
Ambulance
segera sampai di rumah sakit, Joya diturunkan di UGD dan dokter Risman
memerintahkan untuk langsung membawa Joya ke ICU. Boy mengikuti langkah cepat
perawat dan dokter Risman mendorong bed Joya menuju ruang ICU di samping UGD.
Boy diminta menunggu di luar sementara Joya dirawat di dalam ruangan khusus
itu.
Beberapa saat
kemudian Ny. Lastri dan Ny. Putri menyusul Boy yang sedang duduk di depan ruang
ICU.
Ny. Lastri :
“Boy, Joya dimana?”
Boy : “Masih
ditangani dokter, dia di dalam sana.”
Ny. Putri
menepuk punggung Boy,
Ny. Putri :
“Sebaiknya kau mandi, Boy. Penampilanmu kacau sekali.”
Boy : “Aku mau
nunggu Joya sadar dulu, mbak.”
Rian mendekati
ketiga bersaudara itu, ia baru selesai mengurus administrasi untuk Joya dan
membooking kamar.
Rian : “Tuan
Boy, sebaiknya tuan mandi dulu. Saya sudah bawakan pakaian ganti. Tuan juga
belum makan.”
Boy : “Aku mau
disini saja.”
Rian : “Tuan,
saya mohon. Sebentar saja. Ny. Lastri dan Ny. Putri akan menelpon kalau Ny.
Joya perlu apa-apa.”
Ny. Putri :
“Iya, Boy. Kamu tenang aja. Mandi dulu sana, jangan sampai kamu ikutan sakit
juga.”
Boy dengan
sangat terpaksa mengikuti langkah Rian dengan cepat dan segera membersihkan
dirinya di dalam kamar VVIP rumah sakit itu. Ia mandi dan mencuci wajahnya,
setelah selesai, Rian sudah menyiapkan sarapan untuknya.
Rian : “Sarapan
dulu, tuan. Sedikit saja.”
Boy : “Aku
tidak selera, kamu saja yang makan.”
Rian : “Tuan,
kalau tuan tidak makan, Ny. Joya juga tidak akan mau makan. Tuan harus kuat
untuk menjaga Ny. Joya.”
Akhirnya Boy
mau memakan sarapannya meskipun hanya setengah porsi. Selesai makan, Boy
kembali ke depan ruang ICU dan melihat Ny. Lastri bicara dengan dokter Risman.
Boy : “Dokter,
gimana Joya?”
dr. Risman :
“Ach, ini dia datang. Masuklah, Boy. Dari tadi Joya mengigau namamu terus.”
Boy masuk ke
ruang ICU dan memakai baju steril. Suster menunjukkan tempat Joya berbaring dan
meninggalkannya sendirian.
Boy berjalan
mendekati Joya, ia menahan air matanya agar tidak jatuh melihat Joya terbaring
lemah disana. Segala macam alat dan kabel tampak menempel di tubuhnya. Detak
jantungnya terdengar stabil. Boy duduk di samping Joya, menggenggam tangannya.
Boy :
“Sayang... Joya, bangun... Ini aku, Boy.”
Joya : “...”
Boy : “Ini aku,
suamimu Boy. Bangunlah, aku minta maaf, Joya.”
Air mata Boy
__ADS_1
akhirnya mengalir deras membasahi pipinya, ia menyedot ingusnya yang ikutan
keluar juga dari hidungnya. Setetes air mata Boy jatuh dan mengenai jemari
tangan Joya. Tetesan berikutnya jatuh juga membasahi jemari tangan Joya yang
lain.
Boy mengambil
tisu di atas meja di samping tempat tidur Joya, ia mengusap wajahnya dan
mencoba menghentikan tangisannya. Boy bahkan tidak bisa bicara karena terus
sesenggukan.
Boy : “Joya...”
Joya : “Mmm...
mass...”
Boy merasakan
gerakan tangan Joya, hanya sekali kemudian diam lagi. Boy menunggu sebentar
karena tidak yakin apa memang Joya menggerakkan tangannya.
Joya : “Boy...”
Kali ini Joya
menggenggam tangan Boy dengan erat, perlahan Boy melihat Joya membuka matanya.
Boy : “Joya?!
Joya, ini aku Boy. Aku disini.”
Joya : “Mas...”
Joya menatap
Boy dari sudut matanya, ia mencoba tersenyum tapi hidung dan mulutnya masih
tertutup oksigen.
