
Eps. 20 – Penawaran Nanda
Ana : “Tuan Nanda, tuan bisa bicara sekarang. Tolong berhenti menatap dada saya.”
Wajah Nanda memerah ketika Ana memergokinya sedang menatap dada Ana. Sudah sekian lama
Nanda hidup dan melihat wanita cantik bertebaran di hadapannya. Tapi Ana
membuatnya tertarik hanya karena Nadia menyukainya.
Nanda : “Saya ingin memberi penawaran yang tidak bisa nona tolak.”
Ana : “Tidak bisa atau tidak boleh?”
Nanda : “Bisa saya lanjutkan dulu? Saya ingin nona tinggal disini dan menjadi pengasuh
Nadia.”
Ana : “Maaf, tuan. Saya bukan baby sitter. Saya punya pekerjaan dan kehidupan yang baik.
Saya menolak penawaran tuan.”
Nanda : “Saya
akan membayar nona 2 kali lipat dari gaji yang nona terima saat ini.”
Ana :
“Penawaran yang bagus, tapi tidak, terima kasih.”
Nanda : “Kenapa
cepat sekali memutuskannya? Anda seharusnya senang bisa tinggal disini dengan
gratis tanpa perlu memikirkan tentang membayar kontrakan rumah.”
Ana : “Itu
bukan urusan anda. Tolong biarkan saya pergi dari sini. Anda tidak bisa menahan
saya disini.”
Nanda : “Tentu
saya bisa melakukannya dan bahkan tuan Boy tidak akan bisa menolong anda,
nona.”
Ana : “Apa yang
akan tuan lakukan kalau saya tetap menolak?”
Nanda :
“Menurut anda, apa yang bisa saya lakukan untuk memaksa nona agar menurut?”
Ana menelan
salivanya ketika Nanda menatap penuh minta pada tubuhnya. Ana berpikir dengan
cepat,
Ana :
“Sa...saya ada penawaran yang lebih baik. Bagaimana kalau saya tetap bekerja
dan tetap tinggal di rumah saya, tapi saya akan kesini untuk menemani Nadia
setelah pulang bekerja dan pulang setelah Nadia tidur.”
Nanda : “Saya
akan membuat ini adil. Silakan nona bernegosiasi dengan Nadia. Kalau dia setuju
dengan syarat nona, saya akan ikuti. Tapi kalau dia bersikeras, nona tidak
boleh menolak lagi. Deal?”
Ana tampak ragu
untuk menjawab tapi mau gak mau dia harus
menerima penawaran Nanda kali ini. Ana langsung memikirkan sesuatu agar bisa
membujuk Nadia. Bagaimanapun ia tidak bisa tinggal di villa Nanda, statusnya
sebagai janda membuatnya tidak nyaman dekat-dekat dengan lelaki manapun.
Nanda yang
melihat wajah bingung Ana, tersenyum tipis. Apa yang membuat Nadia menyukai
wanita ini? Wajahnya memang cantik, badannya cukup bagus, sikapnya lembut pada
Nadia, tapi dia terlalu banyak bicara.
”Apa aku sudah
gila? Wajahnya yang memerah itu membuatku berdebar kencang. Apa aku kena
serangan jantung?”
Ana : “Saya
akan coba, tuan.”
__ADS_1
Nanda :
“Silakan menemui Nadia di kamarnya.”
Ana berjalan
keluar dan masuk ke kamar Nadia lagi. Nadia menatapnya dan spontan berlari
mendekatinya.
Ana : “Ach,
pelan-pelan, Nadia.”
Nadia : “Tante,
kenapa tante nangis?”
Ana : “Tante
kangen rumah, tante. Huhuhu... Tante mau pulang.”
Nadia : “Tante
gak sayang sama aku?”
Ana : “Tante
sayang sama Nadia. Tapi tante pengen pulang. Tante janji tiap pulang kerja,
tante akan kesini. Kita bisa main sama-sama, tante bantuin ngerjain PR, tante
masakin makanan kesukaan kamu. Gimana?”
Nadia tampak
berpikir, ia tidak mau Ana pergi, tapi Ana sampai menangis seperti itu karena
kangen rumahnya. Akhirnya Nadia mengangguk, menyetujui permintaan Ana. Tapi
untuk malam ini, ia ingin Ana tetap bersamanya.
Ana : “Tante
boleh pulang dulu kan? Tante kan gak bawa baju ganti.”
