
Hari pernikahan Mila dan Deril akhirnya tiba juga, meski dengan persiapan yang minim, tidak membuat pesta itu berlangsung asal-asalan. Mila terlihat cantik dengan gaun pengantin berjalan mendekati Deril yang sudah berdiri menunggunya di tengah lantai dansa.
Ijab sudah mereka lakukan tadi pagi di kantor pemerintahan sekaligus mengurus surat pernikahan. Deril berhasil melakukannya dengan baik dan mereka sah menjadi suami istri.
Deril : “Sayang, kau sangat cantik. Ayo kita dansa.”
Mila tersenyum malu mendengar pujian suaminya, mereka berdansa pertama diikuti Aliya dan Aldo. Lagi-lagi Aldo bertingkah seperti orang bodoh terpesona melihat Aliya yang terlihat sangat cantik dengan dress yang dipakainya.
Aldo : “Sayang, bisa tolong aku?”
Aliya : “Kenapa? Tolong apa?”
Aldo : “Jangan berubah jadi bidadari, aku tidak tahan melihatmu.”
Aliya : “Gombal…” kata Aliya dengan wajah memerah.
Aldo : “Sayang, ayo kita pergi. Aku ingin menciummu.”
Aliya : “Kalau kau pria sejati, coba cium aku disini sekarang.”
Aldo melihat sekeliling mereka yang penuh dengan kerabat dan keluarga mereka, sebagian ikut berdansa juga. Aliya tersenyum melihat Aldo yang terlihat ragu, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Aldo,
Aliya : “Deril saja lebih berani darimu.” Tepat saat itu Deril memang sedang mencium Mila di depan semua orang, membuat wajah pengantin wanita memerah.
Aldo menjilat sudut bibirnya, dengan cepat memegang tengkuk Aliya dan menciumnya.
Semua : “Oooohhhhh…”
Pusat perhatian langsung tertuju pada kedua pasangan yang sedang asyik berciuman di tengah lantai dansa. Kalau Alvin lihat, pasti Aldo akan langsung dijitaknya. Masalahnya Alvin tidak bisa datang karena kondisi kehamilan Rara.
Wajah Aldo dan Aliya memerah setelah mereka selesai berciuman, tepuk tangan dan teriakan riuh memenuhi pesta pernikahan Mila. Pasangan itu turun dari lantai dansa dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Aldo menatap Boy dan Joya yang sudah menatap mereka berdua dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Joya memberi tanda agar Aliya mendekatinya,
Joya : “Sayang, bagaimana rasanya tinggal sama Aldo?”
Aliya : “Mama mau tahu tentang apa? Aldo gak pernah kurang ajar sama Aliya, selalu jagain.”
Joya : “Syukur kalau begitu, jadi kalian baru sebatas yang tadi?”
Aliya : “Iya, mah. Pernah beberapa kali hampir lewat batas sich, tapi Aldo selalu berhenti di saat yang tepat.”
__ADS_1
Joya : “Sayang, lebih baik kalau kalian menikah secepatnya. Biar mama tenang, gitu.”
Aliya : “Aldo bilang kalau udah nikah, dia gak akan berhenti sampai Aliya hamil. Mama bisa bayangin gak apa yang akan dia lakukan sama Aliya.”
Joya : “Kok mirip papamu ya?” Joya menyikut pinggang Boy yang sejak tadi hanya menyimak sambil pura-pura sibuk dengan makanannya.
Aliya : “Aliya sudah bilang, tunggu anaknya Alvin lahir, mah.”
Boy : “Bentar lagi dong. Papa harus siap-siap nich.”
Aliya dan Joya terkikik melihat Boy yang tiba-tiba antusias dengan pernikahan Aliya.
Aliya : “Tunggu sampai umurnya setahun, pah. Kan lucu liat dia jalan bawa keranjang cincin.”
Boya : “Yaahh…”
-------
Usai pesta Deril membawa Mila ke sebuah hotel yang sudah ia pesan untuk malam pertama mereka. Bukan malam pertama sich, tapi Deril ingin menjadikan momen ini sangat special untuk Mila.
Mila : “Sayang, ngapain kita kesini?”
Mila : “Tapi kan kita sudah pernah…”
Deril : “Saat itu kau tidak sadar, jadi aku akan mengulanginya lagi hingga kau tidak akan pernah lupa indahnya malam ini.”
Wajah Mila memerah, mereka masih memakai baju pernikahan saat berjalan memasuki hotel dan menjadi perhatian semua orang yang mengucapkan selamat pada mereka.
Manager hotel secara khusus mengantar mereka ke kamar yang sudah dihias dengan sangat indah. Mila memperhatikan dekorasi kamar itu yang dominan berwarna merah. Sebuah piyama tidur tergeletak di atas ranjang,
Deril : “Pakai itu, sayang. Ayo kita mandi.”
Mila : “Aku mandi sendiri ya.”
Deril melihat wajah Mila memerah karena malu. Tangan Deril meraba tubuh Mila, mencari retsleting gaunnya dan menurunkannya.
Deril : "Aku bantu melepas gaun dan hiasan rambutmu ya."
Mila hanya mengangguk, ini pertama kalinya Mila menerima sentuhan Deril setelah mereka resmi menikah. Rasa malu dan canggung itu masih ada mengingat pertemuan mereka yang sangat singkat.
Deril melakukan yang ia katakan, setelah gaun dan riasan rambut Mila terlepas, Deril menutupi tubuh Mila dengan handuk.
__ADS_1
Deril : "Mandi dulu sana."
Mila berjalan masuk ke kamar mandi, dan Deril menunggu Mila sambil duduk di sofa. Tak lama Mila keluar dari kamar mandi, tubuhnya berbalut handuk, malu-malu ia berjalan mendekati ranjang dan mengambil piyama tidur itu.
Deril : "Sayang, kalau kamu malu, jangan pakai piyama itu. Di dalam lemari masih ada baju yang bisa kau pakai. Aku mandi dulu ya."
Mila tersenyum melihat Deril yang bersikap sangat sopan dan tidak memaksakan keinginannya. Ia berjalan mendekati lemari dan melihat beberapa pakaian baru digantung disana. Mila mengambil piyama standar yang sangat pas melekat di tubuhnya.
Ia mengeringkan rambutnya sambil berkeliling kamar meraba setiap dekorasi yang terpasang disana. Sampai di sisi ranjang, Mila melihat sebuah kotak berwarna hitam yang cukup besar.
Penasaran ia ingin membukanya, tapi takut.
Deril : "Bukalah sayang, itu untukmu."
Deril yang sudah selesai mandi keluar hanya memakai boxer. Ia memandang Mila yang memakai piyama tidur tertutup. Jantungnya berdebar kencang melihat kepolosan Mila.
Deril : "Kau bahkan lebih cantik dan seksi dengan piyama itu."
Mila : "Sayang, jangan menggodaku terus. Aku boleh membukanya kan?"
Mila mengambil kotak itu dan membukanya, keningnya berkerut melihat isinya dua buah kunci. Mila tahu kalau salah satunya adalah kunci mobil.
Mila : "Ini kunci mobil kan? Lalu ini kunci apa?"
Deril duduk di sisi ranjang, ia menarik tangan Mila untuk berdiri di depannya.
Deril : "Itu kunci rumah kita, sayang. Atau kau mau kita tinggal di apartmentku?"
Mila : "Aku mau tinggal di apartmentmu saja. Rumah itu bisa kita sewakan, sepertinya hasilnya lumayan."
Deril tertawa.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------
__ADS_1