
Aliya menggeliat bangun, ia merasakan tubuhnya sangat rileks dan tempat tidurnya empuk sekali. Ia membuka matanya melihat sekeliling, kamar itu bernuansa putih, dengan korden putih melambai di jendela yang terbuka. Langit malam terlihat cerah dari kamar itu, aroma wangi parfum pria memenuhi ruangan, Aliya tersentak bangun, ia menatap bingung sekeliling kamar.
Aliya : “Aku dimana?”
Aliya meraba tubuhnya, kemeja putih dan jasnya sudah berganti jadi kemeja putih pria yang kedodoran di tubuhnya. Wajahnya menghangat, ia seperti pernah mencium wangi parfum dari kemeja putih yang sedang dipakainya, tapi dimana?
Sedang kebingungan, pintu kamar terbuka, seseorang masuk membawa sesuatu,
Aldo : “Kamu sudah bangun? Tidurmu nyenyak sekali.”
Aliya : “Aldo? Aku dimana?”
Aldo : “Ini kamarku. Aku bawa makanan, kamu lapar?”
Aliya : “Tapi tadi aku kan mau pulang, kok aku bisa disini? Bajuku siapa yang ganti?”
Aldo memberi kode agar Aliya turun dari tempat tidurnya dan duduk di sofa yang sudah terhidang makan malam. Ragu-ragu Aliya mengingkap selimut yang masih menutupi tubuhnya, kemeja itu memang kedodoran tapi belum bisa menutupi seluruh pahanya. Aldo melirik Aliya yang sudah duduk di sofa, menutupi pahanya dengan bantal.
Aldo : “Apa kau malu?”
Aliya : “Aku tidak nyaman memakai kemeja ini, bajuku mana sich?”
Aldo : “Masi dicuci, apa kau sama sekali tidak tahu apa yang terjadi tadi?”
Aliya : “Memangnya apa yang terjadi?”
Aldo menghela nafas, bisa-bisanya Aliya tidak terbangun ketika tubuhnya tersiram air hujan.
Aldo : “Tadi kamu ketiduran di settle, tiba-tiba hujan turun deras sekali. Aku lihat ada om-om yang mendekati kamu, aku kira orang jahat, jadi aku lari ke settle. Ternyata itu om Roy.”
Aliya : “Trus kenapa kamu gak bawa aku pulang, tapi malah ke tempatmu?”
Aldo : “Kamu kira aku gak bilang hal yang sama ke om Roy? Aku minta om Roy bawa kamu pulang, tapi dia malah pergi begitu saja dan cuma berpesan untuk jaga kamu. Dia juga gak ngasi alamat kamu, jadinya dengan sangat terpaksa aku bawa kamu kesini.”
Aliya : “Trus yang ganti baju aku, siapa?”
Aldo : “Dengan terpaksa juga aku ganti baju kamu, aku gak mau tempat tidurku basah karena bajumu yang basah.”
Aliya : “Uhuk! Uhuk! Jadi kamu…” Aliya tersedak.
Aldo : “Aku apa? Kamu mikir kemana? Aku juga gak lihat apa-apa, lampu kamar kumatikan tadi. Yah, paling cuma kesenggol dikit.”
Aliya menimpuk Aldo dengan bantal sofa,
Aldo : “Aduch! Kenapa kau kasar sekali!”
Aliya : “Setidaknya aku hanya memukulmu dengan bantal, mau aku banting juga?”
Aldo : “Coba saja kalau kau bisa, begini sikapmu sama orang yang sudah nolong kamu!”
__ADS_1
Aliya : “Nolong tapi ambil kesempatan, apa bedanya sama ****!”
Aldo : “Siapa suruh kamu tidur seperti kerbau, susah dibangunkan!”
Aliya : “Aku tidak butuh bantuanmu!”
Aldo sudah sangat kesal, ia menghimpit Aliya yang tidak menyangka dengan perlakuan Aldo. Cup. Aldo mencium bibir Aliya yang berwarna pink.
Aldo : “Shit! Kenapa bibirnya manis sekali?” Aldo berkata dalam hati.
