Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Bermain api


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian Deril, Aldo menelpon Aliya untuk mengajaknya ke pesta ulang tahun sahabat Aldo.


Aldo : “Hai, Al. Aku gak basa-basi lagi ya, aku jemput nanti malam, kita ke pesta ultah sahabatku.”


Aliya : “Kenapa kau seenaknya begitu? Kau sangat tidak sopan.”


Aldo : “Hei, aku juga tidak mau mengajakmu, tapi kau tahu papaku merasa aku kurang gencar mengejarmu dan dia mulai mengomel lagi.”


Aliya : “Kenapa itu jadi urusanku?”


Aldo : “Setidaknya kau bantu aku, aku kan pernah menolongmu.”


Aliya : “Aku rasa kita sudah impas, kau juga sudah mengambil keuntungan dariku kan.”


Wajah Aldo memerah, bukan karena dia marah tapi ia ingat ciuman manisnya dengan Aliya.


Aldo : “Ayolah, Al. Aku minta tolong temani sebentar saja. Aku tidak tahan mendengar papaku ngomel.”


Aliya : “Kali ini kau berhutang padaku ya. Lain kali aku tidak mau dipaksa lagi.”


Aldo : “Iya, aku paham. Aku jemput jam 8 ya. Acaranya di night club K.”


-------


Aliya sudah siap sekitar jam 8 malam itu, ia berjalan turun tangga dan menemui Aldo yang sudah menunggunya di bawah. Aldo menatap Aliya yang berpakaian sedikit seksi malam itu, dengan celana ketat hitam, tank top, dan kemeja putih yang masuk kedalam celananya. Sepatu hak tinggi, tas tangan, riasan wajah sedikit menantang, dan bibirnya berlipstik merah. Rambut panjang Aliya tergerai sepinggang sedikit bergelombang.


Aldo : “Cantik juga, kukira kau akan pakai dress atau sebangsanya. Seksi…”


Aliya : “Ya kali ke night club pakai dress. Jadi pergi gak?”


Aldo melepas dasi dan jasnya, tadinya ia ingin tampil formal, tapi melihat penampilan Aliya, Aldo ingin menyesuaikan penampilannya. Rambutnya yang sudah rapi, mulai diacak-acak hingga berubah bentuk. Aliya menatap Aldo yang lebih terlihat bad boy sekarang,


Aliya : “Kalau diperhatiin ternyata ganteng juga ya, tapi sifatnya nyebelin.” Aliya berkata dalam hatinya dengan mata masih menatap Aldo.


Aldo : “Ayo pergi.”


Aldo melajukan mobilnya menuju night club di tengah kota yang masih ramai dengan aktifitas. Sesekali Aldo melirik Aliya yang diam saja dengan wajah cemberut. Tapi meskipun cemberut, Aliya malah terlihat lebih cantik.


Sampai di night club, Aldo disambut teman-temannya yang penasaran pada Aliya. Aliya menyapa teman-teman Aldo sambil menyebut namanya.


Aliya : “Hai, aku Aliya.”


Darren : “Kalian pacaran?”


Aliya : “Hanya partner.”


Aldo : “Ya, partner in crime.”


Aldo mengajak Aliya duduk dan mengambilkan minuman untuknya. Aliya menerima gelas itu dan mengamati isinya,


Aldo : “Alkoholnya dikit kok, kamu bisa minum kan?”


Aliya : “Ya, sedikit.”


Aldo : “Minumlah, kalau kamu gak suka, aku carikan yang lain.”

__ADS_1


Aliya : “Santai saja.”


Aldo menoleh ketika teman-temannya memanggil, Aldo melambaikan tangan saja.


Aliya : “Bergabunglah dengan mereka.”


Aldo : “Dan meninggalkan kamu sendiri disini? Aku rasa tidak.”


Aliya : “Memang siapa yang akan menggangguku disini?”


Aldo : “Kamu lihat sekeliling, didepan sana ada dua orang pria, di sebelah kiri kita ada satu bapak-bapak mesum, sebelah kanan ada bocah, mereka terus menatapmu setelah masuk tadi. Apa kau tidak sadar?”


Aliya : “Kau lupa yang didekat pintu masuk, dia hampir menyenggolku tadi.”


Aldo : “Ternyata kau cukup waspada juga.”


Aliya : “Aku ini hidup di dunia model, mau gak mau aku harus memperhatikan hal begini. Aku perhatikan di gelasku ada bekas pil larut tadi. Mungkin dua orang itu mau berbuat iseng.”


Aldo semakin terkesan pada kepintaran Aliya, dia cocok jadi detektif.


Aliya : “Jadi, apa kau masih ingin disini atau bergabung dengan teman-temanmu?”


Aldo : “Aku akan menyapa mereka sebentar, kau mau kuambilkan sesuatu?”


Aliya : “Lebih baik aku mengambilnya sendiri nanti.”


Kilatan mata jahat mulai menatap Aliya setelah Aldo beranjak dari tempat duduknya. Aliya menikmati alunan musik sambil mengangkat gelasnya, dengan sangat lihai ia berpura-pura meminum habis minuman di gelas itu dan meletakkan kembali gelasnya di meja. Gerakan tubuh Aliya semakin kencang seiring dengan musik, ia melirik


beberapa pria yang mulai berjalan mendekatinya.


