
Melinda
senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu.
Melinda : “Dia
menghabiskan makanan itu dan meminta lagi karena dia masih lapar. Aku bilang
sama dia kalau itu aku masak dari sisa bahan makanan di dapur. Kalau mau masak
lagi, aku harus ambil persediaan di dalam kulkas dan kokinya harus tahu. Dia langsung
ngambil sendiri bahan-bahan yang kuperlukan dan menungguiku masak. Selesai aku
masak, dia membagi makanan itu jadi dua dan memintaku makan bersamanya.”
Joya bengong
mendengarkan Melinda bercerita, sementara Boy sibuk membalas chat dari Rian.
Pekerjaannya di kantor sudah memanggil-manggil Boy, tapi ia belum bisa beranjak
dari cafe itu.
Melinda : “Gitu
aja terus berlangsung selama beberapa hari. Sampai aku disangka menggoda
suamiku. Padahal penampilanku waktu itu masih culun, gak kayak sekarang.”
Melinda tertawa
mengingat saat-saat menggelikan ia dituduh menggoda bosnya saat itu. Yang benar
saja dengan penampilan yang culun seperti dulu, mana ada yang percaya sich.
Melinda : “Untuk
meredakan situasi yang panas, dia memintaku datang ke rumahnya untuk memasak
makanan untuk dia. Tentu saja dengan tambahan uang lembur yang tidak bisa
kutolak. Haduh, Joya kamu tahu gak perasaanku waktu itu.”
Joya : “Apa
yang terjadi? Apa?”
Melinda : “Waktu
aku lagi masak, dia tiba-tiba ngdeketin aku. Pura-pura nanya aku lagi masak
apa. Aku jawab aja lagi masak ayam kecap sama sayur capcay. Trus...”
Joya : “Apa?
Jangan buat aku penasaran.”
Boy sedikit
terusik dengan pembicaraan kedua wanita di sampingnya itu tapi ia tidak bisa
mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Melinda : “Dia
tiba-tiba nyium aku trus bilang mau gak nikah sama dia. Aku shock sampai
masakanku hampir gosong.” Kata Melinda dengan berbinar-binar.
Joya : “Kamu
langsung terima dong. Ya, kan!”
Melinda : “Gak
lah. Aku kira dia cuma bercanda. Aku masih sadar diriku itu siapa. Habis masak,
aku langsung pulang dan gak kamu diantar dia.”
Joya : “Trus
kok bisa nikah?”
Melinda : “Besoknya
dia datang ke rumahku dan melamarku langsung pada orang tuaku. Ia langsung
datang sama orang tuanya. Aku gak nyangka dia ternyata serius. Aku juga baru
tahu selama aku masak di rumahnya, orang tuanya juga ikut makan masakanku.
Papanya ingin aku jadi juru masak di rumah itu, tapi suamiku bersikeras kalau
aku harus jadi istrinya.”
Joya : “Oh,
romantis banget sich.”
Melinda : “Ya,
gitu dech. Bukannya kisahmu juga sama ya. Kalau dipikir lagi seperti mimpi
__ADS_1
saja. Tapi ya beginilah. Endingnya sama-sama happy.”
Joya : “Iya,
mimpi aja gak berani waktu itu, tapi sudah jodoh, gak kemana-mana. Hihi...”
Keduanya
menoleh pada Boy yang melotot melihat ponselnya. Melinda meminta Joya
mengalihkan perhatian Boy dari pekerjaannya. Ia ingin tahu apa Boy semudah itu
akan teralihkan. Sejak SMA, paling sulit menarik perhatian Boy. Kalau gak
benar-benar penting, ia tidak akan terganggu kalau sudah serius melakukan
sesuatu.
Joya : “Mas...
sayang...” rayu Joya sambil mengelus paha Boy.
Melinda terpana
melihat Boy langsung meletakkan ponselnya dan beralih menatap Joya.
Boy : “Ya,
sayang. Kamu mau apa?”
Melinda : “Heh!
Jatuh cinta membuatmu jadi bucin, Boy.”
Boy : “Berisik
banget sich, lo. Uda selesai ceritanya?”
Melinda : “Hmm...
Udah sore, pulang gih. Aku juga mau pulang.”
Boy : “Kamu
pulang ama sapa?”