Aliya yang terkejut, segera meronta mencoba melepaskan diri, tapi tubuh Aldo lebih besar darinya. Belum lagi kedua tangannya di pegangi Aldo diatas kepala Aliya. Setelah puas mencium Aliya, Aldo melepaskan Aliya. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Aldo, memberi pipinya rasa panas.
Aliya : “Rasakan itu! Brengsek!”
Aliya mengusap bibirnya dengan kasar, ia tidak menyangka kalau ciuman pertamanya bisa sekasar itu, tapi bibir Aldo terasa lembut tadi. Jadi ini rasanya ciuman? Pantas saja teman-teman yang punya pasangan sangat suka
berciuman.
Aldo : “Aku tidak akan minta maaf, kita impas sekarang. Cepat makan, malam ini kau tidur disini.”
Aliya : “Aku mau pulang!”
Aldo : “Berhenti berteriak! Ini sudah tengah malam, aku tidak akan membiarkanmu pulang malam-malam begini. Dan aku juga tidak mau mengantarmu.”
Brak! Aliya berjengit mendengar suara pintu kamar dibanting menutup, Aldo benar-benar sangat kesal. Malam ini dia harus tidur di sofa di ruang TV.
------
Aldo : “Pakai ini, hari ini kau mau kemana? Aku akan mengantarmu.”
Aliya : “Aku mau pulang saja, nanti aku ada pemotretan.”
Aldo memandang Aliya yang sedang menyisir rambutnya, wajahnya terlihat sangat segar tanpa make up. Glek! Aldo menelan liurnya, kemejanya hanya menutupi tubuh Aliya sampai setengah pahanya. Melihat Aldo memandangnya intens, Aliya duduk di tempat tidur, menutupi pahanya dengan bantal.
Aliya : “Kamu lihat apa?”
Aldo : “Ak… aku tidak… ini aku taruh disini, cepat ganti baju, aku juga mau mandi. Sarapan sudah ada di meja makan.”
Aldo menutup pintu kamar, Aliya berjalan mendekati pintu kamar dan menguncinya. Ia segera ganti pakaian dan mengemasi tasnya, kemudian bergegas keluar dari kamar Aldo, menuju meja makan. Aldo kembali memperhatikan
penampilan Aliya yang sudah memakai dress yang dibelinya kemarin malam. Ukuran yang dia pilih sangat pas di tubuh Aliya.
Aldo : “Makanlah dulu, aku mau mandi.”
Aliya menikmati sarapannya sambil memperhatikan apartment Aldo yang terlihat sederhana, tapi sangat bersih. Sinar matahari masuk dari jendela tinggi di sisi dapur, menghangatkan suasana pagi yang dingin itu.
Aldo segera bergabung dengan Aliya, mereka sarapan bersama dalam diam, dan mencuci piring masing-masing. Situasi yang cukup aneh, karena mereka terbiasa bangun dan sarapan sendiri, tapi kali ini ada seseorang yang menemani. Apalagi kalau ingat ciuman mereka semalam, situasinya jadi canggung seketika.
------
__ADS_1
Aliya turun dari mobil Aldo, ia ingin mengucapkan terima kasih, tapi Aldo sudah menjalankan mobilnya dengan kencang. Sedikit kecewa, Aliya masuk ke apartmentnya. Ia segera ganti pakaian karena harus berangkat pemotretan.
Aldo sebenarnya ingin mengantar Aliya masuk sampai ke depan apartmentnya, tapi sikap acuhnya membuat Aldo bersikap dingin lagi pada Aliya. Baginya yang penting ia sudah menyelesaikan tugasnya mengantar Aliya pulang,
sebelum papanya ngomel lagi.
------
Deril berkali-kali melihat HP-nya, sejak kemarin ia mencoba menghubungi Aliya. Awalnya ia mengira kalau Aliya masih sibuk dengan sidangnya, tapi setelah menunggu sampai malam, pesannya juga tidak dibalas Aliya. Deril
merebahkan tubuhnya di atas sofa, pikirannya berputar mengingat sesuatu. Dulu juga ada gadis seperti Aliya, gadis dingin yang membuat jantungnya berdebar.
