
Deril menjalankan mobilnya keluar dari cafe itu, Mike terlihat mengamuk di areal parkir cafenya. Sepanjang jalan, Mila hanya diam. Deril tahu kalau Mila perlu waktu menenangkan dirinya, ia melihat sudah jam makan siang. Deril memutuskan membawa Mila ke hotel tempat dia menginap.
Deril menghentikan mobilnya di lobby hotel, ia menatap Mila
Deril : “Kita turun dulu ya. Aku harus mengemas barang-barangku.”
Mila mengangguk dan keluar dari mobil, valet membantu memarkir mobil Deril, sementara mereka berjalan ke dalam hotel. Tring! Lift terbuka di depan mereka dan Deril menuntun Mila masuk. Di dalam lift, Deril menggenggam tangan Mila yang masih gemetar.
Deril membuka pintu kamar no. 360, mengajak Mila masuk dan memintanya duduk di sofa. Ia berlutut di depan
Mila, menatap matanya yang memerah karena menahan tangisan.
Deril : “Sekarang kau bisa nangis kalau masih merasa gak enak.”
Mila : “Aku capek nangis cuma gara-gara orang gila itu. Sampai kapan dia akan mengejarku terus.”
Deril : “Mungkin sekarang dia tidak akan mengejarmu lagi.”
Mila : “Bagaimana kau bisa begitu yakin?”
Deril : “Sekarang dia sudah tahu kalau kau punya suami, bukankah dari awal dia hanya ingin mendapatkan perawanmu saja. Kalau kau punya suami, bukankah perawanmu sudah hilang?”
Mila : “Tapi aku belum menikah dan masih perawan!”
Deril tersenyum menatap Mila yang tiba-tiba ngegas, mereka saling menatap selama beberapa saat.
Mila : “Oh, aku mengerti, dia tidak tahu kalau itu bohong. Benar juga, kenapa aku tidak pernah berpikir sampai kesana. Yang kulakukan hanya menghindarinya saja, seharusnya aku melakukan ini dari dulu.”
Deril : “Melakukan apa?”
Mila : “Menikah dengan seseorang.”
Deril : “Lalu aku?”
Mila menatap Deril bingung,
Mila : “Kamu kenapa?
Deril : “Ach, sudahlah. Kau mau makan apa? Pilih makanannya disini. Aku harus ke toilet.”
🍃🍃🍃🍃🍃
Deril berjalan masuk ke kamar mandi, ia melihat wajahnya di cermin.
Deril : “Apa sich yang kamu pikirkan, Ril? Sama sekali tidak ada kemajuan.” Tiba-tiba bayangan saudara
kembarnya muncul di cermin
Aril : “Katakan saja langsung, Ril. Jangan bertele-tele atau dia akan pergi darimu.”
Deril : “Apa kau gila!”
Aril : “Aku memang gila dan apa yang didapat pria gila ini, kekasih yang seksi dan hot. Mau sampai kapan kau sendiri?”
Deril : “Aku belum yakin dengan perasaanku.”
Aril : “Kau tidak yakin? Lalu kenapa kau mengakuinya sebagai istrimu? Apa kau gila?”
Deril : “...”
Aril : “Katakan padanya kau ingin menikah dengannya, buat dia terpikat pada tubuhmu. Apa perlu aku mengajarimu?”
Deril : “Pergi kau, setan!”
__ADS_1
Bayangan Aril menghilang dari cermin, meninggalkan pantulan wajah Deril yang galau.
🌴🌴🌴🌴🌴
Deril mencuci wajahnya sampai baju yang dipakainya basah, ia melepas baju itu dan mengambil handuk. Saat keluar dari kamar mandi, ia hampir menabrak Mila,
Mila : “Maaf, aku kebelet.”
Deril : “Kebelet?”