Pria A : “Hai, gadis cantik, ikut kami bersenang-senang.”


Pria B : “Dia benar-benar cantik, tubuhnya sangat seksi.”


Aliya : “…”


Pria A : “Cepat bawa dia…”


Aliya mulai mengambil ancang-ancang dengan cepat menendang rahang pria yang ingin mendekatinya. Pria itu tersungkur sepertinya pingsan kena sepatu hak tinggi Aliya. Belum sempat dua pria lainnya bertindak, Aliya sudah lebih dulu menghajar mereka dengan beberapa kali pukulan dan tendangan pada titik vitalnya.


Dengan cepat Aliya mengambil tas tangannya dan berjalan keluar toilet. Brak! Aliya merasakan tubuhnya dipeluk seseorang.


Aldo : “Al, kamu kemana saja? Aku mencarimu dari tadi.”


Aldo tertegun melihat tiga orang pria terbaring di depan toilet, tidak sadarkan diri.


Aldo : “Kurang ajar, apa yang mereka lakukan padamu?”


Aliya : “Tidak ada, bisa kita pulang sekarang. Aku lapar dan aku tidak mau makan disini.”


Aldo : “Ayo pergi.”


Aldo membawa Aliya ke salah satu restauran yang buka 24 jam. Mereka menikmati makan malam sambil sesekali ngobrol,


Aldo : “Jadi kau yang menghajar mereka?”

__ADS_1


Aliya : “Mereka yang kurang ajar, aku hanya membela diri.”


Aldo : “Kau hebat juga ya. Cantik, pintar, dan bisa bela diri.”


Aliya : “Apa kau sedang memujiku?”


Aldo : “Aku hanya mencoba jujur. Kan sudah kukatakan kalau aku tak suka basa basi.”


Aliya tersenyum pada Aldo, hatinya yang sedingin es, perlahan mulai mencair setelah pertemuan mereka. Semakin malam, obrolan mereka semakin seru, tanpa kebohongan dan jaga image, hanya murni sebuah pertemanan. Mereka saling curhat sambil minum wine, sampai Aliya mulai pusing.


Aldo : “Kita pulang saja ya, sepertinya kau mabuk.”


Aliya : “Aku hanya pusing.”


Aldo : “Tapi dari tadi kau sudah minum hampir setengah botol. Ayo kita pulang.”


Aldo membayar tagihan mereka dan membawa Aliya ke mobilnya. Sebelum masuk ke mobil, Aldo memandang sekeliling, ia mengangguk menatap mobil hitam yang sejak tadi terparkir di seberang jalan. Om Roy keluar dari sana, ia mendekati Aldo.


Aldo : “Om, ini Aliya mabuk, aku bawa kemana? Aku tidak tahu password masuk ke apartmentnya.”


Om Roy : “Bawa saja ke apartmentmu, om akan pulang. Kau jaga Aliya ya. Aku percaya padamu. Sampai jumpa.”


Aldo melongo ditinggalkan berdua dengan Aliya, apa om Roy sudah gila, dia dibayar untuk menjaga Aliya tapi selalu Aldo yang harus menjaganya. Akhirnya Aldo membawa Aliya pulang ke apartmentnya.


-------


Aldo membaringkan Aliya di tempat tidurnya, ia melepas sepatu Aliya dan menyelimutinya. Aliya yang tidak sepenuhnya mabuk, kembali bangun dan menatap Aldo.


Aldo : “Kenapa kau bangun? Apa kau mau muntah?”


Aliya : “Aku dimana?”


Aldo : “Kamarku, kamu mau muntah?”


Aliya : “Nggak, aku mau tidur. Tapi aku mau ganti baju dulu.”


Aldo masih menatap Aliya yang mulai membuka kemeja putihnya, dipikiran Aldo saat itu hanya ingin memastikan Aliya tidak muntah di tempat tidurnya. Aliya yang mabuk  juga membiarkan Aldo tetap berdiri di samping tempat tidurnya. Tapi saat Aliya mulai membuka celana ketatnya, Aldo terpana melihat paha Aliya yang putih bersih. Glek!


Iman Aldo hampir runtuh melihat pemandangan indah di depannya, bagaimana bisa Aliya sesantai itu membuka pakaiannya di depan seorang pria. Apa jangan-jangan Aliya sudah tidak…? Bruk! Aliya sudah tertidur diatas tempat tidur Aldo. Aldo menatap tubuh Aliya yang seksi, hanya tinggal berbalut tank top dan CD saja. Aldo merasakan tubuhnya membara, CD yang dipakai Aliya termasuk salah satu favorit Aldo, ia sangat mudah terangsang kalau melihat seorang wanita memakai CD berenda itu.


Aldo mulai mendekati Aliya, tangannya menyentuh renda CD Aliya dibagian pinggulnya. Ia membuka kemejanya, karena tubuhnya sudah berkeringat. Bahkan udara dingin yang berhembus dari jendela kamarnya yang terbuka, tidak bisa membuatnya berhenti berkeringat. Aldo kembali mendekati Aliya, berbaring di sampingnya. Aliya tetap


tertidur lelap, tidak menyadari ada singa kelaparan yang siap menerkamnya malam itu.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2