
Boy mengeringkan tubuh dan rambut Joya dengan cepat. Ia tidak mau Joya terkena
demam lagi. Boy juga dengan sigap mengambil pakaian dalam Joya dan membantunya
berpakaian.
Joya : “Mas,
pakai baju dulu sana.”
Boy : “Iya,
kamu ntar kedinginan kalo belum pake baju.”
Joya : “Iya,
tau. Tapi tutupin dikit itu dibawah.”
Boy nyengir, ia
segera melilitkan handuk yang tadi dipakai Joya ke pinggangnya. Setelah
memastikan Joya hangat di bawah selimut tebal, Boy kembali ke kamar mandi untuk
berpakaian juga.
Saat itu ada yang
mengetuk pintu kamar Joya,
Joya : “Mas,
ada yang ngetuk pintu.”
Boy :
“Sebentar...”
Boy baru
selesai memakai celana panjangnya, ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada
dan segera membuka pintu.
Boy : “Ibu...”
Ny. Besar
tampak berdiri di depan pintu, ia menatap Boy dari atas ke bawah. Merasa
diperhatikan, Boy melihat tubuh sixpacknya yang terekspose jelas. Boy refleks
menyingkir ke balik pintu.
Boy : “Masuk
dulu, bu.”
Boy membuka
pintu lebih lebar dan segera masuk lagi ke kamar mandi. Ny. Besar masuk bersama
Ny. Lastri.
Joya : “Ibu...”
Ny. Besar : “Bagaimana
keadaanmu, nak?”
Joya : “Sudah
mendingan, bu.”
Ny. Besar
mengelus rambut Joya yang halus dan wangi sehabis mandi.
Ny. Besar : “Kamu
mandi, Joya? Siapa yang bantu?”
Joya : “Mas
Boy, bu.”
Ny. Besar : “Kalian
sudah baikan?”
Joya : “Sudah,
bu. Nanti kalau Joya jelasin lagi biar lebih jelas.”
Ny. Besar : “Apa
gak sebaiknya kamu berhenti kerja, Joya?”
Joya : “Kalau
Joya berhenti, nanti mas Boy pikir, kejadian itu memang benar. Padahal banyak
orang di kantor yang selalu menjaga Joya, bu. Rio juga gak pernah ganggu Joya
lagi. Kalau gak urusan pekerjaan, Rio pasti gak muncul di depan Joya. Kemarin
memang dia minta tolong karena mau melamar Meta, teman Joya, bu. Rio minta Joya
menahan Meta tetap di kantor sekitar 1 jam, jadi dia bisa menyiapkan bunga dan
cincin, bu.”
Ny. Besar : “Trus
kenapa Boy bisa datang kesana? Kamu gak ijin sama suamimu.”
Joya : “Joya
yang salah, bu. Joya sudah mengirim chat ke mas Boy tapi cuma setengah. Joya
baru selesai ngetik bilang akan pulang terlambat. Chat itu gak sengaja ke kirim
karena manager Joya tiba-tiba ngagetin ngajak meeting, bu. Habis itu Joya gak
inget ngecek HP lagi. Dan Joya baru sadar HP mati kehabisan baterai waktu Joya
mau pesan ojek online buat pulang ke rumah.”
Ny. Besar : “Hadeh,
__ADS_1
gara-gara chat cuma setengah ya. Kamu sampai kayak gini. Yang penting salah
paham sudah clear. Mana lihat lukamu.”
Boy akhirnya
keluar dari kamar mandi, tadi ia sempat mencuri dengar pembicaraan Joya dan
ibunya. Rasa bersalah kembali menghantuinya, Boy berjalan ke sofa dan duduk di
sana.
Ny. Besar : “Kamu
sudah makan, Joya?”
Joya : “Belum,
bu. Padahal udah laper.”
Ny. Besar : “Lastri,
pesankan makanan untuk Joya.”
Boy hanya
menunduk di sofa, ia tahu ibunya masih marah padanya. Ny. Besar bahkan tidak
menanyakan apa Boy sudah makan atau belum. Suara ponsel Boy, membuatnya menoleh
dan mengambil ponsel di atas meja itu.
Rian
mengirimkan beberapa dokumen yang perlu di cek oleh Boy. Boy mulai membuka
dokumen itu, sesekali ia memegangi perutnya yang terasa sedikit perih. Joy
bukan tidak melihat hal itu.
Saat makanan
untuk Joya datang, Joya meminta Boy untuk menyuapinya,
Joya : “Mas,
suapin aku.”
Boy : “Hmm...
Iya.”
Boy meletakkan
ponselnya begitu saja, ia berjalan mendekati Joya dan menelan liurnya melihat
satu nampan penuh makanan di depan Joya. Boy mulai membuka penutup soto ayam
dan juga nasi. Ia memotong sedikit telur dan mulai menyuapi Joya makan.
