
Melinda
mengelus-elus perutnya yang tampak membuncit. Boy mengelus kepalanya yang
sedikit sakit, ia tersenyum menatap Joya yang kebingungan. Apa-apaan reaksi
mesra mereka berdua ini? Yakin gitu mereka gak pernah ada hubungan
spesial. Yakin bukan mantan? Joya merasa
seperti orang ketiga disana.
Eh, tunggu dulu
sepertinya ada yang Joya lewatkan disini. Ia mendengar tentang anak, Melinda
sedang hamil?
Joya : “Dia
hamil?”
Boy mengangguk.
Suaminya itu meraih tangan Joya dan mencium punggung tangannya.
Boy : “Sayang,
Melinda ini sudah menikah. Dia sedang hamil anak pertama.”
Joya menoleh
menatap Melinda yang sedang tersenyum padanya. Joya ikut tersenyum melihat
wanita hamil itu mengelus perutnya. Joya jadi malu sendiri dengan sikapnya
tadi. Tapi ia benar-benar takut kalau Boy akan meninggalkannya.
Melinda : “Maaf
ya, Joya. Aku menggodamu tadi. Habis aku kesal sama Boy, masa dia nikah, tapi
aku gak diundang.”
Boy : “Aku
males ngundang kamu, ntar bikin rusuh. Sekarang aja kamu buat Joya cemburu
berat.”
Joya : “Aku gak
cemburu, mas.” Ujar Joya sambil mencubit lengan Boy.
Boy : “Gak
cemburu tapi dari tadi nyubitin aku terus. Awas aja, ntar ya.”
Joya : “Gak
boleh, mas. Dua minggu, ingat.”
Melinda kembali
ngakak, mungkin itu yang membuat Boy ilfeel dengan Melinda dan tidak
melanjutkan perasaannya.
Melinda : “Kasian
banget sich lo. Lo gak tau pengantin baru tuch lagi panas-panasnya.”
Boy : “Bacot lo
tuch. Masih aja gak berubah ya. Mana kejutan yang mau lo kasi?”
Melinda membuka
tas-nya. Ia memberikan sebuah amplop putih untuk Joya. Boy mengangguk saat Joya
menoleh padanya seolah bertanya ini boleh diterima apa nggak. Joya menerima
amplop itu dan membukanya. Isinya dua tiket ke Bali pp dan juga paket tour
mengelilingi Bali.
Boy : “Lo ngasi
paket honeymoon.”
Melinda : “Iya,
dan kebetulan banget lo gak bisa macem-macem. Hahahahahaha...”
Melinda kembali
ketawa ngakak, puas banget bisa meledek Boy. Bahkan Boy tidak bisa membalas
kata-kata Melinda.
Joya : “Makasi
ya, mb.”
Melinda : “Call
__ADS_1
me Melinda, not mb. Kebetulan juga lo gak bisa itu... Hihihihi...”
Boy : “Ketawa
aja sampe lo puas.”
Melinda : “Eh,
serius nich. Gue ada tugas khusus buat lo.”
Melinda
mengeluarkan amplop berikutnya dan memberikannya pada Boy. Boy membuka isinya
dan membacanya bersama Joya.
Boy : “Lo mau
gue dateng ke restauran lo buat jadi mata-mata?”
Melinda : “Ya,
gitu dech. Gue mau cek aja, mereka pembukuannya jujur gak. Soalnya kata
mata-mata gue disana, tuch resto selalu rame, tapi pemasukannya dikit banget.
Trus gue harus bayar tagihan ke supplier lebih besar dari pemasukannya. Rugi
dong.”
Boy : “Tugas
gue ngapain?”
Melinda : “Lo
kan makan disitu, kan mereka kasi bill, lo minta struknya. Joya dech yang
minta, biasa ibu-ibu kan suka tuch nyimpen struk belanja. Nah, struk itu kasi
ke gue. Ntar gue cek sama pembukuannya ada gak bill lo disana.”
Boy : “Berarti
gue harus makan lebih dari sekali dong disana.”
Melinda : “Iya,
resto itu deket hotel tempat lo nginep kok. Makanannya juga enak, aku yang
ngasi resepnya. Hehehe...”
Joya : “Melinda
bisa masak?”
