
Jangan terus memaksa kepalamu untuk melupa, sementara hatimu masih saja betah membantunya untuk mengingat.
**
Malam itu mereka dinner romantis dipinggir pantai Gili Nanggu. Embus angin memainkan rambut indah Safira. Gaun malam berwarna merah dengan belahan dada rendah yang sengaja Tyo pilihkan untuk istrinya sangat pas. Gadis lugu itu berubah menjadi wanita cantik nan seksi. Mata Tyo tak beranjak dari wajah Safira, sehingga membuatnya salah tingkah.
"Mas kenapa lihatin saya seperti itu?"
"Kenapa?"
"Saya malu," balas Safira menunduk.
"Kenapa harus malu? Bukannya kemarin malam aku sudah melihat bahkan ke yang paling pribadi milikmu."
"Mas Tyo! Jangan bikin saya lebih malu," pintanya manja seraya menyandar di bahu sang suami. Melihat hal itu, ia mengecup lembut puncak kepala sang istri.
"Kamu bahagia, Safira?"
"Sangat bahagia, Mas! Terima kasih sudah mencintai saya ...."
"Terima kasih juga sudah mau menjadi teman hidupku ... kita makan sekarang?"
***
"Mas Tyo, kenapa nggak bangunin saya sih?" Safira duduk merapatkan selimut. Wajahnya merona saat melihat Tyo baru saja keluar dari kamar mandi. Bertelanjang dada dengan rambut yang basah menetes ke bahu membuat pria itu terlihat seksi.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, Sayang. Kelelahan? Maaf ya," Tyo mendekat dengan tatap mata penuh kelembutan. Pria itu mengusap pipi Safira lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Mandi dulu, selepas ini kita salat lalu ...." Mata Tyo mengerling ke arah istrinya.
"Lalu apa?"
"Eum ... ada yang masih penasaran," bisiknya ditelinga wanita itu membuat Safira bergidik.
"Apaan sih, Mas?" Lagi-lagi wajah cantik itu merona menahan malu.
"Ya udah, mandi sana! Atau ...."
"Atau?"
"Aku mandiin!"
Safira mencubit kuat lengan kokoh sang suami. Tyo terkekeh melihat ekspresi wanita itu.
***
Tyo tersenyum menatap paras sang istri yang masih terlelap. Tak cukup rasanya seminggu untuk berdua di tempat ini. Debur ombak serta angin sepoi seolah membersamai kebahagiaan dua insan tersebut. Tiada hari tanpa kemesraan. Kedewasaan Tyo membuat Safira merasa terlindungi. Demikian pula dengan kemanjaan sang istri membuatnya semakin jatuh cinta.
Dikecupnya sekilas bibir ranum Safira, merapatkan selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Kemudian ia beranjak ke kamar mandi. Sore nanti mereka akan kembali ke kota asal.
"Alva, nanti kakakmu datang. Jangan lupa laporan kerja dia yang kamu tangani udah beres, 'kan?" Bu Santi bertanya padanya saat makan pagi.
"Beres, Bu. Setiap hari Al juga lapor kok ke Kak Tyo." Lelaki itu meneguk orange juice di depannya. Alva benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia telah jauh berubah. Pria itu benar-benar bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya kini.
"Al, kalau kamu ayah kenalin sama putri teman ayah gimana?" Pak Yuda bertanya.
__ADS_1
Hampir saja pria itu tersedak.
"Untuk apa, Yah?"
"Ya mungkin saja kamu cocok dengan dia."
Lelaki yang kini tampak tumbuh cambang itu bergeming kemudian menggeleng.
"Nggak, Yah. Al sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa pun saat ini."
Pak Yuda dan Bu Santi saling menatap. Mereka berdua merasa ada yang berbeda dengan putra keduanya itu.
"Kamu tidak sedang patah hati, 'kan?" selidik ibunya.
"Patah hati? Sama siapa?" tukas Pak Yuda ingin tahu.
"Luna, Yah. Kan dia ...."
"Ck, Al udah nggak mikirin dia lagi sekarang, Bu ...."
"Kalau begitu sekarang mikirin siapa?" potong Bu Santi.
Alva diam, memori kembali memutar wajah Safira. Lagi-lagi ia mendadak merasa bodoh.
"Al?"
"Ya, Bu?"
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba diam?"
"Mungkin ada baiknya kita kenalkan dia dengan Gita, Yah."
Pak Yuda mengangguk setuju.
***
Kedatangan Safira dan Tyo dari berbulan madu membuat Alva lebih sering lembur di kantor. Sebisa mungkin ia menghindari bertemu istri sang kakak. Ia akui sejauh ini dirinya belum bisa lupa dengan Safira. Meski ia berkeras untuk membuang segala kenangan tentang gadis itu.
Malam itu Alva baru saja tiba. Langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa dari ruang tengah. Matanya membidik Tyo dan Safira tengah berdua bercanda mesra. Tak ingin mereka tahu ia membalikkan badan mengurungkan niat untuk masuk. Namun, suara Tyo menahannya.