Nadia :
“Kakak!!”
Ana : “Oh,
astaga. Jangan berteriak seperti itu, nak. Kalau kamu mau memanggil orang yang
lebih tua, kamu harus mendekat dulu dan panggil dengan sopan.”
kata-kata Ana, ia membuka pintu kamarnya dan memanggil Nanda dengan lebih
lembut.
Nadia : “Kak
Nanda.”
Nanda : “Ya,
sayang? Mau apa?”
Ana
mengkerutkan keningnya. Pantas saja Nadia jadi manja dan terkadang suka
seenaknya. Nanda mendidiknya seperti itu.
Nadia : “Kakak,
tante Ana mau pulang sekarang mau ambil baju ganti. Kakak beliin baju ganti
buat tante Ana.”
Ana : “Nadia,
jangan seperti itu. Tante masih punya baju. Tante pulang sebentar ya.”
Nadia : “Besok
boleh pulang. Sekarang tante disini temenin Nadia.”
Ana :
“Nadia..!”
Nanda menahan
dirinya ketika mendengar Ana bersuara keras pada Nadia. Nadia menunduk, Ana
tertegun melihat Nadia seperti itu. Ia berjalan cepat memeluk Nadia dan meminta
maaf padanya.
Ana : “Maaf,
sayang. Tante gak maksud teriak sama kamu.”
Nadia : “Tante
__ADS_1
boleh pulang. Tapi Nadia ikut ya.”
Ana : “Ijin
dulu sama kakak ya.”
Nanda melongo
melihat Nadia yang biasanya mengamuk kalau keinginannya tidak dipenuhi, malah
menurut pada Ana. Ia segera berdehem ketika Nadia masih menunggu jawaban
darinya.
Nanda : “Kakak
antar ya. Ayo ke rumah tante Ana sama-sama.”
Ana : “Tidak
perlu merepotkan tuan. Kalau boleh, saya sama Nadia diantar sopir saja.”
Nanda : “Kalau
saya sudah berkeinginan siapapun tidak bisa menolaknya.”
Nanda berbisik
di dekat telinga Ana sambil melirik dadanya. Wajah Ana memerah lagi, ingin
sekali ia mengatai Nanda kurang ajar. Tapi ia menahan dirinya di depan Nadia.
Ana : “Tuan,
boleh saya pinjam slayer?”
Nanda : “Apa
itu slayer?”
Ana : “Kain
lebar untuk menutupi leher. Ada, tuan?”
Nanda : “Mungkin
ada. Ayo, ke kamar saya.”
Padahal Charlie
sudah menyiapkan kamar di depan kamar Nadia yang lemarinya penuh berisi pakaian
dan aksesoris wanita. Mereka akan dengan mudah menemukan slayer atau
barang-barang untuk wanita di dalam kanar itu.
Nanda meminta
Nadia untuk menunggu di kamarnya sementara Nanda dan Ana ke kamar Nanda yang
ada di sudut paling jauh dari lorong itu. Kamar Nanda terlihat suram dan gelap.
Catnya saja berwarna hitam di tiga bagian dindingnya dan satu bagian berwarna
putih. Perabotan di dalamnya juga dominan berwarna hitam dan putih.
Nanda
menunjukkan walk in closetnya pada Ana yang langsung mencari slayer. Saat itu
Ana tidak sempat berpikir kalau ia sudah masuk ke sarang macam yang terus saja
menatapnya. Ana menemukan beberapa slayer di laci paling bawah. Ia sampai
berjongkok agar bisa memilih salah satunya.
Nanda melihat
paha putih mulus Ana terpampang di depannya. Ia menelan salivanya melihat
bagian lain tubuh Ana. Ana berdiri lagi, ia mendekati cermin besar disana dan
memasang slayer menutupi dadanya. Ana merapikan penampilannya lagi, kali ini
mengikat rambut panjangnya tinggi ke atas.
Ana : “Tuan,
saya sudah siap. Ayo.”
Ana berjalan
mendekati pintu keluar, tapi Nanda menarik tangannya dan memeluk pinggang Ana.
Nanda menarik ikat rambut Nadia dan mengatur rambutnya. Ana yang kaget, segera
mundur untuk melepaskan pelukan Nanda.
Ana : “Tuan,
jangan kurang ajar. Saya janda. Tolong jangan dekat-dekat.”
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.