Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Penawaran Nanda


__ADS_3

Eps. 20 – Penawaran Nanda


Ana : “Tuan Nanda, tuan bisa bicara sekarang. Tolong berhenti menatap dada saya.”


Wajah Nanda memerah ketika Ana memergokinya sedang menatap dada Ana. Sudah sekian lama


Nanda hidup dan melihat wanita cantik bertebaran di hadapannya. Tapi Ana


membuatnya tertarik hanya karena Nadia menyukainya.


Nanda : “Saya ingin memberi penawaran yang tidak bisa nona tolak.”


Ana : “Tidak bisa atau tidak boleh?”


Nanda : “Bisa saya lanjutkan dulu? Saya ingin nona tinggal disini dan menjadi pengasuh


Nadia.”


Ana : “Maaf, tuan. Saya bukan baby sitter. Saya punya pekerjaan dan kehidupan yang baik.


Saya menolak penawaran tuan.”


Nanda : “Saya


akan membayar nona 2 kali lipat dari gaji yang nona terima saat ini.”


Ana :


“Penawaran yang bagus, tapi tidak, terima kasih.”


Nanda : “Kenapa


cepat sekali memutuskannya? Anda seharusnya senang bisa tinggal disini dengan


gratis tanpa perlu memikirkan tentang membayar kontrakan rumah.”


Ana : “Itu


bukan urusan anda. Tolong biarkan saya pergi dari sini. Anda tidak bisa menahan


saya disini.”


Nanda : “Tentu


saya bisa melakukannya dan bahkan tuan Boy tidak akan bisa menolong anda,


nona.”


Ana : “Apa yang


akan tuan lakukan kalau saya tetap menolak?”


Nanda :


“Menurut anda, apa yang bisa saya lakukan untuk memaksa nona agar menurut?”


Ana menelan


salivanya ketika Nanda menatap penuh minta pada tubuhnya. Ana berpikir dengan


cepat,


Ana :


“Sa...saya ada penawaran yang lebih baik. Bagaimana kalau saya tetap bekerja


dan tetap tinggal di rumah saya, tapi saya akan kesini untuk menemani Nadia


setelah pulang bekerja dan pulang setelah Nadia tidur.”


Nanda : “Saya


akan membuat ini adil. Silakan nona bernegosiasi dengan Nadia. Kalau dia setuju


dengan syarat nona, saya akan ikuti. Tapi kalau dia bersikeras, nona tidak


boleh menolak lagi. Deal?”


Ana tampak ragu


untuk menjawab  tapi mau gak mau dia harus


menerima penawaran Nanda kali ini. Ana langsung memikirkan sesuatu agar bisa


membujuk Nadia. Bagaimanapun ia tidak bisa tinggal di villa Nanda, statusnya


sebagai janda membuatnya tidak nyaman dekat-dekat dengan lelaki manapun.


Nanda yang


melihat wajah bingung Ana, tersenyum tipis. Apa yang membuat Nadia menyukai


wanita ini? Wajahnya memang cantik, badannya cukup bagus, sikapnya lembut pada


Nadia, tapi dia terlalu banyak bicara.


”Apa aku sudah


gila? Wajahnya yang memerah itu membuatku berdebar kencang. Apa aku kena


serangan jantung?”


Ana : “Saya


akan coba, tuan.”

__ADS_1


Nanda :


“Silakan menemui Nadia di kamarnya.”


Ana berjalan


keluar dan masuk ke kamar Nadia lagi. Nadia menatapnya dan spontan berlari


mendekatinya.


Ana : “Ach,


pelan-pelan, Nadia.”


Nadia : “Tante,


kenapa tante nangis?”


Ana : “Tante


kangen rumah, tante. Huhuhu... Tante mau pulang.”


Nadia : “Tante


gak sayang sama aku?”


Ana : “Tante


sayang sama Nadia. Tapi tante pengen pulang. Tante janji tiap pulang kerja,


tante akan kesini. Kita bisa main sama-sama, tante bantuin ngerjain PR, tante


masakin makanan kesukaan kamu. Gimana?”


Nadia tampak


berpikir, ia tidak mau Ana pergi, tapi Ana sampai menangis seperti itu karena


kangen rumahnya. Akhirnya Nadia mengangguk, menyetujui permintaan Ana. Tapi


untuk malam ini, ia ingin Ana tetap bersamanya.


Ana : “Tante


boleh pulang dulu kan? Tante kan gak bawa baju ganti.”


