Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 21 – Boleh pulang


__ADS_3

Eps. 21 – Boleh


pulang


“Arg...aduh..


pelan-pelan, bik!”Boy menarik tangan orang yang menekan luka di punggungnya, ia


terkejut melihat tangan itu.


“Ny....? kenapa


Ny. kesini?”ucap Boy gugup. Ia mengambil kemeja kotor yang tadi dipakainya,


hampir memakainya lagi.


Boy menegang


Joya menepis tangannya. “Kenapa kamu gak bilang sempat jatuh tadi? Kamu kan


bisa panggil teman-temanmu.”


“Saya gak


kepikiran, Ny. Ny. saya minta handuknya. Biar saya sendiri yang bersihkan


lukanya. Ny. kembali saja ke rumah.”


“Diam. Jangan banyak


ngomong. Kamu terlalu cerewet.”


Boy menunduk


seperti murid TK habis dimarahi gurunya karena nakal. Joya meraih lengan Boy,


membersihkan luka Boy dengan telaten. Boy sama sekali tidak berani menatap


Joya. Tapi saat Joya menunduk ingin membersihkan luka di lutut Boy, pria itu


meminta handuk dari Joya.


“Saya bisa


sendiri, Ny. Terima kasih.”


Tangan Joya


terulur meraih brewok palsu Boy. Ia menariknya dengan cepat, sampai Boy


meringis kesakitan rambut di bawahnya tertarik paksa. Joya menatap tajam pada


Boy yang penyamarannya sudah terbongkar.


“Joya, aku bisa


jelaskan.”


Joya berjalan


perlahan keluar dari kamar itu, ia memegangi tembok kayu sambil memegangi


perutnya.


“Joya, tolong


dengarkan aku dulu. Aku mohon...”


Boy tidak


menunggu lagi, ia menggendong Joya masuk dalam rumah. Joya melihat Boy meringis


menahan sakit di lukanya. Joya terbaring di atas tempat tidur, Boy meletakkan


bantal di sekeliling Joya.


“Dimana yang


sakit? Apa kamu ngompol? Mau ke toilet?” Joya berjengit ketika tangan Boy


menyentuh celana dalamnya. “Ach, maaf. Aku hanya mengecek basah atau nggak.”


“Tuan mesum,


cepat obati lukamu dan pergi dari sini.”usir Joya.


“Joya, jangan


mengusirku, aku mohon. Biarkan aku tetap disini. Aku akan jaga di luar.”


“Jangan


berisik. Diam.”Joya menarik kerah baju Boy dan langsung mencium suaminya itu. “Sana

__ADS_1


obatin dulu lukanya. Sama bi Ijah.”


Joya berbaring


sambil mengelus-elus pinggangnya yang terasa sakit. Boy tidak mau meninggalkan


Joya tapi melihat lukanya masih berdarah mengotori pakaian Joya juga, Boy


keluar dari kamar itu minta diobati Bi ijah.


Joya melihat


pakaiannya ada noda darah, ia bangkit duduk kembali. Sedikit mengangkat tubuhnya,


ia meloloskan pakaiannya ke atas kepala. Boy masuk lagi, ia melihat Joya sudah


melepas pakaiannya.


“Mas, jangan


masuk dulu. Aku mau ganti baju.”


“Apa mas sudah


gak berhak atas kamu? Trus kenapa waktu kita ketemu lagi, kamu mau aku ituin”


Joya tidak bisa


menahan tawanya mendengar kata pilihan Boy. Ia memegang perutnya yang ikutan


terguncang bersamaan dengan gerakan tubuhnya.


“Hihihi... gak


ada kata lain apa? Anggap aja aku khilaf.”


“Khilaf lagi


dong. Ya, mau ya. Ya?”


“Mas, iih. Uda


dapet juga. Emang masih kurang.”


“Baru sekali.


Aku dah 5 bulan gak itu, Joya. Kamu tega liat aku merana?”


ngapain aja? Gak gitu? Gak mungkin banget. Boong ya.”


Boy merengkuh


Joya dalam pelukannya. Ia menciumi pundak Joya, menurunkan tali pakaian


dalamnya. Joya melirik luka di tangan Boy, ia menekan luka itu, membuat Boy


belingsatan kesakitan.


“Yank, jangan


dipencet lukaku. Sakit.”


“Mas mau


ngapain? Ini masih siang. Gak enak didenger bi Ijah.”


“Sini, yank.”


Boy menarik


Joya perlahan berbaring di sampingnya. Mereka berpelukan diatas tempat tidur


dengan perut besar Joya ditengah-tengah.


“Sayang,


kembali sama aku ya. Aku kangen banget sama kamu, sama anak kita. Aku juga


kangen ibu. 5 bulan ini aku tinggal di kantor, kadang pulang ke apartment. Sepi


banget cuma sendirian. Ibu gak bolehin aku pulang ke rumah besar.”


“Masa sih, mas?”


“Emang ibu gak


pernah kesini? Gak pernah ngomongin aku.”


“Sering. Tapi


gak pernah cerita kalau mas gak boleh masuk rumah. Gak mau cerita tentang mas


sich kayaknya.”

__ADS_1


Boy mengeratkan


pelukannya, sampai terasa gerakan bayi di dalam perut Joya menendang-nendang


perut Boy juga. Boy menangis merasakan gerakan anaknya. Ia mengelus-elus perut


Joya,


“Yank, cup-nya


ganti ya.”


Joya memukul


tangan Boy yang sudah mendarat di dadanya. “Tuan mesum, jangan pegang


sembarangan. Sakit.”


“Sakit atau


enak?”


Joya memutar


matanya jengah, ia sedang tidak ingin bermain lagi, tapi sepertinya suaminya


ini masih ingin mengunjungi anaknya.


Mereka


menghabiskan sepanjang siang sampai matahari kembali ke peraduannya hanya di


dalam kamar Joya. Boy juga mengabaikan telpon dari Rian. Mereka benar-benar


bicara dari hati ke hati tentu saja dengan tangan jahil Boy yang tidak bisa


diam sentuh-sentuh sembarangan.


Malam harinya,


Joya menelpon Ny. Besar, ia memberitahu kalau Boy sudah menemukannya dan mereka


sudah berbaikan.


“Bagus kalau


sudah baikan. Kamu bisa kembali besok. Atau mau disana dulu?”


“Joya mau balik


besok, bu. Sudah kangen sama ibu.”


“Ya, sudah.


Besok kita ngobrol lagi.”


Joya menutup


telponnya. Boy tersenyum lebar mendengar ibunya sudah mengijinkan mereka


kembali.


“Joya, aku


janji tidak akan membuatmu menangis lagi.”


“Aku percaya


janjimu, mas. Aku mencintaimu.”


“Aku juga


mencintaimu, Joya.”


Sambungannya lihat episode 22 ya....


*****


Akhirnya Flash back kehidupan Joya dan Boy selesai sampai disini. Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya untuk para pembaca setia MENANTU UNTUK IBU atas waktunya mau membaca  novel ini.


Terima kasih juga atas like, komen, support terhadap saya dalam menulis. Tanpa para pembaca sekalian, saya sungguh bukan apa-apa.


Sampai ketemu lagi di novel saya berikutnya.


Salam hangat dan selamat membaca


*****


Klik


profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2