Masa saat Deril masih SMA, ia hidup sangat baik dengan teman-teman baik dan saudara kembarnya yang agak gila. Bahkan hatinya masih terjaga baik tanpa pernah ada yang singgah meskipun hanya sekedar lalu, tidak seperti saudara kembarnya yang sangat suka berpetualang. Sampai suatu hari, Deril menemukan Viona, gadis SMA yang seangkatan dengannya tapi berbeda kelas. Gadis itu mulai menarik perhatian Deril ketika mereka bertabrakan di tangga sekolah.
Viona mirip Aliya, cerdas, cantik, seksi, dan sikap yang dingin. Deril jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Viona, ia terus mengejar Viona sampai mereka lulus sekolah dan akhirnya Viona menyerah pada Deril. Mereka bahkan
kuliah di kampus yang sama. Hari-hari mereka lalui bersama dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Suatu hari yang dingin karena musin dingin yang panjang, Viona dan Deril berdua saja di rumah Deril, mereka sedang diskusi sambil menyelesaikan tugas kuliah. Entah bagaimana, Deril memperhatikan sosok Viona lebih cantik dari biasanya. Di dalam rumah yang sepi, hanya berdua saja membuat keduanya melakukan hal lebih. Meskipun Viona sempat menolak, Deril tetap memaksanya.
Viona menangis setelah hubungan terlarang itu, sementara Deril merutuki dirinya yang tidak bisa menjaga Viona. Hubungan terlarang itu tidak hanya terjadi sekali, tapi beberapa kali setelahnya. Terkadang Deril ingat memakai
pengaman, terkadang juga tidak. Viona yang masih sangat polos, tidak memahami akibat hubungan terlarangnya dengan Deril.
Mengingat kejadian berikutnya membuat nyeri di hati Deril, ia merasakan nafasnya mulai sesak. Deril mengambil obat penenang dari laci meja kerjanya dan meminumnya dengan cepat. Keringat dingin membasahi punggung dan tangannya. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Bayangan kondisi Viona saat itu membuatnya terkena serangan panik.
Deril ingat hari itu ia mengajak Viona mendaki bukit, salah satu hal yang mereka berdua sukai. Bersama saudara kembarnya dan beberapa teman mereka, Deril mulai mendaki bukit diikuti Viona dibelakangnya. Sebelumnya Viona bilang kalau dia sedang tidak enak badan, jadi ia tidak ingin ikut. Tapi Deril tetap memaksa dan bilang kalau ini hanya sebentar saja.
Kejadian selanjutnya, Deril dan Viona sama-sama terjatuh dari pinggir tebing yang tidak terlalu dalam, mereka berguling turun sampai ke pinggir sungai yang dekat parkiran mobil. Deril baik-baik saja dengan luka lecet di
sekujur tubuhnya, tapi tidak bagi Viona. Ia merintih kesakitan memegangi perutnya, darah mengalir membasahi celana jins-nya. Viona segera dilarikan ke rumah sakit tapi nyawanya tidak tertolong. Ia mengalami pendarahan hebat akibat keguguran. Deril dan Viona sama sekali tidak tahu kalau Viona sudah mengandung selama 2 bulan.
Dunia Deril gelap seketika, ia mengalami trauma dan hampir jadi gila karena kehilangan Viona. Orang tua Viona sampai tidak tega melihat kondisi Deril yang stress setelah kepergian Viona. Hampir 2 tahun Deril hidup di
rehabilitasi, untuk menyembuhkan penyakit stress yang dialaminya. Berkali-kali ia mencoba membunuh dirinya, tapi tidak pernah berhasil. Bahkan setelah 10 tahun berlalu, Deril akan terkena serangan panik kalau ingat Viona.
Deril menarik nafasnya perlahan, detak jantungnya sudah normal kembali, tapi air matanya belum bisa berhenti mengalir. Suara HP-nya membuat Deril menatap HP itu dan mengambilnya.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu
kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
__ADS_1
-------