Melinda : “Sama
sopir dong. Hehehehe... Joya, seneng banget bisa ketemu kamu.”
Joya : “Aku
juga. Makasi ceritanya. Keren banget.”
Mereka berpisah
bisa mengenal Melinda.
*****
Joya bersandar
pada Boy selama perjalanan pulang. Ia sangat malu karena cemburu yang
berlebihan sampai membuat lengan suaminya itu memar kebiruan. Joya
mengusap-usap lengan Boy yang membuat Boy gemas melihatnya.
Boy : “Coba
boleh, awas aja kamu ya.”
Joya
menjulurkan lidahnya keluar sambil mengedipkan matanya pada Boy. Entah melihat
entah tidak, sopir Boy menekan tombol agar kaca diantara sopir dan penumpang
menutup. Membuat Boy leluasa mencium Joya sampai istrinya hampir kehabisan
nafas.
Mereka sampai
di rumah Ny. Besar, tepat saat semua orang sedang berkumpul untuk menunggu jam
makan malam.
Joya : “Ibu...”
Joya berjalan
cepat menyapa mertuanya. Semua orang tersenyum melihat Joya mencium tangan Ny.
Besar dan Joya tersenyum manis karena kepalanya dielus-elus mertuanya. Joya
terlihat seperti kucing penurut kalau sudah bertemu dengan Ny. Besar.
Ny. Lastri : “Joya,
tumben sekali pakaianmu begitu. Kalian habis dari mana?”
Joya menatap
__ADS_1
Boy yang mengangguk, sebelum menjawab kakak iparnya.
Joya : “Kami
dari kantor, mbak. Cuma tadi ada sedikit insiden. Jadi Joya pakai baju begini.”
Ny. Lastri : “Insiden
apa?” tanyanya dengan cemas.
Boy
menceritakan inti masalah yang tadi mereka hadapi pada keluarga besar mereka.
Ia meminta mereka berhati-hati siapa tahu Lia menyebarkan gosip yang tidak-tidak
karena sakit hatinya.
Ny. Putri : “Wah,
trus gimana kamu bisa segar bugar gini? Bukannya kalau minum obat itu jadi
kepanasan ya.”
Mereka semua
bergantian menatap wajah Joya dan Boy yang memerah.
Ny. Putri : “Jangan
bilang... Boy, kamu tuch ya. Jadi itu alasan Joya pakai baju tertutup gitu.”
Mereka yang
hanya menyimak jadi saling pandang karena gak ngerti dengan kata-kata Ny.
Putri. Melihat keluarga besar mereka penasaran, Ny. Putri hampir buka kartu,
tapi Joya memohon untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
Ny. Putri : “Joya,
disini yang penasaran lebih banyak dari pada yang tahu. Sudah tentu aku harus
cerita apa yang terlintas di pikiranku.”
Boy : “Mbak
Putri, malu nich. Mbak diem dech.”
Ny. Putri
menyuruh Boy diam dan ia memberitahu teori kalau Boy dan Joya bercinta sampai
seluruh tubuh Joya ada bekas cupangan dari Boy. Mereka semua langsung menatap
intens kedua suami istri itu dan mulai mengeluarkan aneka macam gumaman yang
membuat keduanya semakin malu.
Joya : “Ibu...”
manja Joya pada Ny. Besar, berharap ibunya akan membantu menghentikan godaan
mereka.
Ny. Besar : “Ehem,
ya gara-gara itu juga mereka gak boleh itu selama sebulan.”
Buahahahahahahahaha...
Boy menggaruk kepalanya melihat saudara dan ipar lelakinya ketawa ngakak
mengasihani dirinya. Apalagi mereka tahu kalau Ny. Besar merencanakan bulan
madu untuk mereka.
Ny. Putri : “Kasian
banget sich kamu Boy. Honey moon tapi gak bisa ngapa-ngapain. Puasa!”
Boy dan Joya
makin menunduk malu diketawain seluruh keluarga mereka.
Boy : “Biarin
dech diketawain, yang penting kita honeymoon gratis. Ada sponsor.”
Boy menyodorkan
amplop putih yang diberikan Melinda pada Ny. Besar. Untung saja Ny. Besar belum
memesan tiket pesawat untuk mereka. Jadi hadiah yang diberikan Melinda bisa
mereka gunakan.
*****
Next visual pemain ya, kk.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.