Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 - Jiwa kepo


__ADS_3

Melinda


mengelus-elus perutnya yang tampak membuncit. Boy mengelus kepalanya yang


sedikit sakit, ia tersenyum menatap Joya yang kebingungan. Apa-apaan reaksi


mesra mereka berdua ini? Yakin gitu mereka gak pernah ada hubungan


spesial. Yakin bukan mantan? Joya merasa


seperti orang ketiga disana.


Eh, tunggu dulu


sepertinya ada yang Joya lewatkan disini. Ia mendengar tentang anak, Melinda


sedang hamil?


Joya : “Dia


hamil?”


Boy mengangguk.


Suaminya itu meraih tangan Joya dan mencium punggung tangannya.


Boy : “Sayang,


Melinda ini sudah menikah. Dia sedang hamil anak pertama.”


Joya menoleh


menatap Melinda yang sedang tersenyum padanya. Joya ikut tersenyum melihat


wanita hamil itu mengelus perutnya. Joya jadi malu sendiri dengan sikapnya


tadi. Tapi ia benar-benar takut kalau Boy akan meninggalkannya.


Melinda : “Maaf


ya, Joya. Aku menggodamu tadi. Habis aku kesal sama Boy, masa dia nikah, tapi


aku gak diundang.”


Boy : “Aku


males ngundang kamu, ntar bikin rusuh. Sekarang aja kamu buat Joya cemburu


berat.”


Joya : “Aku gak


cemburu, mas.” Ujar Joya sambil mencubit lengan Boy.


Boy : “Gak


cemburu tapi dari tadi nyubitin aku terus. Awas aja, ntar ya.”


Joya : “Gak


boleh, mas. Dua minggu, ingat.”


Melinda kembali


ngakak, mungkin itu yang membuat Boy ilfeel dengan Melinda dan tidak


melanjutkan perasaannya.


Melinda : “Kasian


banget sich lo. Lo gak tau pengantin baru tuch lagi panas-panasnya.”


Boy : “Bacot lo


tuch. Masih aja gak berubah ya. Mana kejutan yang mau lo kasi?”


Melinda membuka


tas-nya. Ia memberikan sebuah amplop putih untuk Joya. Boy mengangguk saat Joya


menoleh padanya seolah bertanya ini boleh diterima apa nggak. Joya menerima


amplop itu dan membukanya. Isinya dua tiket ke Bali pp dan juga paket tour


mengelilingi Bali.


Boy : “Lo ngasi


paket honeymoon.”


Melinda : “Iya,


dan kebetulan banget lo gak bisa macem-macem. Hahahahahaha...”


Melinda kembali


ketawa ngakak, puas banget bisa meledek Boy. Bahkan Boy tidak bisa membalas


kata-kata Melinda.


Joya : “Makasi


ya, mb.”


Melinda : “Call

__ADS_1


me Melinda, not mb. Kebetulan juga lo gak bisa itu... Hihihihi...”


Boy : “Ketawa


aja sampe lo puas.”


Melinda : “Eh,


serius nich. Gue ada tugas khusus buat lo.”


Melinda


mengeluarkan amplop berikutnya dan memberikannya pada Boy. Boy membuka isinya


dan membacanya bersama Joya.


Boy : “Lo mau


gue dateng ke restauran lo buat jadi mata-mata?”


Melinda : “Ya,


gitu dech. Gue mau cek aja, mereka pembukuannya jujur gak. Soalnya kata


mata-mata gue disana, tuch resto selalu rame, tapi pemasukannya dikit banget.


Trus gue harus bayar tagihan ke supplier lebih besar dari pemasukannya. Rugi


dong.”


Boy : “Tugas


gue ngapain?”


Melinda : “Lo


kan makan disitu, kan mereka kasi bill, lo minta struknya. Joya dech yang


minta, biasa ibu-ibu kan suka tuch nyimpen struk belanja. Nah, struk itu kasi


ke gue. Ntar gue cek sama pembukuannya ada gak bill lo disana.”


Boy : “Berarti


gue harus makan lebih dari sekali dong disana.”


Melinda : “Iya,


resto itu deket hotel tempat lo nginep kok. Makanannya juga enak, aku yang


ngasi resepnya. Hehehe...”


Joya : “Melinda


bisa masak?”


