siapa?"
Tama : "Sa... saya Tama, mahasiswa magang."
Asisten Boy : "Kamu bawa apa, Joya?" Asisten Boy memandang penuh minat pada tas bekal yang dibawa Joya.
Joya : "Pagi, kak. Ini bekal untuk Tuan Boy. Titip ya kak." Joya berbisik dekat dengan asisten Boy agar Boy yang berdiri di depan mereka tidak mendengarnya.
Seulas senyum sekilas terlihat di bibir Boy ketika ia mendengar kata-kata Joya. Ia hanya fokus menatap layar ponselnya sejak masuk ke lift tadi.
Asisten Boy : "Kamu yang buat?"
Joya : "Ny. Besar yang buat, kak. Saya cuma dititipin."
Asisten Boy : "Aku juga mau dibuatkan bekal."
Joya : "Besok saya buatkan ya, kak. Sekarang tolong titip dulu buat tuan Boy."
Asisten Boy menerima bekal itu dan menatap wajah Joya yang sudah memerah. Ia pura-pura tidak melihat Boy yang sudah menatapnya tajam melalui pintu lift yang memantulkan bayangan mereka. Dirinya sudah cukup senang karena akan dibuatkan bekal oleh Joya. Meskipun besok bekal itu harus ia serahkan pada bosnya juga.
Sementara Tama mulai memahami hubungan ketiga orang ini, tapi ia tetap penasaran ada hubungan apa antara Joya dan Tuan Boy.
Tring! Pintu lift terbuka di lantai tempat ruangan kerja Joya dan Tama. Boy menyingkir ke sisi kanan lift dan bersandar disana.
Joya : "Permisi, pak."
Tama : "Permisi, pak."
Joya dan Tama bergegas keluar lift, meninggalkan Boy dan asistennya untuk melanjutkan ke lantai paling atas gedung itu.
Asisten Boy : "Wah, Tuan. Sepertinya besok kita tidak perlu makan siang keluar kantor."
Boy : "Berikan bekal itu..."
Asisten Boy pura-pura tidak mendengar dan sibuk mencium aroma masakan yang keluar dari kotak bekal itu.
Boy yang tidak sabar, merebut tas bekal itu dan membawanya sendiri. Asistennya terkekeh geli melihat tingkah posesif Boy.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
-------
__ADS_1