Joya sayang. Aku lulus kuliah jadi tukang masak baru bisa ketemu suamiku yang pengusaha
restoran.”
Boy : “Nasib lo
beruntung banget. Suami lo jatuh cinta duluan sama masakan lo. Gitu ya cinta
dari perut, naik ke hati.”
Joya : “Kayak
mas ya. Makan spagethi buatanku.”
Boy : “Habisnya
masakanmu enak banget.”
Boy mencium
pipi Joya yang terkejut dengan wajah memerah. Melinda memonyongkan bibirnya
yang seksi.
Melinda : “Woi,
mesra-mesraan depan gue. Suami gue lagi di luar negeri tau. Setan lo.”
Boy : “Biarin.
Salah sendiri napa lo gak ikut aja sana.”
Melinda : “Gue
gak bisa ikut, mertua lagi sakit. Mana manja banget lagi sama gue.”
Baru saja Melinda
menyebut kata mertua, seseorang menelpon Melinda.
Melinda : “Tuch,
kan. Mertua gue telpon. Halo, pah.”
Melinda sibuk
menjawab telpon dari papa mertuanya. Ia beralasan dari salon dan sekarang
sedang makan siang karena bayinya ingin makan steak. Boy menatap Joya yang
__ADS_1
terus menatap perut Melinda.
Boy : “Kita
akan segera mendapat kabar baik, sayang. Kamu pasti bisa hamil secepatnya.”
Joya : “Ya,
mas.”
Joya bersandar
di bahu Boy, membuat Melinda kesal melihat mereka berdua. Ia menyudahi pembicaraan
dengan mertuanya dan menimpuk Boy dengan tisu yang baru di remasnya.
Melinda : “Sudah
dibilangin jangan mesra-mesraan depan gue. Rese banget sich lo.”
Boy dan Joya
cuma senyum-senyum melihat reaksi Melinda. Mereka menghabiskan waktu siang itu
dengan makan siang sambil mengobrol tentang persahabatan Boy dan Melinda waktu
sekolah dulu. Joya hanya menanggapi beberapa pertanyaan Melinda yang sangat
kepo pada dirinya.
Ia sempat ragu menjawab
awalnya saat Melinda menanyakan mengenai kehidupannya sebelum menikah dengan Boy,
tapi ia tetap mengatakannya dengan jujur. Joya berpikir mungkin Melinda akan
menghina dirinya karena statusnya dulu hanya pembantu.
Tapi tidak,
Melinda juga akhirnya bercerita kalau hidupnya juga tidak mudah setelah lulus
dari sekolah. Bahkan Melinda tidak bisa kuliah karena gak punya biaya.
Beruntung dirinya bertemu dengan suaminya sekarang.
Melinda : “Kau
tahu, Joya. Waktu aku ketemu suamiku, aku gak berani jatuh cinta sama dia.
Meskipun dia sangat baik dan juga perhatian. Aku bisa melihat dia melakukan itu
pada semua karyawannya.”
Melinda
menyeruput jus jeruknya, ia melanjutkan bercerita sambil ngemil buah segar.
Melinda : “Waktu
itu aku baru selesai shift kerja di resto milik suamiku. Aku ingin makan dulu
sebelum pulang. Waktu aku lihat tempat makan karyawan sudah kosong lauknya, aku
pikir kenapa gak masak saja untukku sendiri.”
Joya : “Trus
apa lagi?” tanya Joya penasaran.
Melinda : “Selesai
aku masak, dan siap-siap mau makan, suamiku tiba-tiba masuk ke dapur dan
memergokiku yag baru mau makan. Waktu itu aku cuma masak ayam asem manis.
Itupun dengan 5 potong daging ayam kecil-kecil yang kudapat dari sisa bahan
makanan yang dipakai koki sebelumnya. Aku udah ketakutan bakalan dipecat waktu
itu.”
Joya : “Kenapa?
Gak boleh ya?”
Melinda : “Harusnya
aku makan dari jatah karyawan yang sudah disiapkan koki. Tapi aku gak sempat
makan dan yang tersisa cuma nasi aja. Dia sempat bertanya apa ada makanan
karena dia juga belum makan. Aku spontan menyodorkan masakanmu sama dia.”
Melinda
senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu.
*****
Author juga
senyum-senyum nulis ini.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.