Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Hari baik


__ADS_3

Eps. 20 – Hari baik


Nanda : “Kenapa aku gak boleh pukul? Kalian pembohong! Berani sekali membohongiku!”


Carol : “Kami gak bohong!”


Disaat genting, Carol berbalik dan langsung mencium Nando. Nando yang terkejut, segera membalas


ciuman Carol. Keduanya asyik berciuman mengabaikan Nanda yang menatap mereka dingin.


Carol : “Aku mencintaimu, Nando.”ujar Carol tanpa sadar.


Carol memeluk erat tubuh Nando, ia sudah melupakan dirinya ada dimana dan bersama siapa. Yang


ia rasakan saat ini hanya ciuman manis Nando.


Nanda : “Ehem!”


Keduanya masih asyik ciuman. Nanda menunggu lagi, ia mengetuk-ngetuk jam di tangannya menunggu


5 menit lagi berlalu.


Nanda : “Ehem!!! Kalian mau ciuman sampai kapan?!”


Carol melepaskan ciumannya dengan Nando. Wajah keduanya memerah seperti tomat segar.


Nanda melihat mereka berdua yang duduk manis di lantai sambil tersenyum malu.


Nando mengulurkan tangannya menyentuh tangan Carol.


Nanda : “Jadi kalian mau nikah atau tidak?!”


Nando : “Iya, kak. Mau.”


Nanda : “Kamu gak jawab.”


Nanda menunjuk Carol yang mengangguk malu-malu. Ia baru saja sadar kalau sudah mencium Nando


dengan agresif dan jadi malu sendiri.


Nanda : “Apa? Aku gak denger.”


Carol : “Iya, mau... kakak ipar.”


Nanda : “Bagus. Cepat ganti baju.”


Carol dan Nando saling pandang, mereka bingung kenapa harus ganti baju. Carol berdiri di bantu


Nando. Nanda yang melihat kondisi Carol belum cukup kuat untuk pergi


kemana-mana, menghentikan mereka.


Nanda : “Kalian istirahat saja di kamar. Aku mau pergi sekarang.”


Nando : “Iya, kak.”


Nando membantu Carol kembali ke kamar yang tadi. Pelayan segera datang membawakan makanan yang


tadi di pesan Nando. Keduanya makan dalam diam sambil sesekali saling pandang.


Nando : “Beneran yang kamu bilang tadi?”


Carol : “Bilang apa?”


Nando : “Kamu cinta sama aku?”


Carol : “Kapan aku bilang gitu?”


Nando : “Kamu gak inget?”

__ADS_1


Carol menggeleng. Ia beneran gak bisa ingat, yang ia ingat hanya rasa bibir Nando.


Nando tersenyum melihat Carol menyentuh bibirnya sendiri dengan telinga merah.


Nando : “Kalau mau lagi, kamu boleh nyium aku lagi.”


Carol semakin menunduk malu, ia menggeleng pelan. Setelah makanan mereka habis, Nando ingin


mengompres punggung Carol lagi.


Carol : “Aku bisa sendiri.”


Nando : “Kamu takut apa? Aku gak akan ngapa-ngapain.”


Masalahnya tadi itu mereka belum saling mengungkapkan perasaan satu sama lain. Siapa yang tahu


kalau tiba-tiba Nando akan menyerangnya kalau Carol membuka bathrobe-nya.


Carol : “Nando, dimana bajuku?”


Nando : “Pelayan akan mengantarnya sebentar lagi. Buka bathrobe-nya dulu. Sana masuk ke dalam


selimut.”


Carol melakukan apa yang dikatakan Nando, ia memegang erat selimutnya saat Nando duduk di


sampingnya. Nando hanya mengompres punggung Carol yang perlahan mulai memudar


memarnya.


Nando : “Apa masih sakit?”


Carol : “Kalau ditekan, iya. Kapan aku bisa pulang? Aku masih harus kerja, kan.”


Nando : “Kakak masih mau kamu disini dulu sampai benar-benar pulih sekalian membicarakan


Carol : “Apa kau serius dengan pernikahan ini?”