Mila tidak menggubris Deril dan langsung menutup pintu kamar mandi. Deril melihat makanan sudah siap diatas meja, siap disantap. Keningnya mengkerut, bagaimana Mila tahu kalau dia ingin makan nasi goreng?
Mila keluar dari kamar mandi, merasa lega sudah menyalurkan hasratnya ingin pipis. Ia melihat Deril duduk di depan sofa, menatapnya yang berjalan mendekat.
Mila : “Ayo makan, aku sudah lapar.”
Deril : “Bagaimana kau tahu kalau aku mau makan nasi goreng?”
Mila : “Aku hanya asal tebak, sepertinya kau jarang kesini, dan makanan yang paling enak di Indonesia adalah
nasi goreng. Jadi aku memesannya untukmu.”
Deril semakin tidak mengerti jalan yang Tuhan tunjukkan padanya, dia hampir salah mengira kekagumannya pada Aliya adalah sebuah bentuk cinta. Tapi berbeda dengan Mila, apa ini hanya sebuah kekaguman atau cinta?
Kali ini dia mengakui kalau saudara kembarnya ada benarnya, seharusnya dia katakan saja langsung dan bukan melemparkan umpan kepada Mila yang tidak peka. Tapi dia harus meyakinkan bahwa Mila memang masih single, agar tidak gagal lagi seperti saat mengejar Aliya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Mereka sudah selesai makan, Mila duduk di sofa kamar hotel Deril, sementara Deril mulai berkemas. Mereka harus tiba di bandara sebelum jam 7 malam.
Deril : “Aku sudah selesai, ayo kita pergi.”
Mila : “Tidak ada yang ketinggalan kan? Coba kau keliling kamar sekali lagi dan periksa semua laci.”
Deril melakukan apa yang diminta Mila dan menemukan charger HP-nya tertinggal di atas nakas, pakaiannya
Mila : “Tuch, kan. Sudah semua? Ayo pergi. Mobilmu bagaimana?”
Deril : “Seseorang akan mengurusnya, aku sudah bilang untuk mengambilnya di bandara nanti.”
Pintu lift terbuka, Mila masuk disusul Deril yang membawa kopernya. Mereka mampir ke lobby untuk melunasi pembayaran, mobil Deril sudah siap di depan lobby hotel.
Mereka menuju apartment Mila untuk mengambil kopernya. Lagi-lagi kejadian tidak mengenakkan harus mereka alami. Mike sudah menunggu mereka di parkiran. Deril keluar dari mobil, ia mendorong Mike yang berdiri di dekat pintu mobil penumpang.
Deril membuka pintu untuk Mila yang enggan keluar, tapi Deril menatapnya dengan lembut membuat Mila sedikit tenang. Setelah pintu mobil ditutup, mereka berhadapan dengan Mike. Deril merangkul pinggang Mila, membuat tubuh Mila menempel pada tubuhnya.
Deril : “Sayang, jangan menggodaku. Apa semalam masih kurang? Aku bisa melakukannya disini sekarang.”
Deril menatap tajam pada Mike yang masih bergeming menatap mereka berdua. Tangan Deril menarik dagu Mila
dan mencium gadis manis itu di depan Mike. Awalnya Mila sangat kaget, tapi dengan cepat ia menyambut ciuman Deril, merangkulkan tangannya ke leher Deril.
Ciuman Deril turun ke leher Mila sementara tangannya semakin mempererat pelukannya di tubuh Mila. Deril
sempat melirik Mike yang sudah berjalan menjauh sebelum menghentakkan kakinya menendang ban sebuah mobil. Ia masuk ke mobil itu dan pergi dari sana.
Deril belum mau melepaskan Mila, ia kembali mencium Mila yang masih memejamkan matanya menerima perlakuan Deril. Perlahan Deril menghentikan ciumannya pada Mila. Tubuh Mila bersandar pada mobil Deril dengan nafas tidak beraturan.
Deril : “Ayo kita masuk.”
Mila : “Di.. dimana dia?”
