Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Menyamar


__ADS_3

Eps. 21 – Menyamar


Setelah merasa


cukup lelah, Joya berbalik menuju rumah. Saat mereka melewati genangan air yang


sama, Joya terpeleset dan hampir jatuh kalau Bima tidak segera menahan


tubuhnya.


“Ny. tidak


apa-apa?”tanya Bima sambil membantu Joya berdiri tegak kembali.


“Nggak.


Makasih, Bima.”


Joya kembali


berjalan, kali ini sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Ia melihat


bangku di bawah pohon dekat rumah, lalu duduk disana. Joya bersandar sambil


mengelus-elus perutnya.


“Ny. sudah


capek? Mau saya gendong?”


Tawaran Bima


mendapat lirikan tajam dari Joya, ia meminta Bima sedikit menjauh lagi. Joya


mengatur nafasnya, perlahan rasa sakit yang ia rasakan mulai berkurang.


“Bima, tolong


tarik saya mau berdiri.”


“Maaf, Ny.”Bima


memegang kedua lengan Joya, membantunya berdiri pelan-pelan.


Setelah cukup


stabil berdiri, Joya mulai jalan lagi sampai rumah. BI Ijah yang melihat Joya


berjalan perlahan, segera membantunya duduk di kursi teras.


“Joya, kolaknya


sudah siap. Mau dimakan sekarang?”


“Nanti, bi. Aku


ngantuk. Bima, kamu bisa pergi.”


Bima mengangguk


sebelum meninggalkan Joya yang mulai tertidur di teras. Ia kembali ke tempat


istirahat untuk berganti jaga dengan orang-orang Ny. Besar. Pria itu masuk ke


salah satu kamar di tempat istirahat, mulai membuka topi, kacamata, kumis


tebal, brewok dan tahi lalat di pipinya.


Boy menatap


wajahnya di depan cermin. Ia mengelap peluh yang membasahi keningnya. Boy


membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur kecil yang terasa sangat tidak


nyaman. Tapi ia sudah sangat mengantuk saat itu.


Rasanya baru


sebentar ia memejamkan mata, ponselnya berdering. Rian menelponnya menanyakan


tentang dokumen yang perlu di cek Boy. Boy terpaksa membuka laptopnya, ia mulai


bekerja sampai waktu makan malam tiba.


Joya melihat


satu piring bersih masih ada diatas meja di teras rumah. “Bi, ada yang belum


makan ya?”


“Sepertinya


orang yang baru itu, Joya. Coba bibi tanya dulu ke sebelah.”


Joya membiarkan


Bi Ijah ke samping rumah, ia melihat seseorang duduk berjaga di pos ronda. Bi


Ijah kembali dengan terburu-buru.


“Ada apa, bi?”


“Anu, makan


malamnya biar bibi bawa ke sebelah.”


“Memangnya


kenapa? Biasanya juga mereka makan disini.”


“Dia itu lagi


sakit. Masuk angin kayaknya, Joya.”

__ADS_1


Joya merasa


aneh melihat Bi ijah tampak panik seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi ia tidak


melarang Bi Ijah membawakan makan dan obat ke sebelah.


Tadi bi Ijah


memergoki Boy yang sedang bekerja di kamar Bima. Ia sangat terkejut melihat


tuan mudanya memakai pakaian Bima sebelumnya. Boy meminta bi Ijah merahasiakan


tentang penyamarannya dari Joya dan memohon bantuan bi Ijah agar Joya mau


memaafkannya.


Setelah bi Ijah


kembali ke dalam rumah, Joya menutup dan mengunci pintu. Ia berjalan perlahan


menuju kamarnya sendiri setelah mematikan lampu.


*****


Boy sudah siap


mengantar Joya jalan-jalan pagi, tapi Joya tak kunjung keluar dari rumah. Bahkan


sampai jam 9 pagi, Boy mendekati jendela samping dapur, ia memanggil bi Ijah,


“Bi Ijah, Joya


kemana?”


“Joya masih


tidur, tuan muda. Dari semalem gak bisa tidur.”bisik bi Ijah.


“Kenapa gak


bisa tidur?”


“Wanita yang


sedang hamil besar memang kadang-kadang suka susah tidur, tuan muda. Pinggangnya


sakit, kaki bengkak, miring ke kanan salah, miring kiri juga salah.”saut Bi


Ijah.


“Terus gimana


bisa tidur sekarang?”


“Dari subuh saya


usap-usap punggungnya terus sampai Joya ketiduran.”


“Bi, saya mau


Bi Ijah


mengangguk. Boy melepas penyamarannya, lalu masuk ke kamar Joya. Ia melihat


Joya tidur menghadap ke kanan dengan bantal disekelilingnya. Boy berbaring di


samping Joya, mengusap pinggang Joya dengan lembut.