Joya : “Mas,
kuahnya masih panas.”
Boy : “Ach,
maaf. Cepat minum jusnya dulu.”
gelas jus dan mendekatkan sedotannya ke mulut Joya. Tring! Tring! Tring! Ny.
Lastri melirik ponsel Boy dan memberitahu kalau ada telpon dari Tuan Edward.
Boy terdiam sejenak sebelum kembali menyuapi Joya.
Tuan Edward
adalah salah satu client terbesar perusahaan Boy. Telpon darinya berarti
bersiap untuk proyek dengan keuntungan ratusan juta rupiah. Tapi Boy
mengabaikannya demi untuk menyuapi Joya. Ny. Besar mengetahui juga tentang hal
itu.
Joya : “Mas,
angkat telponnya dulu.”
Boy : “Biarin
aja.”
Gerakan Boy
terhenti saat ia mendengar suara Ny. Besar yang sudah menjawab telpon dari tuan
Edward dan menekan tombol loudspeasker. Joya tersenyum melihat Boy menatap
ibunya.
Ny. Besar : “Halo,
tuan Edward. Saya Larasati.”
Edward : “Ny.
Larasati, sudah lama sekali kita tidak berbincang.”
Ny. Besar : “Ya,
terakhir kali kita bertemu saat pembukaan cabang perusahaan kami. Apa kabar,
tuan Edward? Ada yang bisa saya bantu?”
Edward : “Dimana
pak Boy?”
Ny. Besar : “Ach,
Boy sedang merawat istrinya, tuan.”
Edward : “Oh,
kasian. Sakit apa, Ny.?”
Ny. Besar : “Tuan
tahu, demam karena perubahan musim.”
__ADS_1
Edward : “Pak
Boy sangat perhatian pada istrinya. Saya tidak akan ragu lagi memberikan proyek
kami berikutnya pada perusahaan anda, Ny. Larasati.”
Ny. Besar : “Oh,
kami akan sangat senang sekali menerima proyek itu, tuan Edward.”
Edward : “Baiklah,
sekretaris saya akan menghubungi asisten pak Boy nanti. Senang sekali bisa
berbincang dengan Ny. Larasati lagi.”
Ny. Besar : “Saya
juga, tuan Edward. Sampaikan salam saya untuk Ny. Edward.”
Edward : “Haha...
Baik, Ny.Larasati. Sampai jumpa.
Ny. Besar : “Sampai
jumpa, tuan Edward.”
Ny. Besar
meletakkan ponsel Boy kembali ke atas meja. Ia melihat Boy dan Joya sedang
suap-suapan makanan di depannya.
Tadi saat Ny.
Besar sedang bicara dengan tuan Edward, Joya mengambil sendok dari tangan Boy
dan menyodorkan sesuap nasi berisi potongan daging ayam ke dekat mulut Boy.
Boy : “Sayang,
kamu yang harus makan. Kenapa malah nyuapin aku?”
Joya : “Aku
sudah makan, mas. Giliran mas sekarang.”
Boy : “Tapi...”
Joya sudah
mendorong sendok menempel pada bibir Boy yang langsung membuka mulutnya dan
mulai makan. Joya tersenyum menatap Boy yang mengunyah makanannya sambil
menahan tangis. Sungguh hati Boy terharu melihat istrinya masih
memperhatikannya seperti biasa.
Boy : “Kamu
juga makan lagi.”
Boy menyendok
nasi berisi kuah yang langsung dimakan Joya. Joya menusuk potongan tahu, dan
memakannya sendiri. Ia tau kalau Boy tidak terlalu suka makan tahu.
Boy : “Makan
lagi dagingnya. Tahu itu enak?”
Joya : “Iya,
mas. Ada isinya. Mau coba.”
Boy : “Dikit
aja ya.”
Joya mencoba
memotong tahu itu tapi tidak bisa juga,
Boy : “Coba
gigit.”
Joya : “Mas aja
yang gigit.”
Boy : “Kamu
yang gigit separuh.”
Joya menyendok
tahu isi daging dan menggigit separuh, belum sempat menaruh sisanya ke atas
sendok, Boy sudah menggigit separuh tahu yang tersisa di luar bibir Joya.
Ny. Lastri : “Astaga,
Boy.”
Boy : “Apa
mbak?”
Boy menoleh
sambil mengunyah tahu isi di mulutnya. Wajah Joya merona dengan tindakan Boy
barusan. Begitu juga wajah Ny. Lastri dan Ny. Besar. Boy kebingungan sendiri
kenapa wajah mereka semua merona.
*****
Boy main sosor
aja. Votenya dong kk reader yang baik.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.