Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Penjelasan Joya


__ADS_3

Boy mengeringkan tubuh dan rambut Joya dengan cepat. Ia tidak mau Joya terkena


demam lagi. Boy juga dengan sigap mengambil pakaian dalam Joya dan membantunya


berpakaian.


Joya : “Mas,


pakai baju dulu sana.”


Boy : “Iya,


kamu ntar kedinginan kalo belum pake baju.”


Joya : “Iya,


tau. Tapi tutupin dikit itu dibawah.”


Boy nyengir, ia


segera melilitkan handuk yang tadi dipakai Joya ke pinggangnya. Setelah


memastikan Joya hangat di bawah selimut tebal, Boy kembali ke kamar mandi untuk


berpakaian juga.


Saat itu ada yang


mengetuk pintu kamar Joya,


Joya : “Mas,


ada yang ngetuk pintu.”


Boy :


“Sebentar...”


Boy baru


selesai memakai celana panjangnya, ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada


dan segera membuka pintu.


Boy : “Ibu...”


Ny. Besar


tampak berdiri di depan pintu, ia menatap Boy dari atas ke bawah. Merasa


diperhatikan, Boy melihat tubuh sixpacknya yang terekspose jelas. Boy refleks


menyingkir ke balik pintu.


Boy : “Masuk


dulu, bu.”


Boy membuka


pintu lebih lebar dan segera masuk lagi ke kamar mandi. Ny. Besar masuk bersama


Ny. Lastri.


Joya : “Ibu...”


Ny. Besar : “Bagaimana


keadaanmu, nak?”


Joya : “Sudah


mendingan, bu.”


Ny. Besar


mengelus rambut Joya yang halus dan wangi sehabis mandi.


Ny. Besar : “Kamu


mandi, Joya? Siapa yang bantu?”


Joya : “Mas


Boy, bu.”


Ny. Besar : “Kalian


sudah baikan?”


Joya : “Sudah,


bu. Nanti kalau Joya jelasin lagi biar lebih jelas.”


Ny. Besar : “Apa


gak sebaiknya kamu berhenti kerja, Joya?”


Joya : “Kalau


Joya berhenti, nanti mas Boy pikir, kejadian itu memang benar. Padahal banyak


orang di kantor yang selalu menjaga Joya, bu. Rio juga gak pernah ganggu Joya


lagi. Kalau gak urusan pekerjaan, Rio pasti gak muncul di depan Joya. Kemarin


memang dia minta tolong karena mau melamar Meta, teman Joya, bu. Rio minta Joya


menahan Meta tetap di kantor sekitar 1 jam, jadi dia bisa menyiapkan bunga dan


cincin, bu.”


Ny. Besar : “Trus


kenapa Boy bisa datang kesana? Kamu gak ijin sama suamimu.”


Joya : “Joya


yang salah, bu. Joya sudah mengirim chat ke mas Boy tapi cuma setengah. Joya


baru selesai ngetik bilang akan pulang terlambat. Chat itu gak sengaja ke kirim


karena manager Joya tiba-tiba ngagetin ngajak meeting, bu. Habis itu Joya gak


inget ngecek HP lagi. Dan Joya baru sadar HP mati kehabisan baterai waktu Joya


mau pesan ojek online buat pulang ke rumah.”


Ny. Besar : “Hadeh,

__ADS_1


gara-gara chat cuma setengah ya. Kamu sampai kayak gini. Yang penting salah


paham sudah clear. Mana lihat lukamu.”


Boy akhirnya


keluar dari kamar mandi, tadi ia sempat mencuri dengar pembicaraan Joya dan


ibunya. Rasa bersalah kembali menghantuinya, Boy berjalan ke sofa dan duduk di


sana.


Ny. Besar : “Kamu


sudah makan, Joya?”


Joya : “Belum,


bu. Padahal udah laper.”


Ny. Besar : “Lastri,


pesankan makanan untuk Joya.”


Boy hanya


menunduk di sofa, ia tahu ibunya masih marah padanya. Ny. Besar bahkan tidak


menanyakan apa Boy sudah makan atau belum. Suara ponsel Boy, membuatnya menoleh


dan mengambil ponsel di atas meja itu.


Rian


mengirimkan beberapa dokumen yang perlu di cek oleh Boy. Boy mulai membuka


dokumen itu, sesekali ia memegangi perutnya yang terasa sedikit perih. Joy


bukan tidak melihat hal itu.


Saat makanan


untuk Joya datang, Joya meminta Boy untuk menyuapinya,


Joya : “Mas,


suapin aku.”


Boy : “Hmm...


Iya.”


Boy meletakkan


ponselnya begitu saja, ia berjalan mendekati Joya dan menelan liurnya melihat


satu nampan penuh makanan di depan Joya. Boy mulai membuka penutup soto ayam


dan juga nasi. Ia memotong sedikit telur dan mulai menyuapi Joya makan.


