
Eps. 21 – Menyamar
Setelah merasa
cukup lelah, Joya berbalik menuju rumah. Saat mereka melewati genangan air yang
sama, Joya terpeleset dan hampir jatuh kalau Bima tidak segera menahan
tubuhnya.
“Ny. tidak
apa-apa?”tanya Bima sambil membantu Joya berdiri tegak kembali.
“Nggak.
Makasih, Bima.”
Joya kembali
berjalan, kali ini sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Ia melihat
bangku di bawah pohon dekat rumah, lalu duduk disana. Joya bersandar sambil
mengelus-elus perutnya.
“Ny. sudah
capek? Mau saya gendong?”
Tawaran Bima
mendapat lirikan tajam dari Joya, ia meminta Bima sedikit menjauh lagi. Joya
mengatur nafasnya, perlahan rasa sakit yang ia rasakan mulai berkurang.
“Bima, tolong
tarik saya mau berdiri.”
“Maaf, Ny.”Bima
memegang kedua lengan Joya, membantunya berdiri pelan-pelan.
Setelah cukup
stabil berdiri, Joya mulai jalan lagi sampai rumah. BI Ijah yang melihat Joya
berjalan perlahan, segera membantunya duduk di kursi teras.
“Joya, kolaknya
sudah siap. Mau dimakan sekarang?”
“Nanti, bi. Aku
ngantuk. Bima, kamu bisa pergi.”
Bima mengangguk
sebelum meninggalkan Joya yang mulai tertidur di teras. Ia kembali ke tempat
istirahat untuk berganti jaga dengan orang-orang Ny. Besar. Pria itu masuk ke
salah satu kamar di tempat istirahat, mulai membuka topi, kacamata, kumis
tebal, brewok dan tahi lalat di pipinya.
Boy menatap
wajahnya di depan cermin. Ia mengelap peluh yang membasahi keningnya. Boy
membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kecil yang terasa sangat tidak
nyaman. Tapi ia sudah sangat mengantuk saat itu.
Rasanya baru
sebentar ia memejamkan mata, ponselnya berdering. Rian menelponnya menanyakan
tentang dokumen yang perlu di cek Boy. Boy terpaksa membuka laptopnya, ia mulai
bekerja sampai waktu makan malam tiba.
Joya melihat
satu piring bersih masih ada diatas meja di teras rumah. “Bi, ada yang belum
makan ya?”
“Sepertinya
orang yang baru itu, Joya. Coba bibi tanya dulu ke sebelah.”
Joya membiarkan
Bi Ijah ke samping rumah, ia melihat seseorang duduk berjaga di pos ronda. Bi
Ijah kembali dengan terburu-buru.
“Ada apa, bi?”
“Anu, makan
malamnya biar bibi bawa ke sebelah.”
“Memangnya
kenapa? Biasanya juga mereka makan disini.”
“Dia itu lagi
sakit. Masuk angin kayaknya, Joya.”
__ADS_1
Joya merasa
aneh melihat Bi ijah tampak panik seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tidak
melarang Bi Ijah membawakan makan dan obat ke sebelah.
Tadi bi Ijah
memergoki Boy yang sedang bekerja di kamar Bima. Ia sangat terkejut melihat
tuan mudanya memakai pakaian Bima sebelumnya. Boy meminta bi Ijah merahasiakan
tentang penyamarannya dari Joya dan memohon bantuan bi Ijah agar Joya mau
memaafkannya.
Setelah bi Ijah
kembali ke dalam rumah, Joya menutup dan mengunci pintu. Ia berjalan perlahan
menuju kamarnya sendiri setelah mematikan lampu.
*****
Boy sudah siap
mengantar Joya jalan-jalan pagi, tapi Joya tak kunjung keluar dari rumah. Bahkan
sampai jam 9 pagi, Boy mendekati jendela samping dapur, ia memanggil bi Ijah,
“Bi Ijah, Joya
kemana?”
“Joya masih
tidur, tuan muda. Dari semalem gak bisa tidur.”bisik bi Ijah.
“Kenapa gak
bisa tidur?”
“Wanita yang
sedang hamil besar memang kadang-kadang suka susah tidur, tuan muda. Pinggangnya
sakit, kaki bengkak, miring ke kanan salah, miring kiri juga salah.”saut Bi
Ijah.
“Terus gimana
bisa tidur sekarang?”
“Dari subuh saya
usap-usap punggungnya terus sampai Joya ketiduran.”
“Bi, saya mau
Bi Ijah
mengangguk. Boy melepas penyamarannya, lalu masuk ke kamar Joya. Ia melihat
Joya tidur menghadap ke kanan dengan bantal disekelilingnya. Boy berbaring di
samping Joya, mengusap pinggang Joya dengan lembut.