Deril : “Baru saja pergi, tapi aku tidak yakin, kita masuk saja dulu.”
__ADS_1
Mila : “...”
Deril berjalan menuju lift sambil merangkul pinggang Mila, bersikap seolah-olah Mike masih mengawasi mereka. Padahal dalam hati Deril merasa sangat bahagia, bibir Mila terasa hangat dan lembut. Sementara pikiran Mila benar-benar kosong saat itu.
Disatu sisi, Mila sangat senang bisa menyingkirkan Mike tanpa kekerasan. Tapi disisi lain, dia bingung bagaimana harus bersikap di depan Deril. Meskipun itu bukan ciuman pertamanya, tapi tetap saja baru kali ini ia merasakan ciuman sepanas itu. Mila benar-benar kepanasan sekarang.
Setelah mereka sampai di depan pintu apartment, Mila segera membuka pintu dan berlari ke kamar mandi.
Deril : “Kamu kebelet lagi?”
Tidak ada jawaban dari Mila yang sedang berdiri di bawah shower. Ia mandi sampai dua kali karena tubuhnya tidak juga merasa nyaman.
Mila : “Aku kenapa? Kenapa ciuman itu tidak bisa aku lupakan. Deril!”
Mila menangis frustasi karena tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang pada Deril. Suaranya
tenggelam dalam suara air dari shower.
🌼🌼🌼🌼🌼
Begitu Mila masuk ke kamar mandi, Deril langsung menelpon Aliya untuk memastikan sesuatu,
Deril : “Halo, Al. Kau sibuk? Apa aku ganggu?”
Aliya : “Hai, Ril. Kau tahulah aku punya bayi besar yang harus kuurus. Maaf aku loudspeaker telponmu. Ada seseorang yang sedang cemburu.”
Deril : “Gak masalah, aku cuma mau nanya apa Mila benar-benar masih single?”
Aliya : “Iya, setahuku mb Mila saat ini single. Dia sempat dekat dengan seseorang beberapa waktu lalu, tapi aku rasa tidak berjalan dengan baik.”
Deril : “Apa kau tahu tentang Mike?”
Aliya : “Apa laki-laki brengsek itu mengganggu mb Mila lagi?!” Suara Aliya tiba-tiba berubah jadi sangat dingin dan kaku. Aldo sampai bergeser sedikit dari sisi Aliya, takut kena bogem.
Deril : “Ya, Mike sempat mengganggu kami, tapi kau tenang saja. Mila baik-baik saja sekarang, aku sempat melakukan sesuatu tadi... Tapi kamu jangan marah ya.”
Aliya : “Mike itu tidak mengerti bahasa manusia, apa yang kau lakukan?”
Deril menceritakan detail kejadian awal saat mereka pertama bertemu Mike dan juga kejadian di parkir bawah tadi.
Deril : “Terserah dech kalau kau mau membunuhku setelah ini, tapi aku benar-benar hanya ingin menolong Mila, agar Mike tidak mengganggunya lagi.”
Aliya : “Jadi kau memang hanya ingin bantu atau kau ingin mengejarnya? Jawabanmu akan menentukan keputusanku selanjutnya.”
Deril : “Bisa aku minta waktu, tapi jujur aku menyukai Mila. Kau tahu, aku merasa nyaman dekat dengannya.”
Aliya : “Jangan mempermainkan mb Mila, Ril. Aku akan membatalkan kontrak partner kita.”
Deril : “Hei, kau sudah setuju menangani bagian itu. Aku belum menemukan penggantimu sampai saat ini. Kau bilang akan mempercepat pernikahanmu kan?”
Aldo : “Kenapa kau tidak bilang padaku, sayang?”
Deril berhasil menarik perhatian Aldo untuk mengalihkan pembicaraan seputar perasaannya pada Mila.
Aldo : “Ril, bisa kau tutup telponnya, kami harus bicara...”
Deril : “Ok, thanks.”
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------