Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Cinta romantis


__ADS_3

Melinda


senyum-senyum sendiri mengingat saat-saat itu.


Melinda : “Dia


menghabiskan makanan itu dan meminta lagi karena dia masih lapar. Aku bilang


sama dia kalau itu aku masak dari sisa bahan makanan di dapur. Kalau mau masak


lagi, aku harus ambil persediaan di dalam kulkas dan kokinya harus tahu. Dia langsung


ngambil sendiri bahan-bahan yang kuperlukan dan menungguiku masak. Selesai aku


masak, dia membagi makanan itu jadi dua dan memintaku makan bersamanya.”


Joya bengong


mendengarkan Melinda bercerita, sementara Boy sibuk membalas chat dari Rian.


Pekerjaannya di kantor sudah memanggil-manggil Boy, tapi ia belum bisa beranjak


dari cafe itu.


Melinda : “Gitu


aja terus berlangsung selama beberapa hari. Sampai aku disangka menggoda


suamiku. Padahal penampilanku waktu itu masih culun, gak kayak sekarang.”


Melinda tertawa


mengingat saat-saat menggelikan ia dituduh menggoda bosnya saat itu. Yang benar


saja dengan penampilan yang culun seperti dulu, mana ada yang percaya sich.


Melinda : “Untuk


meredakan situasi yang panas, dia memintaku datang ke rumahnya untuk memasak


makanan untuk dia. Tentu saja dengan tambahan uang lembur yang tidak bisa


kutolak. Haduh, Joya kamu tahu gak perasaanku waktu itu.”


Joya : “Apa


yang terjadi? Apa?”


Melinda : “Waktu


aku lagi masak, dia tiba-tiba ngdeketin aku. Pura-pura nanya aku lagi masak


apa. Aku jawab aja lagi masak ayam kecap sama sayur capcay. Trus...”


Joya : “Apa?


Jangan buat aku penasaran.”


Boy sedikit


terusik dengan pembicaraan kedua wanita di sampingnya itu tapi ia tidak bisa


mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Melinda : “Dia


tiba-tiba nyium aku trus bilang mau gak nikah sama dia. Aku shock sampai


masakanku hampir gosong.” Kata Melinda dengan berbinar-binar.


Joya : “Kamu


langsung terima dong. Ya, kan!”


Melinda : “Gak


lah. Aku kira dia cuma bercanda. Aku masih sadar diriku itu siapa. Habis masak,


aku langsung pulang dan gak kamu diantar dia.”


Joya : “Trus


kok bisa nikah?”


Melinda : “Besoknya


dia datang ke rumahku dan melamarku langsung pada orang tuaku. Ia langsung


datang sama orang tuanya. Aku gak nyangka dia ternyata serius. Aku juga baru


tahu selama aku masak di rumahnya, orang tuanya juga ikut makan masakanku.


Papanya ingin aku jadi juru masak di rumah itu, tapi suamiku bersikeras kalau


aku harus jadi istrinya.”


Joya : “Oh,


romantis banget sich.”


Melinda : “Ya,


gitu dech. Bukannya kisahmu juga sama ya. Kalau dipikir lagi seperti mimpi

__ADS_1


saja. Tapi ya beginilah. Endingnya sama-sama happy.”


Joya : “Iya,


mimpi aja gak berani waktu itu, tapi sudah jodoh, gak kemana-mana. Hihi...”


Keduanya


menoleh pada Boy yang melotot melihat ponselnya. Melinda meminta Joya


mengalihkan perhatian Boy dari pekerjaannya. Ia ingin tahu apa Boy semudah itu


akan teralihkan. Sejak SMA, paling sulit menarik perhatian Boy. Kalau gak


benar-benar penting, ia tidak akan terganggu kalau sudah serius melakukan


sesuatu.


Joya : “Mas...


sayang...” rayu Joya sambil mengelus paha Boy.


Melinda terpana


melihat Boy langsung meletakkan ponselnya dan beralih menatap Joya.


Boy : “Ya,


sayang. Kamu mau apa?”


Melinda : “Heh!


Jatuh cinta membuatmu jadi bucin, Boy.”


Boy : “Berisik


banget sich, lo. Uda selesai ceritanya?”


Melinda : “Hmm...


Udah sore, pulang gih. Aku juga mau pulang.”


Boy : “Kamu


pulang ama sapa?”


