Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 11 - Liburan tahun ketiga


__ADS_3

Dan akhirnya liburan tahun ketiga setelah penolakan Joya pada Boy. Liburan kali ini mereka tidak kemana-mana karena sebagian besar cucu Ny. Besar hanya ingin menghabiskan waktu mereka bersama dengan Ny. Besar.


Kondisi Ny. Besar juga tidak dalam keadaan baik karena bertambah usia dan juga perubahan cuaca. Joya terus merawat dan menjaganya sepulang bekerja.


🍁🍁🍁🍁🍁


Keesokan harinya ketika mereka sedang berkumpul di halaman belakang. Cucu-cucu Ny. Besar sedang bersantai di kolam renang, mereka bermain bersama disana.


Ny. Besar duduk di pinggir teras halaman belakang. Suasana disana sangat sejuk dan nyaman. Semilir angin sesekali berhembus menghalau panas matahari yang mulai menyengat.


Joya sedang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka semua bersama ART lainnya. Sesekali Joya menemani cucu Ny. Besar yang ingin bermain dengannya.


Sedang asyik bersantai, salah satu kakak laki-laki Boy berjalan cepat menghampiri ibunya. Ia duduk disana melihat sekeliling dan bicara agak keras.


Kakak Boy : "Bu, Boy sudah setuju. Dia mau menikah secepatnya. Kita bisa mulai persiapannya."


Joya yang mendengar dengan jelas setiap kata-kata majikannya itu, seketika mendengar suara petir menggelegar di siang yang cerah itu.


Ia menatap Ny. Besar yang juga menatapnya. Joya bingung harus bereaksi bagaimana, otaknya langsung blank. Ia hampir menangis menahan sakit dan sesak di dadanya.


Tapi melihat Ny. Besar dan semua orang disana mulai menatapnya, Joya hanya tersenyum dan kembali melanjutkan membereskan piring kotor dengan tangan sedikit gemetar.


Joya meletakkan tumpukan piring kotor di dapur. Ia berdiri sambil bersandar di meja dapur, menuangkan bekas makanan ke dalam tempat sampah.


Awalnya semua terlihat normal sampai Joya mulai melamun, menuangkan bekas makanan ke piring yang sudah siap dicuci dan menumpuknya.


Bi Ijah yang melihat kejadian itu, menegur Joya,


Bi Ijah : "Joya, kamu ngapain?"


Joya : "Eh, iya bik. Saya membersihkan piring."


Bi Ijah : "Bersihin piring? Gitu caranya?"


Joya melihat kebawah dan cepat-cepat memperbaiki cara kerjanya.


Joya : "Maaf, bik."


Bi Ijah : "Kamu gak pa-pa? Mau istirahat dulu?"


Joya : "Saya gak pa-pa, bik. Cuma laper dikit. Bentar lagi selesai kok."


Joya berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja. Padahal ia sudah menahan tangisannya sejak awal.


Bi Ijah kembali mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali mengecek Joya. Joya mengerjakan semua pekerjaan di dapur agar tidak mengingat kesedihannya.


Joya : "Bi, sudah selesai semua. Ada lagi, bi?"


Bi Ijah melihat sekeliling dapur yang bersih kinclong. Bahkan lantainya juga bisa dipakai ngaca.


Bi Ijah : "Kamu makan dulu sana, yang lainnya lagi makan di halaman belakang."


Joya : "Iya, bi."


Joya memang keluar dari dapur, ia bukan berjalan ke halaman belakang tapi masuk ke kamarnya. Joya mengambil sesuatu dari bawah bantalnya dan memasukkannya ke saku roknya.

__ADS_1


Joya kembali melamun, ia mengingat semua kenangannya bersama Boy. Hanya sedikit kejadian intim yang ia ingat, membuatnya tersenyum malu.


Ia masih ingat sentuhan Boy, rasa otot perut dan dadanya. Joya menyentuh bibir dan lehernya, ia ingat Boy pernah menciumnya. Ia sedikit ragu apa Boy yang mencium lehernya sampai merah-merah.


