Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps.10 - Penolakan


__ADS_3

Joya dan Ny. Besar kembali ke rumah setelah Joya menolak menikah dengan Boy. Sementara Boy sudah pergi duluan meninggalkan mereka berdua.


Di dalam rumah, Ny.Lastri dan Ny.Putri sudah menunggu kedatangan mereka. Ny.Besar menggeleng saat melihat harapan dari wajah anak-anak perempuannya.


Mereka berdua kembali duduk dengan kecewa, padahal mereka sudah mempersiapkan beberapa pilihan gaun untuk Joya.


Perjalanan Ny.Besar, Joya dan Boy kemarin memang untuk memastikan tentang perasaan Joya dan menanyakan kesediaannya menikah dengan Boy.


Tapi harapan semua orang sudah pupus sekarang, semuanya dipatahkan Joya dengan tekad kuatnya untuk lulus kuliah dan bekerja dulu.


-------


Joya meletakkan tasnya di dekat lemari kamarnya. Ia sudah menahan air matanya dihadapan semua orang tadi.


Sungguh hatinya hancur menolak lamaran dari Boy. Tapi ini lebih baik daripada ia mempermalukan keluarga Ny.Besar.


Joya menghapus air matanya yang mengalir deras. Ia menangis terisak-isak dengan sangat memilukan.


Sungguh ia mencintai Boy, sungguh-sungguh mencintainya dengan tulus. Bahkan tanpa kekayaan dan kejayaan keluarga Ny.Besar sekalipun, Joya mencintai Boy.


------


Suara ribut-ribut dari kamar Boy terdengar sampai ke dapur. Joya yang sudah tenang keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur.


Ia menatap bingung pada ART yang berbaris di depan dapur sambil menatap ke tangga atas.


Tampak beberapa bodyguard bertubuh besar, mengangkat koper-koper besar milik Boy. Boy ada diantara mereka, berjalan turun tangga tampak marah dan dingin.


Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah Ny.Besar. Boy bahkan tidak menoleh menatap Joya yang berdiri tak jauh dari dapur.


Joya memejamkan matanya, hatinya sakit karena perlakuan Boy. Sebelumnya sikap Boy selalu manis padanya.


Bi Ijah menepuk lengan Joya dan memintanya membantu memasak di dapur. Waktu makan malam hampir tiba.


Joya membantu sebisanya, ia menata meja makan dan kembali ke dapur mengambil makanan untuk dihidangkan di meja makan.


Setelah itu Joya kembali ke kamarnya. Ia ingin mandi dan mengganti bajunya karena sudah penuh keringat.


Selesai mandi, Joya duduk di dalam kamarnya. Ia melamun dan tidak menyadari seseorang masuk ke dalam kamarnya.


Bi Ijah : "Joya, Ny.Besar memanggilmu. Cepat keluar."


Joya : "Iya, bi."


Joya berjalan ke kamar Ny.Besar. Ia mengetuk pintunya sebentar dan membuka pintu.


Ny.Besar ada di atas ranjangnya, Bi Ijah sedang memijat kakinya.


Ny. Besar : "Joya, besok kamu ada kuliah?"


Joya : "Iya, Ny.Besar."


Ny. Besar : "Pulang kuliah, tolong rapikan kamar Boy ya. Kamu bisa istirahat sekarang."


Joya : "Baik, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Sebentar, Joya. Apa kamu sudah makan?"


Joya : "Sudah, Ny. Besar. Saya permisi."


Setelah Joya pergi, Ny. Besar menanyakan kebenaran jawaban Joya dan Bi Ijah menggeleng. Sejak kembali, Joya hanya menyentuh minum saja.


------


Joya hendak kembali ke kamarnya, ia melewati dapur yang lampunya masih menyala dan masuk kesana. Ny.Putri ada disana, sedang mengaduk susu di gelas.

__ADS_1


Joya : "Ada yang bisa saya bantu, Ny.?"


Ny. Putri : "Joya... Gak ada, ini uda selesai. Kamu gak tidur?"


Joya : "Sebentar lagi, Ny."


Joya masih berdiri di samping kulkas, lagi-lagi melamun. Ny. Putri melihat kesedihan Joya, lalu memeluknya erat.


Tangisan Joya pecah saat itu juga, ia memerlukan seseorang yang bisa menemaninya saat ini. Memeluknya disaat paling rapuh dalam hidupnya.


Ny. Putri : "Jangan nangis lagi, Joya. Dengar aku, kami gak pa-pa dengan penolakan kamu. Aku yakin Boy juga ngerti. Tugasmu sekarang konsen saja pada tujuanmu. Kuliah, kerja, lakukan apa yang kamu inginkan."


Joya hanya mengangguk, ia sangat berterima kasih mendengar kata-kata Ny. Putri. Ia harus fokus pada tujuannya sekarang atau semua kerja kerasnya akan sia-sia saja.


-------


Keesokan harinya, Joya bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan untuk semua orang dan bersiap-siap ke kampus.


Semalam ia sudah mencari informasi dari dosennya bagaimana cara lulus lebih cepat. Ada alternatif mengambil SKS lebih banyak tanpa ikut libur semester.


Terlebih lagi nilai Joya memungkinkan untuk melakukan hal itu.


Sampai di kampus, Joya langsung masuk ke ruang jurusan untuk konsultasi mengenai percepatan kuliah.


Bagian jurusan mengatakan Joya sudah bisa mengajukan magang sebelum memulai skripsinya. Tugasnya sekarang mencari tempat magang karena waktunya cukup mepet.


Ada beberapa tempat alternatif magang yang biasanya menjadi langganan magang mahasiswa di kampus Joya, termasuk perusahaan Boy.