Sentuhan Boy
membuat anak dalam kandungan Joya merespon dan mulai bergerak aktif. “Nak,
jangan menendang mama terlalu keras ya. Kasi mama istirahat.”bisik Boy.
Suasana kamar
Joya yang sejuk dan nyaman membuat Boy ikutan mengantuk. Boy sudah sepenuhnya tertidur
saat Joya terbangun. Joya merasakan ada seseorang di belakangnya, ia menoleh ke
belakang.
Melihat Boy
tertidur di belakangnya, membuat Joya ingin mengusir Boy tapi ia mengurungkan
niatnya ketika melihat pakaian yang dipakai Boy mirip dengan pakaian Bima.
Kening Boy mengkerut tanda ia akan bangun. Joya kembali berbaring dan
memejamkan matanya.
“Aku ketiduran.
Untung Joya belum bangun.”
Boy mendekat,
mengecup pundak Joya yang terlihat dari balik selimutnya. Ia merapikan selimut Joya
sebelum beranjak keluar dari kamar. Joya berbalik ketika pintu sudah ditutup
kembali.
Bi Ijah melihat
Boy memakai kembali penyamarannya, sebelum kembali ke teras depan. Untung saja
penjaga yang baru bertukar jaga sudah mendapat informasi kalau Boy menyamar
menjadi Bima. Kalau tidak, mungkin Boy sudah babak belur dihajar ketika keluar
dari rumah Joya.
__ADS_1
Boy menunggu
Joya bangun, Joya keluar dari kamar beberapa menit kemudian, ia memicingkan
matanya, lalu beranjak ke dapur. Segelas susu hangat menemani Joya yang
berjalan ke teras rumah. Boy yang melihat Joya menghampirinya, pura-pura sibuk
membersihkan daun kering di pinggir teras.
“Bima, tolong
ambilkan susu di peternakan. Ingat, susu yang baru di peras ya.”
“Baik, Ny.”
Boy beranjak
mendekati mobil orang-orang Ny. Besar. Ia ingin meminjam mobil untuk bisa ke
peternakan yang letaknya di seberang perkebunan.
“Bima, jalan
aja. Tempatnya dekat. Situ, lewat jalan kecil itu.”pinta Joya lagi.
Boy melihat
jalan yang ditunjuk Joya. Masalahnya jalan itu cukup terjal dan juga licin. Boy
mengangguk menuruti permintaan Joya. Mau sekotor apapun, seberat apapun, selama
Joya bisa merasa senang dan nyaman, Boy akan melakukannya.
Boy membawa
keranjang berisi 6 botol susu kosong. Ia menuruni jalanan curam dengan
hati-hati. Joya mengawasi Boy dari teras rumah.
Joya tersentak
bangun saat mendengar suara botol susu beradu. Ia membuka matanya melihat Boy
yang masih menyamar menjadi Bima, berdiri di depan teras.
“Jam berapa
ini?”
“Sudah jam 11,
Ny. Maaf saya lama, tadi belajar merah susu sapi dulu.”
“Ugh, kamu bau
kotoran sapi. Cepat mandi sana.”
Boy mengangguk,
ia berbalik tapi hanya diam di depan rumah. “Kenapa lagi?”tanya Joya.
“Nggak, Ny.
Saya permisi.”
Boy berjalan
sampai ke sebelah rumah, ia meringis ketika Joya sudah tidak bisa melihatnya
lagi. Tadi Boy sempat terjatuh di jalanan turunan itu, ia melihat luka di kaki
dan juga tangannya. Untung saja Joya tidak melihatnya terluka.
Boy masuk ke kamarnya
setelah mengambil baskom berisi air. Bi Ijah datang membawakan obat merah, Boy
memintanya tadi sebelum masuk ke kamarnya. “Haduh, tuan muda. Kenapa bisa
luka-luka gini?”
“Saya jatuh
tadi, bi. Kepleset. Emang dimana ada luka lagi, bi?”
“Dipunggung
tuan muda juga luka. Saya ambil kotak obat dulu ya.”
“Bi, jangan
sampai Joya tahu.”
Boy memeras
handuk kecil, ia membersihkan lukanya perlahan-lahan sambil meringis menahan
sakit. Boy melewatkan bagian punggungnya, ia melepaskan handuk di tangannya
saat seseorang menarik handuk itu.
“Arg...aduh..
pelan-pelan, bik!”Boy menarik tangan orang yang menekan luka di punggungnya, ia
terkejut melihat tangan itu.
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.