Tiba-tiba bayangan Boy berjalan ke pelaminan bersama wanita lain, membuat Joya sesak nafas. Ia memegangi dadanya yang mulai berdebar gak karuan. Ia gak bisa membayangkan hal itu terjadi. Apalagi melihat kenyataannya.


Joya memegang pipinya, ada air mata yang jatuh disana. Ia mengusap pipinya menghapus air mata yang terus mengalir tidak mau berhenti.


Akhirnya Joya mengambil gulingnya, menutupi wajahnya dan menjerit dengan sangat memilukan. Setiap orang yang melihatnya akan menangis melihat tangisan Joya.


Seakan atmosfir di sekitarnya menjadi dingin dan membeku. Joya membenamkan dirinya sampai ia hampir pingsan kehabisan nafas.


🌊🌊🌊🌊🌊


Joya merapikan penampilannya, ia harus segera kembali ke dapur untuk membantu persiapan makan malam. Dilihatnya matanya yang sembab sudah ia samarkan dengan riasan dan sedikit air.


Ia akan beralasan matanya perih kemasukan air waktu cuci muka. Tidak akan ada orang yang tahu kalau ia habis menangis.


Joya masuk ke dapur dan Bi Ijah memintanya membuatkan teh untuk Ny. Besar.


Bi Ijah : "Tolong buatkan teh untuk Ny. Besar dan antarkan ke kamarnya. Sekalian tanyakan apa Tuan Boy mau kopi."


Deg! Deg! Deg! Mendengar nama Boy disebut jantung Boy kembali jumpalitan. Joya melamun lagi.


Bi Ijah : "Joya? Kamu kenapa?"


Joya : "Eh, gak, bik. Iya saya buatkan tehnya."


Bi Ijah : "Jangan sampai ada yang salah."


Joya : "Baik, bik."


Setelah teh selesai, ia membawanya ke kamar Ny. Besar. Joya menelan salivanya melihat Boy disana, duduk disamping ibunya.


Joya berjalan dengan tenang, berpura-pura tidak pernah mendengar sesuatu yang menyakitkan perasaannya. Ia menghidangkan teh untuk Ny. Besar dan bertanya pada Boy,


Joya : "Tuan, mau kopi?"


Boy tidak menjawab, mengabaikannya sepenuhnya. Hati Joya teriris melihatnya, sekarang dia sakit hati.


Ny. Besar : "Buatkan saja ya, Joya. Kamu habis nangis?"


Joya spontan memegang sudut matanya dan menggeleng. Ia sempat melihat Boy meliriknya sekilas.


Joya : "Tadi kemasukan air, Ny. Besar waktu saya cuci muka. Saya permisi."


Joya menutup pintu kamar Ny. Besar dan Ny. Besar menatap Boy.


Ny. Besar : "Joya nangis, Boy. Apa tidak sebaiknya kita katakan yang sebenarnya."


Boy : "Sabarlah, bu. Besok dia akan tahu semuanya. Boy gak sabar, bu."


Ny. Besar : "Anak nakal, tadi minta ibu bersabar dulu. Sekarang kamu yang gak sabar." Ny. Besar mencubit lengan Boy.


Boy : "Ampun bu! Wajarkan Boy uda hampir 30 belum pernah berhubungan dengan wanita manapun. Calon istri uda di depan mata, mana bisa tahan lama-lama lagi."

__ADS_1


Ny. Besar : "Awas kamu bikin Joya nangis ya. Ibu cubit sampe nangis."


Boy : "Gak bakalan nangis, bu. Yang ada keenakan."


Pletak! Jitakan mendarat di kepala Boy yang langsung menjerit kesakitan sambil cengengesan.


πŸ…πŸ…πŸ…πŸ…πŸ…


Malam harinya, Joya berjalan ke lantai 2. Ia menggenggam sesuatu di tangannya, menyamarkannya dengan majalah yang akan ia letakkan di ruang televisi di lantai itu.


