
Eps. 21 – Boleh
pulang
“Arg...aduh..
pelan-pelan, bik!”Boy menarik tangan orang yang menekan luka di punggungnya, ia
terkejut melihat tangan itu.
“Ny....? kenapa
Ny. kesini?”ucap Boy gugup. Ia mengambil kemeja kotor yang tadi dipakainya,
hampir memakainya lagi.
Boy menegang
Joya menepis tangannya. “Kenapa kamu gak bilang sempat jatuh tadi? Kamu kan
bisa panggil teman-temanmu.”
“Saya gak
kepikiran, Ny. Ny. saya minta handuknya. Biar saya sendiri yang bersihkan
lukanya. Ny. kembali saja ke rumah.”
“Diam. Jangan banyak
ngomong. Kamu terlalu cerewet.”
Boy menunduk
seperti murid TK habis dimarahi gurunya karena nakal. Joya meraih lengan Boy,
membersihkan luka Boy dengan telaten. Boy sama sekali tidak berani menatap
Joya. Tapi saat Joya menunduk ingin membersihkan luka di lutut Boy, pria itu
meminta handuk dari Joya.
“Saya bisa
sendiri, Ny. Terima kasih.”
Tangan Joya
terulur meraih brewok palsu Boy. Ia menariknya dengan cepat, sampai Boy
meringis kesakitan rambut di bawahnya tertarik paksa. Joya menatap tajam pada
Boy yang penyamarannya sudah terbongkar.
“Joya, aku bisa
jelaskan.”
Joya berjalan
perlahan keluar dari kamar itu, ia memegangi tembok kayu sambil memegangi
perutnya.
“Joya, tolong
dengarkan aku dulu. Aku mohon...”
Boy tidak
menunggu lagi, ia menggendong Joya masuk dalam rumah. Joya melihat Boy meringis
menahan sakit di lukanya. Joya terbaring di atas tempat tidur, Boy meletakkan
bantal di sekeliling Joya.
“Dimana yang
sakit? Apa kamu ngompol? Mau ke toilet?” Joya berjengit ketika tangan Boy
menyentuh celana dalamnya. “Ach, maaf. Aku hanya mengecek basah atau nggak.”
“Tuan mesum,
cepat obati lukamu dan pergi dari sini.”usir Joya.
“Joya, jangan
mengusirku, aku mohon. Biarkan aku tetap disini. Aku akan jaga di luar.”
“Jangan
berisik. Diam.”Joya menarik kerah baju Boy dan langsung mencium suaminya itu. “Sana
__ADS_1
obatin dulu lukanya. Sama bi Ijah.”
Joya berbaring
sambil mengelus-elus pinggangnya yang terasa sakit. Boy tidak mau meninggalkan
Joya tapi melihat lukanya masih berdarah mengotori pakaian Joya juga, Boy
keluar dari kamar itu minta diobati Bi ijah.
Joya melihat
pakaiannya ada noda darah, ia bangkit duduk kembali. Sedikit mengangkat tubuhnya,
ia meloloskan pakaiannya ke atas kepala. Boy masuk lagi, ia melihat Joya sudah
melepas pakaiannya.
“Mas, jangan
masuk dulu. Aku mau ganti baju.”
“Apa mas sudah
gak berhak atas kamu? Trus kenapa waktu kita ketemu lagi, kamu mau aku ituin”
Joya tidak bisa
menahan tawanya mendengar kata pilihan Boy. Ia memegang perutnya yang ikutan
terguncang bersamaan dengan gerakan tubuhnya.
“Hihihi... gak
ada kata lain apa? Anggap aja aku khilaf.”
“Khilaf lagi
dong. Ya, mau ya. Ya?”
“Mas, iih. Uda
dapet juga. Emang masih kurang.”
“Baru sekali.
Aku dah 5 bulan gak itu, Joya. Kamu tega liat aku merana?”
ngapain aja? Gak gitu? Gak mungkin banget. Boong ya.”
Boy merengkuh
Joya dalam pelukannya. Ia menciumi pundak Joya, menurunkan tali pakaian
dalamnya. Joya melirik luka di tangan Boy, ia menekan luka itu, membuat Boy
belingsatan kesakitan.
“Yank, jangan
dipencet lukaku. Sakit.”
“Mas mau
ngapain? Ini masih siang. Gak enak didenger bi Ijah.”
“Sini, yank.”
Boy menarik
Joya perlahan berbaring di sampingnya. Mereka berpelukan diatas tempat tidur
dengan perut besar Joya ditengah-tengah.
“Sayang,
kembali sama aku ya. Aku kangen banget sama kamu, sama anak kita. Aku juga
kangen ibu. 5 bulan ini aku tinggal di kantor, kadang pulang ke apartment. Sepi
banget cuma sendirian. Ibu gak bolehin aku pulang ke rumah besar.”
“Masa sih, mas?”
“Emang ibu gak
pernah kesini? Gak pernah ngomongin aku.”
“Sering. Tapi
gak pernah cerita kalau mas gak boleh masuk rumah. Gak mau cerita tentang mas
sich kayaknya.”
__ADS_1
Boy mengeratkan
pelukannya, sampai terasa gerakan bayi di dalam perut Joya menendang-nendang
perut Boy juga. Boy menangis merasakan gerakan anaknya. Ia mengelus-elus perut
Joya,
“Yank, cup-nya
ganti ya.”
Joya memukul
tangan Boy yang sudah mendarat di dadanya. “Tuan mesum, jangan pegang
sembarangan. Sakit.”
“Sakit atau
enak?”
Joya memutar
matanya jengah, ia sedang tidak ingin bermain lagi, tapi sepertinya suaminya
ini masih ingin mengunjungi anaknya.
Mereka
menghabiskan sepanjang siang sampai matahari kembali ke peraduannya hanya di
dalam kamar Joya. Boy juga mengabaikan telpon dari Rian. Mereka benar-benar
bicara dari hati ke hati tentu saja dengan tangan jahil Boy yang tidak bisa
diam sentuh-sentuh sembarangan.
Malam harinya,
Joya menelpon Ny. Besar, ia memberitahu kalau Boy sudah menemukannya dan mereka
sudah berbaikan.
“Bagus kalau
sudah baikan. Kamu bisa kembali besok. Atau mau disana dulu?”
“Joya mau balik
besok, bu. Sudah kangen sama ibu.”
“Ya, sudah.
Besok kita ngobrol lagi.”
Joya menutup
telponnya. Boy tersenyum lebar mendengar ibunya sudah mengijinkan mereka
kembali.
“Joya, aku
janji tidak akan membuatmu menangis lagi.”
“Aku percaya
janjimu, mas. Aku mencintaimu.”
“Aku juga
mencintaimu, Joya.”
Sambungannya lihat episode 22 ya....
*****
Akhirnya Flash back kehidupan Joya dan Boy selesai sampai disini. Terima kasih saya ucapkan sebesar-besarnya untuk para pembaca setia MENANTU UNTUK IBU atas waktunya mau membaca novel ini.
Terima kasih juga atas like, komen, support terhadap saya dalam menulis. Tanpa para pembaca sekalian, saya sungguh bukan apa-apa.
Sampai ketemu lagi di novel saya berikutnya.
Salam hangat dan selamat membaca
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1