Dengan segera Joya membuat CV dan men-scan surat dari kampusnya untuk pengajuan magang. Ia mengirimkan e-mail ke semua perusahaan itu termasuk perusahaan Boy.


Joya tahu nama perusahaan Boy karena sering melihatnya di meja kerja Boy saat membersihkan kamarnya dulu. Dan Joya akan bersikap profesional dalam menjalani tugas magangnya nanti kalaupun ia diterima di perusahaan Boy.


Entah takdir atau hanya kebetulan belaka, e-mail Joya ke perusahaan Boy langsung dibalas staf HRD mereka dan meminta Joya ikut interview siang itu juga bersama mahasiswa magang lainnya.


-------


Meja resepsionis itu kosong, Joya melihat jam tangannya, waktunya tinggal 10 menit lagi dari waktu yang dijanjikan. Ia mengedarkan pandangan ke lobby kantor yang sepi.


Tiba-tiba ada seseorang datang menghampirinya, wajah orang itu tampak tidak senang. Ia langsung melabrak Joya yang berdiri di depan meja resepsionis.


Pria : "Kamu gimana sich kerjanya! Dokumen salah semua, ini apa? Sampah begini kamu kasi saya!"


Joya : "Maaf, bapak mungkin salah orang. Saya..."


Pria : "Salah orang gimana, barusan kamu kan yang kasi saya dokumen ini."


Joya menangkap dokumen yang dilemparkan pria itu ke hadapan Joya. Joya membaca dokumen itu dan melihat ada yang salah dengan dokumen itu. Bahkan print outnya dari kertas bekas dan urutannya tidak jelas.


Joya menarik nafas perlahan, pantas saja orang ini marah-marah.


Joya : "Maaf sebelumnya, mohon bapak menunggu sebentar. Rekan saya akan kembali sebentar lagi. Silakan duduk dulu."


Pria itu duduk dengan kesalnya menghempaskan tubuhnya ke kursi di depan resepsionis. Joya mempersilakannya minum air mineral yang memang tersedia disana.


Tak lama, resepsionis yang sebenarnya datang, ia terkejut melihat pria itu dan segera menyerahkan dokumen yang benar dan meminta maaf.


Pria itu masih duduk di sana, kali ini ia memeriksa dengan teliti sebelum pergi, resepsionis menoleh pada Joya.


Resepsionis : "Ada yang bisa saya bantu, mb?"


Joya : "Saya Joya, calon mahasiswa magang. Bisa minta tolong ditunjukkan tempat interview-nya."


Resepsionis menunjuk pintu disebelah kanan mejanya dan mempersilakan Joya masuk.


Pria tadi mengkerutkan keningnya, jadi Joya bukan pegawai disini. Ia sudah salah paham padanya,

__ADS_1


Pria : "Tunggu sebentar."


Joya menoleh menatap pria itu,


Pria : "Saya minta maaf sudah salah membentakmu tadi."


Joya : "Tidak apa-apa, pak. Saya permisi dulu. Silakan dilanjutkan."


Joya melanjutkan langkahnya memasuki ruang interview yang sudah lengkap dengan calon mahasiswa magang lainnya.


Joya : "Permisi, pak."


Interviewer : "Maaf, anda siapa?"


Joya : "Perkenalkan nama saya Joya. Saya calon mahasiswa magang disini. Tadi saya mendapat konfirmasi untuk ikut interview siang ini."


Interviewer : "Apa anda ingat jam berapa janji interview-nya?"


Joya : "Iya, pak. Maaf saya terlambat 5 menit."


Interviewer : "Jadi buat apa anda berdiri disini?"


Joya : "Saya permisi, pak. Maaf mengganggu."


Joya membungkuk sebentar dan berbalik, tapi belum sampai ke pintu keluar, ia dipanggil lagi.


Interviewer : "Anda sudah datang kemari, silakan duduk di bangku sana. Anda bisa menyimak interview dari sana."


Joya : "Baik, terima kasih pak."


Joya duduk di deretan bangku yang berjajar di dinding ruangan itu. Beberapa mahasiswa menatapnya sedikit meremehkan, tapi ada juga yang kasihan.


Proses interview berjalan normal sesuai dengan standar. Joya sesekali mencatat apa yang ia dengar saat interview.


Ia menganggap meskipun tidak diterima magang disana, tapi ia bisa memiliki pengalaman berharga dalam interview.


Dan tentu saja bisa membantunya ketika mencari pekerjaan nanti.


Setelah proses interview selesai semua, satu persatu nama mahasiswa disebutkan dan diminta duduk bersama Joya.


Terlihat wajah kecewa mereka saat dipanggil, mereka mengira telah gagal seperti Joya.


Interviewer : "Sisanya yang tidak saya panggil, silakan pulang. Mohon maaf karena kalian belum bisa kami terima magang di perusahaan ini."


Mahasiswa : "Tapi kenapa??!!"


Joya saling pandang bersama beberapa mahasiswa yang duduk sederetan dengannya.


Interviewer tersenyum melihat reaksi mahasiswa yang tidak lulus. Layar besar di belakang mereka menyala dan menampilkan situasi di depan resepsionis.


Tampak Joya datang dan memungut sampah yang berserakan. Ia juga terlihat dimarahi seseorang pria tapi bisa menghadapinya dengan tenang.


Interviewer : "Saya rasa sekarang kalian mengerti kenapa Joya kami terima untuk magang disini. Attitude dan kendali pada diri. Bekerja di suatu perusahaan bukan hanya memerlukan kemampuan tapi juga attitude. Karyawan perusahaan bisa menjadi cermin bagi perusahaan itu sendiri. Tapi kalian yang akan magang disini juga bisa menjadi cermin bagi perusahaan ini."


------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Please vote poin buat karya author ya...


Makasi banyak...

__ADS_1


-------


__ADS_2