Joya meletakkan majalah baru di meja disamping televisi. Ia melirik balkon lantai 2 dan berjalan dengan gontai mendekati balkon.


Malam itu, langit sangat indah, bintang dan bulan berada pada posisinya yang sangat tepat. Membentuk perpaduan yang sangat luar biasa indahnya.


Joya berdiri di balkon lantai 2 rumah itu, memandang luas langit di malam yang cerah tanpa awan. Langit gelap berwarna hitam dihiasi kerlipan bintang, bagaikan kain beludru hitam berhiaskan permata.


Dan bulan menerangi sebagian halaman rumah Ny. Besar membuat Joya bisa melihat apa saja yang terdapat disana. Ia sungguh mengagumi kreasi Tuhan, ingin tersenyum menghargai hasil karya Sang Pencipta tapi dirinya tidak sanggup.


Wajah cantiknya terlihat sedih dan lelah. Ia lelah berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan tidak mendengar apa-apa. Ia berusaha menjaga hatinya tidak hancur berkeping-keping.


Pertama kali dalam hidupnya jatuh cinta, hatinya langsung patah. Dia gak sanggup, dia tidak setegar apa yanv dilihat orang. Joya sangat menderita karena cintanya pada Boy.


Ditangan Joya ada foto Boy yangΒ  ia ambil diam-diam dari kamar Boy yang sudah kosong. Joya akan mengembalikannya setelah malam ini. Joya membelai wajah Boy di foto itu.


Mencium foto itu dengan lembut dan lama, mendekapnya seolah-olah Boy ada disana.


Joya : β€œBoy, sudah 3 tahun kamu mengabaikan aku, tidak mau bicara padaku. Selama itu juga aku selalu bicara lewat fotomu ini. Aku kira waktu akan membunuh rasa cinta ini, tapi tetap tidak bisa.”


Joya menghela nafas panjang, menegakkan foto Boy dihadapannya.


Joya : β€œAku seperti orang gila, Boy. Aku tak tahu apa aku sanggup melihatmu bersama istrimu nanti. Aku mau lari saja, Boy. Tapi aku gak bisa ninggalin Ny. Besar, setelah apa yang Ny. Besar berikan untuk hidupku, aku harus mengabdi selamanya disini.”


Joya menghapus air matanya yang sudah jatuh tanpa bisa ia tahan.


Joya : "Tolong aku, Boy. Bantu aku melupakanmu yang seharusnya aku lakukan tiga tahun lalu. Aku akan menyimpan kenangan bersamamu hanya untukku saja. Hanya itu yang tersisa setelah kamu menikah dengan wanita lain nanti."


Lagi, Joya membayangkan Boy duduk di meja makan dengan wanita yang wajahnya belum ia ketahui. Terlihat mesra saling menyuapi, air mata Joya semakin deras mengalir membasahi pipinya.


Hidungnya kembali berair, ia mengambil tisu di dalam kantong roknya dan membersihkan hidungnya. Merasa tangisannya akan terdengar sampai ke kamar sebelah, Joya mengusap kuat-kuat matanya.


Ia yakin kalau matanya akan bengkak besok, tapi ia tidak peduli lagi. Sakit, sesak, berat, semua perasaan kehilangan yang sangat dalam lebih kuat dari rasa kehilangan kedua orang tuanya dulu.


Cinta pertamanya akan kandas, pergi bersama cinta lainnya dan menyisakan dirinya sendirian. Joya menutup wajahnya dengan tisu, ia berteriak sambil membekap wajahnya sendiri.


Tubuhnya berguncang sangat hebat, seolah ada gempa yang sedang melanda balkon itu, meruntuhkan kumpulan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Isakan tangisnya terdengar samar tapi sangat memilukan. Menyakitkan hati Ny. Besar yang berdiri diam disamping balkon. Mengawasi Joya sejak ia naik ke lantai 2.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul β€œPerempuan IDOL”, β€œJebakan Cinta” dan β€œDuren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2