Melinda : “Sama


sopir dong. Hehehehe... Joya, seneng banget bisa ketemu kamu.”


Joya : “Aku


juga. Makasi ceritanya. Keren banget.”


Mereka berpisah


bisa mengenal Melinda.


*****


Joya bersandar


pada Boy selama perjalanan pulang. Ia sangat malu karena cemburu yang


berlebihan sampai membuat lengan suaminya itu memar kebiruan. Joya


mengusap-usap lengan Boy yang membuat Boy gemas melihatnya.


Boy : “Coba


boleh, awas aja kamu ya.”


Joya


menjulurkan lidahnya keluar sambil mengedipkan matanya pada Boy. Entah melihat


entah tidak, sopir Boy menekan tombol agar kaca diantara sopir dan penumpang


menutup. Membuat Boy leluasa mencium Joya sampai istrinya hampir kehabisan


nafas.


Mereka sampai


di rumah Ny. Besar, tepat saat semua orang sedang berkumpul untuk menunggu jam


makan malam.


Joya : “Ibu...”


Joya berjalan


cepat menyapa mertuanya. Semua orang tersenyum melihat Joya mencium tangan Ny.


Besar dan Joya tersenyum manis karena kepalanya dielus-elus mertuanya. Joya


terlihat seperti kucing penurut kalau sudah bertemu dengan Ny. Besar.


Ny. Lastri : “Joya,


tumben sekali pakaianmu begitu. Kalian habis dari mana?”


Joya menatap

__ADS_1


Boy yang mengangguk, sebelum menjawab kakak iparnya.


Joya : “Kami


dari kantor, mbak. Cuma tadi ada sedikit insiden. Jadi Joya pakai baju begini.”


Ny. Lastri : “Insiden


apa?” tanyanya dengan cemas.


Boy


menceritakan inti masalah yang tadi mereka hadapi pada keluarga besar mereka.


Ia meminta mereka berhati-hati siapa tahu Lia menyebarkan gosip yang tidak-tidak


karena sakit hatinya.


Ny. Putri : “Wah,


trus gimana kamu bisa segar bugar gini? Bukannya kalau minum obat itu jadi


kepanasan ya.”


Mereka semua


bergantian menatap wajah Joya dan Boy yang memerah.


Ny. Putri : “Jangan


bilang... Boy, kamu tuch ya. Jadi itu alasan Joya pakai baju tertutup gitu.”


Mereka yang


hanya menyimak jadi saling pandang karena gak ngerti dengan kata-kata Ny.


Putri. Melihat keluarga besar mereka penasaran, Ny. Putri hampir buka kartu,


tapi Joya memohon untuk tidak melanjutkan kata-katanya.


Ny. Putri : “Joya,


disini yang penasaran lebih banyak dari pada yang tahu. Sudah tentu aku harus


cerita apa yang terlintas di pikiranku.”


Boy : “Mbak


Putri, malu nich. Mbak diem dech.”


Ny. Putri


menyuruh Boy diam dan ia memberitahu teori kalau Boy dan Joya bercinta sampai


seluruh tubuh Joya ada bekas cupangan dari Boy. Mereka semua langsung menatap


intens kedua suami istri itu dan mulai mengeluarkan aneka macam gumaman yang


membuat keduanya semakin malu.


Joya : “Ibu...”


manja Joya pada Ny. Besar, berharap ibunya akan membantu menghentikan godaan


mereka.


Ny. Besar : “Ehem,


ya gara-gara itu juga mereka gak boleh itu selama sebulan.”


Buahahahahahahahaha...


Boy menggaruk kepalanya melihat saudara dan ipar lelakinya ketawa ngakak


mengasihani dirinya. Apalagi mereka tahu kalau Ny. Besar merencanakan bulan


madu untuk mereka.


Ny. Putri : “Kasian


banget sich kamu Boy. Honey moon tapi gak bisa ngapa-ngapain. Puasa!”


Boy dan Joya


makin menunduk malu diketawain seluruh keluarga mereka.


Boy : “Biarin


dech diketawain, yang penting kita honeymoon gratis. Ada sponsor.”


Boy menyodorkan


amplop putih yang diberikan Melinda pada Ny. Besar. Untung saja Ny. Besar belum


memesan tiket pesawat untuk mereka. Jadi hadiah yang diberikan Melinda bisa


mereka gunakan.


*****


Next visual pemain ya, kk.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2