Nando : “Ya. Aku ingin menua bersamamu.”


Carol tersenyum senang. Ia menyembunyikan wajah cantiknya yang tersenyum dengan sangat bahagia


dari pandangan Nando. Tapi tetap saja Nando bisa melihat senyuman itu karena ada


cermin yang terpajang di depan mereka.


Tiba-tiba ponsel Nando berbunyi. Nanda ingin melakukan v-call dengannya.


Nando : “Ya, kak.”


Nanda : “Mana Carol?”


Nando : “Kenapa kakak nyari dia? Bentar, Carol pake bathrobe-nya dulu, kakak mau bicara.”


Nando meletakkan ponselnya diatas tempat tidur dan membantu Carol memakai bathrobe


lagi.


Nanda : “Hei, kalian lagi ngapain? Jangan buat anak dulu.”


Nando : “Kakak jangan ngaco dech. Aku lagi ngompres punggungnya. Memarnya udah mendingan.


Curiga trus.”


Nanda : “Aku kira kalian lanjut lagi habis ciuman panas tadi.”


Nando : “Kakak, diam!”


Nanda : “Kau berani menyuruhku diam? Potong uang saku!”

__ADS_1


Nando : “Bilang aja kau hampir bangkrut, pake ngancem potong uang saku segala.”


Nanda : “Awas kau ya!”


Nando mengangkat ponselnya lagi dan memeletkan lidahnya pada Nanda. Ia terhenyak ketika melihat


di belakang Nanda ada orang lain.


Carol : “Ayah! Ibu!”


Carol bersembunyi di belakang Nando ketika melihat kedua orang tuanya ada di belakang


Nanda. Ia merapatkan selimutnya dengan wajah merah padam.


Ayah : “Carol, kamu gak pa-pa? Tuan Nanda sudah bercerita insiden di kantormu.”


Carol : “Gak pa-pa, yah.”


Ayah : “Nak, ayah mendapat lamaran dari Tuan Nanda untuk adiknya. Apa anda, Tuan Nando?”


Nando : “Saya Nando, pak. Kak, kenapa kesana gak bilang-bilang?”


Nanda : “Sudah bagus aku bantu percepat pernikahanmu, masih protes. Silakan lanjutkan, pak.”


Ayah Carol menanyakan mengenai kesediaan Carol menikah dengan Nando dan apa mereka saling


mencintai. Nando semangat sekali menjawab membuat Carol memukul punggungnya. Carol


menjawab iya dengan malu-malu.


Nanda menyampaikan kalau hari baik sudah ia tentukan yaitu dalam waktu 2 minggu lagi.


Ayah dan ibu Carol menyetujui hari itu dan menanyakan kepada Carol dan Nando


lagi mengenai persetujuan mereka untuk menikah secepat itu.


Carol kembali mengangguk bersama Nando. Nanda mengucapkan selamat pada ayah dan ibu Carol.


Mereka segera membicarakan apa yang diinginkan Carol untuk acara pernikahannya.


Carol : “Bisa sederhana saja. Maksud saya, hanya keluarga dan teman dekat.”


Sungguh, Carol tidak mau membayangkan pesta pernikahannya akan dihadiri deretan pria seram


berbadan besar yang ada tato tulang ikan di wajahnya seperti di film-film.


Ayahnya akan shock melihat hal itu. Apalagi kalau tahu apa latar belakang kakak


Nando.


Nanda : “Bagaimana Nando?”


Nando : “Ya, ngikut aja. Yang penting sah.”


Nanda ketawa ngakak, adiknya sudah tidak sabaran kawin padahal dirinya sendiri masih jomblo


sampai saat ini. Melihat Nando tersenyum bahagia bersama Carol, membuatnya


mulai berpikir untuk mencari pasangan hidup juga. Tapi siapa yang mau dengan


pria seperti dia. Pekerjaannya mengharuskan ia bersikap kejam dan tidak peduli


dengan sekitarnya.


*****


Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2