"Mau ke mana, Al? Baru juga datang?"
"Eh, ada yang ketinggalan di mobil, Kak!" Ia bergegas kembali ke mobil. Lelaki itu membuang napas kasar. Matanya terpejam menahan rasa yang bergejolak. Bagaimana mungkin ia begitu mencemburui pasangan suami istri yang tengah mereguk manisnya pernikahan? Ia masih di balik kemudi meredam perasaan yang bergejolak. Setelah ia merasa tenang, Alva kembali masuk ke rumah.
Merasa sedikit lega sebab Tyo dan Safira sudah tak lagi berada di sana. Pria itu menuju dapur mengambil minum. Langkahnya kembali terhenti saat melihat Safira tengah membuat minuman hangat. Meski ragu, ia mencoba mengumpulkan nyali untuk menjaga perasaannya saat berdekatan dengan wanita itu.
Situasi mendadak dingin. Alva diam seolah tak melihat ada Safira di sana. Demikian pula dengan wanita berambut panjang itu. Meski keduanya tampak terlihat kaku tapi jelas Alva mencuri pandang sekilas ke arah wanita itu.
Saat tak diduga terjadi, hampir saja mereka saling bertabrakan. Alva yang saat itu hendak mengambil gelas untuk juice sementara Safira juga tengah mengambil benda yang sama. Dada bidang Alva tepat di depan wajahnya. Sehingga jelas tercium aroma tubuh lelaki itu. Sementara Alva menegang ketika puncak kepala Safira tepat berada di dagunya.
"Maaf, saya ...." Cepat Safira mundur membuat jarak.
"It's okay! Silakan ambil dulu." Alva mundur memberi isyarat pada Safira.
"Terima kasih."
__ADS_1
Safira kembali ke tempat semula menuangkan teh jahe hangat untuk suaminya. Sementara Alva menuang juice jambu ke gelasnya.
"Mas Al. Ini teh jahe buat Mas, biar hangat. Nggak baik malam-malam minum dingin." Wanita itu menyodorkan segelas minuman hangat kepadanya. Lama ia tak menanggapi Safira. Pria itu hanya menoleh sekilas. Merasa diacuhkan oleh Alva, ia meletakkan gelas itu di meja, lalu pergi.
Sepeninggal Safira, Alva mengusap wajahnya kasar. Tangannya mengepal dengan bibir mengatup kuat. Ditatapnya gelas berisi minuman buatan Safira.
"Tuhan, aku bisa gila jika begini terus!" gumamnya.
***
Mentari hangat menyapa bumi, seiring kecupan lembut mampir di bibir ranum Safira. Hari ini Tyo mengajaknya melihat rumah yang bakal mereka tempati. Rumah yang sudah lama dibeli Tyo.
"Nanti kamu bisa ubah apa pun di sana semaumu." Tyo mengusap pipi Safira lembut.
"Merubah? Merubah apa, Mas?"
"Desain rumah, atau mengganti perabot atau bahkan ingin merubah warna cat ... itu rumahmu, rumah kita," bisiknya lembut.
Wajah Safira merona mendengar penuturan sang suami. Ada haru menyapa hati menyadari betapa besar cinta Tyo padanya. Hal itu membuat matanya mengembun.
"Hei, kenapa mata itu berkaca-kaca?"
"Terima kasih, Mas."
Tyo menyipit menatap istrinya.
"Terima kasih?"
"Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk rasa nyaman yang saya rasa," tuturnya terisak.
"Jangan cengeng! Kamu perempuan kuat, dan sudah sepantasnya istriku mendapatkan kebahagiaan." Tyo memeluknya erat.
***
Rumah berarsitektur modern minimalis berwarna pastel itu tampak rapi. Halaman cukup luas dengan rumput gajah bak permadani membuat tampilan taman sangat indah. Tak banyak bunga, hanya ada beberapa adenium berwarna merah dan pink yang tengah mekar.
"Wellcome home, Sweety ...." Tyo membuka pintu mengajak Safira masuk. Sofa besar berwarna putih menyambut mereka di ruang tamu. Tampak lukisan pantai tergantung di dinding. Langit-langit rumah yang tinggi membuat rumah ini nyaman bahkan jika tanpa pendingin ruangan.
"Kamu suka?"
Safira mengangguk tersenyum.
"Kita ke istanamu, yuk!"
Ia menurut saat tangan kokoh Tyo membawa ke dapur. Ruangan itu tak terlalu besar tapi sangat lengkap dan bersih. Sejenak ia terpaku menatap perlengkapan masak juga membuat kue tertata apik di rak dapur.
"Ini laboratoriummu. Kamu bisa bebas berekspresi di sini, tapi ... maaf, mungkin tidak begitu luas."
"Mas, ini sudah sangat luar biasa! Saya suka!"
Tyo mengangkat alis ketika Safira menatapnya.
"Sekarang kita ke ruangan paling aku suka!" Mata Safira menyipit mencoba mencari jawaban. Tanpa ia duga Tyo menggendongnya lalu membawa ke tempat yang paling ia suka. Kamar!
***
__ADS_1