Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Memaafkan


__ADS_3

Ambulance


segera sampai di rumah sakit, Joya diturunkan di UGD dan dokter Risman


memerintahkan untuk langsung membawa Joya ke ICU. Boy mengikuti langkah cepat


perawat dan dokter Risman mendorong bed Joya menuju ruang ICU di samping UGD.


Boy diminta menunggu di luar sementara Joya dirawat di dalam ruangan khusus


itu.


Beberapa saat


kemudian Ny. Lastri dan Ny. Putri menyusul Boy yang sedang duduk di depan ruang


ICU.


Ny. Lastri :


“Boy, Joya dimana?”


Boy : “Masih


ditangani dokter, dia di dalam sana.”


Ny. Putri


menepuk punggung Boy,


Ny. Putri :


“Sebaiknya kau mandi, Boy. Penampilanmu kacau sekali.”


Boy : “Aku mau


nunggu Joya sadar dulu, mbak.”


Rian mendekati


ketiga bersaudara itu, ia baru selesai mengurus administrasi untuk Joya dan


membooking kamar.


Rian : “Tuan


Boy, sebaiknya tuan mandi dulu. Saya sudah bawakan pakaian ganti. Tuan juga


belum makan.”


Boy : “Aku mau


disini saja.”


Rian : “Tuan,


saya mohon. Sebentar saja. Ny. Lastri dan Ny. Putri akan menelpon kalau Ny.


Joya perlu apa-apa.”


Ny. Putri :


“Iya, Boy. Kamu tenang aja. Mandi dulu sana, jangan sampai kamu ikutan sakit


juga.”


Boy dengan


sangat terpaksa mengikuti langkah Rian dengan cepat dan segera membersihkan


dirinya di dalam kamar VVIP rumah sakit itu. Ia mandi dan mencuci wajahnya,


setelah selesai, Rian sudah menyiapkan sarapan untuknya.


Rian : “Sarapan


dulu, tuan. Sedikit saja.”


Boy : “Aku


tidak selera, kamu saja yang makan.”


Rian : “Tuan,


kalau tuan tidak makan, Ny. Joya juga tidak akan mau makan. Tuan harus kuat


untuk menjaga Ny. Joya.”


Akhirnya Boy


mau memakan sarapannya meskipun hanya setengah porsi. Selesai makan, Boy


kembali ke depan ruang ICU dan melihat Ny. Lastri bicara dengan dokter Risman.


Boy : “Dokter,


gimana Joya?”


dr. Risman :


“Ach, ini dia datang. Masuklah, Boy. Dari tadi Joya mengigau namamu terus.”


Boy masuk ke


ruang ICU dan memakai baju steril. Suster menunjukkan tempat Joya berbaring dan


meninggalkannya sendirian.


Boy berjalan


mendekati Joya, ia menahan air matanya agar tidak jatuh melihat Joya terbaring


lemah disana. Segala macam alat dan kabel tampak menempel di tubuhnya. Detak


jantungnya terdengar stabil. Boy duduk di samping Joya, menggenggam tangannya.


Boy :


“Sayang... Joya, bangun... Ini aku, Boy.”


Joya : “...”


Boy : “Ini aku,


suamimu Boy. Bangunlah, aku minta maaf, Joya.”


Air mata Boy

__ADS_1


akhirnya mengalir deras membasahi pipinya, ia menyedot ingusnya yang ikutan


keluar juga dari hidungnya. Setetes air mata Boy jatuh dan mengenai jemari


tangan Joya. Tetesan berikutnya jatuh juga membasahi jemari tangan Joya yang


lain.


Boy mengambil


tisu di atas meja di samping tempat tidur Joya, ia mengusap wajahnya dan


mencoba menghentikan tangisannya. Boy bahkan tidak bisa bicara karena terus


sesenggukan.


Boy : “Joya...”


Joya : “Mmm...


mass...”


Boy merasakan


gerakan tangan Joya, hanya sekali kemudian diam lagi. Boy menunggu sebentar


karena tidak yakin apa memang Joya menggerakkan tangannya.


Joya : “Boy...”


Kali ini Joya


menggenggam tangan Boy dengan erat, perlahan Boy melihat Joya membuka matanya.


Boy : “Joya?!


Joya, ini aku Boy. Aku disini.”


Joya : “Mas...”


Joya menatap


Boy dari sudut matanya, ia mencoba tersenyum tapi hidung dan mulutnya masih


tertutup oksigen.