Sentuhan Boy


membuat anak dalam kandungan Joya merespon dan mulai bergerak aktif. “Nak,


jangan menendang mama terlalu keras ya. Kasi mama istirahat.”bisik Boy.


Suasana kamar


Joya yang sejuk dan nyaman membuat Boy ikutan mengantuk. Boy sudah sepenuhnya tertidur


saat Joya terbangun. Joya merasakan ada seseorang di belakangnya, ia menoleh ke


belakang.


Melihat Boy


tertidur di belakangnya, membuat Joya ingin mengusir Boy tapi ia mengurungkan


niatnya ketika melihat pakaian yang dipakai Boy mirip dengan pakaian Bima.


Kening Boy mengkerut tanda ia akan bangun. Joya kembali berbaring dan


memejamkan matanya.


“Aku ketiduran.


Untung Joya belum bangun.”


Boy mendekat,


mengecup pundak Joya yang terlihat dari balik selimutnya. Ia merapikan selimut Joya


sebelum beranjak keluar dari kamar. Joya berbalik ketika pintu sudah ditutup


kembali.


Bi Ijah melihat


Boy memakai kembali penyamarannya, sebelum kembali ke teras depan. Untung saja


penjaga yang baru bertukar jaga sudah mendapat informasi kalau Boy menyamar


menjadi Bima. Kalau tidak, mungkin Boy sudah babak belur dihajar ketika keluar


dari rumah Joya.

__ADS_1


Boy menunggu


Joya bangun, Joya keluar dari kamar beberapa menit kemudian, ia memicingkan


matanya, lalu beranjak ke dapur. Segelas susu hangat menemani Joya yang


berjalan ke teras rumah. Boy yang melihat Joya menghampirinya, pura-pura sibuk


membersihkan daun kering di pinggir teras.


“Bima, tolong


ambilkan susu di peternakan. Ingat, susu yang baru di peras ya.”


“Baik, Ny.”


Boy beranjak


mendekati mobil orang-orang Ny. Besar. Ia ingin meminjam mobil untuk bisa ke


peternakan yang letaknya di seberang perkebunan.


“Bima, jalan


aja. Tempatnya dekat. Situ, lewat jalan kecil itu.”pinta Joya lagi.


Boy melihat


jalan yang ditunjuk Joya. Masalahnya jalan itu cukup terjal dan juga licin. Boy


mengangguk menuruti permintaan Joya. Mau sekotor apapun, seberat apapun, selama


Joya bisa merasa senang dan nyaman, Boy akan melakukannya.


Boy membawa


keranjang berisi 6 botol susu kosong. Ia menuruni jalanan curam dengan


hati-hati. Joya mengawasi Boy dari teras rumah.


Joya tersentak


bangun saat mendengar suara botol susu beradu. Ia membuka matanya melihat Boy


yang masih menyamar menjadi Bima, berdiri di depan teras.


“Jam berapa


ini?”


“Sudah jam 11,


Ny. Maaf saya lama, tadi belajar merah susu sapi dulu.”


“Ugh, kamu bau


kotoran sapi. Cepat mandi sana.”


Boy mengangguk,


ia berbalik tapi hanya diam di depan rumah. “Kenapa lagi?”tanya Joya.


“Nggak, Ny.


Saya permisi.”


Boy berjalan


sampai ke sebelah rumah, ia meringis ketika Joya sudah tidak bisa melihatnya


lagi. Tadi Boy sempat terjatuh di jalanan turunan itu, ia melihat luka di kaki


dan juga tangannya. Untung saja Joya tidak melihatnya terluka.


Boy masuk ke kamarnya


setelah mengambil baskom berisi air. Bi Ijah datang membawakan obat merah, Boy


memintanya tadi sebelum masuk ke kamarnya. “Haduh, tuan muda. Kenapa bisa


luka-luka gini?”


“Saya jatuh


tadi, bi. Kepleset. Emang dimana ada luka lagi, bi?”


“Dipunggung


tuan muda juga luka. Saya ambil kotak obat dulu ya.”


“Bi, jangan


sampai Joya tahu.”


Boy memeras


handuk kecil, ia membersihkan lukanya perlahan-lahan sambil meringis menahan


sakit. Boy melewatkan bagian punggungnya, ia melepaskan handuk di tangannya


saat seseorang menarik handuk itu.


“Arg...aduh..


pelan-pelan, bik!”Boy menarik tangan orang yang menekan luka di punggungnya, ia


terkejut melihat tangan itu.


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa

__ADS_1


tinggalkan jejakmu). Tq.


__ADS_2