Joya : “Mas,


kuahnya masih panas.”


Boy : “Ach,


maaf. Cepat minum jusnya dulu.”


gelas jus dan mendekatkan sedotannya ke mulut Joya. Tring! Tring! Tring! Ny.


Lastri melirik ponsel Boy dan memberitahu kalau ada telpon dari Tuan Edward.


Boy terdiam sejenak sebelum kembali menyuapi Joya.


Tuan Edward


adalah salah satu client terbesar perusahaan Boy. Telpon darinya berarti


bersiap untuk proyek dengan keuntungan ratusan juta rupiah. Tapi Boy


mengabaikannya demi untuk menyuapi Joya. Ny. Besar mengetahui juga tentang hal


itu.


Joya : “Mas,


angkat telponnya dulu.”


Boy : “Biarin


aja.”


Gerakan Boy


terhenti saat ia mendengar suara Ny. Besar yang sudah menjawab telpon dari tuan


Edward dan menekan tombol loudspeasker. Joya tersenyum melihat Boy menatap


ibunya.


Ny. Besar : “Halo,


tuan Edward. Saya Larasati.”


Edward : “Ny.


Larasati, sudah lama sekali kita tidak berbincang.”


Ny. Besar : “Ya,


terakhir kali kita bertemu saat pembukaan cabang perusahaan kami. Apa kabar,


tuan Edward? Ada yang bisa saya bantu?”


Edward : “Dimana


pak Boy?”


Ny. Besar : “Ach,


Boy sedang merawat istrinya, tuan.”


Edward : “Oh,


kasian. Sakit apa, Ny.?”


Ny. Besar : “Tuan


tahu, demam karena perubahan musim.”

__ADS_1


Edward : “Pak


Boy sangat perhatian pada istrinya. Saya tidak akan ragu lagi memberikan proyek


kami berikutnya pada perusahaan anda, Ny. Larasati.”


Ny. Besar : “Oh,


kami akan sangat senang sekali menerima proyek itu, tuan Edward.”


Edward : “Baiklah,


sekretaris saya akan menghubungi asisten pak Boy nanti. Senang sekali bisa


berbincang dengan Ny. Larasati lagi.”


Ny. Besar : “Saya


juga, tuan Edward. Sampaikan salam saya untuk Ny. Edward.”


Edward : “Haha...


Baik, Ny.Larasati. Sampai jumpa.


Ny. Besar : “Sampai


jumpa, tuan Edward.”


Ny. Besar


meletakkan ponsel Boy kembali ke atas meja. Ia melihat Boy dan Joya sedang


suap-suapan makanan di depannya.


Tadi saat Ny.


Besar sedang bicara dengan tuan Edward, Joya mengambil sendok dari tangan Boy


dan menyodorkan sesuap nasi berisi potongan daging ayam ke dekat mulut Boy.


Boy : “Sayang,


kamu yang harus makan. Kenapa malah nyuapin aku?”


Joya : “Aku


sudah makan, mas. Giliran mas sekarang.”


Boy : “Tapi...”


Joya sudah


mendorong sendok menempel pada bibir Boy yang langsung membuka mulutnya dan


mulai makan. Joya tersenyum menatap Boy yang mengunyah makanannya sambil


menahan tangis. Sungguh hati Boy terharu melihat istrinya masih


memperhatikannya seperti biasa.


Boy : “Kamu


juga makan lagi.”


Boy menyendok


nasi berisi kuah yang langsung dimakan Joya. Joya menusuk potongan tahu, dan


memakannya sendiri. Ia tau kalau Boy tidak terlalu suka makan tahu.


Boy : “Makan


lagi dagingnya. Tahu itu enak?”


Joya : “Iya,


mas. Ada isinya. Mau coba.”


Boy : “Dikit


aja ya.”


Joya mencoba


memotong tahu itu tapi tidak bisa juga,


Boy : “Coba


gigit.”


Joya : “Mas aja


yang gigit.”


Boy : “Kamu


yang gigit separuh.”


Joya menyendok


tahu isi daging dan menggigit separuh, belum sempat menaruh sisanya ke atas


sendok, Boy sudah menggigit separuh tahu yang tersisa di luar bibir Joya.


Ny. Lastri : “Astaga,


Boy.”


Boy : “Apa


mbak?”


Boy menoleh


sambil mengunyah tahu isi di mulutnya. Wajah Joya merona dengan tindakan Boy


barusan. Begitu juga wajah Ny. Lastri dan Ny. Besar. Boy kebingungan sendiri


kenapa wajah mereka semua merona.


*****


Boy main sosor


aja. Votenya dong kk reader yang baik.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2