Nadia :


“Kakak!!”


Ana : “Oh,


astaga. Jangan berteriak seperti itu, nak. Kalau kamu mau memanggil orang yang


lebih tua, kamu harus mendekat dulu dan panggil dengan sopan.”


kata-kata Ana, ia membuka pintu kamarnya dan memanggil Nanda dengan lebih


lembut.


Nadia : “Kak


Nanda.”


Nanda : “Ya,


sayang? Mau apa?”


Ana


mengkerutkan keningnya. Pantas saja Nadia jadi manja dan terkadang suka


seenaknya. Nanda mendidiknya seperti itu.


Nadia : “Kakak,


tante Ana mau pulang sekarang mau ambil baju ganti. Kakak beliin baju ganti


buat tante Ana.”


Ana : “Nadia,


jangan seperti itu. Tante masih punya baju. Tante pulang sebentar ya.”


Nadia : “Besok


boleh pulang. Sekarang tante disini temenin Nadia.”


Ana :


“Nadia..!”


Nanda menahan


dirinya ketika mendengar Ana bersuara keras pada Nadia. Nadia menunduk, Ana


tertegun melihat Nadia seperti itu. Ia berjalan cepat memeluk Nadia dan meminta


maaf padanya.


Ana : “Maaf,


sayang. Tante gak maksud teriak sama kamu.”


Nadia : “Tante

__ADS_1


boleh pulang. Tapi Nadia ikut ya.”


Ana : “Ijin


dulu sama kakak ya.”


Nanda melongo


melihat Nadia yang biasanya mengamuk kalau keinginannya tidak dipenuhi, malah


menurut pada Ana. Ia segera berdehem ketika Nadia masih menunggu jawaban


darinya.


Nanda : “Kakak


antar ya. Ayo ke rumah tante Ana sama-sama.”


Ana : “Tidak


perlu merepotkan tuan. Kalau boleh, saya sama Nadia diantar sopir saja.”


Nanda : “Kalau


saya sudah berkeinginan siapapun tidak bisa menolaknya.”


Nanda berbisik


di dekat telinga Ana sambil melirik dadanya. Wajah Ana memerah lagi, ingin


sekali ia mengatai Nanda kurang ajar. Tapi ia menahan dirinya di depan Nadia.


Ana : “Tuan,


boleh saya pinjam slayer?”


Nanda : “Apa


itu slayer?”


Ana : “Kain


lebar untuk menutupi leher. Ada, tuan?”


Nanda : “Mungkin


ada. Ayo, ke kamar saya.”


Padahal Charlie


sudah menyiapkan kamar di depan kamar Nadia yang lemarinya penuh berisi pakaian


dan aksesoris wanita. Mereka akan dengan mudah menemukan slayer atau


barang-barang untuk wanita di dalam kanar itu.


Nanda meminta


Nadia untuk menunggu di kamarnya sementara Nanda dan Ana ke kamar Nanda yang


ada di sudut paling jauh dari lorong itu. Kamar Nanda terlihat suram dan gelap.


Catnya saja berwarna hitam di tiga bagian dindingnya dan satu bagian berwarna


putih. Perabotan di dalamnya juga dominan berwarna hitam dan putih.


Nanda


menunjukkan walk in closetnya pada Ana yang langsung mencari slayer. Saat itu


Ana tidak sempat berpikir kalau ia sudah masuk ke sarang macam yang terus saja


menatapnya. Ana menemukan beberapa slayer di laci paling bawah. Ia sampai


berjongkok agar bisa memilih salah satunya.


Nanda melihat


paha putih mulus Ana terpampang di depannya. Ia menelan salivanya melihat


bagian lain tubuh Ana. Ana berdiri lagi, ia mendekati cermin besar disana dan


memasang slayer menutupi dadanya. Ana merapikan penampilannya lagi, kali ini


mengikat rambut panjangnya tinggi ke atas.


Ana : “Tuan,


saya sudah siap. Ayo.”


Ana berjalan


mendekati pintu keluar, tapi Nanda menarik tangannya dan memeluk pinggang Ana.


Nanda menarik ikat rambut Nadia dan mengatur rambutnya. Ana yang kaget, segera


mundur untuk melepaskan pelukan Nanda.


Ana : “Tuan,


jangan kurang ajar. Saya janda. Tolong jangan dekat-dekat.”


*****


Klik

__ADS_1


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2