Joya :
“Ma...af, mas.”
Boy : “Aku yang
salah, Joya. Maafkan aku. Aku yang bodoh.”
Joya : “Mas...”
Boy : “Jangan
banyak bicara dulu... Aku sudah tahu semuanya. Semua kebenarannya.”
Tiba-tiba
monitor di samping Joya berbunyi nyaring. Tekanan darahnya tiba-tiba tidak
stabil sesuai standar normalnya. Suster segera datang dan memeriksa keadaan
menyuntikkan sesuatu ke infus Joya.
Suster : “Tuan,
tolong jangan membuat emosi pasien naik turun. Cukup menunggu saja di
sampingnya.”
Boy : “Baik,
suster.”
Boy duduk
kembali di samping Joya yang masih tersenyum padanya. Boy kembali memegang
tangan Joya, menempelkannya di pipinya.
Boy : “Tidur,
Joya. Istirahatlah.”
Joya : “Minum,
mas.”
Boy menoleh
pada suster dan menanyakan apa Joya boleh minum air. Suster mengangguk dan
membawakan segelas air dengan sedotan untuk Joya. Joya menyedot air itu sampai
airnya habis tak tersisa.
Suster : “Nyonya
kesulitan bernafas?”
Joya
menggeleng,
Suster : “Saya
lepas oksigennya sebentar ya.”
Suster melepas
oksigen Joya dan meninggalkan mereka lagi. Joya mengelus pipi Boy, ia meringis
merasakan rambut tipis dan tajam di sekitar pipi Boy.
Boy : “Tajam
ya? Aku belum cukuran pagi ini.”
Joya : “Sudah
makan?”
Boy : “Sudah...”
__ADS_1
Boy menahan
kata-katanya, ia kembali ingin menangis. Dalam keadaannya yang lemah begini,
Joya sangat memperhatikannya. Bahkan setelah perlakuan dan kata-kata kasar Boy
sebelumnya.
Boy : “Maafkan
aku, Joya. Aku salah tidak mempercayaimu. Kata-kataku juga kasar sekali.”
Joya : “Aku
yang salah, mas.”
Boy :
“Tidak...”
Joya :
“Harusnya aku minta ijin dengan benar. Aku salah, mas. Maaf.”
Boy : “Apa kau
mau memaafkan aku?”
Joya : “Iya,
mas. Mas juga mau maafin aku?”
Boy : “Kamu gak
salah, sayang. Aku akan selalu mempercayaimu sampai kapanpun. Maafkan aku,
sayang.”
Joya : “Mas gak
mau maafin aku?”
Boy memeluk
tangan Joya dan menciumi punggung tangan istrinya itu.
Boy : “Aku
maafin. Aku sangat mencintaimu, Joya.”
Joya : “Aku
juga, mas.”
Mata Joya
perlahan menutup kembali, pengaruh obat yang tadi disuntikkan suster mulai
terasa. Boy yang melihat Joya memejamkan matanya lagi, jadi panik dan memanggil
suster.
Boy : “Suster,
tolong...! Kenapa istri saya begini?”
Suster mendekat
dan mengecek kondisi Joya,
Suster :
“Nyonya sedang tidur, tuan. Sebaiknya tuan keluar dulu.”
Boy : “Kapan
Joya bisa pindah ke kamar, suster?”
Suster : “Kalau
kondisinya sudah stabil, tuan. Dokter Risman akan datang setelah praktek. Kita
akan tahu saat itu.”
Boy : “Baik,
suster.”
Boy ingin
menunggu di luar ruang ICU, tapi Joya tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
Akhirnya Boy tetap diam di samping Joya, ia menatap intens wajah Joya yang
masih pucat.
Boy : “Maafkan
aku, sayang. Sungguh, aku minta maaf. Kenapa kau sangat mudah memaafkan aku ,
setelah semua yang kulakukan. Bahkan di tanganmu masih ada lebam. Lebih baik
kalau kau pukul aku saja, Joya.”
Boy mencium
tangan Joya lagi,
Boy : “Aku
janji akan merubah sifatku ini, sungguh aku sangat menyesal. Aku mencintaimu,
Joya.”
Boy menyusap
kepala Joya, dan menunggu dengan sabar sampai Joya terbangun nanti.
*****
Akhirnya baikan
dan kesalahpahaman juga sudah selesai. Apa selanjutnya?
#Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.