Joya sayang. Aku lulus kuliah jadi tukang masak baru bisa ketemu suamiku yang pengusaha


restoran.”


Boy : “Nasib lo


beruntung banget. Suami lo jatuh cinta duluan sama masakan lo. Gitu ya cinta


dari perut, naik ke hati.”


Joya : “Kayak


mas ya. Makan spagethi buatanku.”


Boy : “Habisnya


masakanmu enak banget.”


Boy mencium


pipi Joya yang terkejut dengan wajah memerah. Melinda memonyongkan bibirnya


yang seksi.


Melinda : “Woi,


mesra-mesraan depan gue. Suami gue lagi di luar negeri tau. Setan lo.”


Boy : “Biarin.


Salah sendiri napa lo gak ikut aja sana.”


Melinda : “Gue


gak bisa ikut, mertua lagi sakit. Mana manja banget lagi sama gue.”


Baru saja Melinda


menyebut kata mertua, seseorang menelpon Melinda.


Melinda : “Tuch,


kan. Mertua gue telpon. Halo, pah.”


Melinda sibuk


menjawab telpon dari papa mertuanya. Ia beralasan dari salon dan sekarang


sedang makan siang karena bayinya ingin makan steak. Boy menatap Joya yang

__ADS_1


terus menatap perut Melinda.


Boy : “Kita


akan segera mendapat kabar baik, sayang. Kamu pasti bisa hamil secepatnya.”


Joya : “Ya,


mas.”


Joya bersandar


di bahu Boy, membuat Melinda kesal melihat mereka berdua. Ia menyudahi pembicaraan


dengan mertuanya dan menimpuk Boy dengan tisu yang baru di remasnya.


Melinda : “Sudah


dibilangin jangan mesra-mesraan depan gue. Rese banget sich lo.”


Boy dan Joya


cuma senyum-senyum melihat reaksi Melinda. Mereka menghabiskan waktu siang itu


dengan makan siang sambil mengobrol tentang persahabatan Boy dan Melinda waktu


sekolah dulu. Joya hanya menanggapi beberapa pertanyaan Melinda yang sangat


kepo pada dirinya.


Ia sempat ragu menjawab


awalnya saat Melinda menanyakan mengenai kehidupannya sebelum menikah dengan Boy,


tapi ia tetap mengatakannya dengan jujur. Joya berpikir mungkin Melinda akan


menghina dirinya karena statusnya dulu hanya pembantu.


Tapi tidak,


Melinda juga akhirnya bercerita kalau hidupnya juga tidak mudah setelah lulus


dari sekolah. Bahkan Melinda tidak bisa kuliah karena gak punya biaya.


Beruntung dirinya bertemu dengan suaminya sekarang.


Melinda : “Kau


tahu, Joya. Waktu aku ketemu suamiku, aku gak berani jatuh cinta sama dia.


Meskipun dia sangat baik dan juga perhatian. Aku bisa melihat dia melakukan itu


pada semua karyawannya.”


Melinda


menyeruput jus jeruknya, ia melanjutkan bercerita sambil ngemil buah segar.


Melinda : “Waktu


itu aku baru selesai shift kerja di resto milik suamiku. Aku ingin makan dulu


sebelum pulang. Waktu aku lihat tempat makan karyawan sudah kosong lauknya, aku


pikir kenapa gak masak saja untukku sendiri.”


Joya : “Trus


apa lagi?” tanya Joya penasaran.


Melinda : “Selesai


aku masak, dan siap-siap mau makan, suamiku tiba-tiba masuk ke dapur dan


memergokiku yag baru mau makan. Waktu itu aku cuma masak ayam asem manis.


Itupun dengan 5 potong daging ayam kecil-kecil yang kudapat dari sisa bahan


makanan yang dipakai koki sebelumnya. Aku udah ketakutan bakalan dipecat waktu


itu.”


Joya : “Kenapa?


Gak boleh ya?”


Melinda : “Harusnya


aku makan dari jatah karyawan yang sudah disiapkan koki. Tapi aku gak sempat


makan dan yang tersisa cuma nasi aja. Dia sempat bertanya apa ada makanan


karena dia juga belum makan. Aku spontan menyodorkan masakanmu sama dia.”


Melinda


senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu.


*****


Author juga


senyum-senyum nulis ini.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2