Joya :


“Ma...af, mas.”


Boy : “Aku yang


salah, Joya. Maafkan aku. Aku yang bodoh.”


Joya : “Mas...”


Boy : “Jangan


banyak bicara dulu... Aku sudah tahu semuanya. Semua kebenarannya.”


Tiba-tiba


monitor di samping Joya berbunyi nyaring. Tekanan darahnya tiba-tiba tidak


stabil sesuai standar normalnya. Suster segera datang dan memeriksa keadaan


menyuntikkan sesuatu ke infus Joya.


Suster : “Tuan,


tolong jangan membuat emosi pasien naik turun. Cukup menunggu saja di


sampingnya.”


Boy : “Baik,


suster.”


Boy duduk


kembali di samping Joya yang masih tersenyum padanya. Boy kembali memegang


tangan Joya, menempelkannya di pipinya.


Boy : “Tidur,


Joya. Istirahatlah.”


Joya : “Minum,


mas.”


Boy menoleh


pada suster dan menanyakan apa Joya boleh minum air. Suster mengangguk dan


membawakan segelas air dengan sedotan untuk Joya. Joya menyedot air itu sampai


airnya habis tak tersisa.


Suster : “Nyonya


kesulitan bernafas?”


Joya


menggeleng,


Suster : “Saya


lepas oksigennya sebentar ya.”


Suster melepas


oksigen Joya dan meninggalkan mereka lagi. Joya mengelus pipi Boy, ia meringis


merasakan rambut tipis dan tajam di sekitar pipi Boy.


Boy : “Tajam


ya? Aku belum cukuran pagi ini.”


Joya : “Sudah


makan?”


Boy : “Sudah...”

__ADS_1


Boy menahan


kata-katanya, ia kembali ingin menangis. Dalam keadaannya yang lemah begini,


Joya sangat memperhatikannya. Bahkan setelah perlakuan dan kata-kata kasar Boy


sebelumnya.


Boy : “Maafkan


aku, Joya. Aku salah tidak mempercayaimu. Kata-kataku juga kasar sekali.”


Joya : “Aku


yang salah, mas.”


Boy :


“Tidak...”


Joya :


“Harusnya aku minta ijin dengan benar. Aku salah, mas. Maaf.”


Boy : “Apa kau


mau memaafkan aku?”


Joya : “Iya,


mas. Mas juga mau maafin aku?”


Boy : “Kamu gak


salah, sayang. Aku akan selalu mempercayaimu sampai kapanpun. Maafkan aku,


sayang.”


Joya : “Mas gak


mau maafin aku?”


Boy memeluk


tangan Joya dan menciumi punggung tangan istrinya itu.


Boy : “Aku


maafin. Aku sangat mencintaimu, Joya.”


Joya : “Aku


juga, mas.”


Mata Joya


perlahan menutup kembali, pengaruh obat yang tadi disuntikkan suster mulai


terasa. Boy yang melihat Joya memejamkan matanya lagi, jadi panik dan memanggil


suster.


Boy : “Suster,


tolong...! Kenapa istri saya begini?”


Suster mendekat


dan mengecek kondisi Joya,


Suster :


“Nyonya sedang tidur, tuan. Sebaiknya tuan keluar dulu.”


Boy : “Kapan


Joya bisa pindah ke kamar, suster?”


Suster : “Kalau


kondisinya sudah stabil, tuan. Dokter Risman akan datang setelah praktek. Kita


akan tahu saat itu.”


Boy : “Baik,


suster.”


Boy ingin


menunggu di luar ruang ICU, tapi Joya tidak mau melepaskan genggaman tangannya.


Akhirnya Boy tetap diam di samping Joya, ia menatap intens wajah Joya yang


masih pucat.


Boy : “Maafkan


aku, sayang. Sungguh, aku minta maaf. Kenapa kau sangat mudah memaafkan aku ,


setelah semua yang kulakukan. Bahkan di tanganmu masih ada lebam. Lebih baik


kalau kau pukul aku saja, Joya.”


Boy mencium


tangan Joya lagi,


Boy : “Aku


janji akan merubah sifatku ini, sungguh aku sangat menyesal. Aku mencintaimu,


Joya.”


Boy menyusap


kepala Joya, dan menunggu dengan sabar sampai Joya terbangun nanti.


*****


Akhirnya baikan


dan kesalahpahaman juga sudah selesai. Apa selanjutnya?


#Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2